Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata
.
.
.
SERIES KE TIGA DARI UNIVERSE NOVEL "TIRAKAT"
Pondok pesantren Ustadz Furqon di Kediri, Jawa Timur, menjadi lembaran baru hidupku. Aku meninggalkan rumah dan Bapakku untuk mengemban tugas dari Sang Ustadz sebagai pembina asrama putri di sana.
Waktu akan menjadi saksi bisu segala perjalananku selanjutnya...
DISCLAIMER!
Jika terdapat kesamaan detail nama tokoh, latar tempat, seni, budaya, agama, dan jenis laku tirakat tertentu dengan para pembaca, bukan karena unsur kesengajaan penulis. Harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 HANCUR
Seluruhnya menatapku dengan tatapan tajam dan terasa langsung menusuk dalam batinku...
Tubuhku seketika merasa bergetar halus...
Jantungku berdegup cepat...
Napasku menjadi tak karuan...
Aku masih menoleh ke kanan dan ke kiri, dengan segala rasa kemelut yang semakin tak karuan dalam batinku.
"Da-Da-Dayang... P-P-Putriii..." panggilku dengan suara gemetar, tapi wajahku menatap sekeliling.
"Dayang Putri... Jangan tinggalkan aku..." ucapku lagi karena sudah semakin ketakutan.
Lalu, dalam pikiranku, muncul perintah untuk berlari menjauh. Dan ke dua kakiku menuruti perintah itu.
Aku mencoba berlari ke depan, mencoba menjauh dari ribuan bangsa lelembut yang mengelilingiku.
Lebih cepat lariku sambil menabrak beberapa sosok yang mencoba menghalangiku. Sambil tercium aroma sangat busuk dari tubuh mereka semua.
Akan tetapi...
Tiba-tiba...
"BRUKKK!!!"
Aku jatuh tersungkur di atas jalanan tanah ini. Rasanya ada sesuatu yang sengaja menahan kakiku saat mulai berlari kencang. Dan sedetik kemudian, wajahku yang berada tepat di atas tanah, melihat ke sekeliling.
Dan yang tampak jelas berikutnya adalah...
Kaki-kaki dari semua bangsa lelembut di sekelilingku berjalan mendekat!
Sontak aku langsung membalikkan badan, namun masih posisi terjatuh di atas tanah. Dan benar saja, aku melihat mereka semua berjalan perlahan, semakin mendekat!
Kini dengan sangat jelas, kulihat wajah mereka semua berubah...
Wajah-wajah yang pucat pasi, berlumuran darah, dengan tatapan mata yang berwarna putih seluruhnya...
Aku merangkak ke belakang, dengan tubuhku yang menghadap ke arah mereka semua...
"Dayang Putriii... Tolong akuuu!!! Huuu huuu huuu..." teriakanku sambil mulai menangis ketakutan.
Sungguh, batinku sudah sangat dikuasi rasa takut yang amat hebat.
Semakin aku merangkak ke belakang, langkah mereka semua seolah semakin cepat mendekatiku!
"Dayang Putriii...!!! Tolooong...!!!" kembali aku berteriak. Dengan tangisan yang gemetar.
Mereka semua semakin dekat, semakin dekat...
"AAAAAAAAAAAA!!!!!!!"
Aku berteriak sekuat tenaga saat tangan-tangan mereka semua menyentuh tubuhku!
Wajah-wajah mereka yang terasa amat sangat menyeramkan tepat berada di atas tubuku!
Kemudian, seolah mereka semua sedang menemukan makanan yang sangat lezat, satu persatu dari mereka berebut memakan tubuhku!
Tangan kananku mulai dicabik-cabik oleh mereka, sambil ditarik!
Tangan kiriku pun sama, bahkan kulihat beberapa jariku sudah terputus di makan mereka!
Ke dua kakiku sudah terkoyak, bahkan terlihat menganga daging-dagingnya, membuka tulang demi tulang kakiku secara jelas!
Jalan tanah di sekitarku berceceran darah segar dari tubuhku!
"AAAAAAAAAAAAA!!!!!!" Aku hanya bisa berteriak kencang saat melihat tubuhku mulai hancur di lahap mereka semua.
Sampai akhirnya, ada satu sosok...
Sosok yang berbulu hitam lebat, berwajah menyeramkan dengan gigi taringnya yang panjang sampai ke lehernya...
Sosok itu menindih tubuhku...
Lalu... Ke dua tangannya yang berkuku panjang dan tajam, menusuk dan merobek paksa perutku!
Menyembur lah darah segar dari perutku yang dirobek paksa oleh sosok itu...
Saat mulutku terbuka lebar ingin berteriak lagi, tiba-tiba...
Ada satu sosok lagi yang wajahnya tepat berada di atas wajahku...
Dan... Dia memuntahkan darah merah kehitaman tepat ke wajah dan mulutku!
Aku meronta... Dengan wajahku yang sudah berlumuran darah merah kehitaman, dengan perutku yang terkoyak lebar, terburai seluruh isi perutku, dan bagian tubuhku yang lain hancur di makan.
Lalu...
Seketika pandangan mataku memudar...
Suaraku menghilang...
Berdenging sangat kencang ke dua telingaku...
Dan segalanya menjadi gelap...
Sangat gelap...