NovelToon NovelToon
Pak Jadikan Aku Pacarmu

Pak Jadikan Aku Pacarmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Muhammad Robby Ido Wardanny

Clara Rubiana, 25 tahun, putri bungsu pemilik Darmawan Group, mulai bekerja di perusahaan ayahnya demi mencari pengalaman. Di sana, ia jatuh hati pada Tony Bagaskara, direktur operasional yang kharismatik dan selalu terlihat sempurna. Sebaliknya, Clara membenci Doni Permana, direktur pemasaran yang sering berselisih dengan Tony dan dianggap arogan. Namun seiring waktu, Clara mulai melihat sisi asli Tony yang manipulatif dan penuh ambisi gelap. Kekecewaan itu menghancurkan perasaannya. Di tengah keterpurukan, Doni justru hadir dengan ketulusan, keberanian, dan kepedulian yang tak pernah Clara sadari sebelumnya. Perlahan, kebencian berubah menjadi rasa nyaman, lalu tumbuh menjadi cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Malam itu suasana rumah keluarga Agung terasa jauh lebih hangat daripada biasanya. Setelah makan malam bersama, Clara mengikuti ibunya berjalan ke samping rumah. Di sana terdapat kolam ikan kecil yang sejak dulu menjadi tempat favorit Clara saat ingin menenangkan diri. Lampu taman berwarna kekuningan memantul di permukaan air, sementara suara gemericik dari pancuran kecil membuat suasana terasa damai.

Bu Ida duduk perlahan di kursi kayu dekat kolam. Clara ikut duduk di sampingnya sambil memeluk lutut. Untuk beberapa saat mereka hanya diam memperhatikan ikan koi yang berenang pelan di dalam air.

Bu Ida menoleh ke arah putrinya. Wajahnya terlihat lembut namun menyimpan kerinduan yang besar.

“Kamu tambah kurus,” ucapnya pelan.

Clara tersenyum kecil. “Sedikit saja, Bu.”

“Ibu tahu wajah anak ibu sendiri. Pipimu tidak seisi dulu.”

“Karena sekarang Clara capek kerja dan sering jalan kaki.”

Bu Ida mengusap lengan putrinya perlahan. “Kalau capek kenapa tidak pulang saja? Ibu sama Ayah sangat merindukan kamu.”

Clara menunduk sebentar sebelum menghela napas pelan.

“Hukuman dari Ayah masih dua bulan lagi.”

“Ibu bisa bicara dengan Ayahmu,” kata Bu Ida cepat. “Kalau Clara mau pulang sekarang, ibu akan membujuk beliau.”

Clara langsung menggeleng.

“Jangan, Bu.”

Bu Ida terlihat heran. “Kenapa?”

Karena Clara sendiri terkejut dengan perubahan itu. Dulu dia akan langsung menerima kesempatan pulang tanpa berpikir dua kali. Hidup nyaman, kamar besar, makanan siap saji, mobil pribadi, semua kembali dalam genggamannya. Manusia memang lucu. Diberi kasur empuk mengeluh kurang nyaman. Diberi pendingin ruangan masih mengeluh terlalu panas. Baru sadar nikmat setelah tidur di kamar sempit sambil mendengarkan suara tetangga batuk tengah malam.

Clara tersenyum kecil sambil menatap air kolam.

“Karena Clara masih ingin belajar.”

Bu Ida memandang putrinya lebih lama.

“Belajar apa?”

“Banyak hal.”

Clara mengambil napas pelan sebelum mulai bercerita.

“Dulu Clara tidak pernah benar-benar memperhatikan orang lain. Clara selalu merasa semua harus mendahulukan Clara.”

Bu Ida diam mendengarkan.

“Sekarang Clara mulai mengerti kalau hidup itu tidak cuma tentang diri sendiri.”

“Contohnya?”

Clara tersenyum tipis mengingat sesuatu.

“Waktu naik bus beberapa hari lalu, ada nenek-nenek naik sambil bawa tas belanja. Semua kursi penuh. Clara sebenarnya capek sekali habis pulang kerja.”

“Lalu?”

“Clara berdiri dan kasih tempat duduk Clara ke nenek itu.”

Bu Ida menatapnya dengan bangga.

“Nenek itu senang sekali. Bahkan berkali-kali bilang terima kasih.”

Clara tertawa kecil.

“Padahal itu hal kecil.”

“Tapi dulu kamu tidak akan melakukannya,” jawab Bu Ida jujur.

Clara mengangguk tanpa membantah.

“Iya. Dulu Clara mungkin malah pura-pura tidur.”

Keduanya tertawa pelan.

“Terus nenek itu bilang Clara anak baik. Clara sampai malu sendiri.”

