Tiga puluh ribu tahun peperangan berakhir dengan kehancuran Alam Dewa. Lin XingYu, sang Dewa Primordial terakhir, harus mengorbankan 99% basis kultivasinya demi memukul mundur sembilan Iblis Agung. Di ambang kematian, ia melintasi dimensi untuk mencari penerus dan menemukan Ling Xinyue—seorang gadis bumi berusia 16 tahun yang tengah menghitung detik terakhir hidupnya akibat kanker otak.
Kini, dengan jiwa manusia yang rapuh dalam raga dewi tercantik di jagat raya, Xinyue harus memulai perjalanan mustahil sejauh 50.000 mil menuju Pulau Warisan. Bersama Lian Yue, sang Merak Bulan Es, ia harus belajar menguasai kekuatan yang sanggup mengguncang semesta sebelum para Iblis Agung bangkit kembali. Ini bukan lagi tentang bertahan hidup dari penyakit, ini tentang menaklukkan takdir para dewa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon XING YI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2:Rekan
Debu yang mengepul di kawah perlahan menipis. Alih-alih monster raksasa, sesosok kecil merangkak keluar dengan susah payah.
Ukurannya hanya seukuran tupai, namun auranya memancarkan kedinginan yang murni.
Berdasarkan serpihan ingatan Lin XingYu yang melintas di benak Xinyue, ia segera mengenalinya: Merak Bulan Es. Binatang roh tingkat tinggi yang seharusnya memiliki ukuran megah, namun kini mengerut karena luka-luka yang menghancurkan esensi hidupnya.
Kedua sayap indahnya patah, terkulai di tanah yang hangus. Saat Xinyue mengulurkan tangan porselennya, merak itu mundur dengan gemetar, matanya yang redup dipenuhi kewaspadaan. Namun, kelembutan di wajah Xinyue meluluhkan pertahanan itu.
Saat merak itu akhirnya menyentuh telapak tangan Xinyue, ia langsung tak sadarkan diri karena kehilangan terlalu banyak darah.
"Aku harus membawamu kembali ke gua," bisik Xinyue, mendekap makhluk kecil itu di dadanya.
Langkah Xinyue terhenti. Dari balik pepohonan purba yang hitam, sepasang mata kuning menyala menatapnya penuh lapar.
Sebuah binatang roh predator—pemburu yang telah lama mengincar Merak Bulan Es—muncul dengan taring yang meneteskan air liur asam.
Xinyue berbalik dan berlari.
Detak jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya seperti genderang perang. Tubuhnya yang belum terbiasa dengan koordinasi baru ini terasa canggung, namun ketakutan memberinya kekuatan ekstra.
Ia terus berlari hingga tiba-tiba kakinya terhenti tepat di tepi jurang yang dalam. Sebuah lembah gelap menganga di hadapannya.
"Rowrrr...!"
Predator itu melompat. Cakar-cakarnya yang tajam berkilau di bawah cahaya bulan, siap merobek punggung Xinyue. Dalam keputusasaan, Xinyue berjongkok dan meringkuk, memeluk Merak Bulan Es dengan seluruh tubuhnya. Ia memejamkan mata, menunggu rasa sakit yang akan mengakhiri hidup keduanya.
Syuuuut!
Helaian rambut birunya tertiup angin saat tubuh binatang itu meluncur tepat beberapa inci di atas kepalanya.
Karena kecepatan lompatannya yang tak terkendali, predator itu gagal mengerem dan langsung terjatuh ke dalam lembah yang tak berujung. Keheningan kembali menyelimuti hutan.
Xinyue membuka matanya perlahan.
"Aku... aku masih hidup?" Air mata haru hampir menetes, namun ia segera menguatkan diri. Ia harus menyelamatkan nyawa kecil di tangannya.
Dalam perjalanan kembali ke gua, keberuntungan berpihak padanya. Ia menemukan Bunga Esensi Roh, bunga langka yang kelopaknya mengandung embun penyembuh.
