NovelToon NovelToon
Turun Ranjang

Turun Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

Seorang CEO muda yang ambisius seperti Kenzo Praditya tidak pernah punya rencana untuk menikah dalam waktu dekat, apalagi dengan Anindya, janda dari kakaknya sendiri.

​"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu. Aku melakukan ini hanya demi wasiat Kakak," ucap Kenzo dingin di malam pertama mereka.

​Anindya hanya bisa menelan kepahitan. Ia bertahan demi satu alasan, buah hatinya yang membutuhkan perlindungan keluarga Praditya.

Namun, tembok es yang dibangun Kenzo perlahan runtuh saat ia melihat ketegaran Anindya menghadapi badai fitnah dari luar.

​Saat rasa peduli mulai berubah menjadi obsesi, Kenzo dihadapkan pada satu kenyataan pahit. Ia mulai mencintai wanita yang seharusnya tidak boleh ia miliki.

Simak Kisah Selanjutnya di Cerita Novel => Turun Ranjang.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden kamar utama dengan intensitas yang terasa mengejek. Anindya terbangun dengan rasa sakit yang masih berdenyut di sekujur tubuhnya, namun ada sesuatu yang berbeda di udara.

Suasana kamar tidak sedingin biasanya, meski keberadaan Kenzo di sampingnya tetap menjadi beban yang menyesakkan.

Kenzo sedang berdiri di depan cermin, mengancingkan kemeja hitamnya dengan gerakan yang efisien dan penuh wibawa. Di sudut ruangan, dua koper besar sudah tertata rapi.

"Aku harus pergi ke London siang ini, Anin. Cabang di sana sedang kacau karena penggelapan dana yang dilakukan manajer operasionalnya," ucap Kenzo tanpa menoleh. Suaranya terdengar datar, namun ada nada frustrasi yang terselip di sana.

Jantung Anindya berdegup kencang. London? Pergi?

"Berapa lama?" tanya Anindya sembari berusaha mendudukkan diri dan merapatkan selimut ke dadanya.

Ia berusaha keras menjaga suaranya agar tetap stabil, tidak ingin memperlihatkan binar harapan yang mulai menyala di matanya.

"Satu bulan. Mungkin lebih," jawab Kenzo. Ia berbalik, menatap Anindya dengan tatapan yang seolah bisa menembus tengkorak kepalanya. "Aku ingin membawamu dan Elang. Aku sudah menyiapkan jet pribadi."

Dunia Anindya seolah runtuh seketika. Jika ia ikut, maka London hanya akan menjadi penjara yang lebih jauh. Namun, sebelum ia sempat memprotes, pintu kamar diketuk dengan tegas.

Tuan Praditya masuk dengan wajah yang keras. "Kenzo. Kata Bi Inah kau akan membawa Anin dan Elang? Itu tidak akan terjadi, pastikan kau pergi sendiri. Fokusmu adalah menyelamatkan aset kita di sana, bukan berbulan madu di tengah krisis. Anindya dan Elang tetap di sini dalam pengawasanku."

Kenzo rahangnya mengeras. Ia menatap ayahnya dengan sorot mata menantang. "Mereka adalah tanggung jawabku, Pa."

"Dan perusahaan adalah tanggung jawab keluarga! Pergilah siang ini jam satu. Selesaikan masalah itu dalam sebulan, atau aku akan menunjuk orang lain untuk posisi CEO," tegas Tuan Praditya sebelum berbalik meninggalkan kamar.

Setelah ayahnya pergi, hening yang mencekam kembali menyelimuti ruangan. Anindya menunduk, menyembunyikan senyum kemenangan yang hampir pecah di bibirnya.

Satu bulan. Satu bulan tanpa sentuhan tangan dingin itu. Satu bulan tanpa aroma sandalwood yang membunuh jiwanya.

Kenzo berjalan mendekat ke arah ranjang. Ia mencengkeram dagu Anindya, memaksanya menatap mata elangnya yang kini berkilat penuh obsesi.

"Kau terlihat senang, Anin? Kau pikir kau akan bebas?" bisik Kenzo parau.

"Aku tidak bilang begitu, Kenzo," bohong Anindya.

Kenzo menyeringai, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk Anindya berdiri. "Aku tahu apa yang ada di kepalamu. Tapi ingat, meski aku di belahan bumi lain, mataku tetap ada di rumah ini. Dan sebelum aku pergi..." Kenzo melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan pukul sembilan pagi. "Penerbanganku jam satu siang. Aku sudah memesan pada pelayan agar tidak ada yang berani mendekati kamar ini sampai jam dua belas."

Anindya menelan ludah. Ia tahu apa artinya itu.

"Kenzo, semalam kau sudah melakukannya hingga dini hari, kau juga harus bersiap-siap... koper-kopermu..."

"Koper bisa menunggu. Tapi rasa hausku padamu tidak bisa menunggu sebulan, Anin."

