Raden Kirana Wijaya percaya bahwa pernikahannya adalah pilihan yang tepat.
Bukan karena cinta yang membara, melainkan karena kecocokan yang sempurna.
~
Status, latar belakang, dan masa depan yang terjamin.
Ia menikah dengan Adhikara Pradipta Mahendra, seorang pria yang tampak sempurna di mata semua orang.
Hingga suatu hari, masa lalu itu kembali.
Wanita yang pernah ia cintai...
wanita yang dulu ia lepaskan demi nama besar keluarganya...
kini kembali hadir, dan perlahan mengambil tempat yang seharusnya menjadi milik seorang istri.
Rana tahu.
Rana melihat.
Ia menyadari.
Bahkan lebih awal dari yang dibayangkan siapapun.
Lantas, apa yang akan Rana lakukan? Apakah ia lebih memilih bercerai dan rela kehilangan suami atau justru bertahan demi dua buah hatinya?
Ikuti terus tentang Rana disini, jangan lupa juga follow akun tiktok di Yehppee_26
Selamat membaca
°°°°°
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pucuk 14
Malam itu sunyi, hanya sesekali terdengar deburan ombak.
Lampu kamar hanya menyisakan cahaya temaram kekuningan. Di sisi ranjang, Dipta terlelap dengan napas teratur- tenang, seolah dunia tak pernah benar-benar mengusiknya. Rana duduk bersandar, memandang wajah suaminya dalam diam. Garis rahangnya tegas, alisnya sedikit berkerut bahkan dalam tidur. Sosok yang dulu terasa begitu jauh...kini ada dihadapannya, begitu dekat.
Dan tanpa diminta, ingatannya perlahan mundur.
Kembali pada masa ketika semuanya tidak serumit ini.
~
Raden Kirana Wijaya baru saja lulus dari Universitas Gadjah Mada sebagai lulusan terbaik dari jurusan bisnis. Hari itu, senyum tak pernah lepas dari wajahnya. Ia berdiri anggun dalam balutan kebaya modern berwarna lembut, menerima ucapan selamat dari banyak orang.
Namun pertemuan itu, yang mengubah hidupnya- terjadi beberapa hari setelahnya.
Sebuah acara kelulusan pascasarjana diadakan oleh sepupu Dipta. Keluarga besar hadir, termasuk keluarga Rana dan keluarga Mahendra. Sejak lama, kedua keluarga memang sudah saling mengenal, sama-sama berasal dari garis priyayi yang menjunjung tinggi nilai, tata krama, dan kehormatan nama keluarga.
Saat itu, Rana berdiri di sisi ibunya, tersenyum sopan pada setiap tamu yang datang.
"Rana," panggil ayahnya pelan, "kemari sebentar."
Di sanalah, untuk pertama kalinya, ia di perkenalkan pada seorang pria.
Adhikara Pradipta Mahendra.
Pria itu berdiri tegak dengan aura tenang dan berwibawa. Mengenakan setelan formal yang rapi, tatapannya tajam namun tidak kasar. Ia tidak banyak bicara, hanya mengangguk hormat ketika diperkenankan.
"Ini Rana, putri kami," ujar ayah Rana dengan nada penuh kebanggaan.
"Adhikara Pradipta Mahendra," sahut pria itu singkat, suaranya rendah dan mantap.
Rana hanya tersenyum, menundukkan kepala sedikit. Tidak ada percakapan panjang. Tidak ada tawa. Hanya perkenalan sederhana- yang saat itu terasa biasa saja.
Namun ternyata, tidak bagi kedua keluarga.
~
Satu bulan kemudian.
Rumah besar keluarga Wijaya di penuhi suasana sakral. Hari itu bukan sekadar kunjungan biasa.
Keluarga Mahendra datang...untuk melamar.
Rana duduk di dalam kamar, mengenakan kebaya halus dengan riasan sederhana. Tangannya dingin, namun hatinya justru anehnya tenang. Tidak ada rasa ragu yang mengguncang, tidak pula kegelisahan yang berlebihan.
Ia tahu siapa pria itu.
Ia tahu latar belakangnya.
Ia tahu, dari sisi bebet, bobot, dan bibit- semuanya dianggap sempurna oleh keluarga mereka.
Dan yang paling penting... Adhikara Pradipta Mahendra adalah pria pertama yang benar-benar datang dengan niat.
Selama hidupnya, Rana tidak pernah membuka hati untuk hubungan serius dengan siapa pun. Ia terlalu menjaga dirinya, terlalu menghormati nilai yang diajarkan keluarganya.
Maka ketika lamaran itu datang, ia tidak melihatnya sebagai keterpaksaan.
Melainkan pilihan.
Sebuah keputusan yang ia ambil dengan sadar. Saat ibunya bertanya pelan, "Kirana...kamu yakin?"
Rana hanya mengangguk lembut, namun pasti.
"Iya, Bu."
Pernikahan mereka berlangsung sebagaimana adat keluarga priyayi.
Megah, tertata, penuh makna.
Setiap prosesi dijalani dengan khidmat- dari siraman hingga panggih- semuanya seolah menjadi saksi bahwa dua keluarga besar tengah menyatukan garis mereka dalam satu ikatan.
Rana masih ingat bagaimana Dipta berdiri di hadapannya saat prosesi pernikahan itu berjalan, dengan suara mantap mengucapkan janji yang mengikat mereka seumur hidup.
Tidak ada cinta yang menggebu saat itu.
Namun ada rasa hormat. Ada keyakinan. Dan ada harapan...bahwa semuanya akan tumbuh seiring waktu. Hingga pada akhirnya mereka di karuniai putra pertama yang diberi nama Alaric Putra Mahendra, lalu kurang lebih dua tahun kemudian seorang putri Masayu Anastasia Mahendra lahir melengkapi keluarga mereka.
Rana kembali ke masa kini.
Tatapannya masih tertuju pada suaminya yang tertidur. Waktu telah berjalan jauh sejak hari itu. Banyak hal berubah. Banyak luka yang yang datang tanpa di undang.
Salah satunya adalah, sebuah pesan singkat yang baru saja tak sengaja terbaca dari ponsel milik suaminya.
Dari Laras.
{ Maaf aku mengganggu. Terima kasih sudah melakukan semuanya untuk dan Raka. Kamu memang tidak pernah berubah}
Rana menelan ludahnya, mengalihkan pandangannya kembali kepada suaminya. Perlahan, Rana mengulurkan tangan, merapikan sedikit rambut Dipta yang jatuh di keningnya.
"Aku yang memilihmu..." bisiknya sangat pelan, hampir tak terdengar.
Dan malam kembali tenggelam dalam diam.
...****************...
Bersambung...