NovelToon NovelToon
Saya Jokernya

Saya Jokernya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Sepuluh tahun lalu, keluarga Arlan hancur dalam semalam karena konspirasi korporasi besar "Vanguard Group". Orang tuanya dijebak sebagai pengkhianat negara dan tewas dalam kecelakaan yang diatur. Arlan kembali dengan identitas baru, "Joker"—seorang manipulator bayangan yang tidak membunuh dengan peluru, melainkan dengan menghancurkan reputasi dan mental musuhnya.
Di sisi lain, Elara, putri dari CEO Vanguard Group, adalah seorang detektif cerdas yang mencoba membersihkan nama kepolisian. Dia mulai mengejar Joker, tanpa menyadari bahwa pria yang dia cintai di kehidupan normal adalah sosok di balik topeng yang ingin menghancurkan ayahnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Catur di Taman Kota

Amarah adalah bahan bakar yang sangat buruk jika kau membiarkannya membakar kewarasanmu. Namun, jika kau bisa mendinginkannya, menyulingnya menjadi es di dalam pembuluh darahmu, amarah adalah senjata yang paling mematikan.

Satu jam yang lalu, Elara kembali ke ruko tua ini dengan wajah seputih kertas. Kacaunya tidak hanya terlihat dari jaket kulitnya yang sobek atau celana kargonya yang robek bersimbah darah di bagian betis. Kacaunya terlihat di kedalaman matanya.

Saat ia menceritakan tentang peluru penembak runduk yang merobek kaca mobilnya—peluru yang secara spesifik menargetkan kepalanya atas perintah Darmawan Salim—aku merasakan udara di dalam paru-paruku berubah menjadi nitrogen cair.

Darmawan tidak lagi sekadar membersihkan jejak korporasinya. Pria itu menekan tombol eksekusi untuk darah dagingnya sendiri. Ia benar-benar telah membuang setiap sisa kemanusiaan di dalam dirinya demi mempertahankan singgasana Vanguard.

Setelah aku mengobati sayatan serpihan beton di betis Elara dan memaksanya menelan pil penenang agar ia bisa tidur, aku meninggalkan safehouse itu.

Rasa nyeri di tulang rusuk kiriku yang memar akibat pertarungan di bungker Sudiro masih berdenyut tajam setiap kali aku menarik napas, namun aku menelannya mentah-mentah bersama dua butir Ibuprofen. Waktuku untuk bersembunyi sudah habis. Darmawan Salim mulai bermain kotor di siang bolong, maka aku akan membalasnya di tempat yang paling terang.

Pukul empat sore. Matahari Jakarta mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang menembus celah dedaunan pohon mahoni raksasa di Taman Suropati.

Taman kota di kawasan Menteng ini selalu ramai pada akhir pekan. Suara tawa anak-anak yang berlarian mengejar burung merpati, denting bel gerobak penjual es potong, dan suara gesekan biola dari sekelompok seniman jalanan berbaur menjadi sebuah simfoni kehidupan yang damai. Sebuah kontras yang sangat ironis dengan niat membunuh yang kubawa di dalam saku jaketku.

Aku berjalan santai menyusuri jalan setapak berbatu kerikil. Aku tidak memakai topeng porselen putihku hari ini. Wajah asliku hanya disembunyikan di balik topi bisbol hitam yang ditarik rendah dan sebuah masker medis yang menutupi hidung hingga daguku—pemandangan yang sangat wajar di tengah kota berpolusi ini.

Mataku menyapu area timur taman, tepat di bawah rimbunnya pohon beringin tua. Di sana, terdapat beberapa meja beton yang dicetak dengan papan catur di permukaannya. Tempat berkumpulnya para pensiunan, pecatur amatir, dan... target ketigaku.

Surya Kusuma. Sang Jaksa Tinggi.

Aku melihatnya duduk di salah satu kursi beton, mengenakan kaus polo berwarna putih bersih dan celana bahan cokelat muda. Rambutnya yang mulai memutih disisir rapi ke belakang. Ia sedang tertawa hangat, memindahkan bidak kuda di atas papan catur, lalu menjabat tangan lawan mainnya—seorang kakek tua yang baru saja ia kalahkan.

Surya Kusuma selalu membangun citra publiknya dengan sangat hati-hati. Ia ingin dikenal sebagai penegak hukum yang merakyat, cerdas, dan mudah dijangkau. Bermain catur di taman kota setiap akhir pekan adalah rutinitas yang ia gunakan untuk mengundang wartawan lokal meliput sisi "humanis"-nya.

