NovelToon NovelToon
Diam-diam Membalaskan Dendam

Diam-diam Membalaskan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: nita kinanti

Setelah mendapatkan donor mata, Zivanna hampir tidak pernah bisa tidur nyenyak. Mimpi setiap malam dia bermimpi aneh bahkan terkadang buruk yang sering membuatnya terbangun dengan jantung berdebar tidak karuan.

Zivanna berpikir mungkin dirinya sedang stress jadi untuk sementara dia akan tinggal bersama neneknya di desa.

Tetapi siapa sangka ketika tinggal di desa, mimpi aneh Zivanna semakin menjadi-jadi menyebabkan dia sering mondar-mandir ke puskesmas dan bertemu Alvaro, dokter tampan yang membantunya menangani masalahnya.

Ternyata, mimpi-mimpi yang selalu mengganggu Zivanna berasal dari potongan penglihatan pemilik mata sebelumnya yang telah mengalami begitu banyak siksaan.

Dibantu oleh Alvaro, Zivanna akan membalaskan dendam pemilik penglihatan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nita kinanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

6. Mimpi Buruk Lagi

Pertanyaan Rani membuat wajah Zivanna memucat. Semakin dia memikirkan jawabannya semakin dia teringat akan mimpi-mimpinya dan itu membuatnya semakin ketakutan.

"Non Ziva tidak apa-apa?" Rani khawatir melihat keadaan cucu majikannya.

"Mak, antar aku pulang, ya? Aku merasa tidak enak badan." Suara Zivanna bergetar.

"Iya, iya. Biar diantar Pak Budi pakai motor, ya? Mamak takut Non Ziva pingsan di jalan."

Zivanna mengangguk pasrah.

"Pak... Pak... Tolong antar Non Ziva pulang. Dia sedang tidak enak badan." Rani berteriak memang suaminya.

Tak lama kemudian Budi, suami Rani datang. "Iya, Bapak siapkan dulu motornya." Budi bergegas mengeluarkan sepeda motor yang sudah terparkir di garasi yang juga sekaligus ruang tamu keluarganya.

Tidak sampai lima menit kemudian sepeda motor yang ditumpangi Budi dan Zivanna sudah memasuki halaman rumah Minah. Perempuan tua itu sejak tadi menunggu Zivanna di teras jadi dia bisa langsung melihat ketika cucunya itu pulang.

"Loh, pulangnya diantar Budi?" Minah heran karena tadi Zivanna berangkat sendiri ke rumah Rani berjalan kaki.

"Iya Bu, Non Ziva sepertinya kurang enak badan, wajahnya pucat," jawab Budi.

Di belakangnya Zivanna turun dari boncengan sambil berkata, "Terima kasih, Pak Budi. Maaf merepotkan Pak Budi malam-malam begini."

"Nggak apa-apa, Non Ziva langsung masuk saja, terus tidur."

Zivanna langsung melangkahkan kakinya memasuki teras rumah. "Aku langsung ke kamar ya, Nek. Kepalaku pusing banget," ucapnya ketika melihat sang nenek yang menatapnya dengan wajah cemas.

"Terima kasih ya, Bud." Minah bergegas menyusul cucunya ke kamar. Sampai di kamar dia melihat Zivanna sudah berbaring di atas tempat tidur sambil memejamkan mata.

"Mau minum obat biar tidak pusing?"

Zivanna menggeleng. Kepalanya memang berdenyut tetapi bukan pusing. Jantungnya berdebar-debar tetapi tidak tahu karena apa. Dia ketakutan tetapi tidak tahu apa yang dia takutkan. Sulit menjelaskan apa yang sedang dia rasakan.

Rasanya aneh. Dia tidak yakin neneknya akan percaya jika dia menceritakan yang sedang dia rasakan, apalagi jika ini semua hanya karena mimpi yang tidak jelas.

