Kartini berparas ayu tapi gemuk bekerja sebagai perawat kakek jompo yang bernama Chandresh. Walaupun berbadan gendut, Kartini bekerja dengan gesit dan merawat kakek seperti orang tuanya sendiri. Ketulusan hati Kartini membuat Chandresh kakek kaya raya itu ingin menjodohkan Kartini dengan cucunya yang bernama Arga Dhiendra Chandresh.
Arga menolak tegas karena ia sudah mempunyai kekasih yang bernama Nadine, tetapi ancaman kakek akan menggantikan posisi jabatan Ceo yang Arga emban kepada saudara sepupunya bila tidak mau menikahi Kartini membuat Arga Dhirendra bingung untuk ambil keputusan.
Nah, apakah Arga akhirnya menerima Kartini sebagi Istri? Kita ikuti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
"Ada apa Non? Saya mau lewat," kata Kartini tetap menanggapi dengan tenang ketika dua wanita salah satu diantaranya adalah Nadine menghadang langkahnya. Kekasih Arga itu berdandan habis-habisan tampak mencolok di antara tamu-tamu yang lain.
"Mau usir kamu!" Gadis itu berdiri tegak, kedua tangannya menyilang di dada. Tatapannya tajam, penuh amarah dan kebencian yang sudah memuncak sejak akhir-akhir ini mencurigai Kartini hendak merebut Arga darinya.
"Tidak usah diusir saya mau pergi, tapi kaki Anda menghalangi, Non."
"Kamu!" sapa Nadine ketus, suaranya cukup keras hingga beberapa orang yang lewat menoleh.
"Kalau mau pergi jalannya kesana," Nadine mendorong tubuh Kartini ke arah jalan keluar, seolah tidak mengizinkan masuk.
Kartini menatap Nadine tidak takut. "Nona tidak ada hak mengusir saya!" Kartini gantian mendorong tubuh ramping itu.
"Berani kamu!" Nadine mendengus sinis, matanya menelusuri tubuh Kartini dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan pandangan meremehkan.
"Nad, sudah..." ucap teman Nadine merasa malu karena banyak mata yang melihat ke arah mereka.
"Diam kamu Nes!" Nadine menyingkirkan tangan Aknes. Ia sengaja membawa teman ke acara ini karena Arga tidak menjemput.
"Lihat deh penampilan pembantu ini. Apa pantas ia datang ke acara ini?" Ejek Nadine. "Badan segemuk ini, pakaian juga nggak tahu gaya, kok berani-beraninya masuk ke acara sekeren ini sih? mungkin dia kira ini pasar!" Nadine tertawa.
Kartini terdiam, pipinya memerah menahan marah. Ia tidak menyangka akan diperlakukan seperti ini. Namun, ia tidak mau memalukan dirinya membalas Nadine.
"Sudah Nadine, biar saja," Aknes mencoba mengajak Nadine menyingkir. Namun, Nadine tidak bergerak justru tertawa, tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Kartini.
"Coba perhatikan semua yang hadir di sini Nes. Acara ini buat orang-orang terpilih, bukan? Bukan buat sembarang orang seperti Dia."
Kata-kata Nadine membuat telinga Kartini merah. Gadis itu benar-benar mengira Kartini hanyalah seorang asisten atau perawat rendahan yang tidak punya hak untuk hadir di sana.
Hati Kartini memberontak, ingin rasanya menunjukkan kepada Nadine agar menyadari bahwa wanita gemuk di hadapannya adalah istri sah Arga. Nyonya muda dari keluarga Chandresh. Walau Arga tidak pernah menganggapnya tapi ia dianggap ratu oleh kakek orang nomor satu di acara mewah ini.
Tiba-tiba saja air mata Kartini menggenang di pelupuk. Hatinya kini terasa sakit. Ia sadar fisiknya memang tidak secantik atau setirus wanita lain, tapi ia juga punya harga diri.
Ting.
Hening di tempat itu ketika pesan masuk ke handphone Nadine. Dia membuka hp di genggaman, nama Arga sang kekasih mengirim pesan.
Dengan antusias ia membaca pesan tersebut, berharap Arga berubah pikiran dan akan menyuruhnya duduk di deretan para pembesar yang tak lain anak cucu kakek Chandresh. "Pasti Arga akan memberi kejutan, mengenalkan aku sebagai calon istrinya," batin Nadine tersenyum.
Namun, senyum itu segera hilang, tergantikan dengan rasa panas di hatinya setelah membaca pesan yang dikirim Arga.
"Jaga sikap di acara ini Nadine, bukankah kamu sudah berjanji kepadaku?"
"Kurang ajar! Awas kamu Arga! Kenapa dia justru membela si gemuk itu?" Batin Nadine, hendak melampiaskan amarahnya kepada Kartini, tapi ketika memindai sekeliling sudah tidak ada.
Nadine mengangkat kepala, matanya mencari Kartini dari kursi satu pindah ke kursi lain, dan berakhir di antara para pemilik saham. Tampak Kartini tengah duduk di antara kakek dan Kenzo.
"Sia!" Hati Nadine bagai disiram bensin, kakinya bergerak hendak menghampiri Arga. Tetapi baru beberapa langkah, karma datang. Jika sebelumnya ia menghadang Kartini, kali ini gantian dirinya yang dihalangi.
"Anda mau kemana Nona?! Sebaiknya tunjukkan undangan," ucap seorang pria.
...~Bersambung~...
arga kmu baru tau kan kartini itu bisa semua👍
awas arga jng bela nadin,, kk klu arga bela nadin tenggelamkan aj si arga d laut sekalian