Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15.
Pukul tujuh pagi Fahri dan Bella sudah tiba di rumah, sedangkan Reza telah pergi ke kantor seperti hari-hari biasanya, sementara di rumah sakit juga ada dua orang pengawal yang berjaga sesuai perintah Fahri.
Di dapur, Yanti baru selesai membuat sarapan dan menghidangkannya di atas meja makan sesuai permintaan Fahri di telepon tadi, mereka berdua belum sempat sarapan.
Melihat kedatangan Fahri dan Bella yang berjalan bergandengan tangan, Yanti menyapanya, dia tersenyum menyaksikan pemandangan langka itu. Dia ikut senang akhirnya Fahri berhasil membawa Bella pulang ke rumah. Semoga kedepannya tidak ada lagi kesalahpahaman diantara mereka berdua.
Selama dua tahun pernikahan sebelumnya, Yanti bisa melihat ada perasaan yang terpendam diantara keduanya, hanya saja mereka berdua seperti menutup diri, tidak ada yang mau mengakui.
Terlebih Fahri, dia merupakan pribadi yang tegas dan selalu menepati janji. Karena merasa Bella tidak memiliki perasaan padanya, sebab itulah dia menceraikan Bella sesuai perjanjian sebelumnya. Dia pikir Bella akan bahagia hidup tanpanya, tapi ternyata dia justru mendorong Bella ke dalam jurang yang dalam.
"Makan yang banyak!" ucap Fahri sambil mengambilkan makanan dan menaruhnya di piring Bella.
"Hmm..." angguk Bella kemudian menyantap makanannya dengan lahap.
Selesai mengisi perut, Bella meninggalkan meja makan lebih dulu. Dia masuk ke kamar, menanggalkan mantel lalu berjalan ke kamar mandi.
Usai membersihkan diri, dia berpakaian rapi dan bersiap pergi.
Krek...
Bella membuka pintu kamar, namun terperanjat mendapati Fahri yang sudah berdiri di ambang pintu.
Menyaksikan Bella berpakaian rapi, kening Fahri mengernyit. "Mau kemana?" tanyanya dengan tatapan menyelidik, dia melangkah pelan sehingga membuat Bella termundur ke belakang.
Bella gelagapan, nyalinya menciut melihat tatapan Fahri yang tak biasa, tajam seperti singa jantan kelaparan.
Kemudian Fahri meraih pinggang Bella, menariknya hingga dada keduanya saling menempel. Jarak wajah mereka berdua sangat dekat sehingga hembusan nafas saling menerpa.
"Fa-Fa-Fahri..." Bella tergagap, dia mencoba menyingkirkan tangan Fahri yang melingkar di pinggangnya tapi tidak bisa, Fahri terlalu kuat.
"Mau kemana?" tanya Fahri lagi, seringai licik melengkung di sudut bibirnya.
"A-a-aku..." Bella tidak tau harus berkata apa.
Huft...
Bella berusaha mengatur nafas, menghirup udara sebanyak-banyaknya dan membuangnya dengan kasar.
"A-aku mau kerja," ungkap Bella setelah nyalinya terkumpul.
Deg...
Fahri terperanjat, jantungnya bergemuruh.
"Kerja...?" ulang Fahri dengan tatapan aneh.
Bella mengangguk, membuat rahang Fahri mengeras dan bergerak hingga pelipis, giginya bergemeletuk. Apa Bella mau mengantar makanan lagi?
Tanpa pikir panjang, Fahri mengangkat tubuh Bella dan membawanya ke kasur, mendudukkannya di tepi ranjang. Kemudian Fahri berjalan menuju lemari, membukanya dan mengambil beberapa barang, setelah itu berlutut di kaki Bella.
"Ini sertifikat tanah," Fahri menaruh beberapa dokumen di pangkuan Bella. "Ini sertifikat rumah, villa dan apartemen," Fahri menumpuk beberapa dokumen lagi di atasnya. "Ini surat-surat perhiasan," Fahri menumpuknya lagi. "Ini surat-surat mobil," Fahri menumpukkan lagi beberapa BPKB dan STNK mobil, terakhir beberapa biji kartu ATM.
Melihat semua dokumen penting yang ada di pangkuannya, mata Bella melotot tajam, kakinya sedikit gemetar.
"Semua ini milikmu," tambah Fahri dengan raut kesal. Dia kesal karena Bella masih saja ingin bekerja mengantar makanan, padahal Fahri memiliki segalanya, dia tidak akan kekurangan.
"Milikku...?" ulang Bella, dia tidak percaya Fahri rela menyerahkan itu semua padanya.
"Milik siapa lagi kalau bukan milikmu, istriku cuma satu." gumam Fahri dengan bibir manyun, begitu manja seperti anak kecil. Meski ucapannya terdengar pelan, tapi Bella bisa mendengarnya.
Bella mengangkat semua dokumen itu dan menaruhnya di kasur lalu membantu Fahri bangkit.
Bruk...
Entah sengaja atau tidak, kini tubuh Bella terbaring di kasur akibat terhempas saat membantu Fahri bangkit dari lantai barusan, tubuh Fahri berada tepat di atasnya.