“Kenapa malu?”

“Karena Clara tahu dulu Clara bukan anak baik.”

Bu Ida langsung memegang tangan putrinya.

“Jangan bicara begitu.”

“Tapi memang benar, Bu.”

Clara menatap pantulan cahaya di permukaan kolam.

“Clara dulu egois. Sedikit-sedikit marah. Sedikit-sedikit mengeluh.”

Bu Ida tidak menyangkal. Ia hanya mendengarkan dengan tenang.

“Sekarang Clara belajar mengantri saat beli makanan di warteg.”

Bu Ida tersenyum kecil mendengarnya.

“Kamu pernah cerita soal warteg itu.”

“Iya. Tempatnya kecil, panas, kadang ramai sekali. Clara harus berdiri sambil nunggu giliran.”

“Dan kamu tahan?”

“Awalnya tidak,” jawab Clara sambil tertawa pelan. “Clara kesal karena lama sekali. Tapi ternyata semua orang juga capek dan lapar. Jadi Clara belajar sabar.”

“Selain itu?”

“Kalau pagi Clara kadang beli sayur di pasar kecil dekat kontrakan.”

“Kamu pergi ke pasar?”

“Iya.”

Bu Ida tampak benar-benar tidak percaya.

Anak yang dulu bahkan malas turun dari mobil kini pergi sendiri membeli sayur. Hidup memang punya cara aneh untuk mendidik manusia. Kadang dengan nasihat. Kadang dengan tamparan kenyataan yang pelan tapi terus-menerus.

Clara melanjutkan ceritanya.

“Di sana orang-orang rebutan pilih sayur bagus. Kadang Clara harus nunggu lama. Tapi Clara jadi lihat bagaimana ibu-ibu menghitung uang belanja dengan hati-hati.”

Wajah Clara perlahan berubah serius.

“Clara baru sadar mencari uang itu sulit.”

Bu Ida menatap putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Selama ini Clara terlalu gampang menghabiskan uang.”

“Kamu masih muda.”

“Tapi Clara sudah cukup besar untuk mengerti.”

Suara Clara terdengar lebih lembut sekarang.

“Dulu Clara pikir uang Ayah itu memang selalu ada. Clara tinggal minta.”

Bu Ida mengusap punggung tangan putrinya.

“Sekarang Clara tahu Ayah bekerja keras untuk semuanya.”

“Iya.”

Mereka kembali terdiam beberapa saat. Suara jangkrik terdengar samar dari taman belakang rumah.

Bu Ida tersenyum tipis.

“Ibu senang melihat kamu berubah.”

Clara menoleh.

“Benarkah?”

“Ibu sangat senang.”

Tatapan Bu Ida dipenuhi kebanggaan yang sulit disembunyikan.

“Dulu ibu selalu khawatir kamu tidak akan siap menghadapi dunia.”

Clara tertawa kecil.

“Sekarang juga Clara masih sering bingung.”

“Tidak apa-apa. Yang penting kamu mau belajar.”

Clara bersandar pelan di bahu ibunya.

“Aku ingin jadi lebih baik, Bu.”

“Kamu sudah berubah jauh.”

“Tapi Clara masih harus belajar banyak.”

Bu Ida mengelus rambut putrinya perlahan seperti saat Clara masih kecil.

“Ibu bangga sama kamu.”

Kalimat sederhana itu membuat dada Clara terasa hangat. Dulu dia terlalu sibuk mencari kebebasan sampai lupa betapa berharganya penghargaan dari orang tua sendiri.

Clara tersenyum kecil.

“Nanti Clara akan pulang.”

Bu Ida menatapnya.

“Dan jadi putri yang tidak manja lagi.”

“Tidak egois juga,” tambah Clara sambil tersenyum malu.

“Terdengar bagus.”

Mereka tertawa pelan bersama.

Tak lama kemudian terdengar langkah kaki mendekat dari arah rumah. Pak Agung muncul sambil membawa nampan kecil berisi camilan dan minuman hangat.

“Kalian masih ngobrol?” tanyanya.

“Sedang membicarakan Clara,” jawab Bu Ida.

Pak Agung duduk di kursi seberang mereka lalu meletakkan nampan di meja kecil.

“Semoga bukan membicarakan kejelekan Ayah.”

Clara tertawa kecil.

“Belum sampai situ.”

Pak Agung menggeleng sambil tersenyum tipis. Ia memperhatikan wajah putrinya beberapa saat sebelum akhirnya berbicara.

“Ayah sudah pikirkan sesuatu.”

Clara langsung curiga.

“Apa?”

“Ayah ingin memindahkan kontrakanmu.”

Clara berkedip pelan.

“Kenapa?”

“Ayah sudah lihat tempat tinggalmu.”

