Dalam hidupnya Arkana punya satu rasa penyesalan yang teramat sangat. Bahkan dia tidak tahu ketika berpisah dengan Kanaya, wanita itu sedang dalam keadaan hamil.
Sampai suatu hari Arkana bertemu kembali dengan Kanaya, mantan istrinya. Karena ingin menebus rasa bersalahnya, Arkana ingin rujuk dan membangun pernikahan yang sesungguhnya.
Namun, Kanaya yang masih menyimpan luka, enggan rujuk.
Apakah Arkana berhasil mendapatkan hati Kanaya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Sementara itu, di dalam rumah, suasananya jauh berbeda dengan ketegangan yang terjadi di halaman. Ruang keluarga dipenuhi suara tawa dan obrolan ceria khas anak-anak. Karpet besar di tengah ruangan sudah dipenuhi berbagai perlengkapan eksperimen sederhana. Ada beberapa gelas bening yang berjajar rapi, air berwarna-warni di dalam botol kecil, tisu dapur, sendok plastik, dan beberapa perlengkapan lain yang sudah disiapkan oleh Shaka.
Sebuah kamera ponsel terpasang di atas tripod kecil menghadap ke meja eksperimen. Lampu ring light menyala terang, membuat wajah Abinaya dan Anaya terlihat semakin cerah.
Shaka berdiri di belakang meja sambil bertepuk tangan untuk menarik perhatian kedua anak itu.
"Baik, teman-teman!" serunya dengan semangat seperti seorang pembawa acara profesional.
Anaya yang sejak tadi sudah tidak sabar langsung mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Siap, Om Shaka!"
Abinaya ikut berdiri tegak sambil mengacungkan jempol. "Siap tempur!"
Shaka sampai tertawa melihat tingkah mereka. "Hari ini Abi dan Aya akan membuat pelangi berjalan!"
"Yeaaay!" teriak Anaya sambil melompat-lompat kecil.
"Kita pasti berhasil!" sahut Abinaya tidak kalah semangat. "Kalau gagal?"
Abinaya langsung menunjuk Shaka. "Itu salah Om Shaka."
"Hah?"
Anaya ikut mengangguk mantap. "Iya. Soalnya Om yang ngajarin."
Shaka memegangi dadanya pura-pura terluka. "Aaaaa, tidak! Kenapa Om yang disalahkan."
Kedua anak kecil itu langsung tertawa bersamaan. Memang seperti itulah jika Abinaya dan Anaya sudah berada di depan kamera. Mereka tidak pernah terlihat canggung. Bahkan terkadang Shaka sendiri yang kewalahan mengikuti tingkah keduanya.
Dulu channel YouTube itu hanya berisi video memasak milik Kanaya. Isinya sederhana. Hanya memperlihatkan proses membuat kue, berbagai macam jenis dessert, dan berbagai pesanan katering lainnya. Namun sejak Abinaya dan Anaya mulai sering muncul di video, jumlah penonton meningkat drastis.
Anaya sangat pandai berbicara. Apa pun yang ada di kepalanya akan langsung keluar begitu saja dari mulutnya. Ekspresinya selalu hidup dan wajahnya sangat mudah menunjukkan perasaan.
Sedangkan Abinaya lebih tenang. Namun, komentar-komentar polosnya sering membuat penonton tertawa. Kadang bahkan membuat Shaka sendiri tidak bisa menahan senyum.
"Baik, Aya. Tuangkan air merahnya pelan-pelan."
"Siap!"
Anaya memegang botol kecil berisi air merah dengan kedua tangannya. Alisnya berkerut hampir menyatu karena terlalu fokus.
"Pelan, ya."
"Iya."
Air merah mulai mengalir masuk ke dalam gelas. Di tengah kesibukannya, perhatian Anaya tiba-tiba teralihkan. Matanya melirik ke arah jendela. Lalu melirik lagi lebih lama.
"Om Shaka."
"Ya, ada apa?"
Anaya masih menatap ke luar. "Itu yang di depan Om siapa?"
Shaka mengikuti arah pandangannya. Di luar sana, Arkana masih berdiri di halaman bersama Kanaya.
Shaka mengembuskan napas pelan. Ia sudah menduga pertanyaan itu akan muncul cepat atau lambat.
"Itu tamu Bunda."
"Oh." Anaya mengangguk kecil.
Namun hanya beberapa detik. Karena rasa ingin tahunya kembali muncul. "Tapi kenapa wajahnya mirip Abi?"
Tangan Abinaya yang sedang menyusun gelas langsung berhenti. Ia pura-pura sibuk merapikan tisu di atas meja. Padahal telinganya jelas mendengarkan.
Shaka menggaruk belakang lehernya. "Banyak orang yang wajahnya mirip."
Anaya langsung menggeleng cepat. "Enggak."
"Kenapa enggak?"
"Soalnya mereka mirip banget."
Shaka tertawa kecil. "Memangnya mirip di mana?"
Anaya langsung menunjuk ke arah jendela.