Xinyue segera memeras cairan bunga itu ke mulut sang merak dan memakan buahnya untuk memperkuat indranya yang masih lemah.
Cahaya fajar mulai menyelinap masuk ke dalam gua saat merak itu akhirnya membuka mata. Ia melihat Xinyue—gadis berbaju biru dengan tubuh ramping dan senyum tipis yang menenangkan.
Meski tubuh Xinyue dipenuhi goresan akibat pelarian tadi, ia tidak tampak peduli pada lukanya sendiri. Merak itu menurunkan kewaspadaannya, membiarkan jemari Xinyue mengelus kepalanya dengan lembut.
"Cukup sampai di sini, teman kecil. Aku harus pergi,"
ujar Xinyue saat matahari mulai naik. Ia mulai melangkah menuju utara, memikirkan jarak 50.000 mil yang mustahil ditempuh dengan kaki telanjang.
Namun, Merak Bulan Es tidak membiarkannya pergi begitu saja. Ia mengikuti Xinyue secara sembunyi-sembunyi di balik semak-semak. Saat menyadari Xinyue kebingungan mencari arah dan perlengkapan, merak itu tiba-tiba muncul dan memberi isyarat agar Xinyue mengikutinya ke sebuah gua rahasia di kaki gunung lain.
Di dalam gua rahasia itu, Merak Bulan Es menunjukkan tiga peti kayu tua. Saat Xinyue membukanya satu per satu, matanya membelalak tak percaya:
Cincin Penyimpanan: Sebuah benda ruang angkasa yang memungkinkannya membawa banyak barang tanpa beban.
Gulungan Teknik: Panduan kultivasi dasar yang sangat ia butuhkan untuk mengaktifkan kekuatan tubuhnya secara sadar.
Pil Obat: Sumber energi murni untuk memulihkan basis kultivasinya yang kosong.
Xinyue menatap Merak Bulan Es dengan rasa syukur yang mendalam.
"Terima kasih... Dengan ini, perjalanan 50.000 mil itu mungkin tidak akan terasa mustahil lagi."
Cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah-celah gua rahasia itu menciptakan garis-garis emas yang menari di atas lantai batu.
Ling Xinyue berdiri terpaku di depan tiga peti kayu yang baru saja dibuka. Di telapak tangannya, ia merasakan beban dari tiga benda yang akan mengubah seluruh garis takdirnya.
Merak Bulan Es, yang kini telah pulih sebagian, bertengger di atas peti, menatap Xinyue dengan mata kristalnya yang cerdas, seolah-olah ia sedang menyerahkan tongkat estafet kehidupan kepada sang dewi baru.
"Terima kasih, teman kecil," bisik Xinyue.
Suaranya bergema halus, terdengar begitu jernih hingga ia sendiri hampir tidak mengenali suaranya sendiri.
Ia mengambil benda pertama: Cincin Penyimpanan. Cincin itu terbuat dari logam perak yang sangat tipis dengan permata biru kecil di tengahnya.
Berdasarkan ingatan Lin XingYu, Xinyue menusukkan ujung jarinya sedikit hingga setetes darah perak menetes ke atas permata tersebut. Seketika, sebuah ikatan mental terbentuk.
Ia bisa merasakan ruang hampa yang luas di dalam cincin itu, siap menampung segala kebutuhannya.
Kemudian, ia mengambil benda kedua:
Pil Obat. Pil itu berwarna putih susu dan mengeluarkan aroma bunga teratai yang sangat menenangkan.
Tanpa ragu, ia menelannya. Rasa hangat langsung menjalar dari kerongkongannya, menyebar ke seluruh meridian tubuhnya yang sebelumnya terasa kosong dan kering.
Kekuatan yang mulai pulih ini membuatnya merasa seolah-olah ia baru saja terbangun dari tidur ribuan tahun.
Namun, benda ketiga adalah yang paling menarik perhatiannya:
Sebuah gulungan tua yang bertuliskan Teknik Penyamaran: Tirai Kabut Rembulan.