Namun, di balik senyum ramah dan kacamata bacanya yang tebal, otak pria itu dipenuhi oleh belatung korupsi.

Sepuluh tahun yang lalu, Surya Kusuma adalah jaksa penuntut yang memanipulasi bukti forensik kematian orang tuaku. Ia menekan tim penyidik untuk menghilangkan laporan residu bahan peledak, lalu menyusun dakwaan palsu yang menyatakan ayahku menggelapkan dana perusahaan sebelum bunuh diri. Tanda tangan Surya Kusuma adalah paku terakhir di peti mati keluargaku.

Aku melirik ke arah tiga pria berbadan tegap yang duduk menyebar di bangku taman tak jauh darinya. Mereka mengenakan kemeja kasual yang tidak dimasukkan ke dalam celana, menyembunyikan tonjolan senjata api di pinggang mereka. Pasukan pengawal berpakaian preman. Surya Kusuma mungkin sedang bermain di ruang publik, tapi ia tidak bodoh. Kematian Setiawan dan jatuhnya Sudiro telah membuatnya meningkatkan keamanannya tiga kali lipat.

Jika aku mencabut senjata atau melakukan gerakan agresif, ketiga pengawal itu akan menembus dadaku dengan peluru sebelum aku bisa menyentuh kerah baju sang jaksa.

Tapi aku tidak datang ke sini untuk berkelahi. Aku datang untuk bermain.

Aku melangkah mendekati meja beton tersebut tepat saat lawan main Surya Kusuma berdiri dan pamit. Sang Jaksa merapikan kembali bidak-bidak kayu di atas papan dengan senyum puas yang belum luntur dari wajahnya.

"Permisi," sapaku, suaraku sedikit diredam oleh masker medis. "Apakah kursi ini kosong? Saya mencari lawan yang sepadan sejak tadi."

Surya Kusuma mendongak, menatapku dari balik lensa kacamatanya. Matanya menyapu penampilanku dengan cepat. Seorang pemuda berjaket biasa yang menutupi wajahnya karena flu. Ia tidak melihat adanya ancaman. Para pengawalnya di kejauhan hanya melirik sekilas, lalu kembali bersantai karena ini adalah area terbuka.

"Silakan, anak muda," Surya tersenyum lebar, mempersilakanku duduk. Ia menggeser kotak kayu berisi bidak catur. "Kau ingin memegang putih atau hitam?"

"Hitam," jawabku pelan sambil duduk di hadapannya. Aku mulai menyusun bidak-bidak berwarna gelap di sisiku. Kuda. Peluncur. Menteri. Raja.

"Pilihan yang menarik. Kebanyakan orang muda lebih suka mengambil putih agar bisa menyerang lebih dulu," kekeh Surya, memajukan bidak pion putihnya dua petak ke depan sebagai langkah pembuka. Suara ketukan kayu beradu dengan beton terdengar jernih.

"Hitam memang selalu bergerak belakangan, Pak Jaksa," aku memajukan pion hitamku, merespons serangannya. "Hitam membiarkan lawannya merasa memegang kendali, sebelum akhirnya mencekiknya dari tempat yang tidak terlihat."

Gerakan tangan Surya sedikit tertahan. Matanya menyipit mendengar caraku memanggil gelarnya dan nada bicaraku yang dingin. Namun, ia dengan cepat menguasai dirinya. Ia menganggapku hanya sebagai warga sipil yang ingin sok filosofis.

"Kau mengenalku, rupanya. Dan kau memiliki pandangan yang cukup gelap tentang permainan ini," Surya memajukan bidak kudanya.

"Hanya pengamat hukum yang realistis," balasku, menggerakkan peluncur hitamku untuk memotong jalur kudanya. "Sama seperti hukum, catur bukanlah tentang keadilan. Catur adalah tentang siapa yang paling rela mengorbankan pionnya demi melindungi sang Raja."

Bau parfum musk mahal yang dipakai Surya berhembus menyeberangi meja, mencoba menutupi aroma keringat musim panas.

Permainan berlangsung dalam keheningan selama lima menit berikutnya. Kami bertukar serangan dan pertahanan dengan cepat. Surya adalah pemain yang sangat agresif. Ia mengorbankan dua pionnya secara sengaja untuk membuka jalur serang bagi Menterinya. Sebuah taktik pengalihan yang biasa ia gunakan di ruang sidang: membuang bukti kecil untuk menyembunyikan kebohongan yang lebih besar.