"Ya sudah. Kamu istirahat saja. Nanti kalau butuh apa-apa panggil nenek."

Zivanna hanya mengangguk tidak bersuara.

* * *

Langit sudah berubah menjadi jingga. Tinggal menunggu hitungan menit saja matahari akan tenggelam sepenuhnya.

Zivanna berdiri tengah jalan sendirian. Dari kejauhan dia melihat seorang gadis membawa keranjang plastik besar berjalan ke arahnya. Langkahnya tenang tetapi mantap dan wajahnya terlihat ceria.

"Mungkin dia gadis yang bernama Ayu itu." Zivanna memperhatikan gadis itu dengan seksama. Cantik natural khas gadis pedesaan. Tidak ada jejak skincare ataupun polesan make up di wajahnya. Memang kelihatan kurang terawat dan baju yang dikenakannya pun hanyalah baju kusam yang sudah ketinggalan jaman, tetapi itu tidak bisa menyembunyikan aura kecantikannya.

Gadis itu semakin mendekat sampai-sampai Zivanna bisa melihat isi keranjang yang gadis itu bawa.

"Kue apa itu? Apakah itu yang namanya kue putu ayu? Bukankah dia berjualan hanya sampai siang hari? Ini sudah hampir malam tetapi keranjang kue nya masih penuh. Apa ada yang salah? Apa seharian tadi dagangnya tidak laku?" Banyak sekali pertanyaan di benak Zivanna.

Gadis itu terus berjalan melewati Zivanna begitu saja seolah dirinya tidak kasat mata. Zivanna terus mengikutinya.

Dari arah lain seorang gadis berjalan ke arahnya lalu berpapasan dengan Ayu. Keduanya berhenti lalu terlibat percakapan. Jarak Zivanna dengan kedua gadis itu tidaklah jauh. Mungkin hanya beberapa langkah saja. Tetapi Zivanna sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.

Awalnya semua terlihat baik-baik saja. Hingga satu kalimat dari gadis yang baru saja datang membuat raut wajah Ayu terlihat kecewa lalu keduanya terlibat perdebatan.

Gadis yang baru saja datang itu merebut keranjang Ayu lalu melemparkan semua isinya ke jalanan. Setelah itu dia pergi begitu saja sementara Ayu memunguti kue-kuenya yang sudah kotor sambil menahan air mata. Beruntung kue itu dibungkus satu persatu di dalam sebuah mika sehingga hanya luarnya saja yang kotor.

Zivanna membuka mata. Mengedarkan pandangannya lalu bernafas lega. "Hanya mimpi," gumamnya. Dia membenarkan selimutnya lalu hendak kembali memejamkan mata. Tetapi kemudian ada rasa aneh yang tiba-tiba datang menggerogoti hatinya.

Kenapa aku memimpikan Ayu? Aku tidak kenal bahkan belum pernah bertemu sebelumnya. Ahhh... Sudahlah. Mimpi memang kadang serandom itu, pikirnya lalu kembali tertidur.

Zivanna terus memperhatikan gadis yang sedang memunguti kue putu itu. Begitu semua kue masuk ke dalam keranjang gadis itu kembali berdiri lalu melanjutkan langkahnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Tiba-tiba sebuah tangan kekar menarik tangan Ayu. Tangan dari seorang laki-laki yang memakai jaket hitam bertudung dengan gambar tengkorak di bagian tengahnya. Ayu dan laki-laki itu tampak beradu mulut tetapi sekali lagi, Zivanna tidak bisa mendengar apa yang orang-orang katakan di dalam mimpinya.

Laki-laki berjaket hitam itu menarik tangan Ayu dengan kasar lalu menyeret tubuhnya. Keranjang kuenya jatuh dan isinya yang baru saja selesai dia punguti kembali berserakan di jalanan. Ayu meronta sekuat tenaga hingga akhirnya tangannya terlepas dari cekalan pria itu. Dia segera berlari secepat yang dia bisa tanpa mempedulikan kue-kuenya yang sudah berserakan.