Tanpa ampun, Kenzo menarik selimut yang membungkus tubuh Anindya. Pria itu tidak memberikan ruang bagi Anindya untuk bernapas, apalagi berontak.

Ia menerjang dengan gairah yang jauh lebih liar dan kasar dari biasanya, seolah ingin menanamkan jejak yang begitu dalam sehingga Anindya tidak akan bisa melupakannya selama ia pergi.

"Kau akan merindukan ini, bukan?" desis Kenzo di tengah pergulatan panas itu.

Anindya tidak menjawab. Ia memilih untuk memejamkan mata rapat-rapat. Ia membiarkan tubuhnya menjadi pelampiasan nafsu Kenzo yang seolah tak berdasar.

Di dalam kepalanya, Anindya mulai menghitung mundur. Tiga jam lagi. Hanya tiga jam lagi, dan aku akan bebas.

Kenzo menguasai setiap jengkal tubuh Anindya dengan dominasi yang memuakkan. Ia menggigit bahu Anindya, meninggalkan tanda kemerahan yang mencolok.

Ia mencium bibir Anindya hingga terasa kebas, mencoba paksa mendapatkan balasan yang tak kunjung ia terima.

Gairah yang berkobar di atas ranjang itu terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kemanusiaan Anindya. Kenzo bergerak dengan ritme yang menuntut, menghisap seluruh energi Anindya tanpa sisa.

Setiap erangan yang keluar dari mulut Kenzo adalah penghinaan bagi telinga Anindya, sementara isakan tertahan Anindya justru menjadi pemacu bagi Kenzo untuk bertindak lebih jauh.

"Sebut namaku! Katakan kau milikku!" teriak Kenzo saat ia mencapai puncak obsesinya.

Anindya tetap membisu, membiarkan tubuhnya bergetar hebat di bawah tekanan Kenzo. Baginya, ini adalah harga yang harus ia bayar untuk membeli satu bulan kebebasan.

Ia rela tubuhnya dihancurkan sekarang, asal esok ia tidak perlu melihat wajah pria ini lagi.

Saat jarum jam menunjukkan pukul dua belas tepat, Kenzo akhirnya melepaskan Anindya. Ia bangkit dengan tubuh yang bersimbah keringat, tampak segar seolah baru saja mendapatkan kemenangan besar.

Sementara itu, Anindya terbaring hampa di atas sprei yang berantakan, jiwanya seolah tertinggal di dasar jurang yang paling dalam.

Kenzo mandi dengan cepat dan mengenakan setelan jasnya kembali. Ia berdiri di samping ranjang, menatap Anindya yang masih belum sanggup bergerak. Ia mengeluarkan sebuah ponsel baru dari sakunya dan meletakkannya di atas nakas.

"Gunakan ini. Hanya ada satu nomor di sana, nomor pribadiku. Jika kau tidak mengangkat teleponku dalam tiga nada, aku akan mengirim orang untuk menjemput Elang saat itu juga," ancam Kenzo dingin.

Ia membungkuk, mencium kening Anindya yang dingin. "Tunggu aku kembali, Istriku. Jangan coba-coba mencari celah, karena penjagaku ada di setiap sudut nafasmu."

Dengan langkah angkuh, Kenzo keluar dari kamar, membawa koper-kopernya dan meninggalkan keheningan yang luar biasa lega bagi Anindya.

Setelah mendengar deru mobil Kenzo menjauh dan gerbang utama tertutup, Anindya tiba-tiba bangkit. Dengan sisa tenaga yang ada, ia berlari ke kamar mandi.

Ia menyalakan air pancuran dengan suhu paling dingin, mencoba membilas sisa-sisa bau Kenzo yang menempel di kulitnya. Ia menggosok tubuhnya dengan spons hingga memerah, seolah ingin menguliti dirinya sendiri agar jejak Kenzo hilang.

Selesai mandi, ia keluar dan langsung menuju kamar Elang.

Anindya mendapati putranya sedang bermain dengan mobil-mobilan di karpet. Melihat ibunya masuk, Elang langsung berlari dan memeluk kaki Anindya.

"Ibu! Papa Kenzo sudah pergi?" tanya Elang dengan mata polosnya.

Anindya berlutut, memeluk Elang dengan kekuatan yang baru. Air mata yang ia tahan sejak pagi akhirnya tumpah, namun kali ini bukan air mata keputusasaan, melainkan air mata kelegaan yang luar biasa.

"Iya, Sayang. Dia sudah pergi. Dia tidak akan mengganggu kita untuk waktu yang lama," bisik Anindya, suaranya parau namun penuh keyakinan.

Anindya membenamkan wajahnya di bahu Elang. Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan semua rasa sesak, rasa kotor, dan rasa benci yang menumpuk di dadanya.

Pelukan Elang terasa seperti obat penawar bagi racun yang disuntikkan Kenzo selama ini.

