NovelToon NovelToon
My Possession Hot Daddy

My Possession Hot Daddy

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Diam-Diam Cinta
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Sepuluh tahun Aluna (20) hidup dalam "sangkar emas" milik Bramantyo (35), wali tunggal sekaligus sahabat mendiang ayahnya. Bagi Aluna, Bram adalah pelindung yang ia panggil "Daddy". Namun bagi Bram, Aluna adalah obsesi yang ia rawat hingga matang.
Saat Aluna mulai menuntut kebebasan, kasih sayang Bram berubah menjadi dominasi yang gelap. Tatapan melindunginya berganti menjadi kilat posesif yang membakar. Di antara rasa hormat dan hasrat terlarang, Aluna harus memilih: tetap menjadi putri kecil yang penurut dalam kuasa Bram, atau melarikan diri dari jerat pria yang takkan pernah melepaskannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34. Zamrud dan jebakan maut

Kabut Lembang sore itu tampak lebih tebal, seolah sengaja membungkus villa kayu itu dari dunia luar. Sebuah kotak beludru hijau tua dengan lambang emas keluarga Adiguna tergeletak di atas meja rias. Zamrud hadiah dari Nenek—sebuah simbol "penebusan dosa" karena telah membiarkan Clara melukai permata kesayangannya.

Bramasta mengambil kalung itu, membiarkan permata hijau pekat itu menangkap sisa cahaya senja. Ia melangkah mendekati Aluna yang hanya mengenakan jubah mandi sutra tipis, duduk membelakanginya di depan cermin.

"Ibu tidak pernah main-main kalau soal hadiah," bisik Bramasta. Ia menyibakkan rambut panjang Aluna ke satu bahu, menyingkap tengkuk putih yang jenjang.

Sentuhan dingin zamrud itu saat menyentuh kulit Aluna membuat gadis itu bergidik. Bramasta mengunci pengait emas putihnya, namun jemarinya tidak berhenti di sana. Ia mulai "menggerilya". Tangan besarnya merayap turun dari bahu, menyusuri garis tulang selangka Aluna, sementara bibirnya mulai memberikan kecupan-kecupan menuntut di ceruk leher gadis itu.

"Daddy... perhiasannya sangat indah," desah Aluna, kepalanya terkulai ke belakang, bersandar pada perut bidang Bramasta.

"Kau yang membuatnya terlihat hidup, Aluna," geram Bramasta. Ia memutar kursi Aluna, memaksa gadis itu menghadapnya.

Jubah mandi sutra itu perlahan melonggar saat tangan Bramasta mulai menjelajah lebih berani ke setiap inci tubuh Aluna. Ia memuja setiap lekuk yang ia temukan, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu inci pun dari "anak angkatnya" ini yang tidak memiliki stempel kepemilikannya.

Gairah itu meledak, menghapus sisa-sisa kewarasan mereka. Bramasta mengangkat Aluna ke atas ranjang besar yang empuk, menindihnya dengan kehangatan yang memabukkan.

Di bawah kilauan lampu kristal yang temaram, zamrud di leher Aluna bergoyang mengikuti irama napas mereka yang kian memburu. Aluna mencengkeram sprei satin, matanya terpejam saat Bramasta memberikan klaim yang semakin dalam.

Mereka benar-benar lupa bahwa mereka masih berada di bawah bayang-bayang dinasti Adiguna.

Hingga sebuah suara dari lantai bawah menghancurkan segalanya.

BRAKK!

Pintu utama villa terbuka dengan dentuman keras. Suara langkah kaki yang berat dan berwibawa menggema di lantai kayu, disusul oleh suara ketukan tongkat yang sangat khas.

"Aluna? Bramasta? Kalian di mana?"

Darah Aluna seketika membeku. Itu suara Tuan Adiguna, Kakeknya. Dan di belakangnya, suara Nyonya Widya, sang Nenek.

"Sepertinya mereka sudah tidur, Adiguna. Tapi aku harus memastikan cucuku baik-baik saja," suara Nenek terdengar semakin dekat, menaiki tangga menuju lantai dua.

Kepanikan murni menyambar. Jika mereka tertangkap dalam kondisi baju yang sudah tersingkap dan aura gairah yang masih kental, tamatlah riwayat mereka.

"Daddy! Sembunyi!" bisik Aluna dengan wajah pucat pasi.

Bramasta, dengan ketangkasan yang luar biasa, menyambar kemejanya yang sempat terlempar dan langsung meluncur ke lantai, menyusup ke bawah kolong tempat tidur jati yang rendah itu.

"Jangan bersuara," perintah Bramasta dari kegelapan tepat sebelum Aluna menarik selimut tebal hingga ke leher, menutupi jubah mandinya yang berantakan dan kalung zamrud yang masih melingkar.

Aluna memejamkan mata, mengatur napasnya yang masih terengah, berusaha berakting seperti orang yang baru saja terlelap.

Ceklek.

Pintu kamar terbuka. Bau parfum mawar Nenek dan aroma cerutu Kakek seketika memenuhi ruangan. Aluna merasakan kehadiran mereka di sisi ranjang.

"Lihatlah, dia sudah tidur nyenyak," bisik Nyonya Widya lembut, mengelus kening Aluna. "Cucu malangku... dia pasti sangat lelah setelah semua fitnah itu."

Tuan Adiguna berdiri tepat di ujung tempat tidur, di atas posisi Bramasta bersembunyi. "Aku tetap tidak tenang, Widya. Berita di Jakarta semakin liar. Aku merasa lebih aman jika menjemputnya malam ini juga."