Xinyue menyadari satu hal yang sangat berbahaya. Sejak ia keluar dari danau, ia menyadari bahwa kecantikan tubuh Lin XingYu bukan sekadar hiasan.
Kecantikan ini adalah jenis yang bisa menyebabkan peperangan, menghancurkan kerajaan, dan menarik perhatian musuh-musuh lama yang belum sepenuhnya musnah.
Dengan raga yang setinggi 1,87 meter, rambut biru yang berkilau seperti galaksi, dan wajah yang terlalu sempurna untuk dunia fana, ia akan menjadi target instan di mana pun ia berada.
Ia membuka gulungan itu.
"Kecantikan adalah berkah, namun tanpa kekuatan, ia adalah kutukan,"
demikian baris pertama yang ia baca.
Xinyue mulai bermeditasi, mengikuti instruksi dalam gulungan tersebut.
Ia memejamkan mata, memfokuskan sisa-sisa energi Qi di dalam tubuhnya. Ia membayangkan sebuah kabut tipis menyelimuti permukaan kulitnya.
Ia tidak ingin mengubah wajahnya secara total, ia hanya ingin "meredupkan" cahaya yang terlalu terang itu.
Perlahan, aura emas yang memancar dari kulit porselennya mulai memudar. Rambut birunya yang menyala kini tampak seperti warna biru tua yang biasa.
Wajahnya yang tadinya tampak seperti dewi yang turun dari langit, kini terlihat seperti seorang gadis bangsawan yang sangat cantik, namun masih dalam batas "manusiawi".
Tingginya pun ia manipulasi sedikit agar tidak terlalu mengintimidasi penduduk alam bawah nantinya.
Setelah merasa penyamarannya sempurna, ia menatap bayangannya di genangan air gua.
"Sekarang, aku bisa melangkah tanpa memicu kekacauan di setiap kota yang aku lewati."
Setelah menyimpan semua barang ke dalam cincin penyimpanan, Xinyue keluar dari gua. Merak Bulan Es mengepakkan sayapnya dan hinggap di bahu Xinyue.
Tampaknya, makhluk ini telah memutuskan untuk menjadi pendamping setianya.
"Ayo, kita punya perjalanan panjang yang harus ditempuh," ujar Xinyue dengan tekad baru.
Perjalanan dimulai dengan melintasi Hutan.
Selama berminggu-minggu, Xinyue harus beradaptasi dengan kehidupan liar. Sebagai seseorang yang menghabiskan empat tahun hanya menatap dinding putih rumah sakit, setiap pohon, setiap serangga bercahaya, dan setiap aliran sungai di dunia ini adalah keajaiban baginya.
Namun, ia tidak lupa untuk berlatih. Sambil berjalan, ia terus mengasah teknik gerakannya, belajar melompat di antara dahan pohon dengan kelincahan yang mustahil dimiliki manusia bumi.
Ia melewati lembah-lembah tersembunyi di mana tanaman herbal langka tumbuh subur. Berkat indra barunya, ia bisa merasakan energi yang memancar dari tanaman-tanaman tersebut dan menyimpannya di cincin penyimpanan untuk masa depan.
Setelah melintasi hutan dan pegunungan selama hampir dua bulan, Xinyue akhirnya mencapai pesisir utara. Di hadapannya, terbentang samudra yang begitu luas hingga cakrawalanya tampak menyatu dengan langit yang dipenuhi rasi bintang asing.
Di tepi pantai, tersembunyi di bawah tebing karang, ia menemukan sebuah perahu kuno yang disebutkan dalam ingatan Lin XingYu. Perahu itu kecil, terbuat dari kayu hitam yang sangat keras, namun tidak memiliki dayung.
"Bagaimana cara menggerakkannya?" Xinyue bergumam.
Merak Bulan Es memberikan isyarat dengan mematuk sebuah kristal biru di haluan perahu. Xinyue mengerti.
Ia meletakkan tangannya di atas kristal itu dan mengalirkan energinya. Seketika, layar perahu terkembang secara otomatis, memancarkan cahaya biru yang lembut.
