Febian memiliki tetangga baru seorang wanita, awalnya Febian tidak tertarik sedikitpun kepada wanita itu hingga akhirnya semuanya pun berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14
Beberapa hari Nadila mendapatkan perawatan intensif, akhirnya dokter mengizinkan Nadila untuk pulang kerumah.
Infusan ditangan pun akhirnya terlepas, Nadila pun merasa sangat senang dan bebas.
" Akhirnya gue bisa mandi Bian "
" Kemarin gue mau mandiin ga mau "
" Ih engga mau lah enak aja, udah ah gue mau mandi dulu "
Selama dirawat Fabian dengan setia menemani Nadila, Nia pun ikut membantu dengan membawa pakaian milik Nadila
Selama Nadila mandi, Fabian pun merapikan barang barang milik mereka.
Nadila yang telah selesai mandi langsung menghampiri Fabian yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
" Udah mandinya ? "
" Udah Bian, emang ga cium nih gue udah wangi ? "
" Coba gue cium "
" Nih cium aja "
Fabian pun mendaratkan sebuah ciuman di pipi Nadila.
" Bian.. " Nadila memegangi pipinya
" Tadi katanya cium aja "
" Ya bukan cium itu, maksudnya cium gue udah wangi. Dasar modus "
" Ga usah salting gitu dong Dil "
" Dih siapa yang salting, biasa aja "
Fabian pun asik menggoda Nadila yang nampak salah tingkah, keduanya pun bersama sama Merapikan barang mereka.
...
Setelah sampai di apartemen miliknya, Nadila pun langsung merebahkan tubuhnya diatas ranjang.
Fabian lebih meletakan barang milik Nadila, setelah itu ia pun menghampiri Nadila.
" Ah akhirnya ketemu kasur gue, gila hampir 5 hari gue tidur di sofa " ucap Fabian yang ikut merebahkan tubuhnya disamping Nadila
" Makasih ya Fabian, maaf juga karena gue lo jadi tidur di sofa "
" Makasih doang nih Dil ? "
" Terus apa Bian ? emang mau apa ? "
" Ya engga tau sih, tapi masa iya cuma makasih aja sih Dil "
Nadila pun tersenyum, kemudian ia mengambil dompet miliknya.
" Yaudah gue bayar berapa nih ? Atau lo mau gue beliin apa ? "
" Gue ga butuh uang lo Nadila, gue juga punya duit "
" Yaudah terus apa ? Bilang aja bilang "
Fabian menarik tangan Nadila hingga akhirnya jarak keduanya pun menjadi sangat dekat.
" Ya minimal ini lah Dil " ucap Fabian sambil mengusap bibir Nadila
" Tapi kalau lo ga mau juga ya ga apa apa, gue sih ga maksa ya. Bukan kayak lo yang maksa buat—"
Nadila pun mencium bibir Fabian, hingga Fabian pun berhenti bicara.
" Udah kan ? " ucap Nadila pelan
" Belum "
Fabian yang belum puas pun kembali mencium bibir Nadila, namun kali ini Fabian pun melumat bibir milik Nadila.
Nadila memejamkan matanya, tangan Nadila mengusap lembut pipi Fabian.
Disaat sisa oksigen keduanya mulai menipis, mereka pun mengakhiri ciuman mereka.
Nadila memberikan kecupan singkat di bibir Fabian, kemudian ia pun memeluk Fabian.
" Nadila.. "
" Ya Bian ? "
" Lo.. Mau jadi pacar gue ? "
Perlahan Nadila melepaskan pelukannya, ia pun menatap lekat wajah Fabian.
" Bian.. "
" Ya, kenapa Dil ? "
" Maaf.. "
" Maaf untuk apa ? "
" Gue belum bisa terima lo Bian "
" Ohh oke, ga apa apa Dil "
" Gue.. Gue cuma masih trauma aja sama hubungan pacaran, gue masih butuh waktu buat nyembuhin luka gue Bian. "
" Jujur gue ngerasa nyaman sama lo Bian, bahkan disaat kemarin kita jauh itu gue ngerasa ada yang hilang. "
" Gue merasa kalau gue suka sama lo Bian "
Fabian tersenyum sambil mengusap lembut pipi Nadila.
" Gue akan tunggu sampai lo siap, sampai lo benar benar siap Dil "
Kembali Nadila memeluk erat tubuh Fabian, Nadila merasa beruntung karena memiliki Fabian saat ini.
....
Sore hari Hujan turun begitu derasnya, ditambah kondisi yang belum cukup baik membuat Nadila masih harus berdiam.
Fabian mencoba menghibur Nadila, ia mengambil gitar dari dalam kamarnya dan membawa kedalam kamar Nadila.
" Mau ngamen ya ? Ga ada recehan Mas "
" Bisa bayar pakai yang lain ko "
" Mulai deh modusnya "
" Lo mau request lagu apa ? "
" Hmm apa yah Bian, terserah lo deh lagu apa "
" Hmm, yaudah oke "
Nadila pun duduk sambil memandangi Fabian, Nadila sendiri bingung apa yang tak bisa dari Fabian.
Fabian mulai memetik senar gitar miliknya, ia pun mulai menyanyikan lagu untuk Nadila.
" Embun di pagi buta
Menebarkan bau basah
Detik demi detik kuhitung
Inikah saatku pergi?
