Dia tumbuh dengan begitu indah, begitu mempesona siapapun yang melihatnya. Gadis cantik yang energik, pintar dan cerdas. Penghargaan pun tidak hanya satu atau dua yang dia dapatkan. Tapi berjejer menghiasi seluruh isi lemari kacar di kamarnya. Terlahir dari keluarga kaya raya, dengan fasilitas mewah dan semuanya bisa dia dapatkan hanya dengan mengatakan satu hal “aku mau ini.” Makan semuanya akan menjadi miliknya. Namun, siapa sangka. Mawar cantik itu menyimpan luka yang begitu dalam. Luka apakah itu? Lalu akankah dia menemukan obatnya? Mari saksikan kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak termasuk hitungan
“Lana.”
Rex berteriak dari awal dia membuka pintu, diikuti bodyguard yang menjaga di bawah, Angga dan Tias.
Mereka berlari menaiki anak tangga menuju kamar Delana.
Brakkkk!
Pintu dibuka dengan kasar oleh Rex. Di dalam sana, Delana sedang meringkuk di lantai sambil memegangi perutnya.
Tanpa basa basi, Rex menggendong Delana dan menidurkan nya di atas kasur.
“Pak ….”
“Panggil Willy!”
“Jangan.” Delana menarik jas Yang diapaki Rex.
“Lana, ada apa? Kamu kenapa?”
Delana melihat orang-orang yang ada di belakang Rex. Dia merasa tidak nyaman begitu banyak orang di kamarnya.
“Kalian pergilah.”
Angga dan yang lain nya keluar dari kamar.
“Ada apa?” Tanya Rex sambil mengusap kening Delana yang berkeringat.
“Aku menstruasi.”
“Hmm?”
“Perutku sakit.”
“Memangnya kalau menstruasi sakti banget ya?”
Mendengar pertanyaan Rex, emosi Delana meningkat. Dia mengambil bantal, lalu memukul wajah Rex.
“I-iya, sorry. Aku tidak faham.”
“Saki banget tauuuuuu.” Delana kesal.
“Kamu mau aku melakukan apa? Ayo kita ke rumah sakit atau panggil saja Willy.”
Tok tok tok
“Pak, boleh saya masuk?” Tanya Tias.
Rex menatap Delana, meminta persetujuan. Gadis itu mengangguk.
“Masuk.”
Tias datang membawa sesuatu. Nampan dengan air hangat.
“Minum ini dulu, Delana.”
“Tias, kamu kan perempuan. Tolong katakan apa yang harus saya lakukan sekarang? Kamu kalau mens sakit juga?”
Tias menggelengkan kepala.
“Nggak semua orang merasa sakit saat mens, tapi sepertinya Delana termasuk wanita yang tidak beruntung itu.”
“Lalu apa yang harus saya lakukan?”
“Coba aja usap-usap pinggang sama perutnya.”
Delana hanya bisa diam menahan rasa sakit dan amarahnya mendengar mereka berdua berdiskusi.
Rex mengusap perut Delana.
“Pak, Bapak tau anatomi nggak?”
Rex menggelengkan kepala.
“Kalau Bapak ngidam nya di atas, bapak ngusap lambung. Sementara mens itu mengeluarkan darah akibat peleburan dinding rahim. Nah, rahim itu di perut bagian bawah.”
“Di sini?”
“Bawah dikit.”
“Ini?”
“Bukan, bawah dikit.”
Kesal mendengar Tias memberitahu Rex yang tak kunjung mengerti, Delana menarik tangan Rex dan meletakkannya di bagian yang terasa kram.
“Nah, itu. Tapi jangan terlalu bawah ya, Pak. Taku terjadi sesuatu yang di inginkan.”
“Tias, 85%.”
“Gak jadi, Pak.” Tias berlari kencang keluar kamar.
Cengkeraman tangan Delana pada tangan Rex yang sedang mengusap perutnya, membuat pria itu faham jika rasa sakit yang dirasakan Delana tidak main-main.
Dia mengusap perut gadis itu tanpa henti. Sementara tangan yang satunya mengetik pesan untuk Tias agar wanita itu memblikan sesuatu untuk meredakan rasa sakit yang diderita Delana.
“Yang ini.” Delana menarik tangan Rex agar dia mengusap bagian pinggan nya. Tubuh besar pria itu mengungkung tubuh Delana.
