Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.
Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.
Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Bianca terdiam beberapa lama di ruang kerja suaminya, ragu untuk mengetuk. Ia bimbang antara haruskah ia meminta izin suaminya untuk pergi atau tetap tinggal dengan perasaan yang terus mengganjal hatinya.
Tak lama kemudian, pintu ruang kerja itu terbuka tiba-tiba, Bianca terkejut. Apalagi saat melihat sang suami berdiri menatapnya dengan sebelah alis yang terangkat.
“Ada apa?” tanya Michael.
“Aku ingin meminta izinmu, aku ingin menemui Cameron dan tinggal bersamanya selama satu Minggu,” kata Bianca mengutarakan niatnya dengan sedikit gemetar.
Michael menatapnya lama sebelum akhirnya menjawab dengan dingin. “Pergilah jika kau mau.”
Dua hari kemudian, Bianca benar-benar berangkat. Selama penerbangan itu, pikirannya tidak pernah benar-benar tenang. Ia terus memikirkan cerita Regina tentang perempuan bernama Giana. Bianca tidak ingin hanya mendengarnya dari orang lain, ia ingin melihat semuanya dengan matanya sendiri.
Mobil yang menjemputnya akhirnya memasuki gerbang rumah Cameron. Bangunan itu berdiri megah seperti yang ia ingat, tetapi entah mengapa terasa berbeda hari itu. Ada sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, sesuatu yang membuatnya semakin yakin bahwa keputusannya untuk datang bukanlah kesalahan.
Begitu mobil berhenti, para pelayan yang berada di halaman langsung terkejut melihatnya. “Nyonya Besar?” salah satu dari mereka berbisik pelan.
Bianca turun dari mobil dengan anggun, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Namun tatapannya tajam, menyapu sekitar seolah sedang menilai sesuatu yang tidak terlihat.
Para pelayan yang melihatnya segera membungkuk hormat.
“Selamat datang, Nyonya.”
Bianca hanya mengangguk ringan. “Di mana Cameron?”
“Maaf, Nyonya. Tuan masih berada di kantor,” sahut Sarah yang langsung datang menyambut Bianca. “Apakah Nyonya ingin bertemu Tuan? Saya bisa menghubungi—”
Jawaban itu tidak membuatnya terkejut. Justru, dalam diam, ia merasa itu mempermudah langkahnya.
“Tidak perlu,” sela Bianca cepat, lalu melangkah masuk ke dalam rumah tanpa menunggu lebih lama.
Langkahnya terlihat tenang, tetapi terarah. Ia tidak datang untuk sekadar berkunjung, melainkan untuk mencari tahu.
Namun begitu ia memasuki ruang tamu, langkahnya terhenti.
Matanya menangkap seorang wanita yang baru saja turun dengan seorang bayi dalam gendongannya.
“Siapa dia?” tanya Bianca memastikan. “Apakah dia Giana?”
Sarah mengangguk dengan kepala tertunduk. “Benar, Nyonya. Namanya adalah Giana.”
Bianca mengibaskan tangannya, meminta Sarah dan yang lainnya untuk pergi dari hadapannya. Selama beberapa saat Bianca hanya memperhatikan Giana yang tampak begitu tenang, mengayun bayi kecil itu dengan lembut sambil berbicara pelan, seolah hanya mereka berdua yang ada di dunia itu.
Pemandangan itu mengingatkan Bianca pada masa lalu, saat di mana ia menggendong Cameron kecil, mengayunnya penuh kasih sayang dan berbicara seolah-olah ia bisa mengerti bahasa bayi.
Perasaan itu datang begitu saja, membuat langkahnya tertahan sejenak. Namun hanya sesaat. Bianca kembali menguasai dirinya dan melangkah mendekat. Suara sepatu hak tingginya terdengar jelas di lantai, dan cukup untuk membuat Giana menoleh.
Mata mereka bertemu selama beberapa detik. Giana sedikit terkejut. Ia bisa merasakan bahwa wanita di hadapannya bukan orang biasa. Aura yang dimilikinya terlalu kuat, terlalu berkelas untuk diabaikan.
Bianca berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya menyapu wajah Giana dengan seksama, bukan sekadar melihat, tetapi menilai. Lalu perlahan, pandangannya beralih ke bayi dalam pelukan wanita itu.
Wajah kecil itu terlihat tenang dalam gendongan Giana dan berhasil mencuri perhatian Bianca. ia merasa ada sesuatu yang familiar pada bayi itu. Terutama wajah Cayden, yang kembali mengingatkannya pada putrinya.
“Apakah dia anakmu?” tanya Bianca akhirnya, suaranya tenang tetapi tajam.