Oh, Tuhan, ku cinta dia
Berikanlah aku hidup
Takkan kusakiti dia
Hukum aku bila terjadi
Aku tak mudah untuk mencintai
Aku tak mudah mengaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan
Aku jatuh cinta
Senandungku hanya untuk cinta
Tirakatku hanya untuk engkau
Tiada dusta, sumpah, ku cinta
Sampai ku menutup mata
Cintaku sampai ku menutup mata "
Nadila menatap Fabian sambil tersenyum, selain memiliki wajah tampan Fabian juga memiliki suara yang bagus.
" Bagus " Nadila memberikan tepuk tangan begitu lagu usai.
" Cowok kayak lo kenapa bisa ya Bian belum punya pacar " ucap Nadila membuat Fabian tersenyum sinis
" Gimana gue mau punya pacar, kan lo sendiri belum siap "
" Maksud gue sebelumnya gitu, gue yakin banget pasti banyak kan yang naksir sama lo Bian "
" Gue kan udah pernah bilang, kalau gue males pacaran Nadila "
" Kalau males kenapa lo mau ngajak gue pacaran? "
" Ya karena lo beda aja sama cewe lain, dan gue ngerasa nyaman sama lo Nadila "
" Beda gimana ? Gue juga suka ngambek kalau chat gue ga di bales, gue juga suka ngambek kalau misalnya lo sibuk sama temen Lo "
" Ga apa apa, yang penting ceweknya itu lo "
" Kebanyakan modus lo Bian "
Fabian meletakan gitarnya, ia beralih menarik tangan Nadila agar Nadila duduk disampingnya.
" Duduk disini aja, jangan jauh jauh kayak musuhan "
Disaat keduanya tengah asik berbincang, terdengar suara ketukan pintu dari depan.
" Sebentar ya " ucap Nadila dan Fabian mengangguk
Nadila pun membuka pintunya, dan melihat Nia dan Niko yang datang berkunjung.
" Loh kalian kesini ga bilang bilang ? " tanya Nadila
" Kita khawatir sama lo Nad " jawab Niko
" Yaudah ayo masuk, kalian pasti kehujanan kan "
Nia San Niko pun masuk dan duduk di sofa, keduanya terkejut melihat keberadaan Fabian disana
" Ka " sapa Nia
Fabian hanya menjawab dengan sebuah senyuman dan anggukan
" Lo duduk aja, biar gue yang ambil minum " ucap Fabian dan Nadila mengangguk
Nadila pun duduk dan bergabung bersama kedua temannya, sedangkan Fabian ia pergi untuk mengambil minuman.
" Lo gimana Nad ? Udah lebih baik ? " tanya Nia
" Udah, udah jauh lebih baik ko "
" Syukur lah kalau gitu, lagian kenapa sih lo tuh kalau sakit bilang gitu Nad "
" Gue ga mau ngerepotin siapa-siapa Nia, gue aja ga enak sama Fabian "
" Kalau ga enak, kasih kucing aja Nadila " jawab Fabian yang sudah kembali
" Lo kucing nya Bian " jawab Nadila
Sore itu Nadila tak merasakan kesepian, bahkan ia merasa terhibur dengan kedatangan teman temannya dan juga Fabian.
Niko.. Ia merasa tak nyaman dengan keberadaan Fabian, terlebih Niko tau jika Fabian menyukai Nadila.
Begitu juga dengan Fabian, ia sesekali memperhatikan Niko yang diam diam memperhatikan Nadila.
....
Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Fabian menyuruh Nadila untuk segera beristirahat.
Setelah merapikan bekas makan malam, Fabian menghampiri Nadila yang sedang meminum obat miliknya
" Pinter, dihabisin ya " ucap Fabian sambil mengusap lembut kepala Nadila
" Sini Bian, duduk " Nadila menepuk ruang disampingnya
" Kenapa ? "
Nadila melingkari tangannya di pinggang Fabian, entah kenapa Nadila benar benar merasa nyaman saat memeluk Fabian.
" Bian.. "
" Ya, kenapa ? "
" Temenin gue sampai gue tidur ya "
" Iyah Nadila, yaudah sekarang lo tidur "
Nadila mengangguk, segera ia pun merebahkan tubuhnya diatas ranjang dan Fabian pun ikut menyusul.
Fabian dan Nadila saling berhadapan, Fabian mengusap lembut pipi Nadila.
" Ini kita lagi latihan suami istri ya Dil ? "
" Apasih Fabian, kelarin dulu tuh skripsi baru mikirin nikah. Terus cari kerja biar punya duit yang banyak "
" Duit gue banyak Nadila "
" Duit orangtua lo itu Fabian "
" Duit gue Nadila "
" Duit orangtua lo Fabian, bukan uang lo "
" Astaga, duit gue sayang. Pacar lo ini banyak duit Dil, jadi lo bebas mau apapun"
" Belom ya, masih calon "
" Yaelah ga bisa banget gue seneng sih Dil "
" Udah ah gue mau tidur, byee. Malam Fabian "
" Malam Nadila "
Nadila mulai memejamkan matanya, Fabian pun terus memperhatikan wajah Nadila.
Fabian mengusap lembut kepala Nadila, ia ingin memastikan Nadila sudah tertidur dengan pulas.
Begitu Nadila tertidur, Fabian keluar dari kamar Nadila dan meraih ponselnya.
Fabian menekan satu nomor di ponsel miliknya untuk berbicara lewat telepon.
" Gimana ? Udah kumpul semua ? 30 menit lagi gue sampai "
lanjut ya thor👍😄