Enam tahun menunggu suami pulang dari Korea, Nandin percaya semua pengorbanannya akan terbayar. Ia membesarkan dua anak kembar seorang diri, bekerja siang malam demi menyambung hidup, sementara suaminya tak pernah mengirim nafkah sedikit pun.
Namun kepulangan suaminya justru membawa surat perceraian.
Pengkhianatan itu menghancurkan hidup Nandin hingga ia kehilangan kewarasannya dan harus menjalani rehabilitasi di sebuah pondok di Jawa Timur. Terpisah dari kedua putri yang sangat dicintainya, Nandin berjuang bangkit dari luka yang nyaris merenggut hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dhatu Lukita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah yang Kehilangan Cahaya
Ada kesedihan yang datang perlahan.
Seperti hujan gerimis yang semakin lama semakin deras.
Namun ada juga kesedihan yang datang sekaligus.
Menghantam.
Menghancurkan.
Lalu meninggalkan kehampaan yang begitu besar.
Dan saat mobil yang ditumpangi Nandin akhirnya memasuki halaman rumah sakit di Jawa Tengah menjelang subuh, ia tahu dirinya tidak akan pernah menjadi orang yang sama lagi.
Perjalanan semalaman terasa seperti mimpi buruk yang tidak kunjung selesai.
Shella dan Sherly tertidur bergantian di pangkuannya.
Kadang menangis karena tidak nyaman.
Kadang terbangun lalu kembali tidur.
Sementara Nandin hanya memandangi jalanan gelap di balik jendela mobil.
Diam.
Sangat diam.
Karena pikirannya terlalu penuh.
Sampai sekarang.
Sampai mobil benar-benar berhenti di depan rumah sakit.
Sebagian dirinya masih berharap.
Berharap semua ini salah.
Berharap terjadi kesalahan identitas.
Berharap seseorang akan keluar dan berkata,
"Maaf Bu, ada kesalahan data."
Namun hidup tidak selalu memberi keajaiban.
Kadang hidup hanya memberi kenyataan.
Dan kenyataan sering kali sangat kejam.
Seorang petugas rumah sakit menyambutnya.
Wajah pria itu tampak iba.
Tatapan yang langsung membuat hati Nandin runtuh.
Karena orang yang bersimpati seperti itu biasanya tidak sedang membawa kabar baik.
"Bu Nandin?"
"Iya."
"Mari ikut saya."
Langkah Nandin terasa berat.
Sangat berat.
Seolah kakinya menolak bergerak.
Namun ia tetap berjalan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sampai akhirnya tiba di depan ruangan yang tidak pernah ingin ia masuki.
Kamar jenazah.
Tangannya mulai gemetar.
"Bu..."
kata petugas itu pelan.
"Kuat ya."
Dan kalimat sederhana itu cukup untuk membuat air mata kembali jatuh.
Karena saat orang lain mulai menyuruh kita kuat.
Biasanya memang ada sesuatu yang sangat menyakitkan di depan sana.
Pintu dibuka.
Dunia Nandin berhenti.
Dua ranjang.
Dua tubuh tertutup kain putih.
Ayah.
Dan Ibunya.
"Ayah..."
Suaranya pecah.
Tubuhnya langsung lemas.
"Nggak..."
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya meledak.
Ia berlari.
Mendekati salah satu ranjang.
Tangannya gemetar saat membuka bagian wajah.
Dan di situlah.
Untuk terakhir kalinya.
Ia melihat ayahnya.
Pria yang selama ini selalu terlihat kuat.
Pria yang selalu membela dirinya.
Pria yang selalu datang saat ia kesulitan.
Kini terbaring diam.
Sangat diam.
Tidak akan pernah bangun lagi.
"Ayah..."
Tangis Nandin pecah begitu keras.
"Ayah bangun..."
"Ayah..."
Tidak ada jawaban.
Tidak akan pernah ada jawaban lagi.
Di ranjang sebelah.
Ibunya juga terbaring tenang.
Wajah yang selama ini selalu tersenyum saat video call.
Wajah yang selalu bertanya apakah dirinya sudah makan.
Wajah yang selalu mengkhawatirkannya.
Kini membisu.
Selamanya.
"Ibu..."
Nandin memeluk tubuh ibunya yang sudah dingin.
Dan saat itulah.
Untuk pertama kalinya dalam hidup.
Ia benar-benar merasa menjadi yatim piatu.
Hari itu menjadi hari terpanjang dalam hidup Nandin.
Mengurus administrasi.
Menghubungi keluarga jauh.
Mengurus ambulans.
Mengurus pemulangan jenazah.
Semuanya terasa seperti mimpi.
Karena setiap beberapa menit sekali.
Ia masih berharap terbangun.
Namun kenyataan tidak berubah.
Ayah dan Ibunya benar-benar sudah pergi.
Rumah kecil di Jawa Barat yang biasanya hangat kini dipenuhi pelayat.
Tetangga.
Saudara jauh.
Teman lama.
Semua datang.
Semua menangis.
Karena kedua orang tua Nandin memang dikenal baik.
Ayahnya sering membantu warga.
Ibunya aktif di pengajian.
