NovelToon NovelToon
Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Berhenti Mengejar Tuan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: GABRIELA POSENTIA NAHAK

Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
​Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
​Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
​'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
​Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 : Detak Keajaiban Di Balik Penyesalan

Malam di Jakarta biasanya terasa angkuh dengan gemerlap lampu gedung yang dingin, seolah tak peduli pada lara manusia di bawahnya.

Namun, di dalam kamar utama mansion Arlan yang megah, suasananya begitu hangat hingga seolah mampu mencairkan salju terdalam yang pernah membeku di hati mereka.

Tiga bulan telah berlalu sejak mereka pulang dari ketenangan Yogyakarta, dan perubahan Arlan bukan lagi sekadar janji manis yang diucapkan untuk merayu.

Pria itu benar-benar menjelma menjadi sosok yang berbeda—sosok yang kini lebih hafal jadwal vitamin istrinya, jenis buah yang tidak membuat Kinara mual, hingga merek sabun mandi yang aman untuk ibu hamil, melainkan daripada jadwal rapat direksi yang bernilai triliunan rupiah.

​Arlan kini duduk bersimpuh di atas karpet bulu yang tebal, tepat di depan Kinara yang sedang bersandar di tumpukan bantal empuk.

Di tangan Arlan, terdapat sebuah botol minyak zaitun hangat.

Dengan gerakan yang sangat pelan, seolah sedang menyentuh porselen paling mahal dan rapuh di dunia, Arlan memijat kaki Kinara yang mulai sedikit membengkak akibat usia kehamilan yang terus bertambah.

​"Sakit?" tanya Arlan pelan.

Suaranya yang dulu sering terdengar seperti guntur yang menggelegar, kini melembut seperti bisikan angin sore. Ia mendongak, menatap wajah istrinya dengan tatapan yang sangat memuja—tatapan seorang pria yang baru saja menemukan harta karun setelah seumur hidup tersesat di padang gurun.

​Kinara menggeleng lembut, jemarinya yang lentik mengelus rambut hitam Arlan yang kini terlihat lebih rapi dan lembut.

"Tidak, Sayang. Ini terasa sangat nyaman. Tapi kamu baru pulang kerja, harusnya kamu yang istirahat. Aku bisa minta tolong pelayan untuk memijatku."

​"Istirahatku adalah melihatmu tersenyum, Kin. Aku tidak butuh yang lain," jawab Arlan mutlak, sebuah perintah posesif namun kali ini dibalut dengan kasih sayang yang tulus.

Ia meletakkan botol minyak itu, lalu berpindah duduk di samping Kinara.

Tangannya secara otomatis mendarat di atas perut Kinara yang kini sudah tampak membuncit nyata di balik daster sutra tipisnya.

​Arlan memejamkan mata, merasakan kehangatan yang merambat dari rahim istrinya ke telapak tangannya.

"Kin... setiap kali aku menyentuh perutmu, aku merasa seolah Tuhan sedang memberikan pengampunan padaku. Setiap gerakan di dalam sini adalah bukti bahwa aku diberikan kesempatan kedua. Aku sering merasa... aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan sebesar ini setelah semua luka yang aku goreskan di hatimu dulu."

​Kinara menggenggam tangan Arlan yang lebar, membawa telapak tangan pria itu ke pipinya yang kini lebih berisi.

"Jangan bicara soal masa lalu lagi, Arlan. Bayi ini hadir bukan untuk menghukummu atas kesalahan kemarin, tapi untuk mencintaimu di masa depan."

​Tiba-tiba, Arlan terdiam.

Matanya yang tajam membelalak lebar.

Ia merasakan sesuatu dari balik telapak tangannya yang menempel di perut Kinara. Sebuah gerakan kecil. Lembut, namun sangat bertenaga. Seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam, seolah-olah sebuah tangan mungil sedang mencoba menyapa telapak tangan ayahnya yang perkasa.

​Deg.

​Jantung Arlan seolah berhenti berdetak selama satu detik. Seluruh saraf di tubuhnya menegang dalam rasa takjub yang luar biasa.