Perahu itu meluncur membelah air laut dengan kecepatan yang mengejutkan, seolah-olah ditarik oleh arus tak kasat mata.
Samudra ini tidak tenang. Ombak setinggi sepuluh meter sering kali mengancam akan menelan perahu kecil itu. Namun, berkat perlindungan dari Merak Bulan Es yang melepaskan aura dinginnya untuk membekukan ombak yang mendekat, perahu itu tetap stabil.
Selama di laut, Xinyue sering bermeditasi di bawah sinar rembulan. Ia bisa merasakan hubungan antara Ice Heart Body miliknya dengan dinginnya air laut, serta Universe Star Body miliknya dengan cahaya bintang di atas sana.
Kekuatannya perlahan-lahan pulih, setetes demi setetes, mengisi kembali wadah besar yang ditinggalkan Lin XingYu.
Bulan ketiga perjalanannya hampir berakhir ketika kabut tebal mulai menyelimuti samudra.
Kabut ini bukan kabut biasa; ia terasa dingin dan mengandung tekanan mental yang kuat, sebuah penghalang yang sengaja diciptakan untuk menjauhkan mereka yang tak diundang.
"Kita sudah dekat,"
bisik Xinyue, merasakan denyutan di kalung gioknya yang semakin kuat.
Merak Bulan Es berdiri di ujung perahu, mengeluarkan suara pekikan yang nyaring.
Gelombang suara dari merak itu membelah kabut di depan mereka seperti pisau yang memotong kain. Di balik kabut yang tersingkap, sebuah pemandangan megah mulai terlihat.
Sebuah pulau yang melayang sedikit di atas permukaan air laut. Pulau itu diselimuti oleh vegetasi berwarna biru dan perak yang bersinar lembut di kegelapan.
Di pusat pulau tersebut, terdapat sebuah menara giok yang menjulang tinggi hingga menembus awan, memancarkan aura keagungan yang hanya dimiliki oleh seorang Dewa Primordial.
Xinyue berdiri di haluan perahu, matanya berbinar melihat tujuan akhirnya.
"Pulau Warisan... akhirnya aku sampai."
Meskipun jarak 50.000 mil telah ia lalui, ia tahu bahwa tantangan sebenarnya baru saja dimulai.
Di dalam pulau itu, warisan Lin XingYu menunggunya, dan bersamanya, tanggung jawab untuk menghadapi sembilan Iblis Agung yang kini juga sedang merencanakan kebangkitan mereka di dunia bawah.
Xinyue menarik napas dalam-dalam, merasakan angin laut menyentuh wajahnya yang kini tersenyum tipis. Ia bukan lagi gadis lemah yang menunggu ajal di ranjang rumah sakit.
Ia adalah Ling Xinyue, pemilik baru dari raga dewi terkuat, dan perjalanannya untuk menaklukkan takdir baru saja dimulai.
Di atas perahu kayu hitam yang meluncur membelah ombak Samudra Utara, Ling Xinyue menghabiskan malam-malamnya dalam meditasi yang mendalam.
Ia menyadari bahwa tubuh ini bukan sekadar wadah fisik, ia adalah perpustakaan hidup. Setiap kali ia memejamkan mata, serpihan ingatan Lin XingYu muncul seperti fragmen film yang rusak.
Ia melihat Lin XingYu berdiri di puncak gunung, mengayunkan pedang yang sanggup membelah awan. Ia merasakan kesepian sang dewi yang telah hidup jutaan tahun.
Xinyue, yang di Bumi hanya mengenal dinding rumah sakit, merasa kewalahan. Namun, Merak Bulan Es yang kini selalu bertengger di bahunya seolah menjadi penyeimbang.
Burung itu sering mengeluarkan suara kicauan rendah yang getarannya membantu menenangkan aliran energi spiritual di dalam meridian Xinyue yang baru pulih.
"Jadi ini yang kau rasakan selama ini, Senior?" gumam Xinyue sambil menyentuh kalung gioknya.
