masih up, cuma jarang!
Morline terlempar ke dalam novel sebagai istri gemuk sang antagonis, kehidupannya seharusnya berhenti di sana namun dia tak hidup mengenaskan sebagai karakter figuran. Morline harus bangkit, mengubah hidupnya lebih baik lagi dan lebih baik lagi.
Cedric kini mulai menyadari bahwa gadis gemuk yang selama ini dia anggap remeh ternyata memiliki rahasia yang luar biasa. perlahan dan tanpa Cedric sadari dia mulai terjerat dalam rencananya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tanya Balik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Di Targus dan pria itu
15.
Beberapa warga setempat menatap Morline dengan pandangan aneh saat mereka berjalan.
Tande berada tepat di sampingnya, mengenakan jubah untuk menutupi pedang yang tersemat di pinggang pria itu. Sebelumnya, Gengi meminta izin padanya untuk berkeliling daerah Targus. Morline tak bertanya banyak padanya karena merasa bukan ranahnya.
Sementara Nina, dia perintahkan untuk menemani anak itu istirahat di salah satu rumah warga, karena di daerah Targus tidak ada penginapan jadi mereka hanya bisa menyewa rumah warga sekitar.
"Permisi, dimana kami bisa menemui tetua daerah ya?" Morline mencegat seorang wanita yang menggendong anak.
Wanita itu menatap Morline dari atas sampai bawah. Pandangannya penuh penilaian. "Memangnya ada apa ya nona ingin bertemu tetua kami?"
"Kami hanya meminta izin untuk memeriksa lahan yang katanya tak bisa ditanami itu."
"Memangnya kalian mau apa? lahan itu sudah tak berguna lagi! kami bahkan sudah menyerah."
"Kami memiliki solusi, tapi kami perlu memeriksanya untuk bisa memahami kondisi lahan. Mohon nyonya bantu kami."
"Hem baiklah, aku akan membawamu ke tetua!"
Morline dan Tande mengikuti wanita itu. Sepanjang jalan beberapa warga menyapa wanita itu dengan ramah lalu menatap mereka dari atas sampai bawah kemudian bertanya pada wanita itu.
"Aku juga tidak tau, kata mereka ingin membantu masalah lahan yang kita alami. Akupun tak tahu mereka berbohong atau tidak."
Di belakang wanita itu, Morline dan Tande hanya bisa membatin. Wow terang-terangan sekali.
Sampai di rumah tanah yang lebar, wanita itu meminta mereka menunggu di depan pintu kemudian masuk ke dalam rumah. tak lama seorang pria tua muncul dengan pakaian yang terbuat dari kulit.
Morline menunduk sopan sebagai bentuk hormat dan menghargai, di sebelahnya Tande mengernyit, mempertanyakan mengapa seorang ratu bisa menundukkan kepala pada rakyat biasa. Gerakannya tak kaku dan terlihat tidak dipaksakan, dia justru tampak apa adanya di mata Tande.
"Halo tetua, nama saya Mor dan ini Tande rekan saya. kami datang dari wilayah tengah ingin mengetahui kondisi lahan di sini dan mencoba mencari solusi."
Melihat Morline berperilaku sopan sang tetua desa tersenyum senang, dia menyambut mereka dengan hangat di rumahnya dan memerintahkan wanita itu--yang ternyata anaknya untuk menjamu keduanya.
Obrolan ringan mengalir begitu saja di bawah atap jerami yang sejuk. Morline mampu membawa suasana hidup diantara mereka, bahkan Tande yang kaku cukup menikmati obrolan di teras rumah itu.
Mereka duduk di ranjang bambu, melingkar dengan jamuan sederhana di tengah mereka.
Obrolan berlanjut hingga matahari mulai tergelincir ke barat, Morline dan Tande setia mendengarkan keluhan-keluhan masyarakat di daerah Targus dari mulut tetua.
Semburat jingga yang kental seperti api nyala liar membuat Morline menyadari mereka cukup lama mengobrol. Dia meminta agar tetua mengantar mereka untuk melihat ladang.
Hamparan tanah luas dengan cahaya jingga yang memabukkan menerpa daratan, menyajikan pemandangan yang tak bisa di gambarkan oleh kata-kata. Sejenak Morline merasa bersyukur hadir di dunia ini untuk menikmati bertapa menakjubkannya alam menciptakan lukisan luar biasa indah.
Mereka lalu memeriksakan ladang yang kering dan kasar karena intensitas hujan berkurang selama 5 tahun terakhir, membuat para petani mengalami krisis pangan.
