Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CEMBURU
"Tolong antarkan makanan ke rumah depan, Kak!" pinta Tante Lusi pada sang putra yang baru saja bergabung di meja makan.
"Ke siapa?" tanya Salman heran. Mereka masih baru tinggal di kompleks ini, sang mama sudah dekat saja dengan para tetangga, bukannya kemarin baru selesai tasyakuran ya. Kok masih bagi-bagi makanan? Pikir Salman.
"Tetangga depan itu namanya Tania, tadi pagi saat mama kirim makanan dia itu sakit, mama juga antar ke rumah sakit, mama pikir kamu praktik, ternyata ditangani dokter lain," ujar mama sembari menyodorkan semangkuk sop iga pada sang putra agar segera mengantarkan pada Tania.
"Ck, kenapa gak mama sendiri sih?" protes Salman tapi tetap saja berangkat membawa semangkuk sop iga dan nasi dalam rantang, ke rumah depan. Tante Lusi tersenyum saja melihat respon sang putra. Sengaja memang, siapa tahu Salman mau dekat dengan Tania.
"Permisi, paket!" teriak Salman sembarangan. Agak lama pagar rumah Tania tak segera dibuka, bahkan bel rumah sudah dipencet entah berapa kali. Salman sampai frustasi, saat dia hendak berbalik terdengar suara balasan sebentar.
Salman berdecak sebal, tapi tetap ditunggu hingga seorang perempuan pucat mendekatinya. "Paketan dari Bu Lusi, rumah depan!" ujar Salman ketus, dan Tania tersenyum tipis.
"Terimakasih," jawabnya sembari membuka pintu pagar, tanpa berkata apapun. Salman melongo, cuma diberi ungkapan terimakasih dan langsung ditinggal pergi tanpa bertanya siapa Salman.
"Kok ada sih tetangga yang sombong sekali," omel Salman ketika pulang, dan mengoceh kepada mama.
"Emang kenapa?" Salman menceritakan kejadian saat mengantar sop iga ke rumah Tania, dan bagaimana responnya. Mama malah tertawa.
"Ya kamu bilangnya paket, ya dipikir kang paket beneran lah!" Salman hanya berdecak sebal, sang mama malah bela tuh cewek.
Tania sendiri langsung memakan sop iga tersebut, perutnya sangat lapar. Apalagi masih hangat begitu, terasa nyaman di lambung. Ia makan dengan lahap. "Besok aku gantian ah mau kasih sesuatu ke Tante Lusi," pikir Tania yang memang merasa sudah baikan.
Dia berniat membelikan nasi uduk di area lari pagi, langganannya, paling enak dan Tania yakin Tante Lusi belum pernah merasakan nasi uduk tersebut, maklum penghuni baru di kompleks ini. Sebelum jam 6, Tania sudah jalan pagi, sekaligus beli nasi uduk tersebut 3 porsi, khawatir telat ke kantor, Tania pun segera memberikan dua porsi untuk Tante Lusi, tak enak dong masa' kasih cuma satu.
Begitu sampai di depan rumah Tante Lusi, ternyata ada seorang laki-laki yang sudah berpakaian formal hendak membuka pagar. "Tante Lusinya ada?" tanya Tania, sepertinya dia lupa siapa laki-laki di hadapannya sekarang.
"Ada! Mau bertemu?" tanya Salman ketus, Tania agak heran dengan respon pria ini, kenapa mendadak jutek.
"Ah, cuma mau kasih ini. Kemarin sudah memberi saya sop iga," ujar Tania sembari menyodorkan dua bungkus nasi uduk tersebut. Salman hanya mengangguk, dan mengambil kantong kresek tersebut, tanpa mengucap terima kasih. Salman mau balas dendam saja, dicuekin.
"Sampaikan salam saya terimakasih pada Tante Lusi, saya pamit dulu!" ujar Tania tak enak berlama-lama karena laki-laki ini sepertinya tak ramah. Baru juga Tania mau melangkah menuju rumahnya, Salman memanggil Tania.
"Tunggu, Mbak. Sori saya lupa bilang makasih," ujar Salman, sembari mengulurkan tangannya, Tania hanya menatap tangan Salman, lalu membalas uluran tangan tersebut.
