Gladys Chandra Wiguna atau biasa dipanggil Gadis adalah mahasiswi berbakat dari fakultas bergengsi Kota A. Wajah cantik dan sosok mungilnya menyembunyikan jiwa pemberani yang kuat.
Malam itu, saat ia pulang dari cafe, seorang pria memaksanya masuk mobil. Di dalamnya menanti Langit Mahesa seorang bisnis man yang memiliki perusahaan raksasa di kota A. Pria yang sudah memiliki istri, Bella Safira. Akankah Gadis kembali ke kehidupannya yang tenang? Ataukah cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, menggoyahkan semua yang ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceriwis07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Semalam Lima Ratus Juta
"Udah ya, aku pamitan duluan ya! Besok pagi ada kuliah penting, jangan lupa tutup pintunya dengan aman ya!" ucap Gadis sambil mengangkat tangan untuk menyapa teman-teman kerjanya di cafe Cahaya Malam. Wajahnya yang cantik sedikit merah karena bekerja hingga larut malam, namun senyumnya tetap ceria saat ia menginjakkan kaki keluar dari gerai yang sudah mulai mematikan lampu luarnya.
Ia menarik jaket tipisnya lebih erat menyelimuti tubuhnya, menatap jalanan yang mulai sepi dengan langkah yang mantap. Malam di Kota A terasa lebih dingin dari biasanya, membuatnya berharap bisa segera sampai di kontrakan kecilnya yang hanya berjarak beberapa blok dari cafe.
Saat ia tengah menyeberangi jalan, sebuah mobil mewah warna hitam tiba-tiba berhenti tepat di depannya. Tanpa kesempatan untuk bereaksi, pintu mobil terbuka dan tangan yang kuat menariknya masuk dengan cepat. Tubuhnya terkejut, namun sebelum ia bisa bersuara, seseorang menutup mulutnya dengan lembut tapi tegas.
Di dalam mobil yang gelap namun terasa hangat karena pendingin udara, Gadis meronta-ronta hingga akhirnya seseorang melepaskan tangan dari mulutnya. Ia menatap ke arah sosok yang duduk di depan, dan mata nya melebar tak percaya di hadapannya adalah Langit Mahesa, pemilik perusahaan raksasa yang nama nya selalu muncul di koran dan iklan kota, yang sudah dikenal memiliki istri cantik bernama Bella Safira.
Gadis kesusahan menelan ludahnya, tenggorokannya terasa kering. Tanpa basa-basi, pria itu mengangkat tubuhnya dan mencium bibirnya dengan rakus. Dengan sekuat tenaga, Gadis memberontak dan mendorongnya hingga mentok ke sandaran kursi.
Saat ia melihat sorot mata Langit yang menggelap, Gadis menggeleng ketakutan. "Tolong aku..." ucap Langit dengan nafas tersengal, seolah sedang menahan sesuatu.
Kening Gadis berkerut. "Apa yang aku dapatkan?" tanyanya dengan nada yang mencoba tetap tegas hidup sendirian dan bekerja keras untuk biaya kuliah serta menjaga kenyamanan dirinya sendiri tak pernah mudah, banyak tempat yang enggan mempekerjakannya hanya karena ia seorang gadis muda yang tinggal sendiri.
"Semuanya, apapun yang kamu mau!" jawab Langit dengan tatapan yang sudah tak bisa menahan lagi. Tanpa banyak pikir lagi, Gadis menyetujui kesepakatan dan mulai melepaskan jaket tipisnya.
Hanya dengan kaos hitam yang dikenakan di dalam jaket dan celana Levis yang menempel di tubuhnya, ia mendekat ke arah Langit. Tak butuh waktu lama, pria itu menciumnya lagi dengan lebih hangat, tangannya meraih bagian tubuhnya yang lembut. Saat Langit melihat bagian leher Gadis, hasratnya memuncak lebih tinggi.
Ia dengan lembut membimbing tubuh gadis muda itu, memberikan sentuhan yang membuat Gadis merasa sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Suara desahan keluar dari mulutnya saat Langit mengarahkan dirinya ke dalamnya perlahan terkejut dengan kesempitannya yang hangat dan membuatnya terjepit. Langit sempat terkejut, tapi ia senang menjadi yang pertama untuk gadis asing ini. Perlahan ia mulai bergerak sesuai irama, dan suara desahan dari Gadis membuat darahnya mendidih.
Hingga beberapa kali mereka berbagi kedekatan di dalam mobil itu. Setelah selesai, Langit menyerahkan kartu hitamnya dan sebuah kalung yang kemudian dikenakannya pada leher Gadis yang masih terkulai lemas. Ia dengan telaten membersihkan dirinya dengan lembut.
"Kamu... Masih perawan?" tanya Langit ragu, Gadis hanya bisa mengangguk perlahan karena masih belum bisa mengatur nafasnya dengan baik.
"Cukup sampai sini," ucap Langit sambil mencium wajahnya. Gadis mencoba duduk namun merasa pinggangnya sakit. Ia membantu gadis itu duduk dan menyerahkan sebotol air mineral. "Ini murni, ya?" tanya Gadis ragu. Langit mengangguk dan mengusap pipinya dengan lembut.
"Siapa namamu?" tanya Langit. "Semua orang menyebutku Gadis," jawabnya singkat sambil meneguk air untuk menghilangkan rasa kering di tenggorokannya.
Langit mengangguk dan menyerahkan kartu hitamnya. "Berapa banyak?" tanya Gadis dengan suara pelan.
"Lima ratus juta," jawabnya singkat.
Gadis terkejut tapi dengan cepat ia mengangguk di mana lagi ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk membayar kuliah dan menjaga kenyamanan dirinya sendiri? Ia berharap uang ini bisa menjadi awal dari kehidupan yang lebih baik baginya.
"Terima kasih, Tuan," ucapnya sambil mengecup pipinya. Panggilan itu membuat pria itu sedikit tertegun.
Ketika Gadis keluar dari mobil, ia melihat ke sekitar memastikan tidak ada yang melihatnya keluar dari mobil mewah, jika ada habislah dirinya. Tentu saja ia akan di laporkan pada ibu pemilik kost, tempat ia tinggal.
Di dalam mobil, Langit mengingat istri nya Bella Safira yang sudah beberapa tahun tidak bisa lagi memenuhi kebutuhannya karena masalah kesehatan. Pernikahan mereka memang awalnya merupakan pernikahan bisnis antara dua keluarga besar, dan meskipun Bella mencoba sebaik mungkin untuk meraih hatinya, Langit tak pernah bisa memberikan apa yang diinginkan istri nya itu.
Namun, pertemuan dengan Gadis, gadis muda yang penuh semangat itu tiba-tiba membuat hatinya yang dulu dingin seperti es mulai terasa ada yang berbeda.
Hingga malam pertama mereka yang di penuhi dengan banyaknya botol anggur di kamar pengantin, menjadi saksi bisa lepasnya darah perawan milik Bella Safira anak tunggal keluarga Wijaya.
Tapi Langit tetap lah Langit, pria sedingin kutub utara tak akan pernah meleleh jika dipanaskan hanya dengan setitik api, Bella mengira jika dirinya sudah tidur dengan Langit sang suami akan mengubah segalanya.
Tapi Bella terlalu naif, pernikahan mereka hanyalah pernikahan bisnis, yang bisa saja berakhir jika masanya tiba.
Tak peduli sekeras apa ia berjuang untuk mendapatkan hati Langit, jika buka dirinya yang diinginkan maka sia-sialah semuanya.