Aluna merasakan jantungnya berdegup kencang, takut detakannya terdengar hingga keluar selimut. Di bawah sana, Bramasta menahan napas, tidak bergerak sedikit pun di antara debu dan kegelapan kolong kasur.

"Bramasta di mana? Mengapa kamarnya kosong?" tanya Tuan Adiguna curiga, matanya menyapu sekeliling kamar Aluna yang sedikit berantakan.

Aluna tahu ia harus berakting. Ia melenguh pelan, seolah-olah baru saja terbangun karena suara mereka. Ia mengerjapkan matanya, menatap kedua kakek-neneknya dengan tatapan "linglung".

"Kakek? Nenek? Kenapa kalian di sini?" tanya Aluna dengan suara serak yang sangat meyakinkan.

"Maaf membangunkanmu, Sayang," Nyonya Widya duduk di tepi tempat tidur, sangat dekat dengan posisi Aluna. "Kakekmu sangat cemas. Kami memutuskan untuk menyusul. Di mana Bramasta? Kakek mencarinya."

Aluna menelan ludah. "Daddy... Daddy tadi bilang ingin mencari udara segar di luar, Nek. Beliau bilang tidak bisa tidur karena memikirkan masalah kantor. Mungkin beliau sedang di taman belakang."

Tuan Adiguna mengerutkan kening, menatap jendela yang tertutup kabut. "Di luar sedingin ini? Bramasta memang keras kepala."

Tiba-tiba, mata Kakek tertuju pada lantai dekat kasur. Sebuah kancing kemeja hitam milik Bramasta yang terlepas saat mereka bercumbu tadi tergeletak di sana. Jantung Aluna seolah berhenti berdetak saat Kakek membungkuk untuk mengambilnya.

"Kancing siapa ini? Sepertinya milik kemeja pria," gumam Kakek.

Aluna dengan cepat menyambar alasan. "Oh! Itu... itu kancing kemeja Daddy yang lepas tadi sore saat beliau membantuku mengangkat koper, Kek. Aluna lupa membuangnya."

Nyonya Widya menatap Aluna dengan tatapan yang sangat dalam, seolah bisa menembus selimut satin itu. "Begitukah? Kau tampak sangat pucat, Aluna. Dan... zamrud ini. Kau memakainya bahkan saat tidur?"

Aluna menyentuh kalung zamrud di lehernya dengan tangan gemetar. "Aluna sangat menyukainya, Nek. Aluna merasa lebih tenang saat memakainya."

Nyonya Widya tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Aluna meremang. "Baiklah. Bersiaplah, Sayang. Kakekmu ingin kita semua pulang ke Jakarta malam ini juga. Pakailah pakaianmu yang sopan, kami tunggu di bawah dalam sepuluh menit."

Begitu pintu ditutup, Aluna langsung terduduk lemas. Bramasta merayap keluar dari bawah kasur dengan wajah yang tegang dan penuh keringat. Mereka saling berpandangan dalam keheningan yang mencekam. Skenario gairah mereka baru saja dihancurkan oleh realita otoritas keluarga Adiguna.

1
ollyooliver🍌🥒🍆
ini sebenarnya gimana hubungan para pemain..kakak yg dimaksud vanya , bram? bukankan mereka berteman? vanya dan rehan bersaudara bukan? si aluna juga manggil vanya kakak, pdhl pantasnya tante. trus si rehan ngomong kek orng sumuran dengan bram. trus si adiguna kan ayahnya bram, ada chapter sebelumnya dia manggil kakek..Tuan adiguna sebenarnya ada brp?
ollyooliver🍌🥒🍆
tamu kesayangan? yg punya rumah bukannya bram?
Senja_Puan: betuul kak. coba dibaca baik-baik
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
ini kenapa bram gk menampar rehan, dia tuan rumah bukan? terlepas mungkin rehan tau hubungan lebih aluna dan bram..ya bram berhak atas aluna. knp bram disini sangat bodoh, masa anak kecil didiamin, percuma dibentuk jadi karakter seorang penguasa kalau si rehan aja gk bisa ditangani😌
ollyooliver🍌🥒🍆
jangan menunggu nekatnya, dari dia berani menantang bram dengan menyentuhmu itu sdh kelewatan..lu aja yg dasarnya lonte😌
Mita Paramita
kasian aluna 🤣🤣🤣
Lfa🩵🪽
akhirnya Aluna udah gk lembek lagi😍😍
Lfa🩵🪽
akhirnya Aluna bisa jg lawan si clarajing, udah deh Aluna gk usah terlalu di lembek2in gitu dah
ollyooliver🍌🥒🍆
gw yg deg"an...biarin aja kalau ketahuan mah🤧
ollyooliver🍌🥒🍆
kek maling aja🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
waduuuhhh
Yasa
heeeei, bisa-bisamya anda Bram. gimana kalau lolos tuh desahannya/Sob/
Yasa
😍
Yasa
semangat thor
Yasa
Halah Halah emang akal-akalan Bram. Mencari kesempatan dalam kesempitan
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
ollyooliver🍌🥒🍆
kakek? harusnya yg disebut ayahnya bram 🤔
ollyooliver🍌🥒🍆
kok diupload ulang
Senja_Puan: wah iya kak, salah masukin draft
total 1 replies
ollyooliver🍌🥒🍆
oh pake alarm ya..instan🤭
ollyooliver🍌🥒🍆
pdhl sikap aluna yg beginilah yg membuat clara sangat pintar menjatuhkan lawan😄
ollyooliver🍌🥒🍆
nah dri caramu mencari simpatilah, kau dikatakan bayi...mencari perlindungan dri orng lain bukan mengandalkan diri sendiri. pake otaklah dikit😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!