Alya, seorang mahasiswi cerdas dan mandiri, dipaksa menerima perjodohan dengan dosennya sendiri.
Arka, pria dingin dan tegas yang menyimpan masa lalu kelam. Hubungan yang awalnya penuh penolakan berubah menjadi konflik batin, kecemburuan, dan rahasia yang perlahan terungkap.
Di antara kewajiban, harga diri, dan cinta yang tumbuh diam-diam, mereka harus memilih: bertahan dalam keterpaksaan, atau memperjuangkan perasaan yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon noel_piss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
###♥️
Hari-hari setelah itu berjalan seperti biasa.
Atau setidaknya, terlihat biasa. Alya tetap datang ke kampus, mengikuti kelas, duduk di tempat yang sama, dan berusaha menjalani semuanya seperti sebelum hari hujan itu terjadi. Ia berbicara dengan teman-temannya, tertawa seperlunya, dan mencoba tidak terlalu banyak berpikir.
Namun di dalam dirinya, ia tahu semuanya sudah berubah. Ada sesuatu yang kini selalu ikut hadir di setiap langkahnya. Sesuatu yang tidak terlihat, tapi terasa. Dan semakin ia mencoba mengabaikannya, semakin jelas keberadaannya.
Sore itu, Alya memutuskan untuk tidak langsung pulang setelah kelas selesai. Ia memilih pergi ke perpustakaan kampus. Sudah lama ia tidak benar-benar menghabiskan waktu di sana, dan mungkin ia butuh suasana yang lebih tenang. Perpustakaan cukup sepi. Hanya beberapa mahasiswa yang duduk di sudut-sudut ruangan, tenggelam dalam buku masing-masing.Alya berjalan perlahan di antara rak, matanya menyusuri deretan buku tanpa benar-benar fokus. Ia mengambil satu buku, lalu buku lain, namun pikirannya tetap melayang.
Hingga akhirnya ia memilih duduk di salah satu meja dekat jendela.
Cahaya sore masuk dengan lembut, membuat suasana terasa hangat dan tenang.
Alya membuka buku di depannya.
Namun belum sampai satu halaman ia berhenti.
Ada suara langkah.
Pelan......
Teratur.....
Dan entah kenapa, langkah itu terasa familiar.
Alya mengangkat kepala.
Dan benar saja.
Arka.
Ia berdiri tidak jauh dari meja Alya, seolah juga baru menyadari keberadaan Alya di sana.
Beberapa detik mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang bergerak,tidak ada yang berbicara.
Sampai akhirnya, Alya lebih dulu menunduk, sedikit gugup.
“Pak…” sapanya pelan.
Arka mengangguk ringan. “Alya.”
Hanya itu.
Namun cukup untuk membuat suasana berubah.
Arka kemudian berjalan mendekat, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak menghindar.
“Kamu sering ke sini?” tanyanya.
Alya menggeleng. “Enggak sering, Pak. Lagi pengen aja.”
Arka mengangguk. Ia melihat buku di depan Alya sekilas.
“Baca atau cuma buka?”
Alya tersenyum kecil, sedikit malu. “Ketahuan ya, Pak.”
Arka tidak menjawab, tapi sudut bibirnya sedikit terangkat. Hal kecil yang jarang terlihat, namun cukup untuk membuat Alya menyadarinya.
Hening sejenak.
Namun kali ini bukan hening yang canggung.
lebih seperti… jeda yang nyaman.
“Boleh duduk?” tanya Arka tiba-tiba.
Alya sedikit terkejut, tapi langsung mengangguk. “Boleh, Pak.”
Arka menarik kursi di seberangnya dan duduk.
Untuk pertama kalinya mereka berada dalam satu meja.
Bukan di kelas.
Bukan dalam situasi formal.
Hanya dua orang, dengan jarak yang tidak lagi sejauh sebelumnya. Alya mencoba kembali melihat bukunya, namun ia tahu fokusnya sudah hilang.
Ia bisa merasakan keberadaan Arka di depannya.
Terlalu dekat untuk diabaikan.
“Kamu kelihatan capek,” kata Arka pelan.
Alya mengangkat kepala. “Hah?”
“Dari tadi gak fokus.”
Alya terdiam sejenak, lalu tertawa kecil. “Kelihatan banget ya, Pak?”
Arka mengangguk singkat.
Alya menghela napas. “Lagi banyak pikiran aja.”
Arka tidak langsung bertanya lebih jauh. Ia hanya mengangguk, seolah mengerti bahwa tidak semua hal harus dijelaskan.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Di luar, langit mulai berubah warna. Sore perlahan berganti menuju malam.
“Pulang jam berapa biasanya?” tanya Arka lagi.
“Gak tentu, Pak. Tergantung ada tugas atau enggak.”
Arka menatapnya sejenak. “Sekarang?”
Alya ragu sebentar. “Belum tahu.”
Arka mengangguk pelan.
“Jangan terlalu malam.”
Kalimat itu sederhana.
Namun cara ia mengatakannya membuat Alya kembali terdiam.
Ada perhatian di sana.
Yang tidak berlebihan, tapi terasa nyata.
Alya mengangguk kecil. “Iya, Pak.”
Hening kembali datang.
Namun kali ini lebih dalam, Lebih terasa.
Alya perlahan menutup bukunya. Ia tahu, ia tidak akan bisa membaca dengan tenang.
Ia menatap ke luar jendela, lalu tanpa sadar berkata pelan,
“Aneh ya, Pak.”
Arka menatapnya. “Apa?”
Alya tersenyum tipis. “Kadang sesuatu yang gak kita rencanain malah jadi yang paling kepikiran.”
Arka tidak langsung menjawab.
Ia menatap Alya lebih lama dari biasanya.
Lalu berkata pelan,
“Biasanya yang gak direncanain itu… yang paling jujur.”
Alya terdiam.
Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.
Ia tidak tahu harus membalas apa. Karena ia tahu kalimat itu bukan sekadar jawaban.
Itu pengakuan.....
pengakuan yang disampaikan tanpa harus diucapkan secara langsung.
Beberapa detik berlalu.
Lalu Arka berdiri.
“Saya duluan.”
Alya sedikit terkejut. “Iya, Pak.”
Arka mengambil bukunya, lalu berhenti sejenak.
“Alya.”
“Iya?”
“Jangan terlalu lama.”
Alya mengangguk pelan. “Iya.”
Arka kemudian berjalan pergi, Langkahnya tenang seperti biasa. Namun kali ini meninggalkan sesuatu yang tidak bisa Alya abaikan lagi.
Alya tetap duduk di tempatnya. Menatap meja kosong di depannya.
Merasa bahwa pertemuan itu memang tidak direncanakan.
Namun jugabukan kebetulan. Dan untuk pertama kalinya, Alya tidak mencoba menghindar. Ia mulai menerima.
Bahwa apa pun yang sedang terjadi perlahan sudah menjadi bagian dari hidupnya.
maaf lancang🙏🙏🙏