Di malam hujan yang seharusnya biasa saja, hidup Nayra berubah total setelah ia menerima undangan misterius dari aplikasi bernama “The Game Master.” Awalnya hanya permainan tantangan sederhana berhadiah uang. Namun, setiap level yang berhasil diselesaikan justru menyeretnya semakin dalam ke permainan berbahaya yang tak bisa dihentikan.
Aturannya hanya satu: jangan pernah melanggar perintah permainan.Di tengah usahanya mencari jalan keluar, Nayra bertemu dengan Zavian, pria dingin dan penuh teka-teki yang seolah mengetahui lebih banyak tentang permainan itu. Tapi semakin dekat mereka, semakin Nayra curiga bahwa Zavian mungkin bukan korban… melainkan bagian dari permainan itu sendiri.
Ketika cinta, pengkhianatan, dan kematian mulai bercampur dalam satu arena mematikan, Nayra harus memilih: mempercayai hatinya atau bertahan hidup.
Karena di permainan ini, tidak semua orang bisa keluar hidup-hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 — Tidak Ada Jalan Mundur
Suara langkah itu semakin dekat.
Cepat.
Berat.
Puluhan orang.
Mungkin lebih.
Lampu merah terus berkedip di seluruh ruangan pusat kontrol sementara alarm meraung tanpa ampun.
Retakan mulai muncul di dinding kaca.
Debu berjatuhan dari langit-langit.
Gedung ini benar-benar sedang sekarat.
Dan mereka masih terjebak di tengahnya.
“Oke,” gumam Nayra pelan sambil melihat ke arah lorong. “Aku rasa semesta memang benci aku.”
“Semesta benci semua orang di sini,” sahut Arsen sambil mengecek pelurunya.
Zavian berdiri sedikit di depan Nayra lagi.
Refleks.
Seolah tubuhnya otomatis melakukan itu sekarang.
Dan anehnya…
Nayra mulai terbiasa.
—
BRAKK!
Pintu lorong terbuka keras.
Pasukan bertopeng hitam langsung masuk.
Bersenjata lengkap.
Helm hitam.
Rompi baja.
Tatapan kosong.
Salah satu dari mereka langsung berteriak—
“TANGKAP SUBJECT 07!”
“Kenapa semua orang terobsesi sama aku sih?!” bentak Nayra panik.
Tak ada waktu buat jawaban.
DUAK! DUAK! DUAK!
Tembakan langsung pecah.
Arsen membalas lebih dulu.
Zavian menarik Nayra turun tepat saat peluru menghantam layar besar di belakang mereka.
Percikan api menyebar ke mana-mana.
Ruangan berubah kacau total.
Founder malah tetap berdiri santai.
Seolah semua ini cuma pertunjukan kecil.
“Dia beneran bikin aku pengen ngamuk,” gumam Nayra.
“Aku duluan,” sahut Zavian dingin.
—
Player 01 bergerak tiba-tiba.
Cepat sekali.
Ia menendang salah satu pasukan sampai terpental menghantam dinding.
BRAKK!
Pria itu jatuh tak bergerak.
Nayra melotot.
“Oke… keluarga kalian serem.”
Zavian bahkan tidak membantah.
Player 01 bergerak seperti mesin.
Efisien.
Dingin.
Setiap gerakannya presisi.
Dan itu justru membuat Nayra sedih.
Karena di balik wajah yang mirip Zavian itu…
hampir tidak ada manusia tersisa.
—
Subject 07 asli berdiri diam di tengah kekacauan.
Peluru lewat di dekatnya.
Tapi anehnya—
tak satu pun mengenainya.
Seolah para pasukan takut menembaknya.
Atau mungkin… tidak berani.
Anak kecil itu memperhatikan semua dengan tatapan kosong.
Lalu perlahan mengangkat tangan.
Dan tiba-tiba—
seluruh lampu di ruangan meledak.
DUARR!
Gelap.
Jeritan langsung terdengar.
“Apa lagi sekarang?!” Nayra panik.
Mata merah kecil mulai menyala satu per satu di kegelapan.
Bukan kamera.
Bukan mesin.
Tapi drone kecil.
Puluhan.
Melayang dari langit-langit seperti serangga.
“Oh, aku resmi trauma teknologi,” gumam Nayra.
Drone-drone itu langsung menembakkan laser kecil ke arah semua orang.
ZIIING!