Di daerah itu tidak ada sumber mata air hingga para warga tak bisa membuat saluran irigasi untuk mengalirkan lahan-lahan mereka.
Morline mulai mencatat permasalahan lahan di buku catatannya.
"Hei katanya ada orang asing datang ke desa kita! Siapa mereka?!" Morline mengangkat kepalanya, melihat sekelompok pria dengan wajah yang tampak marah.
Tande siaga di sebelahnya, akan tetapi Morline memperingatkan dengan tatapan mata agar Tande tidak bertindak macam-macam.
Morline memperkenalkan diri, "saya Mor, datang dari wilayah tengah untuk mengetahui kondisi di sini. Kami meninjau lahan dan memikirkan solusinya atas masalah ini."
Seorang pria bertubuh besar mendekat, matanya memperhatikan Morline dari atas ke bawah. "Meninjau lahan? Buat apa gadis gemuk sepertimu melakukan pekerjaan seperti itu? Kau siapa sebenarnya?"
"Saya seorang pelajar yang berniat meneliti lahan di sini. Saya membutuhkan bantuan kalian untuk kerjasama." Morline berusaha bersikap sopan dan menjaga tutur katanya agar tak menyinggung siapapun.
"Pelajar!? Masalah kami bukan untuk jadi bahan uji coba pelajar sepertimu! Masalah ini seharusnya raja yang tangani bukan gadis yang tidak tahu apa-apa sepertimu! Sana pergi! Kau tak perlu repot-repot mengurusi urusan kami!"
Memikirkan jika pria-pria ini akan sulit dihadapi, Morline memilih untuk mundur.
"Baik, kami akan pergi dari sini tapi setelah satu Minggu, apa tuan-tuan mengizinkan kami menetap di sini selama itu?"
Sekelompok itu diam, mata mereka memperhatikan Morline dan Tande bergantian. Lalu menunjuk Tande dengan mata memicing. "Temanmu ini bisu, ya! Kenapa diam saja!?"
"Saya tidak bisu, saya memang orangnya seperti ini," jawab Tande singkat.
Setelah perimbangan, mereka akhirnya mencapai kesepakatan. "Oke kami izinkan, tapi hanya satu Minggu. Setelah itu kalian pergi!"
Morline menunduk mengucapkan terimakasih.
Di balik punggung pria-pria itu, seseorang dengan kumis dan rambut sebahu mengintip Morline dengan mata yang menatapnya seperti pemangsa. Manik gelap berkilat tajam seperti seekor serigala kelaparan.
Sudut bibirnya muncul membentuk senyuman yang menyeramkan.
******
Malam hari mereka kembali ke rumah yang mereka sewa, Nina sudah berdiri di depan halaman, wajahnya tampak cemas dan khawatir.
"Yang....lady Mor." Nina berlari menghampiri Morline yang berjalan bersama Tande. Mereka kembali Sete berpamitan pada tetua. "Lady, anak itu tidak mau saya mandikan dan tidak mau makan. Saya bingung harus bagaimana."
Morline yang lelah karena beraktivitas seharian, menghela nafas. Dia baru mengingat jika anak itu memerlukan perhatian yang ekstra hati-hati. "Biar aku sendiri yang menangani. Oh, ya apa Gengi sudah kembali?"
"Tuan Gengi memang sudah kembali, tapi pergi lagi katanya ingin menyusul anda."
Morline mengerutkan alisnya, lalu menatap Tande mencoba bertanya lewat mata. Tande yang mengetahui bahwa Gengi sedang menyelidiki kelompok pemberontak hanya menjawab sekenanya.
Mendengar jawaban Tande yang tidak masuk akal, Morline berusaha untuk tidak mengulik lebih jauh.
Dia lalu masuk ke rumah tanah sederhana itu dan menemukan anak laki-laki kecil sedang duduk di lantai kayu.
Morline mendekat lalu berjongkok. "Katanya kau tak mau mandi ya? Juga belum makan?" Anak itu hanya diam. Morline mempertimbangkan untuk memberinya nama. "Kalau begitu kita makan bersama yuk, aku juga belum makan. Ayo berdiri."
Nina cukup peka, dia segera pergi ke dapur untuk memasak makanan. Tande entah kemana perginya, bagaikan daun terbawa angin, dia pergi begitu saja.
Anak itu menatap matanya, dia selalu menatap mata Morline dengan tatapan yang tak bisa Morline ketahui, lalu berdiri dan berjalan mengikuti Morline ke dapur.
