Blurb
"Yang kubenci selama 6 tahun, ternyata malaikat tak bersayap"
Alina membenci Bu Kirana. Seorang guru SD sederhana yang dinikahi Papa dua tahun setelah Mama berpulang.
Selama enam tahun, Alina menolak kehadirannya. Alina menyia-nyiakan makanan yang Ibu masak, menyebarkan cerita yang menyakitkan, bahkan berteriak di depan semua orang: "Maaf Bu, aku tidak bisa memanggilmu Ibu."
Kirana tidak pernah membalas. Ia tidak pernah meninggikan suara. Ia hanya tetap ada. Memasak makanan yang sama setiap pagi, berjalan kaki menjemput Alina saat hujan, menjahit kancing baju Alina yang lepas sampai larut malam.
Sampai suatu hari, Papa kehilangan segalanya. Mansion dijual, teman-teman menghilang, orang-orang yang dulu memanggil "Tuan Aditya" kini berpaling.
Yang tetap tinggal hanya Kirana.
Perempuan yang diam-diam menjual kalung pemberian Papa, menjual motor tuanya, bekerja tiga waktu dalam sehari... hanya agar Alina tetap bisa makan, tetap bisa sekolah.
Semuanya terlambat Alina sadari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : LAPTOP SEHARGA 80 JUTA
...BAB 3...
...LAPTOP SEHARGA 80 JUTA...
Tiga hari berlalu sejak Ibu Kirana dan Dimas resmi menjadi bagian dari rumah ini.
Tiga hari aku menghitung setiap kesalahan mereka. Tiga hari aku menunggu momen yang tepat.
Papa mulai sibuk dengan perusahaannya. Ia berangkat pagi dan pulang larut malam. Setiap kali pulang, ia selalu mengetuk pintu kamarku.
"Lin, sudah tidur?" tanyanya pelan dari luar.
Aku pura-pura tidur. Aku tidak ingin berbicara dengannya. Tidak ingin melihat wajah kecewanya lagi.
Yang paling menyebalkan adalah Ibu Kirana. Ia tidak pernah membalas perlakuanku. Tidak pernah marah saat aku menjatuhkan sendok. Tidak pernah tersinggung saat aku memanggilnya "Bu Guru" dengan nada merendahkan.
Ia hanya tersenyum. Senyum yang sama seperti hari pertama. Senyum yang membuatku merasa bersalah, lalu rasa bersalah itu kubakar habis dengan kebencian.
"Bu Guru tidak punya harga diri," gumamku setiap malam sebelum tidur.
Hari keempat, aku mendapat ide.
Jam 10 pagi. Aku mendengar suara mesin jahit dari kamar tamu lantai satu. Ibu Kirana sedang menjahit sendiri celana sekolah Dimas karna yang lama sudah tak muat, lalu memasang kancing baju seragam Pramuka Dimas yang lepas. Dimas sendiri sudah berangkat sekolah sejak pukul 06.00.
Kesempatan sempurna.
Aku turun ke ruang kerja Papa di lantai dua. Ruangan ini luas, dindingnya dipenuhi rak buku dari kayu jati. Di tengahnya ada meja kerja besar dari marmer hitam.
Dan di atas meja itu... laptop Papa.
MacBook Pro warna abu-abu. Edisi terbaru. Harganya delapan puluh juta rupiah. Di dalamnya ada semua data penting perusahaan Mahendra Group. Laporan keuangan, kontrak kerja sama, presentasi untuk investor Singapura minggu depan.
Papa pernah bilang, "Lin, kalau laptop ini rusak, Papa bisa bangkrut."
Tanganku gemetar saat menggenggam gelas jus alpukat yang baru dibuat bibi. Jus dingin, kental, warnanya hijau pucat.
Aku berdiri di depan meja kerja. Menatap laptop itu lama.
Ini bukan salahku, kataku dalam hati.
Ini salah Papa. Salah Ibu Kirana yang berani masuk ke rumah ini.
Aku mengangkat gelas itu tinggi-tinggi.
"Untuk Mama," bisikku.
Lalu kutumpahkan.
Cairan hijau kental itu mengalir deras. Menggenangi keyboard. Merembes ke sela-sela tombol. Menetes ke meja marmer, lalu ke karpet Persia di bawahnya.
Laptop itu mengeluarkan suara "cit" pelan. Layarnya berkedip sekali, lalu mati. Gelap.
Hening.
Jantungku berdegup kencang. Bukan karena takut ketahuan. Karena puas.
Satu masalah selesai.
Aku meletakkan gelas kosong di meja, lalu berjalan keluar ruangan seolah tidak terjadi apa-apa. Naik ke kamar, menyalakan musik, dan berbaring di ranjang sambil menggulir Instagram.
Sepuluh menit kemudian, aku mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa di tangga.
"Lin! Lin, kamu di mana?" suara Papa panik dari bawah.
Aku pura-pura tertidur. Menarik selimut sampai ke dagu.
Pintu kamarku diketuk keras. "Alina, buka pintunya!"
Aku membuka pintu dengan wajah mengantuk. "Ada apa, Pah? Alina lagi tidur."
Papa menatapku. Wajahnya pucat. Keringat membasahi pelipisnya. "Laptop Papa... laptop di ruang kerja. Kenapa bisa basah?"
Aku menguap. "Alina tidak tahu, Pah. Alina dari tadi 'kan di kamar."
"Terus siapa? Bibi?" tanya Aditiya.
