Pernikahan kontrak antara Elvano dan Aira awalnya hanya sandiwara. Namun, kebersamaan perlahan mengubah rasa benci menjadi cinta, dan sikap dingin Elvano berubah menjadi posesif serta sangat romantis.
Sayangnya, kebahagiaan mereka terusik saat mantan kekasih Elvano, Natasha, kembali dengan niat merebutnya kembali. Ditambah kedatangan Ardi, mantan gebetan Aira, serta berbagai fitnah yang memicu kesalahpahaman.
Mampukah mereka melewati semua ujian dan membuktikan bahwa cinta mereka adalah yang terkuat? Ikuti kisah manis, sedih, dan romantis abadi mereka! 💖🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RosaSantika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Matahari pagi mulai menyelinap masuk melalui celah-celah gorden tebal berwarna abu-abu gelap yang menutupi jendela besar kamar tidur utama. Sinar keemasan itu menembus ruangan dengan lembut, menerangi debu-debu halus yang beterbangan di udara, menciptakan garis-garis cahaya yang indah dan magis, memberikan suasana pagi yang hangat, namun juga membuat suasana di dalam kamar terasa semakin intim, semakin dekat, dan semakin personal.
Waktu di dinding kamar sudah menunjukkan pukul enam lewat tiga puluh menit tepatnya. Suasana di luar rumah terdengar riuh rendah oleh suara burung berkicau yang bersahutan riang, suara kendaraan yang mulai berlalu lalang di kejauhan, dan hiruk pikuk kehidupan kota yang mulai berjalan kembali setelah istirahat semalam. Namun, di dalam kamar mewah dan luas ini, waktu seolah berjalan lebih lambat dari biasanya. Suasananya tenang, sunyi, namun penuh dengan ketegangan yang tak terlihat.
Aira Maharani sudah bangun sejak sepuluh menit yang lalu.
Gadis itu duduk di tepi ranjang yang empuk itu dengan posisi yang sangat sopan. Tangannya yang lentik dan putih salju itu sedang sibuk merapikan selimut dan bantal dengan sangat rapi dan teliti, memastikan tempat tidur mereka terlihat sempurna, rapi, dan bersih, seolah-olah tidak pernah disentuh oleh siapa pun sebelumnya. Itu adalah kebiasaannya, wanita yang terbiasa rapih dan bersih.
Namun, meskipun gerakan tangannya terlihat tenang dan teratur, pikirannya sama sekali tidak bisa setenang itu.
Bayangan kejadian semalam terus berputar-putar tanpa henti di dalam kepalanya. Kenangan tentang tidur satu ranjang, jarak aman yang sengaja dibuat sangat lebar di antara mereka, suara napas berat dan teratur milik suaminya yang terdengar menenangkan, dan kata-kata penenang yang diucapkan Elvano dengan suara seraknya sebelum mereka terlelap. Semuanya terasa begitu nyata, begitu hangat, namun masih terasa seperti mimpi indah yang baru saja dialaminya.
"Hhuuu..."
Aira menghela napas panjang dan berat sekali, dadanya terlihat naik turun pelan. Tangannya yang dingin itu menyentuh pipinya sendiri yang terasa hangat dan panas.
"Masa lalu sudah lewat... Semalam sudah lewat." bisiknya pelan pada diri sendiri, suaranya halus terdengar di ruangan yang hening itu. "Sekarang harus fokus hari ini. Harus kuat, harus percaya diri. Hari ini kan hari pertama aku nemenin Mas Elvano ke kantor kan?"
Benar sekali. Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Aira. Hari ini adalah hari pertama ia akan ikut menemani suaminya pergi ke kantor untuk menghadiri sebuah acara kecil internal perusahaan. Ia harus terlihat rapi, cantik, anggun, dan percaya diri sebagai seorang Nyonya Praditya yang sesungguhnya. Ia tidak boleh terlihat canggung, tidak boleh terlihat takut-takut, dan tidak boleh mempermalukan suaminya di depan orang lain.
