NovelToon NovelToon
Antagonis Hamil Duluan

Antagonis Hamil Duluan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Reinkarnasi / CEO
Popularitas:10.1k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

transmigrasi jadi tokoh yang harusnya mati mengenaskan? tidak, Terima kasih.
saat suami CEO-ku meminta cerai, aku pastikan 2 garis biru muncul terlebih dahulu. permainan baru saja dimulai, sayang.

#jadi antagonis#ceo#hamil anak ceo#transmigrasi#ubah nasib#komedi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

malam yang tuntas

Chindy dibopong Eric naik ke atas ranjang. Langkah Eric cepat, rahangnya mengeras. Dokter keluarga dipanggil segera, datang 10 menit kemudian dengan tas hitamnya.

Di kamar itu, udaranya berat. Bu Ratna duduk di tepi ranjang, remas tangan Chindy yang dingin. Chika berdiri di sudut, gigit kuku. Eric bersandar di dinding, lengan disilang, matanya nggak lepas dari adiknya.

Mata Chindy merah dan sembab. Maskara luntur sampai ke pipi. Wanita yang biasanya mulutnya setajam silet, sekarang kelihatan rapuh. Jelas habis nangis lama. Nangis yang nguras tenaga.

Pintu kebuka pelan. Vivian masuk. Dia udah ganti jubah tidur satin warna cream, lebih sopan, rambutnya digelung asal. Wajahnya… cemas beneran. Nggak ada akting.

_Chindy nggak gegabah kan? Dia nggak bunuh diri?_ Pikir Vivian, napasnya ketahan. inget beberapa jam lalu dia habis negosiasi sama Chindy.

Kata-katanya kasar. Kelewat kasar. Dan sekarang Chindy kolaps.

"Nona Chindy hanya kelelahan," ucap Dokter keluarga Wijaya sambil mengalungkan stetoskopnya ke leher. "Ditambah sedikit stres. Tekanan darahnya drop, gula darah rendah. Makanya pingsan."

Dokter itu buka tasnya lagi, ngeluarin vitamin. "Kalau bisa hindari diet berlebihan. Badannya terlihat kurang gizi. BMI-nya di bawah normal. Dia butuh makan, bukan cuma minum air putih sama apel."

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nyonya. Tuan Eric," pamit dokter sambil nunduk sopan, terus keluar.

"Syukurlah, Chindy nggak kenapa-napa," desah Bu Ratna lega. Dia langsung duduk lebih mepet, ngusap rambut Chindy yang masih merem. "Anak Mama, kenapa nggak bilang kalau capek..."

Melihat Vivian berdiri di ambang pintu, Eric langsung angkat kepala. Tatapannya pindah ke Vivian. Intens. Dalam. Nuduh. Seolah Vivian tersangka utama kasus pembunuhan adiknya.

"Tadi bukannya kamu yang terakhir ketemu Chindy? Apa yang terjadi?" tanyanya. Suaranya rendah, tapi tiap kata nusuk. Selidik. Dingin.

Vivian tegak. Dia nggak mundur. "Kami cuma bicara santai. Nggak ada masalah." Jawabnya santai padahal pembicaraan mereka tadi kaya kilat sama petir bertarung dilangit.

Mata Eric nyipit. Nggak percaya begitu aja. Di kepalanya, Vivian \= biang masalah. Dari Doni, dari Alea, sekarang adiknya.

"Sudah," potong Bu Ratna. Dia ngelirik dua orang itu. "Udah malam. Kalian tidur. Biar Ibu yang jaga Chindy di sini. Cika, ambilin ibu selimut."

Perintah Mama \= undang-undang. Eric ngangguk sekali. Vivian juga. Mereka keluar kamar, ninggalin Bu Ratna yang mulai komat-kamit doa.

...

Di kamar, suasananya beda 180 derajat dari kamar Chindy. Dingin. Hening. Canggung.

Vivian langsung ngehempasin badan ke kasur. Guling-guling. Kesel, khawatir, bersalah, semua jadi satu. Udah lewat jam tidur, matanya malah seger. Kebanyakan mikir.

Di sebelahnya, Eric udah rebahan. Membelakangi Vivian. Punggungnya tegak, napasnya teratur. Tidur? Atau pura-pura tidur?