"Entahlah," aku mengangkat bahu. "Mungkin Ibu Kirana. Tadi Alina lihat beliau lewat depan ruang kerja bawa nampan."
Itu bohong. Ibu Kirana dari tadi di kamar menjahit. Tapi Papa sedang panik. Ia tidak akan berpikir jernih.
Wajah Papa berubah. Kecewa. Marah. Luka.
Ia berlari turun tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku menutup pintu dan terkekeh pelan. Berhasil.
Lima menit kemudian, aku mengintip dari balkon lantai tiga.
Di ruang kerja, Ibu Kirana berlutut di lantai. Ia membuka laptop itu dengan hati-hati menggunakan obeng kecil. Tangannya gemetar. Kain lap di tangannya mengusap keyboard yang masih basah.
Papa berdiri di belakangnya, rahangnya mengeras.
"Kirana, ini data penting perusahaan," suara Papa rendah, tapi terdengar jelas sampai ke atas. "Investor dari Singapura datang lusa. Kalau data ini hilang, kontrak miliaran rupiah bisa batal."
Kirana tidak menjawab. Ia hanya terus mengusap keyboard itu. Air matanya jatuh satu per satu ke karpet. Tapi ia tidak menyekanya.
"Maaf, Mas Aditya," bisiknya. "Aku... Aku akan tanggung jawab. Gajiku bulan ini, bulan depan, Aku berikan semua untuk service laptop ini."
"Gajimu delapan ratus ribu, Kirana," kata Papa, suaranya getir. "Service ini bisa dua puluh juta."
Kirana menunduk lebih dalam. "Aku tahu. Tapi aku akan berusaha_ Aku akan cari kerja tambahan. Mengajar les malam. Apa saja. Yang penting dapat penghasilan."
Dadaku sesak melihatnya. Tapi aku segera memalingkan wajah.
Itu salahnya sendiri, kataku pada diri sendiri. Siapa suruh masuk ke keluarga Mahendra.
Siangnya, kabar menyebar cepat.
Bibi-bibi berbisik di dapur. "Kasihan Bu Kirana. Baru tiga hari sudah dapat masalah. Ini pasti ulahnya Non Alina." ucapnya pelan, tapi masih bisa kudengar.
Sopir menggeleng saat mengisi bensin. "Nyonya baru itu sabar banget. Kalau saya, sudah saya lawan."
Huh. Tapi aku tidak peduli.
Sore harinya, aku sengaja lewat depan kamar tamu. Pintunya terbuka sedikit.
Di dalam, Ibu Kirana sedang menelepon seseorang. Suaranya pelan.
"Assalamualaikum, Bu Kepala Sekolah... Iya, ini saya Kirana. Maaf mengganggu. Saya mau tanya, apakah ada lowongan mengajar les privat malam hari? Saya butuh... saya butuh tambahan untuk biaya pengobatan anak saya."
Jantungku berhenti berdetak sesaat.
Anaknya sakit? Dimas?
Aku segera menutup pintu. Tidak mau dengar lagi.
Malamnya, Papa tidak mengetuk pintu kamarku. Ia langsung masuk ke kamar utama tanpa makan malam.
Dari celah pintu, aku melihatnya duduk di tepi ranjang, memegang foto Mama. Bahunya bergetar pelan.
Untuk pertama kalinya sejak Mama meninggal, aku melihat Papa menangis.
Tapi aku tetap tidak keluar. Aku tetap tidak minta maaf.
Karena aku Alina Mahendra. Dan aku tidak butuh Ibu baru.
Jam 23.00, aku terbangun karena suara pelan dari bawah.
Suara Ibu Kirana. Lagi.
Aku turun diam-diam. Bersembunyi di balik pilar ruang tamu.
Di sana, di sofa panjang, Ibu Kirana duduk dengan sajadah kecil di pangkuannya. Di depannya ada laptop Papa yang sudah dibongkar. Komponennya berserakan di meja.
Ia tidak sedang menjahit. Ia sedang membaca Al-Qur'an. Suaranya merdu, pelan, tapi setiap hurufnya jelas.
“...Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduun...”
Aku tidak mengerti artinya. Tapi nada suaranya... menenangkan. Terlalu menenangkan untuk suasana yang sedang kacau seperti ini.
Selesai membaca, Ibu Kirana menutup mushaf. Ia menatap laptop yang rusak itu lama. Lalu ia mengusap layarnya yang gelap dengan ujung jari.
"Ya Allah," bisiknya. "Jika ini ujian untukku, berikan aku kesabaran. Jika ini caraMu mendekatkanku pada anak itu... Tunjukkanlah jalannya."
Air matanya jatuh lagi. Kali ini ia tidak menghapusnya.
Aku buru-buru naik ke kamar. Dadaku terasa sesak. Bukan karena menang. Karena ada sesuatu yang mengganjal di kerongkongan.
Berhenti berpura-pura baik, batinku. Aku tahu kamu hanya bersandiwara.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya, aku tidak bisa tidur nyenyak.
Di kepalaku terus terngiang suara Ibu Kirana membaca Al-Qur'an sambil memeluk laptop rusak seharga delapan puluh juta rupiah milik Papa.
Laptop yang sengaja kurusak.
Bersambung ...
Suami istri tidur terpisah, istri sakit tidak tau, istri begadang tidak tau, lalu buat apa menikaaaahhhh..???? 🙄🙄🙄