Dan sekarang keduanya pergi bersamaan.
Meninggalkan luka yang terlalu besar.
Shella dan Sherly tidak benar-benar mengerti apa yang terjadi.
Mereka hanya tahu banyak orang menangis.
Dan Eyang yang biasanya menyambut mereka di depan rumah kini tidak ada.
“Nenne nana?”
(Nenek mana?)
tanya Sherly.
Pertanyaan itu membuat hati Nandin seperti diremas.
"Nenek lagi istirahat."
jawabnya sambil menahan tangis.
Karena bagaimana mungkin ia menjelaskan kematian kepada anak berusia satu tahun.
Malam pertama setelah pemakaman menjadi malam yang sangat berat.
Rumah itu terasa kosong.
Biasanya ada suara Ayah menonton berita.
Biasanya ada suara Ibu dari dapur.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Hanya kesunyian.
Dan kesunyian sering kali lebih menyakitkan daripada tangisan.
Hari kedua.
Hari ketiga.
Hari keempat.
Pelayat masih berdatangan.
Nandin hampir tidak punya waktu untuk benar-benar berduka.
Karena ia harus menyambut tamu.
Mengurus konsumsi.
Mengurus doa bersama.
Mengurus banyak hal.
Namun justru kesibukan itu yang menyelamatkannya.
Karena kalau tidak sibuk.
Ia akan terus menangis.
Hari ketujuh.
Tahlilan terakhir.
Rumah mulai sepi.
Saudara-saudara mulai pulang.
Tetangga juga kembali ke aktivitas masing-masing.
Dan untuk pertama kalinya.
Nandin benar-benar sendirian dengan kesedihannya.
Malam itu.
Ia duduk di kamar lama miliknya.
Kamar yang tidak berubah sejak ia menikah.
Lemari tua masih ada.
Meja belajar masih ada.
Bahkan boneka masa kecilnya masih tersimpan rapi.
Dan semua itu membuat dadanya semakin sesak.
Karena tidak ada lagi orang yang menunggunya pulang ke rumah ini.
Tidak ada lagi.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Rina.
Awalnya Nandin hampir tidak membukanya.
Karena pikirannya masih dipenuhi duka.
Namun nama Rina membuatnya teringat sesuatu.
Wisnu.
Seline.
Rahasia yang sempat terlupakan selama tujuh hari terakhir.
Dengan tangan lelah ia membuka pesan itu.
"Mbak."
"Iya Rin."
"Aku dapat kabar."
Deg.
Jantung Nandin langsung berdetak lebih cepat.
"Kabar apa?"
Balasan datang cepat.
"Seline pulang ke Indonesia hari ini."
Nandin langsung duduk tegak.
"Pulang?"
"Iya."
"Katanya cuti."
Napas Nandin terasa berat.
Karena selama ini.
Seline hanya sebuah nama di layar.
Hanya foto.
Hanya akun media sosial.
Tapi sekarang.
Perempuan itu ada di Indonesia.
Tidak jauh.
Tidak lagi ribuan kilometer.
"Kamu tahu dia tinggal di mana?"
ketik Nandin.
Rina tampak ragu.
Lalu beberapa menit kemudian.
Pesan panjang masuk.
"Mbak."
"Aku sebenarnya nggak mau ikut campur terlalu jauh."
"Tapi aku kasihan sama Mbak."
"Ini alamat rumahnya."
Jantung Nandin berdegup keras.
Alamat.
Akhirnya.
Setelah berminggu-minggu mencari.
Ia memiliki sesuatu yang nyata.
Sesuatu yang bisa membawanya pada jawaban.
Nama:
Seline Amanda.
Alamat:
Sebuah desa kecil di Jawa Tengah.
Tidak terlalu jauh dari tempat ia berada sekarang.q
Bahkan hanya beberapa jam perjalanan.
Nandin menatap layar lama.
Sangat lama.
Karena ia tahu.
Kalau pergi ke sana.
Mungkin hidupnya akan berubah.
Selamanya.
Malam itu.
Ia tidak bisa tidur.
Bukan karena sedih.
Atau setidaknya bukan hanya karena sedih.
Melainkan karena untuk pertama kalinya.
Dua jalan besar dalam hidupnya bertemu.
Kehilangan orang tua.
Dan kebenaran tentang Wisnu.
Dan entah kenapa.
Ia merasa keduanya tidak datang secara kebetulan.
Seolah Tuhan sedang mempersiapkannya.
Memaksanya menjadi lebih kuat.
Sebelum menghadapi kenyataan yang lebih besar.
Pagi menjelang.
Matahari mulai muncul di balik jendela.
Shella dan Sherly masih tertidur di sampingnya.
Nandin memandangi wajah kedua putrinya lama.
Lalu menarik napas dalam.
Apa pun yang menunggunya di rumah Seline nanti...
Ia harus tahu.
Karena selama ini ia sudah terlalu lama hidup dalam kebohongan.
Dan untuk pertama kalinya.
Setelah bertahun-tahun hanya menangis dan bertahan.
Nandin memutuskan untuk mencari jawabannya sendiri.
Meski mungkin jawaban itu akan menghancurkan seluruh sisa harapan yang masih ia miliki.