NovelToon NovelToon
Penantian 7 Tahun

Penantian 7 Tahun

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:568
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Airellia Kaivena hidup dalam penantian yang tak pernah benar-benar ia pahami. Selama tujuh tahun, ia setia menunggu seseorang dari masa kecilnya yang berjanji akan kembali.

Ketika akhirnya sosok itu muncul kembali dalam wujud Zevarion Hale, harapan yang lama terkubur perlahan tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Namun di balik pertemuan yang seharusnya indah, tersembunyi kebenaran yang mampu menghancurkan segalanya, mengubah penantian menjadi luka yang tak pernah ia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29 - Pengakuan Pada Diri Sendiri

Malam datang pelan dan membawa jenis sunyi yang selalu lebih jujur daripada siang. Saat pagi dipenuhi langkah kaki, suara orang lain, dan banyak hal yang bisa dijadikan pengalih perhatian, malam justru menyisakan seseorang sendirian bersama isi kepalanya. Karena itu, banyak hal yang sengaja dihindari saat matahari masih tinggi biasanya datang kembali ketika langit gelap.

Di kamar kecil lantai dua rumahnya, Airel Virellia duduk di dekat jendela dengan lutut ditekuk ke dada. Lampu utama sengaja dimatikan, hanya menyisakan cahaya lampu meja yang lembut dan remang lampu jalan dari luar pagar. Tirai terbuka setengah, memperlihatkan sisa langit mendung setelah hujan sore tadi.

Dari bawah terdengar suara televisi ruang keluarga yang volumenya terlalu keras, lalu bunyi piring beradu dari dapur ketika ibunya sedang membereskan cucian malam. Sesekali suara ayahnya terdengar memanggil sesuatu yang tidak jelas. Rumah berjalan seperti biasa, ritmenya tetap sama seperti malam-malam lain.

Hanya pikirannya yang tidak.

Di tangannya, ponsel masih menyala menampilkan percakapan singkat dengan Zevarion Hale. Pesan itu sederhana, bahkan nyaris tidak penting jika dilihat orang lain.

Sudah sampai rumah?

Sudah.

Makan dulu.

Iya.

Setelah itu tidur.

Kamu cerewet.

Jelas. Ada yang harus ngingetin kamu.

Setelah kalimat terakhir itu, percakapan berhenti. Tidak ada balasan lagi, tidak ada topik lanjutan, tidak ada hal istimewa yang pantas dikenang. Namun entah kenapa, layar itu sudah beberapa kali ia buka hanya untuk membaca ulang kata demi kata yang sama.

Airel meletakkan ponsel di lantai sebelahnya lalu mengembuskan napas panjang. Kepalanya bersandar ke dinding, mata menatap langit-langit kamar yang samar dalam gelap. Ia sendiri merasa bodoh karena bisa terpaku pada obrolan sesingkat itu.

Hari ini terasa aneh baginya.

Melihat Zev berdiri bersama perempuan lain di lobi kampus membuat suasana hatinya rusak begitu saja. Padahal pria itu tidak melakukan hal salah apa pun. Ia hanya bicara dengan orang yang dikenalnya, di tempat umum, dalam situasi biasa.

Namun dada Airel langsung sesak.

Saat Zev mengejarnya ke koridor dan menjelaskan bahwa perempuan itu sepupunya, perasaan tidak nyaman tadi reda terlalu cepat. Seolah seluruh emosinya memang bergantung pada penjelasan dari satu orang yang sama. Seolah sejak awal yang ia tunggu hanyalah Zev datang padanya.

Menyebalkan.

Lebih menyebalkan lagi karena ia tahu arti semua itu.

Perasaan jarang tumbuh dari kejadian besar. Ia lebih sering datang lewat kebiasaan-kebiasaan kecil yang dibiarkan terlalu dekat, terlalu lama, sampai akhirnya sulit dipisahkan dari hari biasa.

Dari suara yang mulai dicari di tengah keramaian.

Dari langkah kaki yang dikenali sebelum wajahnya terlihat.

Dari pesan singkat yang diam-diam ditunggu.

Dari seseorang yang sering muncul, lalu perlahan menjadi bagian dari rutinitas.

Airel menutup mata.

Dulu malam adalah waktu yang lebih berat dari sekarang. Saat semua orang tidur dan rumah mulai sepi, ingatan masa kecil datang jauh lebih jelas. Tentang seorang anak laki-laki yang pernah berdiri di depannya saat hujan deras, tentang tangan kecil yang menariknya menjauh dari rasa takut, tentang suara samar yang mengucapkan dua kata sederhana.

