Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15 Keanehan Seorang Bayi
Oeeek....
Oeeek....
Oeeek....
Sayup-sayup terdengar suara tangisan bayi membangunkan dirinya dari tidur panjangnya. Rasa lelah masih membebani tubuhnya, sementara Nyeri di dadanya semakin membuncah sehingga mengeluarkan cairan yang merembes dengan sendirinya. Sungguh menyiksa.
Netranya menyapu sekeliling, memindai ruangan yang sama sekali terasa asing. Dia sama sekali belum pernah berpijak di kamar tersebut.
"Di mana ini? Sshshhhh nyeri sekali..." gumamnya meringis
Seorang asisten rumah tangga masuk dengan membawa nampan yang berisi hidangan lengkap, sayur, buah dan segelas susu hangat khusus untuk ibu menyusui.
Razna mengerutkan keningnya. Dia tidak mengenal wanita itu,
"Maaf...saya ada di mana ya?"
Asisten itu tersenyum ramah, sambil meletakkan nampan ke atas meja yang ada di samping tempat tidur. Seraya membungkukkan badannya.
"Mbak sedang berada di rumah majikan saya. Tuan Rendra yang membawa Mbak ke sini. Semalam Mbak dalam keadaan pingsan. Kata Tuan, Mbak harus makan yang cukup lalu minum obat agar cepat sembuh,"
"Tuan?"
Razna memicingkan matanya, berusaha mengingat sesuatu, namun tak berhasil.
"Rendra? Siapa Tuan Rendra. Saya tidak kenal dengan beliau,"
"Tapi Tuan mengenal Mbak. Oiya panggil saya Surti, Mbak. Kata Tuan, Surti harus melayani Mbak Azna dengan baik."
Razna terdiam sesaat, mengerutkan keningnya mencerna ucapan wanita yang berseragam khas asisten rumah tangga.
"Azna?" ulangnya pelan, "Namaku Razna bukan Azna,"
Surti tampak sedikit kikuk, namun tetap tersenyum. Dia menyadari kekeliruannya.
"Duh...maaf Mbak. Tuan Rendra menyebut Mbak dengan nama itu. Mungkin saya yang salah dengar. Maaf ya Mbak," jelas Surti tidak enak hati.
Razna menghela napas pelan, mencoba menenangkan diri, rasa nyeri di dadanya kembali berdenyut membuatnya meringis dan tanpa sadar memeluk tubuhnya sendiri. Rasa di dalam tubuhnya sedang tidak baik-baik saja.
"Mbak sebaiknya sarapan dulu. Saya khawatir dipersalahkan kalau Mbak belum makan," saran Surti namun tidak direspon Razna.
Tangisan bayi itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas. Refleks, tubuhnya menegang, entah kenapa suara itu begitu dekat, seolah sedang memanggilnya.
"Itu ada suara bayi?" tanyanya ragu.
Surti mengangguk sopan.
"Iya Mbak. Dari kamar sebelah,"ujar Surti sambil menunjuk dengan jempolnya.
Razna menelan salivanya dengan susah payah. Ada dorongan yang kuat untuk segera menghampiri sumber suara itu. Nalurinya sebagai seorang ibu, mendesaknya untuk mendekap, membuai dan menyusui bayi itu.
"Mmmmmh... boleh aku melihatnya?" tanya Razna ragu, seraya menggigit bibir bawahnya berharap diberi kesempatan untuk melihat bayi yang masih menangis tersebut.
Surti sempat ragu sejenak, lalu mengangguk pelan setelah ia mengingat ucapan Tuannya untuk mempertemukan Razna dengan bayi Finza.
"Boleh Mbak. Tapi Mbak harus hati-hati. Kondisi Mbak masih lemah. Sebaiknya Mbak sarapan dulu, biar terlihat kuat dan segar," saran Surti untuk yang kesekian kalinya, namun ada penolakan dari Razna.
"Tapi bayi itu menangis terus, Bi. Kasihan..."
"Ya mau gimana lagi Mbak. Dikasih susu formula nolak terus. Sepertinya Dede bayi pengennya di kasih ASI. Kasihan Dede Finza, Mamanya meninggal disaat Dede Finza membutuhkan kasih sayang seorang Ibu."
Razna tertegun, mengusap air mata yang mulai meleleh di pipi.
"Ya Allah. Dia kehilangan ibunya sejak dini. Sementara aku kehilangan anak. Apa maksud semua ini?Kasihan bayi itu..." katanya membatin. Hatinya bagai teriris seolah ikut merasakan kepedihan dalam menapaki kehidupan yang masih panjang.