Zivanna berusaha mengejar Ayu, ingin menolong gadis malang itu tetapi langkahnya seperti tidak membawanya kemana-mana. Dia sudah berlari sekuat tenaga tetapi rasanya seperti dia tidak berpindah dari tempatnya.

Tanpa sadar, area persawahan dimana tadinya mereka berada kini sudah berubah menjadi perkebunan tebu. Zivanna semakin berdebar-debar.

Ini... Ini... Kejadian itu di sini. Aku harus mencegahnya.

Laki-laki itu berhasil menangkap Ayu lalu menyeret Ayu menyusup diantara pepohonan tebu. Gadis itu berteriak, meronta, memukul bahkan menendang laki-laki yang sedang menyeretnya. Tetapi semua usaha Ayu terlihat sia-sia. Tubuh laki-laki itu jauh lebih besar darinya.

Laki-laki itu mendorong Ayu hingga Ayu jatuh ke tanah diantara pepohonan tebu yang berjajar rapat lalu menindih tubuhnya. Tangan kasarnya menggerayangi tubuh Ayu sementara tangan lainnya mengunci kedua tangan Ayu di atas kepalanya.

Zivanna berteriak histeris. "Hentikan! Jangan lakukan itu! Lepaskan dia! Tolong... Tolong... !!" Itu yang dia coba teriakkan. Tetapi tidak peduli seberapa keras dia berusaha suaranya seperti tidak terdengar. Laki-laki itu terus melakukan aksi bejatnya dan Zivanna hanya bisa melihatnya sambil teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa.

Minah bangun dan langsung berjalan secepat yang dia bisa ke kamar Zivanna setelah mendengar cucunya itu berteriak-teriak minta tolong. "Zi... bangun... Kamu kenapa, nak?" katanya sambil mengguncang pelan lengan Zivanna.

Zivanna membuka mata lalu melihat sekelilingnya. Nafasnya tersengal dan keringatnya bercucuran. Dia terlihat linglung selama beberapa saat. Setelah itu berkata, "Nek, aku haus."

Minah bergegas mengambilkan air minum untuk cucunya kemudian menyerahkannya sambil bertanya dengan lembut, "Mimpi buruk lagi?"

1
Ma Em
Suci mau balas pada Bu Minah karena sdh pecat Bu Ida coba saja kalau berani , pasti Zivana langsung bertindak dan akan membalaskan dendam Ayu pada Bu Ida dan Suci .
Ma Em
Ayo Zivana balaskan dendam Ayu pada Suci juga pada Ida karena perbuatan mereka hdp Ayu jadi menderita .
Ma Em
Ayo Alvaro cari bukti yg kuat agar orang2 yg sdh jahat pada Ayu akan dapat hukuman yg setimpal ,terutama Bu Ida dan Suci hrs di beri pelajaran itu agar dia sadar dan sekalian masukan ke penjara .
Ds Phone
itu lah sebab nya
Ma Em
Semangat ga Alvaro segera membuka semua tabir yg Zivana hadapi dan Zivana bisa sehat kembali tdk diteror dgn mimpi mimpinya .
Ds Phone
dia jahat dengan ayu
Ds Phone
rasa mata tu dia punya
Ds Phone
cucu sorang memang susah hati
Ds Phone
dia ingat dia ayu
Ds Phone
cari kesepatan
Ds Phone
memang jahat perumpuan tu
Ds Phone
mimpi teruk lagi lah tu
Ds Phone
orang jahat dah cemburu
Ds Phone
dia melihat semus nya
Ds Phone
dia lihat apa perbuatan jahat meraka
Ds Phone
maaf sebab dah buat jahat
Ds Phone
muking dia kena rogol
Ds Phone
semua nya ada kaitan
Ds Phone
ada saja yang dengki
Ds Phone
ada apa dengan dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!