“TIARAP!” bentak Arsen.
Lantai meledak kecil di dekat kaki Nayra.
Zavian menarik pinggang Nayra refleks dan menjatuhkannya ke belakang meja kontrol.
Napas mereka langsung bertabrakan.
Dekat sekali.
Dan untuk beberapa detik…
dunia terasa aneh.
Tatapan Zavian bertemu matanya.
Gelap.
Tegang.
Tapi juga…
hangat.
“Apa kamu bisa fokus bentar?” gerutu Arsen dari belakang sambil menembak drone.
Nayra langsung tersadar.
“MANA AKU SEMPAT ROMANTIS DI SINI?!”
Zavian memalingkan wajah cepat.
Tapi Nayra sempat melihat telinganya sedikit merah.
Dan itu hampir membuatnya lupa kalau mereka sedang ditembaki.
Hampir.
—
Founder akhirnya bergerak.
Ia berjalan santai melewati kekacauan sementara drone-drone terus menyerang.
“Project Lazarus akan tetap berjalan.”
“Omong kosong!” bentak Arsen.
Founder menatap Nayra.
“Kamu akan mengerti suatu hari nanti.”
“Aku lebih milih jadi orang biasa!”
“Orang biasa mudah mati.”
Tatapannya berubah dingin.
“Dan aku sudah terlalu lama melihat kematian.”
Kalimat itu membuat Nayra berhenti sesaat.
Ada sesuatu aneh dalam nada suara Founder tadi.
Kesedihan.
Tipis.
Sangat tipis.
Tapi ada.
—
Tiba-tiba Subject 07 asli bicara pelan.
“Kamu kehilangan seseorang.”
Semua langsung diam sesaat.
Founder menoleh perlahan ke anak kecil itu.
Tatapannya berubah tajam.
“Aku bisa dengar detak jantungmu berubah.”
Anak itu memiringkan kepala.
“Kamu takut kehilangan lagi.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya…
Founder terlihat seperti manusia biasa.
Wajah dingin itu retak sedikit.
“Diam.”
“Kamu bikin Project Lazarus karena seseorang mati.”
Deg.
Nayra langsung sadar.
Oh.
Itu alasannya.
Founder berjalan cepat mendekati Subject 07 asli.
Tatapannya gelap sekarang.
“Aku bilang diam.”
Tapi anak kecil itu tetap tenang.
“Siapa yang kamu coba hidupkan kembali?”
DUAK!
Founder menampar anak itu keras.
Nayra langsung membeku.
“HEY!” teriaknya refleks.
Ruangan langsung hening beberapa detik.
Subject 07 asli jatuh ke lantai.
Diam.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Ia hanya menyentuh pipinya perlahan.
Bingung.
“Kenapa itu sakit?”
Dan entah kenapa…
pertanyaan polos itu menghancurkan sesuatu dalam diri Nayra.
—
“Kamu gila.”
Suara Nayra bergetar marah.
Founder menatapnya dingin.
“Kamu tidak mengerti apa pun.”
“Aku ngerti kalau kamu monster!”
Tatapan Founder berubah tajam.
“Aku kehilangan anakku.”
Sunyi.
Semua langsung diam.
Bahkan tembakan di kejauhan terasa jauh sesaat.
Founder berdiri di tengah ruangan merah itu dengan napas berat.
Dan untuk pertama kalinya…
ia terlihat tua.
Sangat tua.
“Dia meninggal karena penyakit yang tidak bisa disembuhkan.”
Tatapannya kosong ke depan.
“Aku punya kekuasaan. Uang. Teknologi.”
Tangan tuanya mengepal.
“Tapi aku tidak bisa menyelamatkannya.”
Hening.
Nayra tidak tahu harus menjawab apa.
Karena rasa sakit itu terdengar nyata.
Sangat nyata.
“Tapi itu bukan alasan buat nyiksa orang lain!” bentaknya akhirnya.
Founder tertawa kecil.
Pahit.
“Manusia selalu rela melakukan apa pun demi seseorang yang mereka cintai.”
Tatapannya perlahan turun ke Nayra.
“Termasuk kamu nanti.”
Deg.
Kalimat itu terasa seperti ramalan.
Dan Nayra membencinya.
—
Alarm mendadak berubah nada.
Lebih cepat.
Lebih brutal.
WARNING.
CORE MELTDOWN IN 10 MINUTES.
Arsen langsung menoleh cepat.