​"Kin... dia... dia bergerak?" suara Arlan bergetar hebat, nyaris pecah. Ia menatap perut Kinara dengan wajah yang pucat pasi karena terkejut bercampur haru yang membuncah.

​Kinara tersenyum, meski air matanya mulai menggenang di pelupuk mata. "Iya, Arlan. Itu tendangannya. Dia menyapamu. Dia tahu ayahnya sedang ada di sini."

​Arlan kembali menempelkan tangannya, kali ini lebih erat namun tetap sangat hati-hati.

Dan sekali lagi, gerakan itu muncul. Kali ini lebih kuat, seolah si kecil di dalam sana sedang berusaha meraih keberadaan pria yang akan menjadi pelindungnya seumur hidup.

​Seketika itu juga, air mata jatuh dari mata Arlan yang selama ini dikenal dingin dan tak kenal ampun. Pria yang biasanya berdiri tegak menghadapi badai bisnis itu kini terisak tanpa suara. Ia menempelkan telinganya di perut Kinara, mendengarkan detak kehidupan yang paling nyata dan paling suci yang pernah ia temui sepanjang hidupnya yang penuh dosa.

​"Halo, Sayang... ini Ayah..." bisik Arlan dengan suara yang pecah karena tangis syukur.

"Terima kasih... terima kasih sudah bergerak untuk Ayah. Maafkan Ayah yang baru menemuimu sekarang... Maafkan Ayah yang dulu hampir saja membuatmu tidak memiliki rumah yang utuh..."

​Arlan menangis sesenggukan di pangkuan Kinara.

Ini adalah momen yang paling menghancurkan egonya, sekaligus membangun kembali puing-puing jiwanya yang sempat mati. Baginya, tendangan itu adalah tanda—sebuah segel bahwa ia benar-benar telah dimaafkan oleh alam semesta.

​Keesokan harinya, perubahan Arlan semakin menjadi-jadi.

Ia mengajak Kinara ke sebuah ruangan yang selama ini menjadi pusat kekuatannya yang kelam—ruang penyimpanan dokumen rahasia Arlan Group.

Ruangan itu dingin, penuh dengan lemari besi dan aroma kertas tua yang kaku. Di tengah ruangan, Arlan sudah menyiapkan sebuah mesin penghancur kertas berukuran besar.

​"Untuk apa kita ke sini, Arlan? Tempat ini membuatku sesak," tanya Kinara bingung sambil mengeratkan kardigannya.

​Arlan mengambil sebuah map hitam tebal dari brankas paling bawah.

Map yang berisi seluruh bukti utang keluarga Kinara, dokumen penyitaan aset yang sah secara hukum, dan surat-surat kontrak pernikahan yang menjerat Kinara selama ini. Segala hal yang menjadi "rantai" dan "cambuk" bagi Kinara ada di sana, tersusun rapi.

​"Aku tidak ingin ada bayang-bayang masa lalu yang busuk di rumah kita, Kin," ucap Arlan tegas dengan sorot mata yang jujur.

​Tanpa ragu sedikit pun, Arlan memasukkan satu per satu dokumen itu ke dalam mesin penghancur. Suara mesin yang berderit memotong kertas-kertas itu seolah menjadi suara simfoni kebebasan bagi Kinara.

Dokumen yang selama ini membuat Kinara merasa seperti tawanan yang dibeli, kini berubah menjadi potongan kertas kecil tak berarti yang beterbangan.

​"Mulai hari ini, kamu bebas, Kinara. Kamu bukan lagi tawanan kontrakku, bukan lagi jaminan atas utang ayahmu. Kamu adalah istriku karena cinta, bukan karena paksaan hukum," Arlan menyerahkan sebuah map baru berwarna putih bersih.

"Dan ini... adalah surat balik nama semua aset ayahmu yang pernah aku sita. Aku mengembalikannya padamu. Semuanya, tanpa sisa. Sekarang, kamu adalah wanita terkaya yang mandiri, dan jika kamu tetap bersamaku, itu karena kamu memang menginginkanku, bukan karena aku menahan hartamu."