"Kau tahu, anak muda," Surya memecah kesunyian, matanya terkunci pada papan catur. "Pion diciptakan untuk dikorbankan. Di dunia nyata, kita tidak bisa menyelamatkan semua orang. Kadang-kadang, seorang jaksa harus memenjarakan orang yang salah, atau menutup mata terhadap prosedur tertentu, demi menjaga stabilitas negara yang lebih besar. Itu adalah beban yang harus kami pikul."

Ia menggeser Menterinya, mengancam Rajaku. Skak.

"Beban yang sangat mulia," balasku sinis. Aku tidak memindahkan Rajaku. Alih-alih, aku memajukan bidak Kuda hitamku, memblokir jalur Menterinya, dan secara bersamaan membuka jalur ancaman silang untuk peluncurku. Sebuah jebakan balik (counter-trap).

Aku mencondongkan tubuhku ke depan, memangkas jarak di antara kami. Di bawah meja, tanganku merogoh saku jaket, menggenggam sesuatu yang padat.

"Tapi pertanyaannya, Pak Jaksa..." suaraku merendah hingga menjadi bisikan yang hanya bisa didengar oleh kami berdua di tengah hiruk-pikuk taman. "...apakah stabilitas negara yang Anda maksud adalah stabilitas rekening bank Anda di Swiss? Ataukah stabilitas kekuasaan Darmawan Salim?"

Wajah Surya Kusuma membeku. Tangannya yang baru saja hendak meraih bidak lain, terhenti di udara.

Suara biola dari seniman jalanan di kejauhan seolah meredup, digantikan oleh suara desir darah yang mengalir deras di telingaku sendiri.

"Siapa kau?" desis Surya. Pupil matanya membesar di balik lensa kacamatanya. Ia mencoba melirik ke arah tiga pengawalnya, namun aku menendang pelan kaki mejanya dari bawah, menuntut perhatiannya kembali padaku.

"Jangan menoleh, Surya. Jika kau memberikan sinyal pada anjing-anjingmu di sana, aku akan menancapkan bilah pisau ke tenggorokanmu sebelum mereka bisa berdiri dari kursinya," ancamku dengan ketenangan yang mematikan. Aku membiarkan sedikit kilatan logam dari pisau lipat yang kugenggam di bawah meja terlihat oleh matanya.

Keringat dingin mulai bermunculan di dahi sang Jaksa. Garis-garis wibawa di wajahnya runtuh dalam hitungan detik, digantikan oleh kepanikan seorang penipu yang ketahuan.

"Kau... kau orang gila bertopeng itu," gumam Surya, napasnya mulai tak teratur. Ujung jari telunjuknya bergetar di atas papan catur. "Joker."

"Sebuah julukan yang diberikan oleh media untuk menutupi nama yang sebenarnya kau kenal dengan sangat baik sepuluh tahun yang lalu," aku menatap lurus menembus korneanya. "Adrianus Wiratama. Apakah kau masih mengingat nama pria yang bukti forensiknya kau hancurkan itu, Surya?"

Surya menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik turun. Ia menyadari bahwa pria yang duduk di depannya bukanlah seorang pembunuh bayaran acak, melainkan hantu dari masa lalu yang baru saja membakar rekan-rekannya.

"Itu... itu masa lalu," gagap Surya, mencoba mencari rasionalisasi. "Darmawan Salim memaksaku! Dia mengancam akan menghancurkan karirku jika aku tidak menutup kasus itu sebagai bunuh diri! Aku tidak punya pilihan!"

"Kalian semua selalu mengucapkan kalimat yang sama," aku mendengus muak. "Setiawan mengatakan hal itu sebelum ia menembak kepalanya sendiri. Sudiro mengatakan hal itu sebelum aku memiskinkannya dan mengirimnya ke penjara militer. Kalian selalu menyalahkan Darmawan seolah-olah kalian tidak menerima miliaran rupiah untuk darah yang tumpah."

Aku mengangkat tangan kananku perlahan dari bawah meja, meletakkan sesuatu di atas kotak kayu penyimpanan catur.

Sebuah flashdisk berwarna hitam.

Mata Surya terpaku pada benda kecil tersebut seolah itu adalah sebuah granat aktif.

"Apa itu?" tanyanya parau.

