"Hi, Señorita!" Nero tersenyum miring seraya mengacungkan senjata api tepat di kening Elle.
"Kau ingin membunuhku?!" Elle terisak ketakutan saat pria itu hendak menarik pelatuk senjata apinya. Sebentar lagi dia akan mati.
DOR!
Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa Nero ingin melenyapkan wanita yang sangat dicintai.
Penasaran? Ikuti terus kisahnya. Dan jangan lupa, Follow IG Author @Thalindalena
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lena linol, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luapan hati Ele
Ele melangkah masuk ke dalam klub malam yang remang dan penuh gairah, di belakangnya dua bodyguardnya yang tegap, mengawalnya tanpa celah.
Dentuman musik DJ menggema bagai badai yang menabrak telinga, memaksa setiap jiwa di sana untuk tunduk pada ritme liar yang menguasai ruang. Di lantai dansa, dua penari erotis berputar dalam lingkaran laki-laki haus hasrat, menciptakan pusaran nafsu yang membakar udara malam dengan bara yang tak terpadamkan.
Ele melangkah dengan penuh percaya diri, tubuhnya diselimuti pakaian yang begitu menantang—bra crop yang menonjolkan lekuk tubuhnya, rok mini yang membelai paha halusnya, dan tas tangan yang menggantung santai di lengannya. Aura sensualnya membakar udara di sekitarnya, membuat tatapan para pria terperangah sekaligus membara, penuh nafsu yang tak terbendung. Setiap langkahnya bagai sebuah provokasi, mengguncang nadi-nadi yang membara di hadapannya. Ele tahu betul, dia bukan hanya dipandang, tapi ditelan oleh mata-mata liar yang bergelora dalam diam.
Ini adalah dunianya. Dunia malam yang sangat dia rindukan setelah hampir satu minggu terkurung di dalam rumah sialan itu.
Seorang pemuda hendak mengajak berkenalan Ele tapi langsung dihadang salah satu bodyguard-nya.
Ele duduk di depan meja tinggi bartender, memesan koktail.
"Kalian mau? Silahkan pesan saja yang kalian inginkan." Ele berkata pada dua bodyguard-nya yang berdiri di belakangnya.
"Tidak, Nona, kami masih bekerja," jawab mereka, kompak.
"Ayolah, jangan terlalu kaku. Aku tahu kalian pasti lelah dan tertekan bekerja pada pria brengsek itu." Ele menggeser botol alkohol agar dua bodyguard itu mengambilnya.
"Jika Tuan Nero tahu, kami akan habis di tangannya."
Bibir Ele mencebik, "kalian ternyata sangat takut padanya ya!" cibirnya, kesal, lalu menenggak koktail-nya sampai tandas.
Dua bodyguard itu hanya mengangguk dan kembali fokus bekerja.
Beberapa saat kemudian. Ele mulai mabuk karena terlalu banyak minum. Gadis itu juga mulai meracau tidak jelas yang membuat dua bodyguard-nya kualahan.
"Bagaimana ini? Kita bisa mati jika Tuan Nero tahu."
"Nona Ele selalu saja membuat kita dalam masalah. Sebelum berangkat sudah janji tidak akan mabuk, tapi nyatanya..." Ia melanjutkan kepala sambil geleng-geleng kepala.
"Hei, lepaskan aku! Dasar pria sialan!" umpat Ele sambil menunjuk salah satu bodyguard-nya yang hendak mengangkat tubuhnya. "Ya ... kau sangat sialan! Kenapa kau berbuat seperti ini padaku, hah!?" racau Ele dengan pandangan menyipit dan badan sempoyongan karena mabuk berat. Ia mengira kalau bodyguard-nya ini adalah Nero. "Enam tahun lalu kau memutus pertunangan kita tanpa alasan. Kau jahat sekali karena membuatku sulit melupakanmu, hiks ... hiks ..."
"Dia bicara apa?" Dua bodyguard itu saling pandang saat mendengar ucapan Ele.
"Dan sekarang kekasihmu itu hamil. Hatiku sangat sakit sekali. Huaaaaaa ... Huaaaa." Ele menangis histeris sambil menangkup wajah dengan kedua tangan. "Di saat bersamaan aku mengetahui fakta besar kalau kekasihku yang begitu aku percayai adalah seorang penjahat yang hanya memanfaatkanku. Dosa apa aku, kenapa kalian para lelaki menyakitiku!" teriakan Ele tentu tidak terdengar karena kalah dengan suara musik di area klub malam tersebut.
Karena Ele semakin tidak terkendali salah satu dari bodyguard itu menghubungi Nero. Mereka siap menanggung segala konsekuensi dari boss-nya. Terlebih lagi saat mereka pergi ke klub tidak izin pada Nero. Alamat, mereka berdua akan mendapatkan hukuman berat.
*
Nick yang baru memasuki klub malam itu tersenyum devil ketika melihat Ele tampak mabuk di depan meja bartender. Dia segera menghampiri, sudah hampir satu minggu kekasihnya itu hilang tanpa kabar.
"Ele." Panggil Nick tapi kedatangannya langsung dihalangi dua pria berbadan besar.
"Aku ingin menemui kekasihku!" bentak Nick penuh emosi dan menatap tajam dua pria itu.
Botak yang biasanya galak bisa gugup ketika Berta bersikap santai.
Berta berani menolak Botak yang ingin mengajak bicara di paviliun. Tidak ingin Cammora salah paham, Berta ingin bicara ya di dapur saat ini dia berdiri.
Mamfuuus kau Botak. Di skakmat Berta baru tahu rasa kau Botak. Dulu sangat menghina Berta. Kini Berta terlihat cantik seperti tak rela Cammora yang mendapatkan Berta.
Malu gak Botak - Cammora tahu kalau Botak berusaha mempengaruhi calon istrinya.
Bukannya malu - malah menuduh Cammora merubah Berta gadis polos menjadi berani dan membangkang.
Nah lo...benar apa kata Cammora.
Jadi diejek Cammora.
Cammora tak segan selalu memuji kecantikan Berta.
Cammora ingin segera menikah dengan Berta.
Berta setuju selama niat Cammora baik. Berta ingin Cammora menemui keluarganya lebih dulu.
Berkat Cammora, Berta menjadi percaya diri.
Berta mengatakan kalau Cammora sudah melamar - Elle syok mendengarnya.
Elle memperhatikan cincin berlian yang tersemat di jari manis Berta. Elle sangat kagum melihatnya. Dia tahu itu cincin berlian dari Balagcia edisi terbatas.
Elle ikut bahagia sampai memeluk Berta.
Botak yang suka marah dan menghina Berta, kini cuma bisa diam ketika tahu kalau Cammor telah melamar Elle.
Tahu Berta cantik dan sudah dilamar Cammora, kenapa Botak baru protes pada Elle.
Sikap dan perlakuan Botak terhadap Berta saja tidak pernah baik. Nikmati saja penyesalanmu Botak.
Dulu gak perduli sekarang kelimpungan kan...
dulu km hina berta terus, galak sekarang ada pria yg meragukan berta dan bikin percaya diri looo🤣🤣🤣