"Keagungan yang dibayar dengan kesunyian."
Memasuki bulan kedua di laut, cuaca mulai berubah menjadi ekstrem.
Langit yang tadinya cerah berubah menjadi ungu pekat, dan petir merah menyambar-nyambar permukaan laut.
Ini bukan badai alami, melainkan sisa-sisa energi dari peperangan dewa yang masih tertinggal di atmosfer.
Gelombang setinggi gunung menghantam perahu kecil itu. Xinyue berdiri di tengah perahu, kakinya berpijak kokoh berkat teknik langkah yang ia pelajari dari gulungan di dalam gua.
Saat sebuah gelombang raksasa hendak menelan perahu mereka, Xinyue tidak lagi bersembunyi.
Ia merentangkan tangannya.
"Beku!"
Seketika, aura dingin yang luar biasa meledak dari Ice Heart Body-nya. Air laut yang menyentuh perahu langsung mengeras menjadi es kristal, menciptakan jalur stabil di tengah amukan badai.
Merak Bulan Es mengepakkan sayapnya, memperkuat energi Xinyue dengan cahaya rembulan yang terpancar dari bulu-bulunya.
Dalam momen itu, Xinyue merasakan sinkronisasi sempurna antara jiwanya dan tubuh dewi ini.
Ia bukan lagi penumpang, ia mulai menjadi sang pemilik.
Ketika kabut abadi akhirnya tersingkap oleh pekikan Merak Bulan Es, Pulau Warisan muncul bukan sebagai daratan biasa
Pulau itu dikelilingi oleh air terjun yang mengalir ke atas, menuju langit, menentang hukum gravitasi dunia fana.
Seluruh tumbuhan di sana berwarna perak kebiruan, memancarkan aroma wangi yang sanggup membersihkan kotoran di dalam jiwa.
Saat perahu menyentuh pasir pantai yang berkilau seperti serbuk berlian, Xinyue melangkah turun.
Kakinya merasakan getaran hangat dari tanah pulau tersebut. Ia menatap ke arah Menara Giok yang menjulang di pusat pulau.
Di sana, di puncak menara itu, tersimpan senjata, pil tingkat tinggi, dan rahasia tentang bagaimana mengalahkan sembilan Iblis Agung yang melarikan diri.
"50.000 mil..." Xinyue menoleh ke arah laut yang baru saja ia seberangi. "Aku benar-benar melakukannya."
Ia menatap tangannya yang kini dibalut teknik penyamaran—tampak seperti kulit manusia biasa, namun di dalamnya tersimpan kekuatan yang sanggup mengguncang dunia.
Dengan Merak Bulan Es yang terbang rendah di sampingnya, Ling Xinyue mulai melangkah menuju pintu masuk pulau.
Setiap langkahnya adalah tanda bahwa era baru telah dimulai.
Dunia mungkin mengenal Lin XingYu telah jatuh, namun mereka tidak tahu bahwa di pulau ini, sebuah cahaya baru sedang ditempa.
Pasir putih di pesisir Pulau Warisan itu terasa halus, hampir seperti bubuk kristal yang berbisik di bawah kaki Ling Xinyue.
Ia tidak langsung melangkah menuju Menara Giok yang menjulang megah di pusat pulau.
Sebaliknya, ia berdiri terpaku, membiarkan angin laut utara yang menggigit menyapu wajahnya yang kini terbalut teknik penyamaran.
Di belakangnya, membentang samudra luas yang telah ia seberangi selama satu setengah tahun terakhir—sebuah perjalanan yang bagi manusia bumi seperti dirinya, terasa seperti sebuah keabadian.
Ia menoleh ke arah bahunya. Di sana, sang Merak Bulan Es bertengger dengan anggun. Sosoknya bukan lagi makhluk kecil seukuran tupai yang ia temukan sekarat di kawah setahun yang lalu.
Kini, ia telah tumbuh menjadi binatang roh yang menakjubkan, bulunya yang berwarna biru es berpendar dengan cahaya perak yang ritmik, seolah mengikuti detak jantung alam semesta.