Vivian natap punggung itu. Lebar. Kaku. Kayak tembok China.

Lima menit. Sepuluh menit. Vivian nyerah. Dia bangun, duduk bersila sambil sesekali ngelus perutnya.

"Eric," panggilnya. Pelan.

Nggak ada sahutan.

"Eric, aku nggak bikin Chindy kenapa-napa," ucapnya lagi. Kali ini lebih tegas. "Aku cuma ngomong. Dia sensitif. Salah aku? Mungkin. Tapi aku nggak niat."

Masih hening. Punggung itu nggak gerak.

Vivian kesel. Dia tendang selimut. "Terserah! Tidur sana! Pura-pura budek!" Dia mau rebahan lagi, narik selimut ke kepala.

_Sret._

Tangan Eric tiba-tiba nyambar pergelangan tangannya. Kuat. Panas. Dalam satu gerakan, tubuh Vivian udah ketarik, diputer, dan sekarang dia telentang. Eric ada di atasnya. Nahan dua tangannya di samping kepala.

Mata mereka ketemu. Deket banget. Napas anget Eric nyapu bibir Vivian.

"Kamu pikir aku percaya?" bisik Eric. Suaranya serak. Bukan marah. Tapi sesuatu yang lebih gelap. Lebih dalam. "Setiap ada masalah, selalu ada kamu di situ, Vivian."

"Tapi bukan berarti aku pelakunya!" Vivian ngotot, nyoba berontak. Tapi pegangan Eric kayak borgol.

"Terus kenapa aku harus capek-capek belain kamu tiap kali?" Eric nunduk, hidungnya hampir nempel hidung Vivian. "Ke Doni. Ke Alea. Ke Mama. Sekarang Chindy. Kamu selalu bikin aku ada di posisi harus milih."

Vivian diem. Karena bener. Dia biang rusuh. Tapi...

"Terus kenapa kamu masih milih aku?" tantang Vivian. Matanya berkaca-kaca, tapi bukan mau nangis. Nantang. "Kalau aku beban, kenapa nggak ceraikan aja? Kenapa masih satu ranjang? Kenapa masih nyuruh aku makan?"

Pertanyaan itu tamparan buat Eric. Rahangnya mengeras. Dia diem. Lama. Matanya nelusurin wajah Vivian. Dari dahi yang berkerut, mata sayu yang nantang, bibir yang agak gemetar, sampai ke leher jenjang yang naik-turun karena napasnya memburu.

Eric nggak jawab pake kata. Dia jawab pake tindakan.

Bibirnya turun, nggak ke bibir Vivian. Ke rahang. Kasar. Nggak ada lembut-lembutnya. Kayak nandain wilayah. Gigi dia gigit kecil di sana, bikin Vivian desis kaget.

"Eric—"

Tangan Eric yang satu lepas dari pergelangan Vivian, turun ke pinggang. Narik. Rapat. Nggak ada jarak. Jubah satin Vivian udah nggak guna. Terlalu licin, terlalu tipis.

"Aku nggak ceraiin kamu," bisik Eric di telinga Vivian. Napasnya panas. "Karena kamu istriku. Dan istriku..." Tangannya naik, nyusup ke rambut Vivian, narik pelan biar kepala Vivian mendongak. "...nggak boleh tidur sambil mikirin salah orang lain."

Ciuman akhirnya jatuh. Bukan ciuman honeymoon yang gagal kemarin. Ini beda. Ini marah, ini gemas, ini klaim, ini lapar. Semuanya jadi satu. Nggak ada "pelan-pelan, Sayang". Adanya desakan, pagutan, dan suara kecipak yang nggak ditahan.

Vivian awalnya kaget. Terus bales. Sama kasarnya. Kukunya nyakar punggung Eric lewat kaos tipisnya. Ini bukan bikin cinta. Ini perang. Perang buat nentuin siapa yang lebih berkuasa di ranjang ini.

Jubah Vivian udah kebuka entah kapan. Kaos Eric udah lepas, dibuang ke lantai. Kulit ketemu kulit. Panas ketemu panas. Dendam semalam, dongkol tadi siang, tuduhan barusan, semua dibakar jadi satu di sini.

"Di hotel kemarin nanggung," geram Eric di sela ciuman yang turun ke leher, ke tulang selangka. "Sekarang kita tuntaskan."

