Sihirnya tajam, hampir terlalu sempurna untuk usianya. Mantra yang lain pelajari selama bertahun-tahun, ia pahami hanya dalam hitungan detik. Namun, setiap kilau kekuatan yang ia tunjukkan justru menjadi bayangan yang menjauhkannya dari yang lain.
Mereka menyebutnya dingin.
Mereka menyebutnya sombong.
Padahal, yang tak pernah mereka lihat adalah badai sunyi yang ia peluk sendirian.
Evelyn tidak pernah memilih untuk menjadi berbeda. Tapi sihir di dalam dirinya… terasa seperti sesuatu yang hidup—berdenyut, berbisik, seolah menyimpan rahasia yang bahkan ia sendiri takut untuk sentuh.
Dan di balik tatapan tenangnya, tersembunyi pertanyaan yang terus mengendap:
Apakah ia mengendalikan sihir itu… atau justru sedang perlahan dikuasai olehnya?
- Believe in magic -
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bidadari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Meja Makan yang Terlalu Sunyi
Malam itu, lampu-lampu kota berkilauan seperti bintang yang jatuh ke bumi saat mobil berhenti di depan sebuah restoran mewah. Kaca besar memantulkan cahaya hangat dari dalam, memperlihatkan suasana elegan yang tenang dan berkelas. Laura Roberts turun perlahan, matanya langsung menyapu bangunan itu dengan rasa takjub yang ia coba sembunyikan.
Begitu melangkah masuk, suasana berubah. Tidak ada keramaian seperti di mall. Tidak ada suara keras atau tawa berlebihan. Hanya alunan musik lembut, denting halus peralatan makan, dan percakapan pelan yang hampir seperti bisikan.
Laura langsung merasa… canggung.
Langkahnya sedikit ragu saat mengikuti Nyonya Quenza menuju meja mereka. Semua orang duduk dengan rapi, berbicara dengan nada terkontrol, dan bergerak dengan elegan. Tidak ada gerakan spontan, tidak ada kekacauan seperti yang ia lihat sebelumnya.
“Duduklah, Laura,” ujar Nyonya Quenza lembut.
Laura mengangguk dan duduk perlahan. Matanya menatap meja di depannya—terdapat banyak sekali alat makan. Sendok, garpu, pisau, dengan ukuran berbeda-beda tersusun rapi seperti barisan prajurit yang siap diuji.
Ia menelan ludah.
“Kenapa… alatnya banyak sekali?” bisiknya pelan, lebih pada dirinya sendiri.
Martin, yang duduk di seberangnya, langsung mengangkat alis. Ia memperhatikan Laura beberapa detik sebelum akhirnya berkata dengan nada tajam, “Kamu itu bukankah orang berkelas? Mengapa jadi kampungan seperti ini?”
Kalimat itu jatuh seperti batu kecil yang menciptakan riak besar di hati Laura.
Ia terdiam.
Tangannya yang semula ingin menyentuh sendok, langsung berhenti.
“Aku…” Laura membuka suara, tapi kata-katanya tertahan. Ia tidak tahu harus menjelaskan apa. Semua ini terlalu asing baginya—aturan makan, alat-alat, bahkan cara duduk yang harus terlihat sempurna.
Nyonya Quenza langsung menatap Martin tajam. “Martin, jaga ucapanmu.”
Martin mendengus pelan, tapi tidak membantah. “Aku hanya heran. Dia seharusnya sudah terbiasa dengan hal seperti ini.”
Laura menunduk sedikit. “Aku hanya… belum terbiasa,” katanya pelan, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
Pelayan datang membawa menu. Laura mengambilnya dengan hati-hati, matanya menyapu daftar makanan yang tidak ia kenal. Nama-nama yang terdengar asing, susunan kata yang rumit, dan harga yang membuatnya berpikir dua kali.
“Pilih saja yang kamu mau,” ujar Nyonya Quenza lembut.
Laura menatap menu itu lama. “Semua terlihat… aneh,” bisiknya. “Aku tidak tahu mana yang harus dipilih.”
Martin menghela napas panjang. “Itu hanya makanan. Tidak ada jebakan di dalamnya.”