“Kontrakannya masih bagus.”

Pak Agung menghela napas.

“Bagus menurutmu mungkin berbeda dengan bagus menurut Ayah.”

“Clara nyaman di sana.”

“Kamar sempit, dapur kecil, kamar mandi seadanya. Itu bukan tempat yang pantas untuk kamu.”

Clara tersenyum kecil.

“Nanti Clara jadi terlalu nyaman kalau dipindahkan.”

Pak Agung menatap putrinya lekat-lekat.

“Ayah merasa bersalah.”

Clara sedikit terdiam.

“Karena membiarkan Clara tinggal di tempat seperti itu?”

Pak Agung mengangguk pelan.

“Seorang ayah bekerja keras supaya anaknya hidup nyaman. Tapi sekarang Ayah malah membiarkan putri Ayah hidup susah.”

Clara langsung menggeleng cepat.

“Ayah tidak membiarkan Clara susah.”

“Clara harus masak sendiri, cuci sendiri, kerja sendiri.”

“Dan Clara belajar banyak.”

Pak Agung diam.

Clara tersenyum kecil lalu berkata pelan,

“Sekecil apa pun tempatnya, Clara masih bisa istirahat dengan tenang di sana.”

Pak Agung memandang putrinya cukup lama. Ada sesuatu yang berbeda dari Clara sekarang. Cara bicara yang lebih tenang. Tatapan yang lebih lembut. Bahkan cara duduknya terasa lebih dewasa.

Bu Ida tersenyum samar melihat keduanya.

“Clara sekarang keras kepala seperti Ayahnya.”

“Ini bukan keras kepala,” bantah Clara.

“Lalu?”

“Ini namanya bertanggung jawab.”

Pak Agung tertawa kecil mendengarnya.

“Baru beberapa bulan hidup mandiri sudah pandai bicara.”

“Karena Clara belajar.”

Malam terus berjalan dengan obrolan ringan di dekat kolam ikan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Clara merasa benar-benar dekat lagi dengan kedua orang tuanya. Tidak ada pertengkaran. Tidak ada bentakan. Tidak ada tuntutan.

Hanya keluarga yang saling merindukan.

Setelah cukup lama mengobrol, Clara akhirnya pamit untuk beristirahat. Ia menaiki tangga rumah sambil membawa perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Begitu membuka pintu kamar, Clara langsung terdiam.

Kamarnya masih sama seperti terakhir kali ia tinggalkan.

Lampu gantung mewah menyala lembut. Tempat tidur besar dengan kasur empuk terlihat begitu nyaman. Lemari pakaian besar berdiri rapi di sudut ruangan. Meja rias penuh perlengkapan mahal masih tertata sempurna.

Berbeda sangat jauh dengan kontrakannya.

Di kontrakan, kamarnya sempit. Lemarinya kecil. Kipas angin kadang berisik. Kasurnya bahkan hanya cukup untuk satu orang.

Namun anehnya sekarang Clara tidak lagi memandang tempat itu dengan rasa benci.

Clara berjalan perlahan lalu menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur.

Bruk.

Dia langsung tertawa kecil sendiri.

“Empuk sekali…”

Clara berguling ke kanan lalu ke kiri sambil memeluk bantal besar di atas tempat tidur.

“Ini baru kasur manusia,” gumamnya pelan sambil tertawa.

Pendingin ruangan yang sejuk membuat tubuhnya langsung rileks. Bahkan kamar mandinya jauh lebih besar daripada dapur kontrakannya. Sungguh ironis. Manusia bisa hidup mewah begitu lama sampai lupa bersyukur, lalu baru sadar nilai kenyamanan setelah harus mencuci piring sendiri sambil berkeringat.

Clara menatap langit-langit kamarnya cukup lama.

Dulu dia selalu merasa kurang.

Kurang bebas.

Kurang diperhatikan.

Kurang dimengerti.

Padahal dia sudah memiliki begitu banyak hal yang tidak dimiliki orang lain.

Orang tua yang mencintainya.

Rumah nyaman.

Makanan enak.

Pakaian bagus.

Pendidikan baik.

Namun dia malah sibuk mengeluh.

Clara menutup wajahnya dengan bantal sebentar.

“Aku benar-benar bodoh…”

Kini setelah hidup sederhana, dia justru mulai mengerti arti kenyamanan yang sesungguhnya.

Bukan soal kamar besar atau AC dingin.

Tetapi rasa syukur.

Clara memejamkan mata sambil tersenyum kecil.

Malam ini dia ingin menikmati semua kenyamanan itu sejenak sebelum kembali ke kontrakannya besok.

Dan anehnya, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Clara tidak takut kembali ke sana.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!