Arumi tidak pernah menyangka bahwa hari paling membahagiakan bagi kakaknya, Siska, akan menjadi awal dari penjara tak kasat mata baginya. Tepat di hari pernikahan megah yang telah dirancang keluarga, Siska melarikan diri demi kekasih lamanya, meninggalkan hutang besar dan kehormatan keluarga yang dipertaruhkan.
Demi menyelamatkan wajah orang tua dan melunasi hutang budi, Arumi terpaksa menggantikan posisi sang kakak di pelaminan. Ia menikah dengan Adrian Pramoedya, seorang CEO muda yang dingin, kaku, dan menyimpan luka mendalam akibat pengkhianatan Siska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Gema Kata-Kata
Tiga bulan berlalu sejak penandatanganan kontrak di kantor penerbitan itu. Kehidupan Arumi berubah drastis, namun dengan cara yang sangat tenang dan tertata. Jika dulu ia menghabiskan waktunya dengan mencuci baju Siska atau merapikan jadwal kencan kakaknya, kini hari-harinya diisi dengan korespondensi email bersama Pandu, revisi naskah yang mendalam, dan diskusi panjang di meja makan bersama Adrian mengenai perkembangan plotnya.
Pagi itu, Jakarta diguyur hujan gerimis yang membawa hawa sejuk ke dalam ruang tengah rumah mereka. Arumi duduk meringkuk di sofa dengan laptop di pangkuannya. Hari ini adalah hari peluncuran pre-order novelnya yang berjudul "Bayangan di Balik Pelaminan".
Judul itu adalah hasil perdebatan panjang. Awalnya Arumi ingin judul yang lebih puitis, namun Pandu menyarankan sesuatu yang sedikit provokatif tapi jujur. Adrian, anehnya, setuju dengan Pandu.
"Judul itu kuat, Arumi. Itu mengakui asal-usul ceritamu tanpa harus merasa malu," ujar Adrian kala itu.
Pukul sepuluh tepat, Pandu mengirimkan sebuah tautan. “Lihat ini, Rum. Kita baru buka sepuluh menit.”
Arumi mengklik tautan tersebut dan matanya membelalak. Angka pemesanan sudah menyentuh angka lima ratus eksemplar. Kolom komentar di media sosial penerbitan penuh dengan antusiasme pembaca yang selama ini mengikuti cuplikan-cuplikan ceritanya di platform digital.
"Mas! Lihat ini!" Arumi berseru saat Adrian berjalan melewati ruang tengah menuju dapur untuk mengambil air.
Adrian mendekat, membungkuk di atas bahu Arumi untuk melihat layar. Ia membaca beberapa komentar yang muncul.
“Wah, ini penulis yang istrinya CEO Pramoedya itu ya? Ternyata tulisannya keren banget, nggak cuma modal nama suami.”
“Aku sudah baca bab awalnya, emosional banget. Berasa banget sakitnya jadi orang kedua.”
Adrian tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang kini jauh lebih sering muncul daripada saat pertama mereka menikah. "Aku sudah bilang, kan? Kualitas tidak akan pernah berbohong. Selamat, Penulis Arumi."
Adrian mencium kening Arumi sekilas—sebuah tindakan yang kini menjadi rutinitas pagi mereka—sebelum ia berangkat ke kantor. Namun, sebelum ia melangkah keluar pintu, ia berbalik.
"Oh, satu hal lagi. Aku sudah memesan seratus eksemplar untuk dibagikan kepada karyawan di kantorku. Aku ingin mereka tahu bahwa nyonya di rumah ini punya pemikiran yang luar biasa."
Arumi tertawa, wajahnya merona merah. "Mas, itu berlebihan!"
"Itu apresiasi, bukan pemborosan," balas Adrian jahil lalu menghilang di balik pintu.
Siang harinya, kesuksesan peluncuran itu sedikit terusik oleh sebuah panggilan telepon dari ibunya. Suara Ratna terdengar cemas, namun ada nada harapan di sana.
"Arumi, bisakah kamu datang ke rumah Ayah sore ini? Siska... dia ingin menunjukkan sesuatu padamu."
Arumi menghela napas. Sejak pertemuan di mobil waktu itu, hubungan mereka masih kaku. Siska mulai mengikuti konseling dan sesekali membantu di yayasan sosial, namun Arumi masih merasakan dinding kecanggungan yang tinggi.
"Ada apa, Bu? Siska baik-baik saja?"
"Dia baik. Dia hanya... ingin bicara secara pribadi."
Pukul empat sore, Arumi sampai di rumah orang tuanya. Rumah yang dulu terasa seperti penjara baginya, kini tampak seperti tempat yang asing. Ia menemukan Siska di teras belakang, sedang sibuk dengan beberapa pot tanaman dan cat warna-warni.
Siska tampak berbeda. Ia tidak memakai riasan tebal. Rambutnya diikat kuda sederhana, dan ada noda cat di pipinya.
"Rum, kamu datang," sapa Siska, suaranya lebih rendah dan tenang.
"Ibu bilang kamu ingin menunjukkan sesuatu?"
Siska mengangguk, lalu menunjukkan sebuah pot bunga yang dilukis dengan motif etnik yang indah. "Aku mulai melukis lagi. Dulu, sebelum aku terobsesi jadi model, aku suka melukis, kan? Kamu ingat?"
Arumi tersenyum tulus. "Aku ingat. Kakak selalu juara lomba lukis saat SD."