Di tempat ini tidak ada meja makan, mereka hanya makan di lantai kayu yang digelar tikar. Karena sedang krisis pangan di sini, bahan-bahan yang mereka masak dibeli dari kota tempat mereka singgah sebelumnya.
"Sudah cukup Nina, jangan masak berlebihan. Aku tak mau makan lezat saat warga sekitar sedang kelaparan."
Rasanya Morline merasa bersalah saat orang-orang di daerah ini hanya bisa makan daun liar sementara mereka bisa menikmati sayur segar.
Nina menoleh sejenak. Matanya memanas mendengar kalimat itu keluar dari seorang gadis yang menyandang gelar ratu. Andai semua orang tahu betapa ratunya peduli pada mereka, tentu semua orang tak akan mengejek bentuk tubuhnya yang melebihi berat normal.
Nina hanya memasak sup sayur sederhana dan nasi putih, menyajikannya dengan hati-hati ke lantai.
Morline mengambil tiga piring tanah liat yang dilapisi daun pisang, lalu mengambil nasi untuk anak itu dan dirinya.
Saat Nina sudah duduk, Morline mengintruksikan agar mereka mulai makan. Dia lalu melirik anak itu yang tampak kesusahan menggunakan sendok, mungkin belum terbiasa. Morline hanya tersenyum dan tidak melakukan apapun selain memperhatikan gaya makannya yang berantakan.
Nina di depannya hanya menatap Morline dengan bingung, dia heran mengapa sang ratu membiarkan seorang anak makan dengan tidak sopan seperti itu. Namun seperti kata Morline sebelumnya jika anak itu berbeda dari anak lainnya, jadi cara mendidiknya juga harus berbeda.
Setelah selesai makan.
"Terimakasih ya sudah menghabiskan nasimu, apa kau mau tambah?" Morline bertanya saat melihat piring anak itu kosong. "Kalau mau tambah aku akan memberikannya, mau tambah tidak?"
Beberapa detik diam, kemudian mengangguk. Morline langsung menambahkan satu sendok nasi dan sup sayur ke piringnya. "Silahkan makan."
Di luar terdengar suara ketukan pintu. Nina segera bangkit dan membukanya.
"Ya tuan ada apa?"
"Saya di utus oleh tetua desa untuk menjaga kalian. Nama saya Eddy, nona. Oh, ya di mana nona satunya lagi."
"Ada di dalam, kami sedang makan malam. Apa anda perlu bicara dengan teman saya?" Nina sebenarnya segan menyebut Morline sebagai teman karena dirinya merupakan dayang, akan tetapi Morline memaksa agar warga sekitar tak curiga.
Pria berkumis itu mengangguk. Nina masuk kedalam dan menutup pintunya, tak lupa mengunci. Berlari ke dapur. "Lady, lady! Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu di luar!"
"Siapa?"
"Dia menyebutkan namanya Eddy, katanya di utus oleh tetua untuk menemani kita selama tinggal di desa ini."
Morline bangkit meninggalkan anak itu yang sedang asik makan. Saat membuka pintu, seorang pria berkumis dengan rambut sebahu berdiri dengan punggung yang agak bungkuk. "Ya tuan? Apa apa ingin bertemu saya?"
"Sebelumnya perkenalkan." Pria itu mengulurkan tangan ke depan. "Nama saya Eddy, saya seorang pelajar juga. Tetua desa mengutus saya untuk menemani kalian."
Morline menjabat tangannya, tersenyum sopan padanya. "Saya Mor, jadi anda pelajar juga? Dari kota mana?"
"Kota bagian barat, saya lulus sekitar 3 tahun lalu dan sudah tinggal di sini selama 4 tahun. Saya cukup mengenal orang-orang di desa ini, bahkan tetua desa menganggap saya anaknya." Bibirnya tersenyum, mata merahnya menatap lurus pada manik hijau Morline.
"Maaf sebelumnya, tapi saya tak bisa mengajak anda masuk."
"Ah! Jangan khawatir saya tidak berniat menumpang makan di sini, saya hanya menyampaikan jika besok tetua meminta kita pergi ke ladang. Apa besok anda bersedia?"
"Tentu saja! Lebih baik pagi hari agar tidak terkena sinar matahari yang panas. Tidak apa-apa kan?"
"Tidak tentu tidak, kalau begitu saya pamit pergi."
"Silahkan."
Eddy berbalik pergi, Morline memperhatikan dari ambang pintu pria dengan punggung yang agak bungkuk itu. Mempertanyakan dalam hati kenapa bisa bungkuk diusianya yang masih muda, lalu masuk ke dalam dan mengunci pintu.