Sialnya, interaksi keduanya diamati oleh Lingga. Kemarin dia tak berani langsung ke rumah Tania, karena sang papa mengirim pesan padanya jangan sampai ada adegan kasih oleh-oleh ke perempuan murahan itu. Sehingga Lingga memilih pagi ini.
Badannya capek, hatinya jengkel, pemandangan di depan mata juga membuat makin emosi. Lingga langsung turun mobil, dan berdehem. Membuyarkan kedekatan mereka. Baik Tania dan Salman hanya menoleh tanpa ekspresi berlebih.
"Sudah selesai urusannya?" tanya Lingga dengan menatap Tania tajam, tak lupa melirik sebentar pada Salman. Tania tak membalas. Ia segera pamit pada saja.
"Ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya Lingga yang berjalan di belakang Tania.
"Bukean urusan kamu, Ngga!" jawab Tania sedikit ketus. Mendadak dirinya juga marah, mengingat foto ciuman Lingga dan Calista tempo hari.
"Cowok baru?" tanya Lingga sembari menahan lengan Tania, agar perempuannya itu berhenti dan menjelaskan siapa lelaki itu.
Tania tersenyum sinis, "Aku bilang bukan urusan kamu, Ngga. Kita udah putus dan kamu sudah punya kehidupan baru!"
"Sejak awal aku bilang, kamu tetap jadi pacarku Tania, nikah cuma status, dan tidak akan menjadi suami istri beneran antara aku dan Calista," jelas Lingga agar Tania percaya padanya.
"Oh ya? Tidak akan menjadi suami istri sebenarnya? Tapi kalian bulan madu, bahkan keintiman kalian terupload di media sosial dan dilihat oleh semua orang, yakin gak pakai hati?" sindir Tania dengan tersenyum meremehkan.
"Kamu cemburu?" Lingga tersenyum merasa senang karena Tania masih punya hati padanya, meski setengah mati ingin lepas dari Lingga.
"Aku gak ada hak buat cemburu, kalau aku cemburu, aku bakal terkungkung dalam hubungan kita yang gak jelas. Cuma aku merasa saja, oh ternyata laki-laki yang katanya mencintai aku, bisa kok ciuman dengan istrinya," Tania membalikkan keadaan hingga Lingga kalang kabut, tak suka Tania punya pikiran Lingga sudah menerima Calista dalam hidup laki-laki itu.
"Sumpah, Tania. Kita hanya pura-pura karena ada reporter gosip yang menguntit kita," jelas Lingga sesuai bujukan Calista dulu.
"Anggap saja aku percaya," ujar Tania lalu berbalik, ingin masuk rumah saja, namun Lingga kembali menahannya.
"Please aku masih cinta banget sama kamu, selama bulan madu aku terus kepikiran sama kamu, Tania. Aku harap kamu pun begitu, tersiksa jauh dari aku!"
Tania menggeleng, ia dengan lembut melepaskan cengkraman Lingga. "Aku memaksa rasaku agar tak berharap lagi sama kamu, Ngga. Aku gak mau dianggap pelakor, tolong jaga jarak sama aku, karena aku juga mau hidup tenang tanpa teror dari papa kamu!"
"Tania, please, jangan egois. Kita masih saling cinta, tak perlu memikirkan orang lain, bahkan Calista sendiri punya kekasih dan masih berhubungan, kita pun juga bisa!" mohon Lingga, namun Tania tetap menggeleng.
"Aku bukan Calista, aku punya prinsip. Aku tak mau dengan suami orang," ujar Tania.
Lingga terdiam, menatap Tania lekat, "Sekeras ini gak mau sama aku, karena kamu sudah punya penggantiku? Iya?" Lingga terpancing emosi.
"Terserah kamu berpikir seperti apa," Tania tak mau menjelaskan apa-apa lagi, terserah bagaimana Lingga menilai dirinya.
"Pastinya, kamu perempuan hyper, tentu tak mungkin bisa lama sendiri, dan aku yakin kamu sudah main dengan laki-laki depan rumah kamu itu, Iya kan?" Lingga tak bisa menguasai emosinya, sehingga tuduhan keji pada Tania tak tertahan. Perempuan itu hanya diam, lalu masuk rumah, tak mau menggubris Lingga lebih lama.
GO go Tania semangat