“Sakit banget.” Delana meringis. Dia menekuk tubuhnya seperti anak kucing yang kedinginan. Tangan kanan nya meremas pinggang Rex dengan kuat.
“Kita ke dokter aja ya. Aku takut kamu kenapa-kenapa.”
“Nggak.” Rengek Delana.
“Terus aku harus gimana?”
“Begini aja.”
“Iya, baiklah.”
Tidak lama kemudian Tias datang membawa ramuan. Racikan kunyit dan jahe yang diseduh beserta sereh.
“Pak, coba kasih ini dulu.”
“Lana, bangun sebentar ya. Minum kunyit hangat dulu.”
Delana membuka matanya. Lalu di bangun dibantu oleh Rex.
“Hati-hati masih panas,” ujar Tias.
Delana meminum ramuan yang dibuat oleh Tias. Sedikit demi sedikit sampai tandas.
“Coba perutnya kasih minyak kayu putih, Pak.” Tias memberikan minyak kayu putih pada Rex untuk diusapkan pada Delana.
Selagi Rex mengusapkan minyak kayu putih, Tias membuka laci dan kemari untuk mencari kaos kaki. Dia tidak sengaja memegang telapak kaki Delana yang begitu dingin.
“Pak, sini kayu putihnya.” Rex memberikan botol minyak kayu putih pada Tias.
Dengan cekatan tapi lembut, Tias mengusap telapak kaki Delana dengan minyak kayu putih. Lalu memakaikan kaos kaki.
Melihat apa yang dilakukan Tias, Delana merasa sangat tersentuh. Dia merasa ada Dara di sisi nya.
“Mba Tias, makasih ya.”
Tias tersenyum.
Delana menyandarkan kepalanya pada dada Rex. Perutnya masih terasa sakit meski tidak separah sebelumnya.
“Saya pamit.” Tias kembali keluar dari kamar.
“Gimana?”
“Mendingan.”
“Sukurlah.”
Rex mencium kepala Delana, merangkulnya dengan erat. Sementara tangan yang satunya masih mengusap perut Delana. Hal itu terjadi sampai Delana tertidur pulas.
Setelah Rex mandi dan berganti pakaian, dia kembali ke kamar Delana. Memastikan gadis itu baik-baik saja.
Delana masih tertidur pulas.
Rex duduk di samping Delana, menatap penuh kasih gadis yang kini sedang terlelap.
“Bagaimana aku harus menjelaskan nya sama kamu, Lana.”
Tangan kekar Rex mengusap pipi halus Delana dengan sangat hati-hati.
Rex mendekatkan wajahnya berniat mencium kening Delana. Tidak di sangka di saat yang bersamaan, Delana merubah posisinya. Akhirnya bukan kening yang Rex cium, tapi bibir gadis itu.
Bukan main terkejutnya Rex, sementara Delana masih terlelap. Dia segera kembali menarik tubuhnya menjauh dari Delana.
Diremasnya dada yang seperi ada genderang yang ditabuh di dalam nya.
Rex panik.
“Bagaimana ini? Bagaiman kalau dia marah? What? Bahkan First kiss dia dilakukan saat dia tidak sadar.” Rex bergumam.
Dia berdiri menatap Delana, lalu pergi dari kamar gadis itu.
Setelah pintu tertutup, mata Delana terbuka perlahan. Dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Astagaaa, kenapa begini sih?”
Delana bangun, dia duduk sambil menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong. Pikiran nya penuh tapi entah memikir apa.
“Nggak, nggak. Kenapa harus seacara tidak sengaja coba? Gak romantis banget plissss.” Delana mengacak rambutnya.
Dia kembali membaringkan badan sambil menggigit ujung selimut.
Perlahan bibirnya tersenyum, matanya berbinar indah.
“Tapi bibir dia dingin dan basah. Andai saja First kiss gue dilakukan secara sadar dan romantis, kan jauh lebih oke iya nggak sih?”
Delana kembali bangun.
“Pokoknya ini tidak termasuk hitungan! Aku tetap harus mendapatkan ciuman pertama paling indah dan berkesa, titik!”
Delana kembali menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya.
Gadis itu tidak sadar jika saat dia mengeluh, Rex hendak masuk dan sudah membuka pintu kamarnya beberapa centi. Rex mendengar semua yang Delana katakan.
Dia tersenyum.