NovelToon NovelToon
Dunia Angkasa

Dunia Angkasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Cintapertama
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Purnamanisa

Dunia Damai Sentosa, gadis cantik yang ceria itu menyimpan banyak luka masa lalu. Tak pernah ada yang tahu, di balik senyumnya yang ceria itu, Nia —panggilan akrabnya—, ternyata menyimpan luka tentang siapa dirinya.

Pertemuannya kembali dengan Angkasa Biru Cakrawala, ternyata tak seperti yang dia bayangkan. Aang —panggilan akrab Angkasa— seperti orang lain, orang baru, bukan seperti Aang yang Nia kenal dulu.

Akankah kehidupan Nia dewasa dapat menjadi obat bagi luka masa lalunya? Akankah senyuman Nia dapat mengembalikan bahagia dalam hidup Aang?

Simak kisah selengkapnya dalam Dunia Angakasa!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awang atau Angkasa?

Tuan Mahendra menatap sebuah foto lama yang masih tersimpan rapih di dalam laci meja kerjanya. Awang Cakra Mahendra. Putera sulung sekaligus putera semata wayang yang sudah lama dia nantikan kehadirannya sebagai penerus.

Tak mudah untuk menghadirkan seorang bayi di tengah istana megahnya yang sepi. Berbagai program kehamilan dan terapi kesuburan telah dilakukannya bersama Nyonya Mahendra. Tekanan dan harapan dari berbagai pihak membuat usaha mereka untuk memiliki momongan semakin terasa berat.

Tiga tahun berlalu tanpa adanya tanda-tanda kehamilan dari sang isteri tercinta. Tuan Mahendra tahu bagaimana perasaan isterinya kala itu. Dia begitu menyukai anak-anak. Namun, dia sulit mendapatkan anak dari rahimnya sendiri.

Setelah melalui berbagai macam pemeriksaan, diketahui terdapat septum (dinding pemisah) dalam rongga rahim Nyonya Mahendra. Histeroskopi septum resection (operasi pemotongan sekat di dalam rahim) segera dilakukan untuk membuat rongga rahim Nyonya Mahendra kembali normal. Meski begitu, Tuan dan Nyonya Mahendra masih harus bersabar dan menunggu.

Tuan Mahendra masih mengingatnya, bagaimana wajah bahagia Nyonya Mahendra saat mendapati dirinya pada akhirnya hamil di tahun ke-empat pernikahan mereka. Namun, saat pemeriksaan kehamilan, dokter mengingatkan bahwa rahim Nyonya Mahendra masih tipis setelah histeroskopi septum dilakukan. Hal ini sangat jarang terjadi. Umumnya rahim akan menebal secara normal setelah dua bulan. Meskipun segala macam perawatan dilakukan pasca histeroskopi septum, anehnya rahim Nyonya Mahendra belum kembali normal selama satu tahun.

"Saya tidak bisa menjelaskannya," kata dokter waktu itu sambil melihat hasil pemeriksaan Nyonya Mahendra.

"Aliran darah ke rahim normal. Kadar estrogen dan fungsi ovarium baik. Tapi, kenapa rahimnya masih belum mencapai ketebalan normal selama setahun?" kata dokter lebih kepada dirinya sendiri.

Tuan Mahendra dapat melihat raut kecemasan di wajah isterinya. Sepanjang pemeriksaan Tuan Mahendra selalu mendampingi isterinya dengan penuh kesabaran dan terlihat selalu menenangkan isterinya yang terkadang panik dan cemas.

"Tapi, Nyonya jangan terlalu stress dan memikirkan masalah ini. Dinding rahim Nyonya memang tergolong tipis, hanya sekitar enam milimeter. Normalnya, tebal rahim itu tujuh hingga delapan milimeter," kata dokter.

"Namun, bukan berarti Nyonya tak bisa melahirkan bayi yang sehat," lanjut dokter.

"Harapan itu ada. Jadi... mari kita bersama-sama jaga harapan itu," kata dokter sambil tersenyum hangat membuat Nyonya Mahendra sedikit lebih tenang dan mulai kembali semangat menjalani segala macam treatment yang diperlukan.

Karena kehamilan yang begitu riskan, Tuan dan Nyonya Mahendra memutuskan untuk tidak mengeksposnya pada publik. Nyonya Mahendra, terutama, sangat menjaga bagaimana kehamilannya berjalan baik hingga hari kelahiran nanti.

Meski tak mudah, pada akhirnya, setelah penantian panjang dan tak mudah, bayi pertama sekaligus bayi terakhirnya lahir ke dunia. Bayi laki-laki yang sehat seperti yang diharapkan.

'Ku namai kau Awang Cakra Mahendra,'

***

Bahkan setelah lahir, Tuan dan Nyonya Mahendra tidak mengekspos apapun tentang putera semata wayang mereka, bahkan namanya sekalipun.

Hingga saat tragedi kematian Awang terjadi, tak banyak yang tahu kebenarannya. Penyidik yang menangani kasus diminta bungkam. Orang-orang dalam yang tahu diminta tutup mulut. Bahkan keluarga dekat pun tak ada yang mengetahui hal itu.

Tuan Mahendra menutupi semua dengan sangat rapih. Tak ada yang curiga dengan alasan kepergian Nyonya Mahendra dan putera mereka ke negeri seberang untuk mengawasi jalannya bisnis disana. Bahkan kunjungan ke panti-panti yang sering Tuan Mahendra lakukan juga dirahasiakan.