Giana sedikit tersentak. Ia mencoba menebak siapa wanita di hadapannya, tetapi tidak berani memastikan. Namun dari cara pelayan menyambutnya dan sikapnya yang begitu berwibawa, ia tahu wanita ini bukan orang biasa.
Dengan cepat, Giana menenangkan dirinya. Ia menunduk sedikit sebagai bentuk hormat sebelum menjawab. “Benar, Nyonya. Namanya Cayden,” ucapnya pelan.
Jawaban itu membuat Bianca terdiam. Tatapannya kembali pada bayi itu, lalu kembali ke wajah Giana, seolah membandingkan sesuatu yang hanya ia pahami sendiri.
Namun ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Tanpa peringatan, Bianca berbalik dan melangkah pergi. Suara langkahnya terdengar tegas, meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun.
Giana tetap berdiri di tempatnya, memeluk Cayden dengan sedikit lebih erat. Ada perasaan aneh yang mengendap di dadanya. Ia tidak sepenuhnya takut, tetapi juga merasa tidak nyaman, terutama dari cara Bianca mengintimidasinya.
***
Di kantornya, Cameron baru saja mendapat kabar bahwa ibunya sedang berada di rumah. Ia sontak berdiri.
“Ada apa, Tuan?” tanya asistennya di tengah-tengah briefing sore. “Apakah ada sesuatu yang Anda butuhkan?”
Cameron menoleh, lalu menyambar jasnya yang tersampir di kursi. “Kau lanjutkan pekerjaanmu, aku harus segera pulang.” Ia langsung melangkah keluar ruangan dengan tergesa.
Asistennya menatapnya heran, namun tak berani bertanya. Ia tahu bahwa atasannya itu sedang dalam problem yang cukup rumit.
Cameron mengemudikan mobilnya secepat yang ia bisa, ia tidak boleh membiarkan ibunya mencari tahu lebih dalam tentang Giana, apalagi Cayden. Ia harus mencegah ibunya sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
“Oh, sial! Bagaimana bisa Ibu tiba-tiba datang seperti ini?” gumamnya, kesal pada dirinya sendiri.
***
Lampu-lampu besar menyala terang, menyorot panggung panjang yang membentang di tengah ruangan megah itu. Aula peragaan busana di Paris dipenuhi oleh para tamu penting. Para desainer ternama, selebritas, hingga para kritikus mode duduk rapi di barisan depan.
Alunan musik mulai mengalun. Satu per satu model melangkah keluar, menampilkan rancangan terbaik malam itu. Gaun-gaun mewah berkilau di bawah cahaya lampu, menciptakan bayangan yang bergerak seirama dengan langkah mereka.
Namun kemudian, suasana seolah berubah saat Cassandra muncup. Langkah pertamanya di atas catwalk langsung menarik perhatian. Ia berjalan dengan ritme yang sempurna, tegas, penuh kendali, seolah ia tidak hanya berjalan, tetapi menguasai panggung.
Gaun yang ia kenakan jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya, berkilau lembut setiap kali ia bergerak. Potongannya elegan, tetapi keberadaan Cassandra membuatnya tampak jauh lebih hidup.
Tatapannya lurus ke depan. Dingin, namun penuh daya pikat. Ada kepercayaan diri yang tidak dibuat-buat dalam setiap geraknya. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat, dan ekspresi wajahnya tetap tenang.
Beberapa pasang mata langsung tertuju padanya. Seorang fotografer di sisi panggung bahkan tanpa sadar menekan tombol kamera lebih cepat, menangkap setiap momen saat Cassandra melangkah. Kilatan lampu kamera mulai bermunculan, mengikuti pergerakannya dari ujung ke ujung runway.
Bisikan pelan terdengar di antara para penonton. Namun Cassandra sama sekali tidak terganggu. Ia justru tersenyum puas, sebab ini adalah dunianya.
Saat ia mencapai ujung catwalk, ia berhenti sejenak. Tubuhnya berputar dengan gerakan halus, memberikan sudut terbaik dari gaun yang ia kenakan. Rambutnya bergerak mengikuti putaran itu, menambah kesan dramatis yang begitu sempurna.
Sorot lampu tepat jatuh kepadanya. Dan untuk sepersekian detik, semua mata hanya melihatnya. Cassandra kemudian melangkah kembali dengan ketenangan yang sama, kembali ke belakang panggung. Ia merasa puas karena bisa kembali tampil sebagai model papan atas.
Namun, rasa puas itu tak berlangsung lama saat ia merasa dadanya kembali penuh. “Astaga, aku membenci keadaan ini. Padahal aku sudah memompa dan mengeluarkan semuanya tadi,” gumamnya kesal.