Dalam gelapnya malam, pria bungkuk itu menenggakkan punggungnya dan melakukan peregangan hingga sendi-sendinya berbunyi. "Akh! Melakukan hal ini membuatku sakit punggung sungguhan!" Kemudian bibirnya tersenyum, senyum yang terasa menyeramkan dan berbahaya. "Tapi aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini, keberuntungan berada di pihakku."
°°°°°
Pagi tadi Nina bersusah payah menimba air di sumur untuk dirinya mandi. Meski kondisi di sini sulit, entah kenapa Morline tak bisa menghilangkan kebiasaan mandi paginya.
Setelah membersihkan diri, Morline mengajak anak itu dan Nina ke ladang. Gengi dan Tande yang tampak masih mengantuk juga ikut bersama mereka.
Di luar Eddy menunggu dengan tas kulit yang tergantung di bahunya. Morline memperkenalkan Tande dan Gengi pada pria bungkuk itu lalu mereka pergi bersama ke ladang.
Sepanjang jalan, Eddy menjelaskan kondisi daerah itu selama 5 tahun terakhir. Kekeringan dan hujan yang hanya turun setahun sekali menjadi hal yang langka di daerah ini. Meski dia sudah mencoba menangani krisis ini, tapi kondisi daerah yang jauh dari mata air dan panas berkepanjangan membuat tanah-tanah di sini terus mengalami penguapan dan kehilangan nutrisi air di dalamnya.
"Apa ada tanaman yang anda coba sebelumnya tuan Eddy?" Morline bertanya pada Eddy. Dia cukup nyaman berbicara dengan pria itu karena bisa memahami kondisi lahan di sekitar.
"Ada, awalnya kami menanam jagung, tapi hasilnya buruk dan tak bisa di jual ke pasar besar. Lalu kami beralih menanam kol, sayu dan kentang, tapi hasilnya tetap sama justru sayur tak mampu bertahan di tanah seperti ini, setelah itu kami mencoba menanam buah-buahan, tapi tak ada yang berhasil." Jelas Teddy. "Bisakah anda memanggil saya Eddy, orang-orang desa memanggil saya begitu."
Morline hanya mengangguk, tak terlalu menganggap itu berlebihan. "Kalau begitu panggilan saya Mor saja. Apa kau sudah mencoba memberi pupuk?"
Eddy mengangguk, "sudah, tapi hasilnya tetap sama, dari mulai kotoran sapi dan kambing, aku coba, tapi tak ada hasil. Menurutmu bagaimana solusinya?" Eddy menatap wajah Morline yang bulat, dibawah sinar matahari yang masih hangat wajahnya tampak lembut.
"Aku butuh bantuan warga sekitar, apa kau bisa mengajak mereka? Aku punya cara tapi aku tak bisa melakukannya sendiri."
"Memang apa rencanamu?"
"Buat tanah itu lembab dengan menumpuk jerami dan rumput kering untuk mencegah penguapan panas, lalu buat kompos untuk mengembalikan kesuburan tanah dan membuat penampungan air hujan."
Eddy menatap Morline dengan heran. "Memangnya bisa?"
"Aku yakin bisa, tapi aku perlu banyak tangan untuk membantuku."
Eddy mengangguk, "baiklah, aku akan mencoba bicara pada mereka."
"Terimakasih."
Gengi yang memperhatikan diskusi mereka mulai menyadari betapa pintar dan cerdasnya ratu muda yang ada di hadapannya ini.
"Gengi dan Tande kalian bantu Eddy untuk mengumpulkan warga, ya!"
Gengi hampir saja menunduk jika tak mengingat mereka sedang menyamar menjadi orang biasa. "Oke," katanya singkat.
Sebenarnya mereka bisa saja menunjukkan identitas mereka, hanya saja Targus adalah daerah rawan karena konflik masa lalu. Raja Cedric menyarankan agar menyamar sebagai orang biasa untuk mencegah hal-hal yang akan menimbulkan perseteruan, dan lagi di daerah Targus terindikasi tumbuh bibit-bibit pemberontak jadi mereka harus berhati-hati.
Untuk mencegah kelompok itu berkembang lebih pesat, sang raja mengutus dirinya dan Tande untuk menyelidiki daerah ini.
"Hei!" Nina berteriak membuat atensi mereka teralihkan. Anak itu berlari ke arah Morline. "Maaf anak ini tak bisa diam." Kata Nina pada Morline.
Anak itu berdiri di samping Morline, terlihat ragu-ragu. Morline berjongkok menyamakan tinggi mereka, tiga pria di sana memperhatikan. "Ada apa?"