Tiba-tiba, suara gerakan pelan dan suara air keran yang mengalir dari arah kamar mandi menarik perhatiannya dan menyadarkannya dari lamunan.
Krek...
Suara pintu kamar mandi terbuka.
Dan muncullah sosok tinggi besar, tegap, dan sangat gagah itu dari balik pintu.
Elvano Praditya.
Pria itu keluar dengan tampilan yang sudah setengah jadi. Wajahnya tampak segar dan bersih setelah mandi, kulitnya tampak bersih dan bercahaya di bawah sinar matahari pagi.
Ia sudah mengenakan kemeja kerja berwarna putih bersih, bahan katun berkualitas tinggi yang terasa dingin dan licin, dimasukkan rapi ke dalam celana bahan hitam yang disetrika licin sempurna. Kancing-kancing kemejanya sudah terpasang rapi satu per satu sampai ke leher, hanya menyisakan kerah kemeja yang berdiri tegak kokoh, memperlihatkan leher jenjang dan kuat miliknya.
Tubuhnya yang tinggi besar, bidang, dan berotot tegap itu terlihat sangat sempurna, dan pas dengan balutan busana formal tersebut. Tampak sangat profesional, sangat tampan, sangat wibawa, dan sangat memancarkan aura seorang pemimpin yang tangguh, kaya raya, dan berkelas tinggi.
Tidak ada cela sedikitpun pada penampilan pria itu. Ia terlihat sempurna dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Namun, ada satu hal kecil yang terlihat kurang sempurna dan mengganjal di matanya.
Lehernya masih kosong melompong. Belum ada dasi yang melingkar indah di sana. Padahal untuk acara resmi seperti ini, dasi adalah pelengkap wajib yang membuat penampilan menjadi seratus persen sempurna.
Elvano berjalan dengan langkah yang santai namun pasti mendekati meja rias yang dilengkapi dengan cermin besar berukuran hampir satu dinding di sudut kamar itu. Ia meraih satu set dasi sutra berwarna hitam polos yang berkilau indah, dan sudah disiapkannya sejak semalam di atas meja.
Dengan gerakan yang biasanya cekatan dan cepat, ia mulai mencoba memasang dasi itu sendiri di depan pantulan cermin.
Tapi...
Aneh sekali rasanya hari ini.
Entah karena tangannya yang memang agak besar dan kaku karena baru bangun tidur, atau mungkin karena ia memang sedang sedikit buru-buru dan tidak sabar, atau bisa juga karena ada sosok cantik yang diam-diam memperhatikannya dari belakang, sehingga membuat konsentrasinya sedikit buyar dan tidak fokus, hasil ikatan dasi itu terlihat sangat kurang rapi.
Simpulnya miring ke kiri. Panjang dasi tidak pas, terlalu pendek atau terlalu panjang. Terlihat kaku, tidak enak dipandang, dan sama sekali tidak memenuhi standar kesempurnaan yang biasa dituntut oleh Elvano sendiri.
Elvano mengerutkan keningnya sedikit, tampak tidak puas.
"Hah..." ia menghela napas pendek kesal sendiri. Dengan kasar sedikit ia membuka ikatan dasi itu lagi, merapikan benangnya, lalu mencoba mengikatnya sekali lagi dari awal dengan lebih hati-hati.
Namun hasilnya tetap sama. Masih kurang sempurna. Masih terlihat aneh.
Bagi pria perfeksionis dan sangat memperhatikan detail seperti Elvano Praditya, hal sekecil ini saja sudah cukup bisa membuat moodnya atau suasana hatinya menjadi sedikit berantakan dan tidak enak. Baginya, penampilan adalah segalanya.
Aira yang sejak tadi duduk diam di tepi ranjang dan memperhatikan kejadian itu dari belakang, hanya bisa mematung dan menggigit bibir bawahnya sendiri pelan.