Vivian ketawa. Sinis. Nafasnya putus-putus. "Takut bayinya kenapa-kenapa?"

Tangan Eric berhenti sedetik di perut Vivian. Terus naik lagi, nangkup pipinya. Matanya natap mata Vivian. "Aku udah tanya Dokter Hendra. Dua kali. Katanya aman. Asal..."

"Asal kamu nggak goyang berlebihan?" potong Vivian, ngulang kalimatnya waktu di hotel tempo hari. Senyumnya miring.

Sudut bibir Eric naik. 5 milimeter. Rekor. "Pinter."

Nggak ada lagi kata. Cuma napas. Cuma desah. Cuma suara ranjang yang akhirnya kepake dengan bener. Nggak ada room service. Nggak ada Chindy. Nggak ada Alea. Nggak ada satu hotel yang denger.

Malam ini tembok kamarnya nggak bohong. Tebal. Kedap. Privat.

Dan untuk pertama kalinya, Eric nggak dingin. Dia panas. Mendidih. Dia nandain setiap inci tubuh Vivian sebagai miliknya. Bukan karena nafsu doang. Tapi karena dia capek. Capek pura-pura nggak peduli.

Vivian juga sama. Dia nyerah. Nyerah buat jaim, nyerah buat jaga image. Dia jerit, dia nagih, dia minta lebih. Karena dia juga capek. Capek jadi istri yang nahan perasaan.

Klimaksnya bukan cuma di badan. Tapi di kepala. Di hati. Saat Eric bisik di telinganya, di tengah napas yang sama-sama ngos-ngosan:

"Besok, kalau Chindy bangun, kamu yang suapin dia makan. Pake tangan kamu. Biar dia tahu... kamu bukan musuh."

Vivian diem. Terus angguk. Lemah. Puas. Di pelukan Eric yang masih melingkar posesif di pinggangnya.

Malam itu tuntas. Bukan cuma ranjangnya. Tapi jarak di antara mereka. Luluh. Hancur. Jadi satu.

Di luar, rembulan lagi-lagi kelar sift malam. Tapi di dalam kamar ini, mentari baru aja tenggelam.

Seru apa masih kurang?. komen ya! 🥰😘

1
Uthie
Semoga sihhh pngaruh lain di otaknya lebih dominan 😁👍
lebih baik milih yg bernapas, sefrekuensi, dan bisa langsung di ajak ngobrol and melukis bareng-bareng 😁👍
daripada terus memandangi lukisan wanita benda mati aja, yg juga udah punya laki and lagi hamil anak orang pula 😜
Uthie
mantappp dehhh menghalau pengaruh buruk nya Vivian 👍😁
Uthie
Pokoknya bikin Vivian tetep jadi strong Women 💪💪🤨
buat bisa menghempas kan para hama wereng yg menggatal 😡😡💪
Uthie
Intinya sihh mereka sudah saling bisa menerima satu sama lain👍🤗
semoga gak goyah jika ada godaan yg bakal ganggu hubungan mereka lagi 👍👍
Uthie
Saya mahhh sukkkka selalu ceritanya 👍😘🤗
Anne
hanya sedang meraba hati.. n smg hati kecilny bs menuntun dia kelangkah yg baik. yg g merugikan diriny ataupun org lain.
Dinda Putri
mudah2 han baik
Dinda Putri
lagi
Nurfi Susiana
lanjut thor
Hikmal Cici
nah gitu dong 👍👍👍🙂
Hikmal Cici
vivian ini cewek barbar kan ya thor, bukan yg kalau dijahatin cm bisa nangis. pasti ada perlawanan yg seru ya kan 😊
Dinda Putri
makin seru up lagi thor
anonim
bikin greget
Hikmal Cici
lagi...lagi...lagi
Uthie
ratingku perpect.. 10 🌟🌟🌟
Uthie
Wadduuhhhh.. si Alea makin kurang ajar itu 😡😡😡
Uthie
Puasssss banget itu Vivian nunjukin bekas cinta nya ma dokter rasa Pelakor 😆👍
Uthie
kurrraangggg
Irsyad layla
tapi lengan kemeja nya digulung thor kek mana ni😄😄
Hikmal Cici
ya pasti kurang lah kk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!