Fahri menatap lekat wajah Bella, seringai tipis melengkung di sudut bibirnya. "Oh, jadi begini caramu menggodaku,"
Bella gelagapan, netranya berkedip beberapa kali, bola matanya bergerak liar, dia tidak berani menatap Fahri. "Si-siapa yang meng..."
Ehm...
Perkataan Bella terputus saat bibir Fahri mendarat di bibirnya, Fahri me1umatnya pelan dan dalam.
Hah...
Bella terengah ketika Fahri melepaskan bibirnya, keduanya saling menatap.
Dengan jantung berdegup kencang dan nafas memburu, Fahri menggigit bibir, dia tidak tahan, urat di keningnya menonjol menahan rasa yang entah.
Setelah cukup lama terdiam menahan gejolak yang membara, kepala Fahri sedikit menjauh, dia hendak turun dari tubuh Bella, akan tetapi Bella malah menarik kerahnya.
Fahri terkesiap, detak jantungnya kian tak beraturan menatap lekat mata Bella, jakunnya naik turun melihat bibir Bella yang masih basah.
Ehm...
Kembali bibir keduanya bertaut saat Bella mengangkat kepala, Bella berinisiatif lebih dulu, tangannya menjalar di pundak, tengkuk dan kepala Fahri, membuat Fahri menggila seperti kesetanan.
Fahri me1umat bibir atas dan bawah Bella bergantian, kemudian me1umat penuh dengan rakus, bibir Bella hilang timbul dibalik bibirnya yang terbuka, keduanya bermain lidah dan saling menghisap dengan mata tertutup.
Disaat bersamaan, tangan Bella sudah mendarat di dada Fahri, berusaha membuka kancing dengan sebelah tangan.
Hah...
Kokopan mereka terlepas, Fahri menangkap tangan Bella sambil menatap matanya, hasratnya kian menggebu-gebu melihat raut wajah Bella yang tak biasa.
"Kamu yakin ingin melakukan ini?" tanya Fahri ketika menyaksikan Bella yang sudah dibakar gairah.
Bella tidak menjawab, dia hanya mengangguk seiring dezahan kecil yang keluar dari mulutnya.
Mendapat lampu hijau, Fahri melepaskan kemejanya dan membuangnya sembarangan.
Ehm...
Lagi-lagi Fahri me1umat bibir Bella dalam-dalam, turun ke leher, memberi kecupan-kecupan dan gigitan kecil yang menyisakan tanda merah kebiruan.
Ah...
Bella mendezah, tubuhnya menggeliat, dadanya terangkat ketika bibir Fahri sudah berlabuh di belahan dadanya. Beberapa detik kemudian pakaian yang menutupi tubuhnya hilang setelah Fahri membukanya dan membuangnya.
Ah...
Bella kembali mendezah ketika Fahri asik bermain di dadanya, bobanya menegang saat Fahri menghisap dan memainkan lidah di sana, meremaz gunungnya dengan lembut. Tubuh Bella seakan melayang merasakan nikmat yang luar biasa.
"Fahri, sakit..." rengek Bella saat sesuatu berusaha masuk menerobos intinya.
Dengan kaki gemetaran, Fahri menarik rudalnya, dia tidak tega melihat Bella merengek kesakitan.
Sebenarnya Fahri juga merasa sakit, kepala rudalnya lumayan besar, sedangkan inti Bella terlalu sempit dan kecil, jari kelingkingnya saja tidak bisa masuk.
Sepertinya Fahri harus bersabar, dia tidak mau memaksakan diri, tubuh Bella sangat berharga baginya.
Kemudian Fahri turun dari ranjang, memungut pakaian yang tadi berserakan di lantai. Setelah membantu Bella mengenakan pakaian, dia berlalu pergi memasuki kamar mandi, berendam dengan air dingin.
Beberapa menit berselang, Fahri keluar dengan tubuh bertelanjang dada. Setelah mengenakan pakaian, dia berbaring di samping Bella dan memeluknya dari belakang.
"Maaf..." gumam Bella tidak enak hati, dia merasa bersalah karena tidak bisa memuaskan Fahri.
"Sudah, tidak apa-apa, masih ada hari esok." kata Fahri, dia melepaskan pelukannya dan memutar tubuh Bella sehingga berhadapan. Fahri kemudian merentangkan tangan agar Bella bisa masuk ke dalam dekapannya.
Tadinya wajah Bella tenggelam di dada Fahri, kemudian Fahri mengangkat dagunya sehingga kepala Bella mendongak ke arahnya. "Kamu sudah lihat tadi, kan?" ujar Fahri dengan senyum tipis, menatap lekat wajah Bella dengan intens.
"Lihat apa?" tanya Bella dengan kening mengernyit.
"Itu yang tadi, sempit banget, jangankan batangnya, kepalanya saja tidak bisa masuk." goda Fahri dengan senyum nakal.
"Fahri..." pekik Bella, seketika mukanya merah padam.
Hahaha...
Fahri tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Bella yang menggemaskan.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