Ia ingin sekali menolong. Ia sangat ingin menolong. Tangan Aira sebenarnya sangat lihai dan terlatih memasang dasi. Dulu saat ayahnya masih hidup dan masih bekerja, Aira adalah orang yang paling sering membantu ayahnya memakaikan dasi sebelum berangkat kerja. Jadi ia sangat paham caranya, sangat paham teknik membuat simpul yang rapi dan pas.
Tapi...
Rasa sungkan dan rasa takut itu kembali menghantuinya.
Apa nggak lancang kalau aku tiba-tiba nawarin bantuan? batin Aira bertanya-tanya, jari-jarinya saling memilin gugup. Apa dia bakal nolak? Apa dia bakal bilang nggak usah? Ya Allah bingung banget...
Ia takut dianggap terlalu berani. Ia takut dianggap menggurui. Ia takut suaminya merasa tidak nyaman.
Tapi melihat Elvano yang tampak sedikit kesal sendiri, menghela napas lagi, dan akan mencoba mengikat dasi itu untuk ketiga kalinya dengan wajah yang mulai terlihat sedikit masam, akhirnya rasa ingin membantu dan rasa sayang yang mulai tumbuh itu mengalahkan rasa takutnya.
Dengan langkah kaki yang sangat pelan, sangat hati-hati, dan penuh keraguan, Aira pun berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah suaminya yang sedang berdiri membelakangi cermin.
Langkah kakinya sangat pelan, hampir tidak mengeluarkan suara sama sekali di atas karpet tebal kamar itu.
"Ma... Mas..." panggil Aira pelan sekali, suaranya lembut sekali, hampir berbisik, takut mengejutkan pria itu.
Elvano yang sedang fokus memegang dasinya pun menoleh cepat ke belakang. Matanya yang tajam dan dalam itu menatap lurus ke arah wajah istrinya.
"Kenapa Ra?" tanyanya singkat, suaranya berat dan rendah.
"Itu... itu dasinya Mas..." Aira menunjuk pelan dengan jari telunjuknya yang lentik ke arah leher pria itu, lalu segera menarik tangannya kembali karena takut. "Boleh... boleh Aira bantu pasangin gak Mas?"
Aira menundukkan wajahnya sopan, ia tidak berani menatap mata tajam itu terlalu lama.
"Kayaknya Mas lagi buru-buru ya. Aira bisa bantu kok pasangin dasinya. Aira biasa bantu ayah pasangin dasi dulu." tambahnya cepat menjelaskan, berusaha meyakinkan suaminya bahwa ia memang bisa dan bukan cuma ingin ikut campur.
Jantung Aira berdegup kencang bukan main saat itu juga. Dug... dug... dug... rasanya mau copot. Ya Allah semoga dia izinin. Semoga dia mau.
Elvano terdiam sejenak. Ia menatap lekat-lekat wajah polos, tulus, dan sedikit ketakutan dari istrinya yang sedang menunduk itu. Melihat ketulusan di mata gadis itu, ada senyum tipis yang perlahan terbit di sudut bibirnya yang tipis dan merah itu.
Kekesalannya karena dasi yang susah diikat tadi seketika hilang begitu saja, digantikan oleh rasa hangat yang aneh di dadanya.
"Boleh dong Ra." jawab Elvano akhirnya dengan nada suara yang langsung melembut drastis, tidak lagi terdengar kaku atau kesal. "Malah makasih banget lho. Kamu nawarin bantuan pas banget nih. Aku lagi pusing banget nih, tangan kok rasanya kaku banget gini ya pagi-pagi."
Elvano sedikit bercanda untuk mencairkan suasana yang terasa sedikit tegang dan canggung itu.
Ia pun segera melepaskan dasi yang belum jadi dan berantakan itu dari lehernya, lalu menyerahkan benda sutra hitam yang licin dan halus itu ke tangan Aira yang sudah terulur gemetar di depan dada.
"Nah, tolong dibuatin yang bagus ya, Bu Bos. Yang paling rapi yang kamu bisa buat," katanya lagi dengan senyum menggoda tipis.
