[y/n] adalah seorang gadis yang hidup dalam topeng sempurna. Baginya, dunia adalah panggung sandiwara di mana senyumnya, ketenangannya, bahkan tatapan matanya hanyalah kepalsuan yang disusun rapi tanpa celah. Namun, benteng yang ia bangun bertahun-tahun mendadak retak saat ia menginjakkan kaki di sekolah barunya.
Seorang pemuda bernama Ariel—si berandal jenius yang ugal-ugalan namun memiliki insting tajam—menjadi satu-satunya orang yang mampu melihat di balik topeng tersebut. Di saat semua orang tertipu oleh keramahan [y/n], Ariel justru menantangnya untuk jujur.
Akankah hidup [y/n] berubah setelah rahasianya mulai terkelupas satu per satu? Mengapa ia begitu terobsesi dengan kepalsuan? Dan rahasia gelap apa yang sebenarnya ia sembunyikan di balik helai rambut birunya? Temukan jawabannya dalam perjalanan penuh rima, luka, dan perlindungan yang tak terduga...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mondᓀ‸ᓂ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
meo cafe
Keheningan di antara Ariel dan [y/n] pecah saat pintu dapur di belakang bar terbuka. Aroma kue kayu manis yang baru matang menyeruak, diikuti oleh langkah kaki yang mantap.
"Riel! Gelasnya jangan cuma dielap, ditaruh juga—eh?"
Paman Indra menghentikan langkahnya. Matanya yang tajam di balik kacamata langsung menangkap pemandangan di depannya: keponakannya yang kaku seperti patung, dan seorang gadis kecil dengan mata sembab yang berdiri gemetar di depannya.
Paman Indra tidak butuh penjelasan panjang. Dia sudah hidup cukup lama untuk mengenali raut wajah seseorang yang baru saja kehilangan dunianya—atau justru baru saja melepaskan beban yang terlalu berat.
"Ariel, napas. Jangan kayak orang habis liat hantu gitu," tegur Paman Indra pelan sambil meletakkan nampan kue di meja bar.
Dia melangkah mendekati [y/n]. Berbeda dengan Ariel yang penuh duri, Paman Indra memiliki aura kebapakan yang sangat tenang. Dia tersenyum tulus, jenis senyum yang membuat siapa pun merasa aman.
"Halo, [y/n]. Akhirnya sampai juga ya," ucap Paman Indra lembut. Dia tidak bertanya kenapa matanya sembab, dia tidak bertanya soal polisi. Dia hanya mengulurkan tangan dan menepuk bahu [y/n] sekilas.
"Selamat datang di rumah baru kamu. Di sini, monster nggak boleh masuk. Cuma kucing yang boleh berisik."
Paman Indra melirik Ariel yang masih terdiam, lalu menyikut lengan keponakannya itu. "Riel, ambilin cokelat panas buat [y/n]. Kasih marshmallow yang banyak. Jangan pelit, itu bukan pakai uang jajan kamu."
Ariel berdehem keras, mencoba menguasai dirinya kembali. "I-iya, Om. Cerewet banget sih."
Ariel berbalik ke balik bar, gerakannya sedikit terburu-buru untuk menutupi rasa canggungnya.
Sementara itu, Paman Indra menuntun [y/n] ke sebuah kursi empuk di sudut ruangan, tempat seekor kucing persia putih sedang tidur melingkar.
"Duduk di sini sebentar ya, [y/n]. Kenalan dulu sama 'bos' di sini, namanya Mochi," kata Paman Indra sambil menunjuk kucing itu. "Kerjaannya nanti aja kalau kamu sudah tenang. Meo Kafe nggak akan lari ke mana-mana."
[y/n] duduk, merasakan tekstur kursi yang empuk dan hangat. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia tidak merasa harus waspada. Dia melihat Ariel di balik bar, sibuk mengaduk cokelat dengan wajah serius—seolah-olah membuat cokelat panas adalah misi paling penting di hidupnya.
"Makasih... Paman Indra," bisik [y/n] tulus.
Paman Indra mengedipkan sebelah matanya. "Sama-sama. Oh, dan satu rahasia... Ariel itu dari tadi bolak-balik liat jam setiap lima detik nungguin kamu. Om sampai pusing liatnya."
"OM INDRA! DIEM NGGAK?!" teriak Ariel dari balik bar, wajahnya merah padam sampai ke leher.
"Eh btw siapa yg kasih nama kucing nya om? " tanya y/n penasaran.
"Oh itu ariel yg kasih... Di sini kita itu cuma jadi babu dan raja sebenarnya yaitu mochi sama anak buahnya (kucing lain) " ucap om indra
"Mochi?" ulang [y/n] sambil menahan tawa. Dia mengusap bulu halus kucing putih yang sedang mendengkur itu. "Kelihatannya Ariel bener-bener punya selera yang... lembut ya, Om?"
Paman Indra tertawa renyah, senyumnya makin lebar melihat keponakannya yang semakin salah tingkah. "Lembut banget. Kamu belum liat aja kalau dia lagi kasih makan. Kadang dia ajak ngobrol kucing-kucing itu pakai suara yang—"
"OM, UDAH! INI COKELATNYA!" potong Ariel dengan nada tinggi, hampir berteriak. Dia berjalan cepat dari balik bar sambil membawa cangkir keramik besar yang mengepulkan uap panas.
Ariel meletakkan cokelat panas itu di meja depan [y/n] dengan gerakan yang agak kasar, mencoba menutupi rasa malunya. Marshmallow putih yang melimpah menumpuk di atas cairan cokelat pekat, persis seperti instruksi Paman Indra.
"Minum," gumam Ariel ketus tanpa menatap mata [y/n]. "Jangan dengerin Om Indra. Dia emang suka ngarang cerita biar kafenya keliatan asik."
Paman Indra cuma mengedipkan mata ke arah [y/n] sebelum berbalik menuju dapur. "Om ke belakang dulu ya, ada pesanan waffle. Riel, jagain 'calon karyawan' baru kita. Jangan sampe dia nangis lagi gara-gara omongan pedes kamu!"
Setelah Paman Indra menghilang di balik pintu dapur, suasana di sudut kafe itu kembali sunyi. Hanya ada suara mesin kopi yang berdengung jauh dan dengkuran halus Mochi.
Ariel masih berdiri di sana, tangannya masuk ke dalam saku celemek hitamnya. Dia menatap [y/n] yang sedang menyesap cokelat panas itu pelan-pelan. Kehangatan cokelat itu seolah merambat ke seluruh tubuh [y/n], memberikan rasa tenang yang belum pernah ia rasakan seharian ini.
"Enak?" tanya Ariel rendah.
[y/n] mengangguk, ada sisa krim cokelat di sudut bibirnya. "Enak banget. Makasih ya, Riel... buat semuanya. Buat kerjanya, buat cokelatnya, dan buat Mochi."
Ariel terdiam sebentar, lalu dia menarik kursi di depan [y/n] dan duduk di sana. Dia mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya berubah menjadi sangat serius, hampir seperti bisikan.
"Soal rumah lu..." Ariel menjeda kalimatnya, matanya menatap perban di tangan [y/n]. "Lu beneran nggak apa-apa sendirian di sana nanti malem?"
Pertanyaan itu membuat [y/n] terhenti sejenak. Bayangan rumah yang kosong dengan bekas garis polisi kembali muncul di benaknya.