"Aku melihat berita soal novelmu hari ini, Rum. Viral ya," Siska menunduk, mengusap kuasnya yang basah. "Awalnya aku merasa sesak. Aku merasa... kamu benar-benar mengambil semua cahaya yang dulu aku punya. Tapi psikologku bilang, cahaya itu bukan jumlah yang terbatas. Kamu punya cahayamu, dan aku harus mencari cahayaku sendiri yang sempat hilang."
Siska mengambil sebuah bungkusan kecil dan menyerahkannya pada Arumi. "Ini untukmu. Hadiah peluncuran buku."
Arumi membuka bungkusan itu. Isinya adalah sebuah lukisan kecil di atas kanvas mini, menggambarkan dua orang gadis kecil yang sedang bergandengan tangan di bawah pohon besar. Salah satunya memegang buku, satunya memegang kuas.
"Maafkan aku ya, Rum. Untuk semuanya," bisik Siska.
Arumi memeluk kakaknya erat. Air mata haru menetes di pipinya. Inilah konflik yang paling ingin ia selesaikan—bukan soal siapa yang menang, tapi soal bagaimana mereka berdua bisa berdamai dengan masa lalu.
"Terima kasih, Kak. Ini hadiah terindah," ujar Arumi tulus.
Malam harinya, Arumi menceritakan pertemuannya dengan Siska kepada Adrian saat mereka sedang bersantai di balkon kamar utama. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma melati dari taman bawah.
"Aku senang dia mulai menemukan jalannya," komentar Adrian sambil menyesap teh hangatnya.
"Aku juga, Mas. Ternyata benar kata Mas, setiap orang punya waktunya masing-masing."
Arumi menyandarkan kepalanya di bahu tegap Adrian. Ia merasa sangat bersyukur. Dalam waktu kurang dari setahun, ia mendapatkan hal-hal yang dulu ia anggap mustahil: pengakuan atas bakatnya, perdamaian dengan keluarganya, dan... cinta dari pria di sampingnya ini.
"Mas," panggil Arumi pelan.
"Hmm?"
"Kontrak kita... sudah berjalan hampir enam bulan."
Adrian terdiam sejenak. Genggaman tangannya pada jemari Arumi menguat. "Kenapa? Kamu menghitung hari menuju kebebasanmu?"
Arumi mendongak, menatap mata Adrian yang kini tampak sedikit gelisah. "Tidak. Aku justru takut saat hari itu tiba."
Adrian meletakkan cangkirnya di meja kecil, lalu memutar tubuhnya menghadap Arumi sepenuhnya. Ia memegang kedua tangan Arumi, menatapnya dengan intensitas yang membuat napas Arumi tertahan.
"Dengar, Arumi. Kontrak itu... aku membuatnya saat aku sedang marah, terluka, dan tidak percaya pada siapa pun. Aku membutuhkannya untuk melindungiku," ujar Adrian jujur. "Tapi sekarang, dokumen itu hanyalah selembar kertas sampah bagiku."
"Maksud Mas?"
"Aku tidak ingin kamu pergi saat satu tahun itu berakhir. Aku tidak ingin ada kontrak lagi di antara kita. Aku ingin pernikahan ini nyata, selamanya. Tanpa syarat, tanpa tekanan keluarga, tanpa bayang-bayang Siska."
Adrian mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil dari saku celananya. Di dalamnya terdapat sebuah cincin dengan berlian tunggal yang sangat cantik—jauh lebih indah dan terasa lebih "benar" daripada cincin pernikahan yang mereka gunakan di altar dulu.
"Arumi Ningtyas, maukah kamu menikah denganku lagi? Kali ini bukan sebagai istri pengganti, tapi sebagai wanita satu-satunya yang aku inginkan untuk menemani sisa hidupku?"
Air mata kebahagiaan mengalir deras di pipi Arumi. Ia tidak bisa berkata-kata, hanya mengangguk berkali-kali sebelum menghambur ke pelukan Adrian.
"Ya, Mas. Aku mau. Aku sangat mau," bisik Arumi di antara tangis bahagianya.
Malam itu, di bawah saksi bintang-bintang Jakarta, bab baru dalam hidup mereka benar-benar dimulai. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi keraguan.
Beberapa minggu kemudian, novel Arumi resmi dirilis secara fisik. Acara peluncurannya dilakukan di sebuah toko buku besar. Ratusan orang datang, dan Arumi dengan percaya diri duduk di depan, menandatangani buku demi buku.
Saat sesi tanya jawab, seorang wartawan bertanya, "Mbak Arumi, banyak yang bilang novel ini terinspirasi dari kisah nyata Mbak sebagai 'istri pengganti'. Apa komentar Mbak?"
Arumi tersenyum, melirik Adrian yang berdiri di barisan belakang dengan tatapan bangga.
"Mungkin awal ceritanya memang tentang menjadi pengganti," jawab Arumi tenang ke arah mikrofon. "Tapi novel ini, dan hidup saya, sebenarnya adalah tentang bagaimana kita berhenti menjadi bayangan orang lain. Menjadi 'pengganti' hanyalah sebuah pintu masuk yang tidak sengaja saya lewati, tapi cinta yang saya temukan di dalamnya adalah sesuatu yang sangat asli dan tidak akan pernah bisa digantikan oleh siapa pun."
Tepuk tangan meriah membahana di seluruh ruangan. Siska, yang hadir bersama orang tua mereka di barisan depan, ikut bertepuk tangan dengan mata berkaca-kaca.
Hidup Arumi kini bukan lagi sebuah draf yang penuh coretan kesalahan. Ia telah menuliskan ceritanya sendiri, dengan tintanya sendiri, dan dengan pendamping yang selalu siap menjaga setiap katanya agar tetap indah.