"I... iya Mas! Siap!" Aira menerima dasi itu dengan tangan yang sedikit dingin dan bergetar hebat, karena campuran antara senang, gugup, dan malu. "Aira usahain yang terbaik kok buat Mas!"
Aira berdiri tepat di hadapan Elvano sekarang.
Posisi mereka berdua berdiri berhadapan langsung. Dan jarak di antara mereka?
Sangat dekat. Sangat, sangat dekat.
Hanya berjarak sekitar satu langkah kecil saja. Hampir tidak ada ruang kosong yang berarti di antara tubuh mereka berdua.
Aira bisa merasakan dengan sangat jelas hangatnya tubuh pria itu yang terpancar keluar. Ia bisa mencium wangi parfum mahal berkelas yang dipakai suaminya, aroma maskulin yang segar, dingin, dan sangat menenangkan sekaligus memabukkan. Dan yang paling membuat jantungnya berhenti berdetak sesaat, ia bisa melihat dengan sangat jelas dan detail setiap lekuk wajah tampan suaminya itu dari jarak yang sangat dekat ini.
Hidung mancung, alis tebal, mata tajam, dan rahang tegas yang memperlihatkan ketegasan karakter pria itu.
Wajah Aira seketika memerah. Panas yang luar biasa menjalar cepat dari kedua pipinya, turun ke leher, bahkan sampai terasa ke ujung telinganya. Rasanya panas sekali, rasanya mau meleleh saja di tempat berdiri.
"Ayo Ra, santai aja. Jangan gugup gitu dong." bisik Elvano pelan sekali, suaranya rendah dan bergetar, tepat di atas kepala Aira. Seolah-olah pria itu punya indra keenam yang bisa merasakan betapa gugupnya istrinya saat ini.
"I... iya Mas." Aira mengangguk kecil, menelan ludahnya susah payah. "Aira... Aira santai kok."
Bohong besar! batin Aira berteriak. Gugupnya setengah mati ini mah!
Dengan sekuat tenaga dan sisa keberanian yang ada, Aira memaksakan dirinya untuk fokus. Ia menenangkan dirinya sendiri.
'Fokus Aira. Fokus. Cuma pasang dasi doang kok. Gak usah mikir yang aneh-aneh.'
Perlahan-lahan, dengan gerakan yang sangat hati-hati, sangat lembut, dan penuh ketelitian, Aira mulai mengangkat dasi sutra hitam itu. Ia melingkarkannya dengan hati-hati di sekitar leher jenjang, kuat, dan hangat milik Elvano.
Kress...
Tekstur sutra yang halus dan licin itu terasa sangat enak di telapak tangannya.
Aira mulai bekerja. Matanya menatap lurus dan fokus penuh ke arah kerah kemeja putih itu. Ia mulai melipat bagian dasi, menyilangkannya dengan benar, menarik ujungnya, dan mulai membentuk simpulnya dengan gerakan yang terlatih dan luwes.
Tekniknya benar, gerakannya indah dilihat.
Namun, masalahnya bukan pada cara mengikat dasinya yang sudah pasti benar dan bagus.
Masalah utamanya saat ini adalah JARAK dan SENTUHAN.
Tangan Aira harus bergerak bebas di area leher dan dada bidang pria itu. Setiap kali tangannya bergerak naik turun, membenarkan posisi, atau menarik simpul, terkadang ujung jarinya yang lentik, halus, dan dingin itu tidak sengaja menyapu kulit leher Elvano yang hangat, atau menyentuh permukaan kemeja putih yang menutupi dada bidang dan padat miliknya.
"Ah!"
Aira tersentak kecil setiap kali terjadi sentuhan tak disengaja itu. Rasanya seperti tersengat listrik voltase tinggi yang menyetrum ujung jarinya, lalu merambat cepat ke seluruh pembuluh darah dan jantungnya.
"Hmm..."
Di sisi lain, Elvano pun merasakan hal yang persis sama.