~~

Sore harinya, Anindya duduk di taman belakang. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diawasi dengan begitu mencekam, meskipun ia tahu para pengawal masih ada di pos mereka. Ia menatap langit sore yang berwarna jingga.

Satu bulan.

Waktu itu sangat singkat jika digunakan hanya untuk bersantai, namun sangat panjang jika digunakan untuk menyusun rencana. Anindya mengambil ponsel pemberian Kenzo di atas meja.

Ia menatap benda itu dengan kebencian, namun kemudian sebuah ide terlintas di kepalanya.

Kenzo mungkin berpikir dia telah memenangkan segalanya. Dia berpikir telah mengikat Anindya dengan ancaman terhadap Elang dan isolasi sosial.

Tapi Kenzo lupa satu hal, Anindya adalah istri Arlan Praditya, pria yang mengajarinya bagaimana cara bertahan di dunia bisnis yang kejam.

"Kau pikir kau bisa mengurungku selamanya dalam sangkar ini, Kenzo?" gumam Anindya pada angin malam. "Kau salah. Selama satu bulan ini, aku akan mencari kunci sangkar ini, dan saat kau kembali, kau tidak akan menemukan boneka yang penurut lagi."

Anindya berdiri, merapikan gaunnya. Matanya yang tadinya kosong kini berkilat dengan tekad yang membara. Ia akan memanfaatkan absennya Kenzo untuk mencari kebahagiaannya sendiri bersama Elang.

Malam itu, di kediaman Praditya yang sunyi, Anindya tidak lagi tidur dengan ketakutan. Ia tidur dengan sebuah rencana.

Dan di London, Kenzo duduk di kursi kerjanya, menatap layar monitor yang menampilkan rekaman CCTV kamar Anindya, tidak menyadari bahwa mangsa yang ia pikir sudah lumpuh, kini sedang mengasah taringnya untuk menyerang balik.

Persiapkan diri kalian untuk intrik yang lebih tajam di episode mendatang!

...----------------...

To Be Continue .....

1
Yuliana Tunru
akhir dr hudupnu kenzo dan.itu setimpal sgn jejahatan mu krn aju yakin arlan pun dibunuh okeh kenzo
nani rahayu
lanjut thoor seru cerita nya
Miss Ra: 💪

siaaappp
total 1 replies
Nabitha Azizah
ceritanya nggak membosankan
Miss Ra: 🤗

thank u ratingnya kakak...
/Kiss//Rose/
total 1 replies
Nabitha Azizah
thorr ceritanya bagus...semangat sampai akhir/Heart/
Miss Ra: 🤗

thank u kakak
/Rose//Kiss/
total 1 replies
Mundri Astuti
lanjutin aja Thor .... seru ko ceritanya
Mundri Astuti
kemarin" nyepelein, pas di dtgin takut, gimana sih anin
Yuliana Tunru
akhir x up jg thorr s3nang baca x ..aplg saat kenzo di tangkap ikut bernapas lega ..smoga bab 20 hingga 80 lancar jaya 💪💪💪
Miss Ra: 🤗🤲

amiiin....
makasih banyak doanya kakak...
total 1 replies
nani rahayu
Anin sudah benar berada di samping Zayed, lanjut thorr cerita mu menarik 👍
Soraya
mampir thor
Miss Ra: 🤗

thank u kakak
total 1 replies
Yuliana Tunru
cerita mu bikin tegang to candu thorr beharqo kenzo dan valeirie diculik dan dikurung hingga tak bisa pulang lg ..syykur anin beetemu irang2 baik .. thor smoga ini bab terbaik mu 💪💪💪vote buat mu
nani rahayu: lanjut thoor seru, aku suka cerita mu, semoga thoor sehat selalu semangat nulis nya 👍
total 2 replies
Mundri Astuti
tetep hati" Anin, jaga elang juga, jangan sampai digunakan Kenzo sebagai alat buat kamu balik ke dia
Dew666
🥰🥰🥰
Miss Ra: 🤗

makasih ratingnya kakak
total 1 replies
Dew666
🍎🍎🍎
Miss Ra: 🤗🤗🤗

thank u kakak
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Miss Ra: 💪🤗

siaaappp
total 1 replies
siti Syamsiar
lanjut thor 👍👍👍👍👍
Mundri Astuti
saudara kandung kah Kenzo dan Arlan 🤔, papanya juga kayanya lebih ke Kenzo ya
Eva Karmita
biarkan Kenzo berjuang mengejar cinta nya ya otor ngk usah ada orang baru lagi ... pengen lihat bagaimana Kenzo menaklukkan hati Anin 😅🥰
Eva Karmita
bingung mau komen apa 🤔🤔😅
Eva Karmita
kalau di lihat disini yg jahat bapaknya Kenzo menurutku orangnya ambisius...
Eva Karmita
selamat tinggal jakarta hiduplah dengan tenang dan damai Anin elang... semoga saja di pelarian mu ini kamu tidak membawa benihnya Kenzo
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!