Penculikan yang salah berujung pada malam panas. Lalu, wanita menghilang. Obsesi sang pembunuh bayaran dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bgreen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berpisah
Rex melangkah keluar dari mobil, kaki kirinya menyentuh tanah liat yang sedikit lembap di tengah hutan.
Udara malam yang segar menyegarkan paru-parunya saat ia menarik korek api dari saku jaketnya, menghisap sebatang rokok dengan napas panjang.
Asap putih melayang perlahan ke udara gelap, menyatu dengan bayangan pepohonan tinggi yang menjulang di atas mereka.
Setiap tarikan rokok seolah-olah menarik keluar kegelapan pikirannya—masalah yang mengikuti mereka, wajah-wajah pemburu yang ingin membunuh Maple, dan keputusan yang harus ia buat.
Di dalam mobil, Maple menangis tersedu-sedu, pundaknya bergoyang hebat di bawah kaos tipisnya.
Tangisan lembutnya terdengar samar melalui kaca yang sedikit berkabut, dan Rex sengaja menjauh untuk membiarkan wanita itu mencurahkan seluruh beban kesedihan dan ketakutan yang terjadi padanya.
Setelah rokoknya habis dan ujungnya dibuang ke tanah lalu dipijak dengan keras, Rex berjalan ke arah bagasi belakang mobil—mobil yang mereka ambil dari sebuah motel terpencil beberapa jam yang lalu.
Saat ia membuka kunci besi yang mengkilap, suara klik yang jelas terdengar di tengah keheningan hutan.
Di dalamnya, sinar bulan yang redup menerangi tumpukan perlengkapan berkemah: tenda lipat kecil, kompor portabel, beberapa ember plastik, dan sebuah kotak kayu berisi makanan kaleng beragam rasa—daging kalengan, kacang polong, dan sup sayuran.
Mata Rex sedikit menyala saat melihatnya. Ia segera mengeluarkan semua barang itu dengan gerakan yang terampil, lalu mencari alat masak kecil yang tersembunyi di bawah karpet kursi belakang.
Tanpa berlama-lama, ia membakar sebatang kayu kecil untuk membuat unggun api yang hangat, menyebarkan cahaya keemasan yang menerangi area sekitarnya.
Tak lama kemudian, aroma makanan yang menggugah selera mulai mengapung di udara. Rex menyajikannya di atas meja lipat kecil yang baru saja ia pasang di samping unggun, sambil duduk di kursi lipat yang sesuai.
Ia menoleh ke arah mobil, melihat bayangan Maple yang masih menyusut di kursi penumpang, pundaknya masih bergoyang perlahan.
Dengan jari telunjuknya, ia mengetuk kaca mobil tiga kali dengan nada yang tetap—Tuk... Tuk... Tuk...
"Keluarlah, mari makan," ucap Rex dengan suara yang lebih lembut dari biasanya, meskipun masih terdengar santai.
Maple mengangkat wajahnya, matanya merah dan bengkak akibat menangis. Ia mengusap air mata yang menetes di pipinya dengan bagian lengan bajunya, lalu menoleh ke luar.
Cahaya unggun kecil menerangi wajah Rex yang terlihat tegas, dan di depannya ada piring dengan makanan yang masih mengeluarkan uap panas.
Tanpa banyak berpikir, ia membuka pintu mobil dan berjalan mendekatinya, langkahnya sedikit goyah.
"Makanlah, kau butuh tenaga untuk kabur dari orang-orang yang akan membunuhmu," ucap Rex lagi, sambil menusuk makanan dengan garpu dan memasukkannya ke mulutnya.
Maple duduk di kursi kosong yang masih hangat akibat sinar api. Ia mengambil piring dengan tangan yang gemetar, lalu mulai melahap makanan kaleng yang sudah diolah dengan sederhana namun lezat.
Ia tidak berpikir tentang kemungkinan racun di dalamnya—kehidupannya sudah seperti kapal yang hanyut di lautan badai, dan saat ini ia hanya pasrah dengan apa yang diberikan takdir.
*
*
*
Malam semakin larut, dan suhu di hutan terus turun. Udara dingin menusuk kulit hingga ke tulang, membuat Maple yang berada di dalam mobil menggigil meskipun sudah menutup diri dengan selimut tipis yang ada di dalamnya. Rex tidak menyalakan pemanas mobil—mereka harus menghemat bensin jika ingin sampai ke kota besok pagi.
Tak lama kemudian, pintu mobil terbuka dan Rex masuk dengan membawa jaket tebal berwarna coklat tua, jelas milik pemilik asli mobil tersebut. Jaket itu masih mengeluarkan aroma parfum kayu dan sedikit keringat.
"Pakai ini, setidaknya mengurangi dingin malam ini," ucap Rex, yang sudah mengenakan jaket kulit tebal. Cahaya bulan yang masuk melalui kaca mobil menerangi wajahnya yang tampak lelah, namun tatapannya tetap tajam.
Saat Maple mengenakannya, hangatnya jaket langsung menyelimuti tubuhnya.
Ia melihat Rex sedang menyesuaikan kursi pengemudi, membengkokkan bagian sandaran agar bisa berbaring dengan lebih nyaman.
Tanpa disadari, tangannya pun ikut mengatur kursinya sendiri, membengkokkan bagian belakang hingga ia bisa berbaring berdampingan dengan pria di sebelahnya.
Keduanya berbaring dalam keheningan yang hanya dipecahkan oleh suara gemericik air dari sungai dekat dan rengekan lembut binatang hutan.