Laura mengangkat wajahnya, menatap Martin sekilas, lalu kembali melihat menu. “Tapi… bentuknya saja tidak seperti makanan biasa.”
Nyonya Quenza tersenyum. “Tidak apa-apa. Mommy yang pilihkan untukmu, ya. Kamu bisa mencoba sedikit demi sedikit.”
Laura mengangguk pelan. Ia merasa seperti anak kecil yang baru belajar sesuatu yang seharusnya sudah ia kuasai.
Tak lama kemudian, makanan datang satu per satu. Piring-piring cantik dengan hiasan yang terlalu rapi, porsi kecil, tapi terlihat sangat mahal.
Laura menatapnya lama.
“Ini… dimakan?” tanyanya pelan.
Martin langsung menatapnya dengan ekspresi tak percaya. “Kalau bukan dimakan, mau kamu simpan sebagai pajangan?”
Laura mencebik kecil, tapi tidak membalas. Ia mengambil garpu dengan ragu, mencoba meniru gerakan orang di sekitarnya. Namun tangannya kaku, dan gerakannya terasa canggung.
Ia mencoba memotong makanan itu, tapi potongannya berantakan.
Martin menggeleng pelan. “Serius, Laura… kamu benar-benar membuatku bertanya-tanya. Kamu ini amnesia saja atau kehilangan seluruh pengetahuan dasar?”
Laura menatapnya, kali ini sedikit kesal. “Aku hanya belum terbiasa. Tidak semua orang langsung bisa memahami semuanya.”
Martin terdiam sejenak, lalu mendengus. “Alasan yang sama terus.”
Nyonya Quenza menatap Laura dengan lembut. “Tidak apa-apa, sayang. Lihat Mommy, ya.”
Laura memperhatikan dengan seksama bagaimana Nyonya Quenza memegang pisau dan garpu, bagaimana ia memotong makanan dengan rapi, lalu menyuapnya dengan elegan.
Laura mencoba meniru lagi. Kali ini lebih hati-hati. Gerakannya masih kaku, tapi setidaknya lebih baik.
Ia memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Dan seketika, matanya sedikit melebar.
Rasanya… berbeda. Lembut, kompleks, dengan kombinasi rasa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Tidak sederhana seperti yang ia coba di mall tadi. Ini lebih halus, lebih… dalam.
“Bagaimana?” tanya Nyonya Quenza.
Laura mengangguk pelan. “Aneh… tapi enak.”
Martin mengangkat alis. “Aneh tapi enak? Deskripsi yang sangat… tidak berkelas.”
Laura menghela napas pelan, tapi tidak membalas. Ia kembali mencoba makan, kali ini lebih fokus.
Perlahan, ia mulai memahami ritme makan di tempat ini. Tidak terburu-buru, tidak berisik, dan penuh perhatian pada detail.
Namun tetap saja, ia merasa asing.
Bukan hanya karena makanan atau alat makan, tapi karena suasana. Semua orang tampak tahu apa yang harus dilakukan, sementara ia harus belajar dari nol.
Ia menatap sekeliling.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari sesuatu—
Menjadi manusia bukan hanya tentang hidup dan bernapas. Tapi juga tentang memahami aturan-aturan tak terlihat yang mengikat kehidupan mereka. Cara duduk, cara makan, cara berbicara… semuanya memiliki makna.
Ia menarik napas panjang.
Martin memperhatikannya dari seberang meja, lalu berkata pelan, “Setidaknya kamu mulai terlihat seperti manusia normal sekarang.”
Laura menatapnya sekilas, lalu tersenyum tipis. “Aku sedang belajar.”
Martin mendengus pelan, tapi kali ini tidak ada nada kesal yang kuat.
Malam itu berlanjut dengan suasana yang lebih tenang. Laura masih canggung, masih sering salah, tapi ia tidak berhenti mencoba.
Dan di balik semua itu, ia menyimpan satu hal dengan rapat—
Rahasia bahwa ia bukan hanya seorang wanita yang sedang belajar hidup…
Tapi seseorang yang benar-benar memulai kehidupan dari awal.