Seperti biasa anak itu hanya diam, enggan bicara.
"Wajahmu kotor boleh aku bersihkan?"
Dia mengangguk. "Aku izin menyentuh wajahmu ya." Morline menggunakan jempolnya untuk membersihkan debu yang sebenarnya tak tampak, dia hanya beralasan untuk mengelus wajahnya saja. "Kau lapar tidak? Mau makan? Aku ingat kita belum sarapan, ya."
Eddy mengerutkan alisnya samar melihat anak itu dan bagaimana cara Morline memberinya perhatian. Begitu lembut seperti bunga dandelion di bawah sinar pagi.
....
Sore hari, berkat bantuan Eddy mereka berhasil mengumpulkan para petani untuk bekerja sama. Meski beberapa tampak ragu seperti pria-pria kemarin, tapi Eddy yang memang sudah lama tinggal di desa ini mampu membuat mereka percaya.
Morline menginstruksi agar mereka mengumpulkan jerami, rumput atau tanaman lain untuk menutupi ladang agar kelembaban tanah terjaga. Lalu mengumpulkan kotoran ternak yang nanti akan digunakan untuk membuat kompos dan memberi tahu para petani cara membuat irigasi kecil, salah satunya adalah menggali parit untuk menampung air.
"Hei nona! Apa kau yakin semua ini berhasil! Eddy saja yang sudah bertahun-tahun di sini tidak mampu menanganinya! Apalagi kau yang seorang gadis gemuk!"
Dia menatap petani itu, "saya yakin berhasil, hujan pasti akan turun! Dewa tak akan membiarkan hambanya begitu saja bukan! Percayalah pada dewa kalian yang akan membantu, dan kita usahakan untuk membuat jalan dewa menjadi lebih mudah. Jadi kalian tak boleh ragu untuk bekerja sama dengan kami." Morline berbicara lantang agar terdengar oleh para petani lainnya.
Daerah Targus rata-rata mempercayai dewa-dewi, itulah mengapa klan Huth dan Hesperias di masa lalu sempat berseteru. Untuk bisa menyatu dengan warga sekitar, Morline tentu harus cukup toleran dengan kepercayaan mereka.
Para petani itu terdiam, sejujurnya mereka masih ragu pada kelompok Morline, tapi apa yang Morline katakan memang ada benarnya. Dewa memang bisa mengabulkan apapun tapi tergantung apakah manusia mampu membuat jalan menuju keinginan mereka sendiri atau tidak.
"Tapi kalau ini gagal bagaimana?!" Salah satu petani bertanya.
"Kita belum mencoba. Tidak bisa di sebut gagal jika kita belum melakukan apa-apa, saya ingin kalian percaya dan berdoa agar semua urusan kita dilancarkan. Jadi tuan-tuan dan nyonya-nyonya saya mohon pada kalian untuk bekerjasama. Kalian tentu lelah hidup seperti ini tanpa perubahan. Kita mencoba untuk mencapai perubahan itu."
Eddy dan Tande mulai menginstruksi para petani agar mengumpulkan bahan yang Morline minta lalu mereka bergotong royong membangun parit.
Mentari semakin ke barat, menarik semua sinarnya dari bumi. Hari sudah mulai gelap, sekelompok wanita yang Morline minta untuk memasak dengan bahan-bahan yang dirinya beli dari kota, mengantarkan makanan untuk para pria yang sudah bekerja keras.
Mereka menggelar tikar, lentera-lentera digantungkan di atas bilah bambu agar menerangi bawah pohon. Hembusan angin yang pelan membawa suasana syahdu yang aneh, aroma tanah dan rumput kering terbawa oleh udara yang bergerak.
Para wanita menyiapkan makanan di atas tikar yang telah di siapkan, Morline dan Nina membantu menata sementara anak itu berdiri diam di samping pohon, hanya menatap mereka dengan mata hijaunya.
Para pria mencuci kaki dan tangan mereka dari air sumur yang hampir mengering, satu ember per tiga orang untuk menghemat persediaan.
Mereka duduk di tikar yang sudah disiapkan, berkumpul bersama menikmati makan setelah lelah bekerja.
Gengi dan Tande sejenak melupakan bahwa mereka adalah ksatria yang sedang menjaga sang satu dan dalam tugas misi, mereka terseret arus rasa hangat dan nyaman kebersamaan di bawah pohon kering.
setia menunggu up berikut nya 😁👍
lanjuuttttt lagiiii 💪💞
Jangan lama-lama up nya lagiiii yaaa Thor 😘🤗🙏
lanjut lagiiii 👍👍👍😍