Ekornya yang panjang menjuntai, setiap helainya tampak seperti untaian berlian yang ditenun dari cahaya rembulan.
"Satu setengah tahun, ya?" bisik Xinyue.
Suaranya halus, namun membawa beratnya ribuan mil perjalanan.
"Lima ratus empat puluh hari kita hanya memiliki satu sama lain. Kau melihatku jatuh saat berlatih, kau menjagaku saat aku pingsan karena kelelahan, dan kau yang memberikan kehangatan di tengah badai salju yang membeku."
Xinyue mengangkat tangannya yang ramping, membiarkan sang merak berpindah dari bahu ke telapak tangannya. Ia menatap dalam ke mata burung itu sepasang mata kristal yang menyimpan kecerdasan dan kesetiaan yang melampaui logika makhluk fana.
Di Bumi, Xinyue selalu sendirian di kamar rumah sakitnya yang putih dan dingin. Namun di dunia yang asing ini, di dalam tubuh yang bukan miliknya, ia justru menemukan satu-satunya jiwa yang mengenalnya secara utuh.
"Aku tidak bisa terus memanggilmu sebagai 'binatang roh'. Bagiku, kau adalah separuh dari nyawaku di tempat ini,"
Xinyue terdiam sejenak, mencari sebuah nama di dalam tumpukan ingatan Lin XingYu dan memadukannya dengan perasaannya sendiri.
Ia menginginkan sesuatu yang lembut namun menyimpan wibawa yang abadi.
Ia mengelus lembut mahkota di kepala merak itu, merasakan aliran energi dingin yang menenangkan.
"Kau adalah teratai yang mekar di tengah kebekuan, dan kau adalah rembulan yang menuntun langkahku saat aku tersesat di kegelapan samudra. Karena itu... aku akan memanggilmu Lian Yue (莲月)."
Nama itu terucap dengan nada yang sangat anggun. Lian untuk kemurnian Teratai, dan Yue untuk keabadian Rembulan.
Mendengar nama tersebut, merak itukini Lian Yue mengeluarkan suara pekikan yang sangat jernih dan melodius, menyerupai denting lonceng giok yang tertiup angin khayangan.
Ia mengepakkan sayapnya dengan anggun, menyebarkan ribuan partikel cahaya biru perak yang berpendar seperti debu bintang di sekitar tubuh Xinyue.
Cahaya itu bukan sekadar hiasan; itu adalah tanda bahwa Lian Yue telah menerima nama tersebut ke dalam inti jiwanya, mengunci sebuah kontrak persahabatan yang tidak didasari oleh darah atau paksaan, melainkan oleh rasa syukur dan cinta yang murni.
"Lian Yue..." Xinyue mengulang nama itu sambil tersenyum tipis.
Senyum itu tidak dingin seperti es, melainkan hangat seperti mentari pagi yang baru terbit.
"Nama yang indah untuk pelindung yang luar biasa."
Lian Yue kemudian terbang melingkari tubuh Xinyue, menciptakan pusaran cahaya biru yang indah sebelum akhirnya melayang rendah di sampingnya, seolah memberi isyarat bahwa ia siap menghadapi apa pun yang ada di dalam Pulau Warisan bersamanya.
Xinyue menarik napas dalam-dalam, mengencangkan jubah birunya, dan menatap Menara Giok di hadapannya dengan tatapan yang kini jauh lebih tajam dan penuh percaya diri.
Dengan Lian Yue di sisinya, ia tidak lagi merasa seperti orang asing yang tersesat. Ia adalah penguasa baru dari takdir ini.
"Mari kita ambil apa yang menjadi milik kita, Lian Yue. Perjalanan yang sesungguhnya... baru saja dimulai."
Sambil melangkah maju, bayangan mereka berdua memanjang di atas pasir pantai, menyatu menjadi satu siluet yang akan segera mengukir sejarah baru di seluruh Alam Dewa dan Alam Bawah.