"Itu warna rambutnya, sama kayak Abi. Terus matanya. Hidungnya juga. Terus kalau tersenyum juga mirip."
Kali ini bahkan Shaka mulai kehabisan jawaban. Abinaya pura-pura fokus menuangkan air ke dalam gelas. Namun, telinganya memanas.
Anaya menoleh ke arah saudara kembarnya. "Abi."
"Apa?"
"Kalau kamu udah gede, bakal kayak Om itu enggak?"
Abinaya mengangkat bahu. "Mana aku tahu."
"Tapi kamu mirip Om itu."
Abinaya diam. Matanya tanpa sadar ikut melirik ke luar jendela ke arah Arkana. Hanya sesaat.
"Aku enggak tahu." Jawabannya kali ini lebih pelan. Tidak seperti biasanya.
Anaya memiringkan kepala jika merasa ada satu hal yang membuatnya penasaran. Dan sekarang rasa penasaran itu sedang mengganggunya.
"Kalau aku penasaran."
"Ya, sudah."
"Aku mau tanya."
Abinaya langsung menoleh cepat. "Kamu jangan macam-macam."
"Kenapa?"
"Nanti Bunda marah."
Anaya mengembuskan napas panjang. "Tapi aku penasaran."
"Pokoknya jangan." Abinaya memasang wajah galak.
"Sedikit aja." Mata Anaya terlihat memohon.
"Enggak boleh," ucap Abinaya semakin tegas.
"Dikit." Nada bicara Anaya pelan dengan ekspresi memelas.
"Enggak." Rupanya Abinaya bersikukuh melarang.
Shaka buru-buru menyela sebelum keduanya mulai berdebat. "Oke! Kita lanjut eksperimennya!"
"Siap!" jawab Anaya semangat.
"Kita bikin pelanginya jalan!"
"Siap!"
Perhatian mereka akhirnya kembali ke meja eksperimen, namun hanya sementara. Beberapa menit kemudian, Anaya kembali melirik ke arah jendela.
Di halaman, Arkana masih berada di sana. Tidak masuk ke rumah. Pria itu hanya berdiri sambil sesekali memandang ke arah jendela ruang keluarga. Seolah-olah ada sesuatu yang sangat berharga di dalam sana.
Anaya memperhatikan cukup lama. Sampai akhirnya ia berbisik pelan.
"Om itu sedang sedih ya?" tanya Anaya dengan nada lirih.
Kali ini Shaka tidak langsung menjawab. Matanya ikut mengarah ke luar. Melihat sosok Arkana yang berdiri sendirian di bawah bayangan rumah dengan latar belakang cahaya matahari yang terang.
Wajah pria itu tampak lelah. Tatapannya tidak pernah jauh dari jendela rumah, tempat kedua anak kecil itu berada saat ini.
Shaka menelan ludah. Ada sesuatu dalam tatapan Arkana yang membuat dadanya ikut terasa berat. Seolah pria itu sedang melihat sesuatu yang sangat ia rindukan. Namun tidak berani mendekat untuk meraihnya.
Di dalam rumah, Anaya masih menatap keluar. Sedangkan Abinaya kembali fokus pada eksperimennya atau setidaknya berusaha terlihat fokus.
Tak lama kemudian, tisu yang menghubungkan gelas-gelas warna itu mulai berubah. Air merah bergerak perlahan, disusul warna kuning, lalu biru.
Mata Anaya langsung membulat. "Abi! Abi! Lihat!"
"Wah!" Mata Abinaya berbinar takjub.
"Warna-warnanya jalan!" Anaya kegirangan dan histeris.
"Berhasil!" seru Shaka.
Anaya melompat-lompat kegirangan. "Berhasil! Berhasil! Berhasil!"
Abinaya ikut mengangkat kedua tangannya. "Kita hebat!"
"Bukan," celetuk Anaya.
"Hah, kenapa?" tanya Abinaya yang terlihat heran.
"Kita super hebat!" seru Anaya penuh semangat.
Tawa mereka langsung memenuhi seluruh ruangan. Shaka tertawa sambil menggeleng-geleng kepala melihat tingkah kedua anak itu.
Sementara di luar jendela, Arkana tanpa sadar ikut tersenyum mendengar suara tawa kebahagiaan mereka. Senyum itu muncul begitu saja, hangat dan tulus, seorang ayah yang sedang menikmati tawa anak-anaknya.
Namun, beberapa detik kemudian senyum itu perlahan memudar. Karena sebuah kenyataan kembali menghampirinya. Abinaya dan Anaya tumbuh menjadi anak-anak yang cerdas, ceria, dan penuh percaya diri. Mereka begitu luar biasa, tetapi semua itu terjadi tanpa dirinya.
Arkana tidak pernah mengantar mereka ke sekolah. Tidak pernah menemani mereka belajar berjalan. Arkana benar-benar menyadari betapa banyak hal yang telah hilang dari hidupnya selama lima tahun terakhir.