Arsenia Valen, CEO paling ditakuti di kota, hidup dengan aturan dingin:
“Perasaan adalah kelemahan.”
Sampai suatu hari, hidupnya berubah saat ia bertemu Raka—
seorang pria biasa yang bahkan tidak tahu siapa dia… dan memperlakukannya seperti manusia, bukan seorang ratu.
Dari pertemuan yang tak disengaja, muncul hubungan yang tak masuk akal.
Namun dunia mereka terlalu berbeda.
Dan ketika masa lalu Arsenia kembali menghancurkan segalanya,
pertanyaannya bukan lagi “apakah mereka saling mencintai”
—tapi apakah cinta cukup untuk bertahan.?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik Penjebakan
Dengan gerakan tenang namun penuh perhitungan, ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang yang selama ini menjadi kartu as di balik layar: Komisaris Utama (Kompol) Hendra, teman lama ayahnya yang kini mengepalai satuan tugas khusus.
“Pak Hendra, ini waktunya. Daniel sudah bergerak,” ucap Arsenia singkat. “Dia akan mengirim orang ke wilayah barat sore ini. Saya ingin mereka tertangkap tangan sebelum satu korek api pun menyala.”
Operasi Senyap di Balik Warung
Satu jam kemudian, suasana di sekitar warung dan pemukiman warga tampak normal, namun ada ketegangan yang menggantung di udara. Raka, atas instruksi Arsenia, meminta warga untuk tetap berada di dalam rumah dan tidak terpancing provokasi.
Di sudut-sudut gelap, beberapa mobil sipil yang ternyata berisi personel kepolisian berpakaian preman sudah bersiap. Arsenia dan Raka mengawasi dari lantai dua sebuah balai warga yang sudah tua.
“Kamu yakin ini akan berhasil?” bisik Raka, matanya tak lepas dari jalan masuk wilayah tersebut.
“Daniel selalu merasa paling pintar karena dia punya uang,” jawab Arsenia datar. “Dia lupa bahwa hukum tidak selalu bisa dibeli, terutama jika dia meremehkan siapa yang dia lawan.”
Detik-Detik Penjebakan
Sekitar pukul empat sore, dua buah mobil bak terbuka masuk ke wilayah itu. Beberapa pria berwajah sangar turun, membawa jerigen dan spanduk-spanduk provokatif yang bertuliskan penolakan terhadap perusahaan dengan nada anarkis. Mereka berniat membakar gudang kecil milik warga agar terlihat seperti kerusuhan internal.
Baru saja salah satu dari mereka menyiramkan bensin ke dinding kayu, suara peluit melengking memecah kesunyian.
“POLISI! JANGAN BERGERAK!”
Dalam hitungan detik, personel berpakaian preman mengepung mereka. Para preman itu kaget bukan main—mereka mengira wilayah ini tidak terjaga. Perlawanan singkat terjadi, namun mereka kalah jumlah dan kesiapan.
Skakmat untuk Daniel
Di saat yang sama, Arsenia memberikan sinyal kedua kepada tim IT di kantor pusat. Semua bukti rekaman pembicaraan Daniel dengan para preman tersebut—yang berhasil disadap melalui koordinasi kepolisian—langsung dikirim ke dewan direksi dan media massa secara anonim.
Arsenia turun dari balai warga, berjalan menghampiri salah satu preman yang sudah terborgol. Ia mengambil ponsel pria itu yang terjatuh, melihat panggilan keluar terakhir: "Daniel Pratama".
Ia menekan tombol panggil kembali.
“Halo? Sudah beres? Bakar semuanya!” suara Daniel terdengar tidak sabar di seberang telepon.
“Sayangnya, Daniel, yang terbakar hari ini bukan rumah warga, tapi masa depanmu,” ujar Arsenia dengan suara sedingin es.
Hening total di ujung telepon. Daniel tidak sempat membalas sebelum Arsenia memutus sambungan. Di kejauhan, sirine mobil patroli terdengar mendekat ke arah kantor pusat Valen Group untuk menjemput Daniel secara resmi.
Malam yang Tenang
Setelah badai mereda, Arsenia dan Raka duduk di tepi sungai, tempat yang sama saat Arsenia menyatakan pilihannya kemarin. Namun kali ini, tidak ada lagi ketakutan di wajah mereka.
“Semua sudah berakhir, Raka. Daniel sudah ditahan atas tuduhan penghasutan dan manipulasi data,” kata Arsenia sembari menghirup udara malam yang segar.
Raka menoleh, menatap Arsenia dengan kagum. “Kamu benar-benar wanita yang luar biasa, Arsenia. Aku hampir lupa kalau kamu adalah pimpinan perusahaan besar saat melihatmu tadi.”
Arsenia tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Raka. “Mulai besok, aku akan membangun kembali divisi ini. Bukan sebagai penjajah wilayah, tapi sebagai mitra bagi orang-orang seperti kamu.”
Raka menggenggam tangan Arsenia erat. “Dan aku akan tetap di sini, di warung itu, menunggumu pulang kerja setiap hari.”