NovelToon NovelToon
KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

KEBANGKITAN VAMPIR TERKUAT DARI TIDUR PANJANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Romansa Fantasi
Popularitas:220
Nilai: 5
Nama Author: Arafi Arif Dwi Firmansyah

Kurza adalah vampir terkuat dimasa lalu, entah apa yang ada dipikiranya sehingga dia memutuskan untuk beristirhat/tidur di dalam sebuah goa . sebelum Putri Kerajaan Alabas tanpa sengaja membangunkan Kurza dari tidurnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arafi Arif Dwi Firmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Menyalakan Api Revolusi

Sesampainya di tempat persembunyian, Rin menyiapkan tempat duduk untuk Kurza dan Khiya. "Rin, cari Jendral Kel dan bawa kemari, Perintah Kurza sembari melempar sebuah kantong kecil yang berisi koin "Beli lah makanan untuk Khiya" perintah selanjutnya dari Kurza. ‎"Laksanakan, Tuan," sahut Rin dengan suara rendah yang nyaris seperti bisikan angin. Dalam sekejap, bayangannya memanjang dan ia menghilang ke dalam kegelapan lorong, meninggalkan Kurza dan Khiya di dalam kesunyian .Kurza menoleh ke arah Khiya yang terduduk lemas di atas bangku batu. Gadis itu tampak pucat; bukan hanya karena perjalanan kilat tadi, tapi karena beban identitas sebagai putri raja yang kini dipikulnya.

"Duduklah yang tenang, Khiya. Rin adalah bayangan yang paling bisa diandalkan. Dia akan membawakanmu makanan dan juga berita tentang satu-satunya jenderal yang masih memiliki kehormatan di Alabas." Beberapa jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam, hingga tiba-tiba bayangan di tengah ruangan bergejolak. Rin muncul kembali, kali ini membawa sebuah kantong berisi roti segar dan buah-buahan untuk Khiya, namun ia tidak datang sendiri.

Beberapa jam berlalu dalam kesunyian yang mencekam, hingga tiba-tiba bayangan hitam muncul. Rin muncul kembali, kali ini membawa sebuah kantong berisi roti segar dan buah-buahan untuk Khiya, namun ia tidak datang sendiri, dari balik badan Rin, muncul sosok pria tua dengan prawakan tinggi besar dengan baju yang kotor oleh lumpur. Itu adalah Jenderal Kel. Matanya yang biasanya penuh semangat kini tampak cekung karena kelelahan, namun saat melihat Kurza, ia langsung berlutut dengan suara denting logam yang berat. "Tuan Kurza..." suara Kel parau, penuh emosi. "Saya mengira Anda tidak akan pernah kembali. Kerajaan ini... Alabas telah menjadi neraka di bawah kaki Zhit." Seru Kel dengan wajah sedih dan dipadu dengan amarah. Kurza mendekat, meletakkan tangannya di bahu Kel. "Bangunlah, Kel. Aku sudah tahu semuanya. Ratu Iris dan Putri Khaya telah tiada, tapi pengorbanan mereka tidak sia - sia." ucap Kurza sambil membangunkan Kel.

Kurza kemudian menunjuk ke arah Khiya yang sedang memegang roti dengan . "Lihatlah dia baik - baik, Kel." Seru Kurza, Jenderal Kel menyipitkan mata, menatap Khiya dengan saksama. Tiba-tiba matanya membelalak, ia menyadari kemiripan wajah gadis itu dengan Putri Khaya yang ia kenal dulu. "Mungkinkah... Nona Khiya?" tebak Kel sambil mendekat ke arah Khiya. "Dia adalah pewaris sah Alabas," tegas Kurza. Kel mengepalkan tangannya, semangat tempurnya kembali membara. "Perintahkan saya, Tuan! Apa yang harus saya lakukan terlebih dahulu?" seru Kel dengan semangat yang membara.

"Sabar Kel, bisa apa kau Kel dengan badan tua mu". Seru Kurza yang melihat kondisi Kel yang menua dan lemas. "Untuk sekarang pulihkan dulu kondisi fisikmu" ujar Kurza. Kel hanya menunduk, menyadari kondisi fisiknya sekarang tidak memungkinkan untuk melakukan misi. Kurza menatap Khiya, seolah tau jika gadis itu ingin sekali mengeluarka pertanya yang ada di pikiranya.

"Khiya... apa yang ingin kau tanyakan pada Rin? Tanyalah sekarang!" ujar Kurza kepada Khiya. Khiya tidak menjawab; ia hanya melihat ke arah Rin. Seolah - olah memberi isyarat jika ia ingin tau semuanya. nampaknya Rin paham apa yang diinginkan Khiya. Rin menatap Kurza seolah meminta izin sebelum mengungkap kebenaran yang selama belasan tahun .

 Kurza mengangguk pelan. "Katakan padanya, Rin. Dia berhak tahu sebelum kita melangkah lebih jauh." Ujar Kurza mempersilahkan Rin untuk memberi tau semuanya kepada Khiya. Rin melangkah mendekati Khiya, suaranya terdengar lembut. "Khiya... namamu yang sebenarnya adalah Khiyana Alabas. Ibu kandungmu, Putri Khaya, adalah wanita termulia yang pernah saya kenal. Dia adalah putri dari Raja Zion dan Ratu Iris."

Rin menghela napas panjang, bayangannya seolah ikut meredup saat ia mengenang masa lalu. "Tujuh belas tahun yang lalu, saat Zhit melakukan kudeta berdarah, dia memerintahkan pembantaian seluruh garis keturunan utama Alabas agar tidak ada yang bisa mengklaim takhta. Saya melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana ibu dan nenekmu dikepung. Namun, sebelum maut menjemputnya, Putri Khaya memercayakanmu kepada saya.