Selama dua tahun, sejak tragedi meninggalnya Awang, Tuan Mahendra selalu mengajak Nyonya Mahendra mengunjungi panti asuhan sebulan sekali. Hal itu Tuan Mahendra lakukan untuk mengisi kekosongan Nyonya Mahendra sejak kematian Awang. Namun, sepertinya hal itu sia-sia.

"Buat apa, Mas?" tanya Nyonya Mahendra putus asa saat Tuan Mahendra kembali mengajak mengunjungi sebuah panti asuhan.

"Ini yang terakhir. Aku janji," kata Tuan Mahendra, bersikeras. Nyonya Mahendra mendengus, jengah.

"Panti ini letaknya agak pedalaman. Pemandangan menuju kesana bagus. Kita bisa sekalian jalan-jalan. Gimana?" bujuk Tuan Mahendra.

"Sebulan ini kamu cuma disini, di kamar ini," kata Tuan Mahendra. Ada nada khawatir dalam suaranya.

"Kamu butuh melihat dunia, Ratri. Aku janji. Ini yang terakhir," lanjut Tuan Mahendra berusaha membujuk Nyonya Mahendra. Nyonya Mahendra menghela nafas panjang.

"Aku siap-siap dulu," kata Nyonya Mahendra akhirnya.

Seperti yang Tuan Mahendra katakan, perjalanan menuju panti dipenuhi dengan pemandangan alam yang asri. Persawahan khas pedesaan, beberapa rumah-rumah dari kayu dan bambu yang masih kokoh berdiri di tengah rumah-rumah modern di sekitarnya, serta perbukitan yang menjadi latar indah di ujung horizon.

Perjalanan satu setengah jam membawa mereka tiba di sebuah panti asuhan. Plakat bertuliskan Panti Asuhan Welas Asih terpampang di depan sebuah bangunan bergaya arsitektur kolonial yang luas. Halamannya luas. Terdapat banyak anak-anak tengah bermain disana.

Begitu Nyonya Mahendra turun dari mobil, matanya terpaku pada satu anak. Satu anak yang paling berani, yang paling bebas, yang paling memimpin di antara semuanya.

"Topan! Guntur! Lari!" teriaknya memberi aba-aba anak yang sepertinya adalah tim bermainnya.

Kedua anak yang diberi aba-aba segera berlari menuju tumpukan pecahan genting yang di susun di tengah lingkaran. Keduanya menembakkan sesuatu seperti batu kecil ke arah tumpukan genting itu. Seorang anak yang menjaga terlihat kewalahan. Dengan segera anak yang memberi aba-aba ikut menyerang. Tumpukan genting akhirnya runtuh.

"Yay!!!" seru ketiga anak itu.

Tanpa sadar, Nyonya Mahendra tersenyum melihat anak itu. Sudut matanya menitikkan airmata. Dia merasa melihat mendiang puteranya pada diri anak itu.

"Mas," panggil Nyonya Mahendra pada suaminya.

"Aku pengen asuh anak itu," kata Nyonya Mahendra sambil menunjuk seorang anak yang memakai kaos bergambar Spiderman.

"Yang mana?" tanya Tuan Mahendra memastikan.

"Yang pake kaos Spiderman," jawab Nyonya Mahendra.

"Baik. Kita temui kepala panti dan urus prosedurnya," kata Tuan Mahendra sambil merangkul bahu isterinya dan menuju ruang kepala panti.

Dalam diri anak berkaos Spiderman itu, Nyonya Mahendra melihat sebuah harapan. Harapan yang sama yang pernah dia rasakan saat mengandung Awang.

'Kali ini, aku akan benar-benar menjaganya, Tuhan,'

***

Tuan Mahendra masih menatap foto Awang. Meski hanya enam tahun bersama, kenangan bersama putera semata wayangnya begitu membekas.

"Awang," panggilnya lirih.

"Meski ada Angkasa disini, putera papa tetap kamu, Nak," kata Tuan Mahendra sambil menahan airmatanya agar tak jatuh.

Dari balik pintu ruang kerja Tuan Mahendra, sepasang telinga mendengar kata-kata yang terucap lirih itu dengan sangat jelas. Sorot matanya dingin. Namun, tak ada kemarahan disana. Tak ada perasaan apapun disana. Mungkin...

'Aku cuma pengganti. Pengisi kekosongan peran. Bukan pewaris sebenarnya,'

***

1
Nanaiko
Yaa Allah.. ada-ada aja cobaan hidup..
Vivi Zenidar
semoga Nia ada yg menolong... jangan sampai ternodai
Vivi Zenidar
kasihan nasib anak anak panti
Vivi Zenidar
sedihh
Purnamanisa: disclaimer: ini memang kisahnya agak2 sedih gt kak 😅😅
total 1 replies
Vivi Zenidar
Baru baca langsung suka
Purnamanisa: makasih kakak 😊😊
total 1 replies
Nanaiko
Nah.. mungkin itu yang dinamakan jodoh, Ang..
Nanaiko
Cowok emang kek gitu, Nia.. nih disini juga ada. Katanya suruh jangan nunggu, suruh cari yang lain.. giliran nomor WA nya diblok, eh malah dilamar. 😅
Purnamanisa: ditarik ulur kek layang-layang ya kak? 😅😅
total 1 replies
Wawan
Hadir
Purnamanisa: makasih kak 😊😊
total 1 replies
falea sezi
lanjut q ksih hadiah lagi
Nanaiko
ihiiiiiiirrrr🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!