Suara tangis itu belum juga berhenti. Hati Razna semakin resah. Sebagai seorang ibu tanpa anak, dia harus berbuat sesuatu.
Dengan pelan, Razna menyingkap selimut dan menurunkan kakinya ke lantai. Tubuhnya terasa limbung tapi dia tetap memaksakan diri untuk bisa berdiri. Dia tidak peduli dengan kondisinya yang masih lemah.
Tangisan bayi itu semakin kuat, mendesaknya untuk segera menghampirinya.
"Tidak apa-apa, Bi. Aku ingin secepatnya menenangkan bayi itu dulu, kasihan,"
"Oh ya...boleh...boleh. Mbak hati-hati ya!"
Razna menganggukkan kepalanya, berusaha untuk berdiri. Setiap langkahnya terasa berat, namun suara tangis itu seolah menghipnotis dirinya untuk terus melangkah maju.
Saat pintu kamar sebelah dibuka, suara tangis bayi langsung memenuhi telinganya. Netra Razna tertuju pada boks yang di dalamnya ada seorang bayi mungil yang aktif bergerak. Di sisi boks bayi tersebut ada seorang wanita cantik yang sedang berusaha menenangkannya.
Langkah Razna terhenti, napasnya tercekat. Ada sesuatu yang bergetar kuat di dalam dadanya, lebih kuat dari rasa yang ia rasakan sampai saat ini.
Tanpa sadar, ia mendekat. Tidak peduli dengan orang yang sedang menatapnya dengan heran.
Aneh. Saat ia berdiri di samping boks itu, bayi tersebut perlahan berhenti menangis, seolah merespons dan mengenali kehadirannya.
Razna membeku merasakan ada kejanggalan yang tidak bisa ia jelaskan. Namun ia menepisnya. Meyakinkan dirinya bahwa itu hanya suatu kebetulan.
Semua orang yang di dalam kamar tersebut saling pandang, merasakan hal yang sama. Ada keanehan pada bayi itu. Keanehan yang tak terucap.
"Kenapa bayi ini berhenti menangis saat ada aku di sampingnya? Apa yang sebenarnya terjadi? Aneh," Batinnya lirih, reflek kedua tangannya terulur hendak meraih tubuh mungil yang kini justru sedang tersenyum ke arahnya.
"Jangan sentuh, Finza!"
Kedua tangan Razna terhenti, menggantung di udara. Lalu secepatnya menurunkan tangannya kembali.
"Berani sekali kamu masuk ke kamar Finza lalu mencoba untuk mengambilnya. Memangnya siapa kamu?"
Razna menoleh. Menatap wanita cantik yang terlihat anggun dengan memakai dress warna merah. Rambutnya terurai bergelombang, matanya menyorot tajam, tidak mau siapa pun menyentuh bayi kakaknya. Dialah Danara, adik ipar Rendra yang selama ini mengurus anak-anak Rendra.
Wajah Razna tetap tenang meskipun di dalam dirinya tengah bergejolak. Sebenarnya dia pun bingung mengapa dia bisa berada di rumah tersebut.
"Maaf, aku tidak ada niat buruk untuk bayi ini. Aku hanya tergugah untuk menenangkan tangisnya Itu saja," jelas Razna benar adanya.
"Tidak mungkin. Kamu tiba-tiba ada di rumah ini, tanpa kompromi tanpa izin dari orang rumah. Kamu tahu, tidak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam kamar ini selain aku dan Papanya," sargah Danara tidak mau kalah.
Surti yang sejak tadi berdiam diri, akhirnya mengeluarkan suaranya,
"Maaf Nona, tadi saya yang memberinya izin untuk menenangkan bayi Finza," ujar Surti memberanikan diri untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Kamu? Atas dasar apa kamu memperbolehkan dia masuk ke kamar ini. Dia itu orang asing, kalau dia berniat buruk pada Finza gimana? Kamu tuh cuma pembantu di rumah ini, jadi jangan macam-macam ya!"
Surti menunduk dalam-dalam, diam tidak berani menjawab. Adik ipar Tuannya selalu bersikap kurang baik padanya. Kata-katanya sangat tajam menghunus hatinya.
Razna menarik napasnya dalam-dalam. Melirik ke arah bayi yang belum sempat ia sentuh. Seorang bayi laki-laki lucu yang kini lebih tenang setelah melihat sosok Razna berada di samping tempat tidurnya.
"Danara cukup!"
Suara itu cukup membuat Danara terdiam seketika.
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...