 Saya menukar tubuhmu dengan bayi yang sudah meninggal agar Zhit mengira kau sudah tewas." Jelas Rin, Jenderal Kel yang sedari tadi diam, ikut angkat bicara dengan suara bergetar. "Kami semua mengira garis keturunan Raja Zion telah terputus malam itu, Tuan Putri. Saya membiarkan diri saya dipukuli dan diasingkan karena rasa gagal melindungi ibu Anda. Tapi melihat Anda di sini... seolah - olah melihat Putri Khaya hidup kembali." Ucap Kel dengan nada penuh penyesalan.

Khiya menyentuh dadanya, merasakan detak jantungnya yang berpacu. Air mata mulai mengalir di pipinya. "Jadi selama ini... Nenek yang membesarkanku di Desa Vergreen..." "Mereka adalah pengabdi setia yang dipilih Rin untuk melindungimu," sela Kurza, melangkah maju hingga bayangannya menaungi Khiya. "Kau bukan sekadar gadis desa, Khiya. Darah yang kau berikan padaku semalam adalah darah suci para penguasa Alabas. Itulah alasan mengapa Zhit begitu takut; karena selama kau masih bernapas, takhta yang ia duduki adalah curian." sambung Kurza lagi. Kurza menatap tajam mata Khiya yang basah. "Kini pilihannya ada di tanganmu. Apakah kau ingin tetap menjadi gadis desa yang bersembunyi, atau bangkit sebagai ratu yang akan menuntut balas atas kematian ibumu?" Tanya Kurza agar mental Khiya kembali pulih.

Mata Khiya yang semula basah kini berkilat dengan amarah yang dingin. Ia menghapus air matanya dengan kasar, lalu berdiri tegak di hadapan Kurza dan Jenderal Kel. Tidak ada lagi keraguan di wajahnya; yang tersisa hanyalah tekad baja seorang gadis yang telah kehilangan segalanya. "Tuan Kurza, Jenderal Kel..." suara Khiya terdengar stabil dan tajam. "Zhit telah merenggut keluarga dan masa kecilku. Dia menjadikan rakyatku makanan bagi iblis. Aku tidak akan membiarkan kematian nenek dan ibuku menjadi sia - sia. Bantu aku... aku ingin menghancurkan Zhit." Seru Khiya dengan tatapan penuh tekad.

Mendengar itu, Jenderal Kel kembali berdiri, kali ini dengan rasa hormat yang jauh lebih dalam. "Saya dan sisa-sisa pasukan yang setia adalah pedang Anda, Tuan Putri. Kami hanya menunggu perintah dari pewaris yang sah!" Seru Kel dengan tangan kanan didada. Kurza menyeringai puas. Keberanian Khiya adalah kepingan terakhir yang ia butuhkan untuk menyalakan api revolusi. "Bagus. Tekad mu adalah bahan bakar yang sempurna untuk kekuatan, Khiya." Seru Kurza.

Kurza terdiam sejenak, sebuah ingatan tentang konstelasi politik masa lalu mulai muncul di benaknya. Ia menatap tajam ke arah Rin, menuntut jawaban yang lebih spesifik. "Rin, jika ia adalah putri dari Khaya, maka siapa ayahnya? Darah murni Alabas memang kuat, tapi aku merasakan ada jejak kekuatan lain yang kasar dan tak terhentikan di dalam nadinya," tanya Kurza dengan nada menyelidik. Rin membungkuk dalam.

"Ketajaman indra Anda tidak pernah meleset, Tuan. Ayah Putri Khiya adalah Pangeran Bjorn, putra mahkota dari Kerajaan Viking Utara. Pernikahan mereka dahulu adalah aliansi rahasia untuk memperkuat pertahanan benua dari serangan iblis, sebelum akhirnya Zhit menghancurkan segalanya." Mendengar itu, Jenderal Kel langsung berdiri tegak dengan mata berbinar. "Kerajaan Viking! Bangsa pejuang yang tidak takut mati dan memiliki armada kapal naga yang mampu membelah badai.

"Jadi Rin.. Dimana pangeran Bjorn sekrang?" tanya Kurza dengan harapan pangeran Bjorn masih hidup. "Tuan, saat penyerangan berlangsung pangeran Bjorn di utus oleh Raja Zion untuk menangani sebuah perjanjian perdagangan dengan kerajaan Iceland. Sepulang dari kerajaan Iceland, pangeran Bjorn dihadang oleh jendral iblis Valac.

Pertempuran itu terjadi di pesisir utara, Valac menceritakan bagai mana cara mereka membunuh putri Khaya. Mendengar cerita itu Pangeran Bjorn murka dan kehilangan kendali. Hamba mencoba meredam amarahnya dengan menghampirinya dan membisikan jika putrinya masih hidup. Namun pangeran Bjorn tidak memperdulikannya, dan tetap menyerang. "Jelas Rin dengan jelas.

"Bagai mana pertempuran mereka Rin?" Tanya Kurza. Rin menceritakan dengan ditel seperti apa pertempuran antara Pangeran Bjorn dengan jendral iblis Valac.

Bersambung. . .

1
T28J
hadiir kakak 🙏
Arafi Arif Dwi Firmansyah: Terima kasih bosku.
total 1 replies
putri kurnia
lanjutannya dooong, penasaran bgt ini 😍
putri kurnia
bikin penasaran kelanjutannya
Arafi Arif Dwi Firmansyah: sabar ya. malam ini bab 4 selesai.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!