"Ini adalah tali gantunganmu," jawabku dingin. "Di dalam flashdisk ini, terdapat salinan mutasi rekening lepas pantaimu, rekaman percakapanmu dengan Handoko Salim saat kalian merencanakan pemalsuan bukti forensik, dan daftar setiap saksi kunci yang kau bungkam secara ilegal selama satu dekade terakhir."

Surya memucat. Mulutnya terbuka dan tertutup tanpa mengeluarkan suara. Seluruh reputasi yang ia bangun susah payah sebagai penegak hukum yang bersih, seluruh karir politik yang sedang ia rintis menuju kursi Jaksa Agung, semuanya tersimpan di dalam bongkahan plastik kecil di atas meja itu.

"Jika aku menyerahkan ini ke media atau komisi pemberantasan korupsi, kau tidak hanya akan dipecat, Surya. Kau akan diadili atas tuduhan pengkhianatan dalam jabatan dan pembunuhan berencana," aku melanjutkan dengan nada datar yang memotong sarafnya. "Kau akan dikurung di lembaga pemasyarakatan bersama ratusan pembunuh dan bandar narkoba yang pernah kau jebloskan ke sana. Menurutmu, berapa lama kau bisa bertahan hidup di dalam sel bersama mereka?"

Ketakutan absolut akhirnya menguasai Surya Kusuma. Pria yang biasanya mengintimidasi saksi di ruang sidang itu kini gemetar seperti daun kering yang ditiup badai. Ia memohon dengan suara yang sangat lirih.

"Tolong... jangan lakukan ini. Aku bisa membantumu! Aku bisa menerbitkan surat perintah penangkapan untuk Darmawan Salim besok pagi! Aku bisa menjeratnya!"

"Janji seorang pengecut tidak memiliki nilai tukar di mejaku," aku menggeleng pelan. "Kau memiliki waktu dua puluh empat jam, Surya."

"Dua puluh empat jam untuk apa?!"

"Untuk membersihkan mejamu. Untuk merilis surat pengunduran dirimu secara publik, dan menyerahkan dirimu sendiri ke kejaksaan agung dengan membawa semua bukti kejahatan Darmawan Salim," aku memberikan ultimatum yang tidak bisa ditawar. "Jadilah saksi mahkota yang menghancurkan Vanguard dari dalam pengadilan. Jika kau melakukannya, kau mungkin akan dipenjara, tapi kau akan mendapat perlindungan negara."

Aku mencondongkan wajahku lebih dekat, menatapnya dengan kekosongan yang mematikan.

"Tapi jika besok malam pada jam yang sama aku tidak melihat wajahmu di siaran langsung televisi mengenakan rompi tahanan..." bisikku, memastikan setiap suku kataku terukir di dalam otaknya. "...aku akan menyiarkan isi flashdisk ini ke seluruh dunia. Dan setelah itu, polisi tidak akan Menjadi pihak pertama yang datang mencarimu. Aku yang akan datang."

Aku berdiri perlahan dari kursi beton itu. Menarik kerah jaketku untuk menutupi leherku, bersiap untuk pergi.

Surya Kusuma masih duduk mematung. Tatapannya kosong melihat ke arah flashdisk dan papan catur di depannya. Otaknya yang cerdas telah menyadari bahwa ia telah kalah dalam segala aspek. Tidak ada celah hukum yang bisa menyelamatkannya dari jebakan ini.

Darmawan Salim pasti akan membunuhnya jika tahu ia memegang bukti ini, dan sang Joker akan menghancurkannya jika ia tidak menyerahkan diri. Ia terjepit di antara dua mulut buaya.

Sebelum aku melangkah pergi meninggalkan taman, aku menunduk menatap papan catur yang belum selesai kami mainkan.

Kuda hitamku berada tepat di samping Menterinya, dan Peluncur hitamku mengunci posisi pergerakan Rajanya.

"Raja Anda sudah tidak bisa ke mana-mana, Pak Jaksa," bisikku dari balik masker medis.

Surya menelan ludah dengan susah payah, matanya menatap papan catur itu dengan kengerian.

"Skakmat dalam tiga langkah."

1
Emi Widyawati
bagus bangeeetttt. cerita beda dengan yang lainnya. baca novel tapi serasa liat film. bagus banget Thor. lup u sak kebon 😘
Misterios_Man: banyakin likesnya dong biar popularitasnya naik, gratis kok hehehe.
total 2 replies
Ainun masruroh
semangat 💪
Misterios_Man: Ok kak nice dream ya,, jangan lupa ikuti novelnya heheh.
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!