Tunggu aku.

Kalimat itu menempel sangat lama. Ia membawanya bertahun-tahun seperti benda rapuh yang tidak boleh hilang. Menjadikannya alasan untuk percaya bahwa penantian punya ujung, bahwa seseorang akan datang kembali, bahwa janji masa kecil bukan sesuatu yang mudah dilupakan.

Selama tujuh tahun, ia hidup bersama keyakinan itu.

Ia datang ke tempat yang sama pada waktu tertentu dengan alasan yang hanya ia pahami sendiri. Ia menjaga ingatan itu diam-diam, bahkan saat orang lain mulai mengatakan bahwa semua itu tidak masuk akal. Ia bertahan bukan karena keras kepala semata, tetapi karena percaya pernah berarti bagi seseorang.

Namun sekarang ada masalah yang tidak pernah ia bayangkan.

Wajah yang ia tunggu mulai kabur.

Dan wajah yang lain justru semakin jelas.

Zev.

Nama itu saja cukup membuat dadanya menghangat dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Airel membuka mata perlahan lalu bangkit dari lantai. Kakinya melangkah ke meja belajar, membuka laci paling bawah yang sudah lama tidak disentuh.

Di dalamnya ada kotak kayu kecil berwarna cokelat tua dengan sudut yang mulai aus. Ia membawa kotak itu ke meja lalu duduk di kursi. Saat tutupnya dibuka, aroma kayu lama dan kertas tersimpan samar keluar pelan.

Isinya benda-benda sederhana.

Gelang kain yang warnanya sudah memudar.

Karcis taman kota yang tintanya hampir hilang.

Kertas kecil berisi tulisan anak-anak yang goresannya goyah.

Dan sebuah kancing baju yang bahkan ia sendiri tidak yakin milik siapa.

Barang-barang itu bukan sesuatu yang berharga bagi orang lain. Tidak ada nilai jual, tidak ada bentuk mewah, tidak ada alasan logis untuk disimpan bertahun-tahun. Namun bagi Airel, semua itu pernah menjadi bukti bahwa masa lalu tersebut sungguh terjadi.

Ia mengambil gelang kain itu lalu menyentuh seratnya pelan. Dulu ia yakin benda-benda ini akan menuntunnya kembali pada seseorang. Seolah jika cukup setia menjaganya, waktu akan memberi hadiah.

Sekarang, saat memegangnya, yang datang justru pertanyaan.

Bagaimana jika selama ini ia bukan menunggu orangnya, melainkan menunggu perasaan yang ditinggalkan orang itu?

Bagaimana jika yang ia pertahankan bukan sosok manusia, melainkan janji yang pernah membuatnya merasa berarti?

Bagaimana jika penantian panjang itu selama ini hanya kebiasaan yang takut diakhiri?

Airel meletakkan gelang itu kembali dan menatap isi kotak cukup lama. Dadanya terasa penuh oleh hal-hal yang sulit dinamai.

Zev tidak punya bagian dalam masa kecilnya. Setidaknya sejauh yang ia tahu, nama Zevarion Hale tidak pernah ada di ingatannya. Wajah pria itu pun terasa asing saat mereka pertama kali bertemu.

Namun kenapa kehadirannya terasa akrab?

Kenapa duduk di dekatnya memberi tenang yang sulit dicari di tempat lain?

Kenapa setiap kali dipanggil dengan suara rendah itu, ada rasa seperti pulang?

Ia menutup kotak kayu kembali lalu mendorongnya perlahan ke sudut meja. Kepalanya terasa berat oleh terlalu banyak pikiran.

Selama bertahun-tahun ia mengira hidupnya sederhana. Ia hanya perlu menunggu sampai seseorang kembali, lalu semuanya akan jelas. Ternyata hati manusia jauh lebih rumit daripada rencana yang dibuat di kepala.

Seseorang bisa setia pada kenangan, lalu diam-diam bergerak menuju orang yang hadir hari ini. Ia bisa menggenggam masa lalu dengan satu tangan, sementara tangan lain tanpa sadar meraih masa depan.

Airel berdiri dan kembali ke jendela. Jalan depan rumah mulai sepi, warung di ujung gang sudah menurunkan pintu besi, dan seekor kucing melintas cepat di bawah pagar tetangga. Pantulan wajahnya sendiri terlihat samar di kaca.

“Aku ini sebenarnya siapa sekarang?” bisiknya pelan.

Perempuan yang masih menunggu.

Atau perempuan yang mulai membuka hati.