Maple mencoba menutup mata untuk tidur, namun pikirannya terus berkeliaran dan membuatnya gelisah.
Akhirnya ia membuka mata, dan tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Rex yang sudah lama memandangnya—matanya seperti dua buah batu hitam yang menyimpan banyak rahasia, namun ada sesuatu di dalamnya yang membuat hati Maple berdebar kencang.
Saat tatapan mereka bertemu, Maple merasa seolah-olah terbawa oleh aliran air yang kuat. Ia terpesona dengan ketajaman tatapan pria itu, namun segera menyadari bahwa rasa nyaman yang ia rasakan bisa membawa masalah. Dengan cepat, ia membalikkan tubuhnya menghadap pintu mobil, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah di kegelapan.
*
*
*
Pagi harinya tiba dengan lembut, dan Maple terbangun karena mencium aroma makanan yang sangat lezat—bau telur orak-arik dan roti panggang yang menggoda indera penciuman. Ia mengucek kedua matanya yang masih berat, lalu merenggangkan tubuhnya dengan lembut, merasakan kesegaran udara pagi yang masuk melalui celah pintu mobil yang sedikit terbuka.
Ia duduk dan melihat sekeliling. Di luar, sinar matahari pagi menerangi hamparan rerumputan yang berlumut, dan Rex sedang berdiri di depan kompor kecil, mengaduk makanan di atas wajan dengan gerakan yang terampil. Asap tipis mengangkat ke udara, menyatu dengan kabut pagi yang masih melayang di atas tanah.
"kau sudah bangun! sebentar lagi selesai. Duduklah," ucap Rex tanpa menoleh, suara baritonnya terdengar hangat di pagi yang sejuk.
Maple keluar dari mobil dan mendekatinya, duduk di kursi lipat yang sudah ia kenal. Tak lama kemudian, Rex menyajikan sarapan di atas piring yang sama kemarin malam—telur yang matang dengan sempurna dan roti yang masih hangat. Keduanya makan dengan sunyi, menikmati kehangatan makanan dan ketenangan pagi hutan sebelum mereka melanjutkan perjalanan.
Setelah sarapan dan membersihkan semua perlengkapan, mereka kembali memasang semuanya ke dalam bagasi mobil dan melanjutkan perjalanan menuju kota.
Jalanan yang berkelok-kelok dan beraspal rusak membuat mobil bergoyang kencang, namun Rex mengemudikannya dengan hati-hati.
Di tengah perjalanan, mereka singgah di sebuah pom bensin kecil yang terpencil untuk mengisi bahan bakar.
Sambil menunggu, Rex juga membeli beberapa junkfood—keripik kentang, cokelat, dan jus buah—agar mereka bisa menyantapnya di dalam mobil saat jalan.
Sepanjang perjalanan, Rex selalu waspada. Ia seringkali berhenti sebentar untuk memantau sekeliling, memastikan tidak ada kendaraan yang mengikuti mereka atau orang yang mencurigakan yang mengawasi gerakan mereka. Kehati-hatiannya itu membuat Maple merasa aman, meskipun rasa takut akan pemburu mereka masih mengganjal di dalam hatinya.
*
*
*
Hingga malam pun tiba, dan mereka akhirnya sampai di kota. Lampu jalan mulai menyala, menerangi jalanan yang ramai dengan orang-orang yang sedang pulang kerja atau berkumpul bersama keluarga.
Rex menghentikan mobil di sebuah area padat penduduk, dekat stasiun kereta api dan terminal bus kota yang selalu penuh dengan orang banyak.
"Turunlah, kita berpisah di sini. Pakailah ini untuk melindungi dirimu," ucap Rex, mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dan sebuah senjata kecil yang ia miliki. Ia memberikannya kepada Maple dengan tangan yang mantap.
Maple terdiam sejenak, matanya menatap tangan Rex yang memberikan barang-barang itu.
Rasa ragu dan sedikit kesedihan menguasai dirinya—meskipun awalnya ia takut pada pria ini yang sempat ingin membunuhnya, kini ia merasa kehilangan sesuatu saat harus berpisah. Namun rasa takut akan masa depan yang tidak pasti juga tetap ada di dalam dirinya.
Akhirnya, ia mengambil uang dan senjata dengan hati-hati, lalu membuka pintu mobil. Ia keluar dan mulai berjalan menyatu dengan lautan orang yang berlalu lalang, tanpa berani menoleh ke belakang.
Rex melihat sosok Maple yang semakin menyusut di antara orang banyak, lalu segera melanjutkan perjalanannya.
Ia tidak menoleh sedikitpun, seperti yang sudah ia rencanakan—mereka harus berpisah. Namun saat ia sampai di perempatan lampu lalu lintas yang sedang merah, hujan tiba-tiba turun dengan derasnya.
Butiran air hujan yang besar menusuk permukaan jalan, membuat orang-orang yang tadinya ramai berjalan kaki segera berlari mencari tempat berteduh, menyisakan jalan yang sepi dan tergenang air.
Rex melihat ke arah tempat Maple hilang, mata matanya menatap jalan yang sudah tergenang. Ia melihat lampu lalu lintas yang sudah berubah menjadi hijau, namun tangan yang menginjak kopling tiba-tiba menjadi kaku.
"Shit, apa yang terjadi denganku?" ucapnya dengan nada rendah, mengumpat pada dirinya sendiri. Tanpa berpikir panjang, ia memutar kemudi ke arah kiri dan mulai mengemudi mundur, mencari sosok wanita yang telah bersama dia dalam perjalanan penuh bahaya itu.