“Kita kehabisan waktu.”
Zavian mengangguk kecil.
“Kita harus keluar sekarang.”
“Tunggu.” Player 01 tiba-tiba bicara.
Semua menoleh.
Pria itu berdiri dekat panel utama sambil menatap sesuatu di layar.
Ekspresinya berubah.
Untuk pertama kalinya.
“Tidak…”
Zavian langsung sadar ada yang salah.
“Apa?”
Player 01 menatap Founder.
“Dia bohong.”
Founder langsung diam.
Dan itu cukup membuat suasana berubah.
“Apa maksudmu?” tanya Nayra cepat.
Player 01 menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan—
“Gedung ini bukan mau dihancurkan.”
Tatapannya perlahan berubah gelap.
“Tempat ini mau dikunci.”
Deg.
Arsen langsung mengerti duluan.
“Sial…”
“Apa?!” Nayra makin panik.
“Mereka nggak mau bukti hilang.”
Zavian langsung menoleh ke Founder.
“Kamu mau ngubur semua orang hidup-hidup di sini.”
Founder tidak membantah.
Dan itu jawaban paling buruk.
—
“KAU GILA?!” bentak Nayra.
“Tidak ada saksi.”
Founder berkata tenang.
“Tidak ada kebocoran data.”
Tatapannya dingin lagi sekarang.
“Dan Project Lazarus tetap hidup.”
Arsen langsung mengangkat pistol.
“Kalau begitu kita bunuh dia sekarang.”
“Percuma,” kata Player 01 dingin. “Sistemnya otomatis.”
Nayra mulai stres lagi.
“Kenapa semua orang jahat suka bikin sistem otomatis?!”
Tak ada yang menjawab.
Karena mereka juga capek.
—
Subject 07 asli perlahan berdiri lagi.
Pipinya masih merah bekas tamparan.
Tapi ekspresinya tetap datar.
Ia menatap Founder lama.
Lalu berkata pelan—
“Kamu sedih.”
Founder tidak menjawab.
“Kamu bikin aku karena nggak bisa nerima kematian.”
Tatapan anak itu kosong.
“Tapi kamu malah bikin lebih banyak kematian.”
Hening.
Founder memalingkan wajah.
Dan untuk pertama kalinya…
ia terlihat kalah.
Sedikit.
—
Tiba-tiba suara ledakan besar terdengar dari bawah gedung.
DUARRRR!
Lantai berguncang keras.
Sebagian plafon runtuh.
Drone-drone berjatuhan.
Server meledak satu per satu.
Api mulai menyebar ke seluruh ruangan.
“OKE!” teriak Nayra panik. “SEKARANG KITA MATI BENERAN!”
Zavian langsung memegang tangan Nayra.
“Dengar aku.”
Tatapannya serius.
Kalau biasanya dingin, sekarang justru terlalu hidup.
“Aku bakal bawa kamu keluar.”
Deg.
Jantung Nayra berdetak keras lagi.
“Zavian…”
“Apapun yang terjadi.”
Tangannya menggenggam lebih erat.
“…jangan lepas dari aku.”
Dan bodohnya…
di tengah gedung yang mau runtuh…
kalimat itu justru membuat Nayra merasa aman.
Sedikit.
—
Player 01 tiba-tiba berjalan ke arah panel utama.
Arsen langsung mengernyit.
“Mau ngapain?”
Pria itu tidak menjawab.
Ia membuka sistem keamanan utama.
Puluhan kode muncul di layar.
Founder langsung sadar sesuatu.
“Kamu…”
Player 01 tetap mengetik cepat.
Dan untuk pertama kalinya sejak muncul…
emosi muncul jelas di wajahnya.
Marah.
“Aku capek jadi boneka kalian.”
Semua langsung membeku.
Zavian menatap kakaknya tidak percaya.
“Hyren…”
Nama itu keluar begitu saja.
Pelan.
Dan Player 01 berhenti mengetik sesaat.
Seolah nama itu membangunkan sesuatu yang lama terkubur.
Hyren.
Bukan Player 01.
Bukan mesin organisasi.
Tapi kakak Zavian.
Manusia.
Perlahan…
pria itu tersenyum kecil.
Tipis sekali.
“Sudah lama nggak ada yang manggil aku begitu.”
Deg.
Mata Zavian langsung memanas.
Dan Nayra sadar—
kakaknya belum benar-benar hilang.