Ia teringat wajah Zev di kantin siang tadi saat berkata, Aku senang. Kalimat itu sangat sederhana, tanpa nada berlebihan, tanpa usaha terlihat manis. Justru karena itu, kata-kata tersebut terus tinggal di kepalanya.

Ia juga teringat tatapan Zev yang seolah menyimpan sesuatu yang belum selesai. Tentang hidupnya yang memiliki bagian kosong, tentang ingatan yang berlubang, tentang rasa familiar yang tak bisa ia jelaskan sendiri.

Mereka ternyata sama-sama terikat oleh sesuatu yang tidak utuh.

Bedanya, Airel hidup dengan terlalu banyak kenangan.

Zev hidup dengan terlalu sedikit.

Mungkin itu sebabnya mereka saling mengerti lebih cepat dari yang seharusnya. Dua orang dengan kekurangan berbeda sering kali mengenali retak yang sama pada orang lain.

Angin malam masuk dari jendela dan menggerakkan rambut di sisi wajahnya. Airel memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan dada yang terus terasa sesak.

Ia akhirnya mengakui hal yang selama ini sengaja dihindari.

Zev bukan sekadar pengalih perhatian dari penantian panjangnya.

Bukan sekadar kebetulan manis yang hadir di tengah rutinitas.

Bukan hanya orang yang sering datang lalu membuat hari terasa ringan.

Ia benar-benar menyukai pria itu.

Perasaan tersebut nyata. Tumbuh perlahan, rapi, tanpa suara, lalu kini terlalu besar untuk dipura-pura tidak ada. Ia datang lewat hal-hal kecil sampai Airel tidak sadar kapan tepatnya semua berubah.

Namun di saat yang sama, ada bagian dirinya yang masih menoleh ke belakang. Masih mendengar suara hujan bertahun-tahun lalu. Masih menyimpan janji seorang anak laki-laki yang mungkin sudah lupa pernah mengucapkannya.

Dua arah itu menariknya bersamaan.

Ia menutup mata dan membiarkan kejujuran keluar dalam bisikan yang hampir tenggelam oleh suara televisi dari bawah.

“Aku enggak tahu aku masih menunggumu... atau memang sudah menyukai orang lain.”

Kalimat itu membuat matanya panas.

Bukan karena sedih.

Bukan karena bahagia.

Lebih karena lega.

Setelah lama berpura-pura tidak tahu, akhirnya ia mengatakannya meski hanya kepada gelap kamar dan dirinya sendiri. Kadang hati memang perlu mendengar pengakuan agar berhenti menyangkal.

Ponselnya bergetar di atas meja.

Satu pesan masuk.

Belum tidur?

Dari Zev.

Airel menatap layar beberapa detik sebelum mengambilnya. Ia mengetik satu kata, menghapusnya, lalu mengetik lagi.

Belum.

Balasan datang cepat.

Biasanya jam segini kamu tidur.

Biasanya.

Lagi mikir?

Senyum kecil muncul tanpa izin. Seolah pria itu bisa melihat isi kepalanya dari jauh.

Iya.

Mikir berat?

Sedikit.

Beberapa detik kemudian layar kembali menyala.

Jangan sendirian kalau berat.

Airel membaca kalimat itu berulang kali. Tidak ada kata manis, tidak ada rayuan, tidak ada usaha terdengar romantis. Namun perhatian sederhana itu terasa lebih menenangkan daripada banyak janji besar.

Ia menempelkan ponsel ke dada sebentar sambil menutup mata.

Mungkin inilah masalah sebenarnya.

Orang yang ia tunggu memberi janji.

Orang yang ada sekarang memberi kehadiran.

Dan sering kali, kehadiran jauh lebih berbahaya daripada janji.

Ia mengetik lagi dengan jari yang sedikit gemetar.

Kamu masih bangun?

Masih.

Bisa temenin ngobrol sebentar?

Tiga detik kemudian balasan muncul.

Aku di sini.

Sesederhana itu.

Namun cukup untuk membuat matanya kembali panas. Karena setelah bertahun-tahun menunggu seseorang yang entah di mana, kini ada satu orang yang menjawab dengan jelas bahwa ia ada di sini.

Dan malam itu, di kamar kecil dengan lampu remang dan jendela setengah terbuka, Airel merasa beban di dadanya tidak lagi ia tanggung sendirian.

1
𝐀⃝🥀Weny
wah jangan² itu orang yang ditunggu selama ini.. tapi mereka sudah lupa dengan wajahnya😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!