​Kinara terpaku. Ia menatap potongan kertas yang hancur, lalu menatap map putih di tangannya. Ia tidak pernah menyangka Arlan akan melepaskan "senjata" terbesarnya.

​"Arlan... ini terlalu banyak. Bagaimana jika aku pergi setelah ini?" tanya Kinara lirih, menguji ketulusan pria itu.

​Arlan tersenyum pahit namun lembut. Ia menarik Kinara ke dalam dekapan hangatnya, mencium puncak kepala istrinya.

"Jika kamu pergi karena sekarang kamu punya pilihan, maka itu adalah kegagalanku sebagai suami. Tapi aku akan terus berjuang agar kamu memilih untuk tetap di sini. Aku ingin anak kita lahir di atas fondasi cinta yang bersih dari manipulasi, bukan di atas tumpukan dendam yang berkarat."

​Sore harinya, Arlan menunjukkan kejutan lain. Ia membawa Kinara ke ruangan yang dulu merupakan gudang koleksi jam tangan mewahnya yang bernilai miliaran. Ruangan itu kini sudah berubah total. Dindingnya dicat dengan warna krem yang lembut, jendelanya diperbesar agar cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa.

​Di tengah ruangan terdapat sebuah tempat tidur bayi (crib) yang terbuat dari kayu ek pilihan, dihiasi dengan mainan gantung yang berputar lembut. Arlan bahkan terlihat kikuk saat mencoba menunjukkan tumpukan baju bayi yang sudah ia beli sendiri tanpa bantuan asistennya.

​"Aku yang memilihkan ini, Kin. Katanya bahan ini yang paling lembut untuk kulit bayi," ujar Arlan sambil memamerkan sebuah baju kecil berwarna putih. "Aku juga memesan beberapa buku cerita. Aku ingin membacakan cerita untuknya setiap malam, supaya dia tahu suara ayahnya adalah tempat paling aman di dunia."

​Kinara tidak bisa menahan tawa harunya melihat pria tangguh itu kini begitu sibuk dengan urusan popok dan baju bayi. Ia bisa melihat Arlan yang dulu—pria kesepian yang haus akan kasih sayang—kini sedang belajar memberikan kasih sayang yang melimpah agar anaknya tidak merasakan kehampaan yang sama dengannya.

​Malam itu, mereka kembali ke kamar utama. Arlan tidak henti-hentinya mengobrol dengan perut Kinara, menceritakan tentang rencana liburan mereka setelah persalinan, tentang bagaimana ia akan mengajarkan anaknya berkuda suatu saat nanti, dan betapa ia tidak sabar ingin melihat mata kecil yang mirip dengan ibunya itu.

​"Dia akan mirip denganmu, Kin. Cantik, tegar, dan punya hati selembut malaikat yang mampu memaafkan pria seburuk aku," bisik Arlan tepat sebelum mereka terlelap.

​"Atau mungkin dia akan tampan, kuat, dan sangat melindungi seperti ayahnya yang kini sudah menjadi pahlawanku," sahut Kinara dengan nada tulus yang membuat Arlan tersenyum dalam tidurnya.

​Dalam pelukan Arlan yang protektif namun penuh kasih, Kinara menyadari satu hal: penderitaannya benar-benar telah berakhir.

Penyesalan Arlan telah bermetamorfosis menjadi pengabdian yang luar biasa.

Dan tendangan kecil di rahimnya adalah janji bisu bahwa masa depan mereka akan jauh lebih indah dari apa pun yang pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Penyesalan Arlan bukan lagi luka, melainkan pupuk yang menumbuhkan cinta baru yang jauh lebih kuat.

catatan :

heiiii gaysss gimanaa?????? bagus ngajak menurut kalian😭🤭 oh ya btww ikuti terus aku aku yah...kamu semua jangan lupa komen xixxixixii🤍🤍

iluvyouuuu so much💋💋

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!