NovelToon NovelToon
Antagonis Milik Sang Duke

Antagonis Milik Sang Duke

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi / Obsesi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Rembulan Pagi

Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.

​Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. Kuil Penitensi

Kegelapan menyelimuti segalanya. Luvya—atau Lily—merasa dirinya melayang di ruang hampa yang dingin. Tak ada suara, tak ada cahaya, sampai tiba-tiba setitik bayangan muncul di depannya.

​Seorang wanita dengan rambut pirang pucat yang sangat indah berdiri di sana. Kali ini, sosok itu tidak membelakanginya. Wajahnya terlihat sangat jelas. Wajah itu adalah wajah Luvya, namun dalam versi yang jauh lebih dewasa dan cantik, sekaligus terlihat sangat hancur.

​Wanita itu menangis. Air matanya jatuh membasahi gaunnya yang kusam. Ia mengulurkan tangan ke arah Lily, suaranya terdengar seperti bisikan angin yang menyayat hati.

​"Tolong aku... tolong aku..."

​Luvya tersentak. Ia ingin menjawab, ingin meraih tangan itu, namun bayangan wanita itu perlahan memudar, tergantikan oleh silau cahaya yang menusuk mata.

​Ssshh!

​Cahaya matahari yang menyengat menembus celah jendela, jatuh tepat di kelopak mata Luvya yang perlahan terbuka. Ia mengerjap berkali-kali, berusaha mengusir rasa pening yang luar biasa akibat pengaruh obat bius tempo hari.

​"Mimpi itu lagi..." gumamnya lirih. Luvya terdiam, menatap langit-langit kamar yang asing. Langit-langit dari batu abu-abu yang dingin. Ia menoleh ke samping. Di ruangan sempit itu hanya ada dua ranjang kayu sederhana dengan alas kasur yang tipis. Ia tidur sendirian di salah satunya.

​Matahari sudah berada tinggi di atas kepala. Artinya, ini sudah siang.

​Seketika, Luvya tersentak duduk. Ia segera meraba lehernya. Kosong.

​Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ia meraba seluruh tubuhnya, mencari perhiasan yang telah ia jahit di balik pakaiannya dengan susah payah. Namun, rasa dingin justru menjalar di sekujur tubuhnya saat menyadari jubah bulu biru tua dan gaun mewahnya telah lenyap. Berganti dengan baju kasar berwarna cokelat kusam yang sangat biasa.

​"Kecolongan..." gumam Luvya dengan suara serak. "Sialan! Duke itu benar-benar tidak menyisakan apa pun!"

​Rencana kaburnya hancur total. Ia mengira bisa mengelabui pengawal, tapi siasat Duke jauh lebih licik. Alih-alih diusir, ia benar-benar diculik dan dirampok identitasnya.

​Namun, tekad Lily yang berusia 20 tahun tidak mudah patah. Ia segera turun dari ranjang, meskipun kakinya masih sedikit lemas. Ia harus tahu di mana ia berada. Beruntung, pintu kayu di depannya tidak dikunci.

​Luvya bergegas keluar. Ia mendapati dirinya berada di sebuah lorong panjang yang di sisi-sisinya dipenuhi pintu kayu serupa, seperti asrama atau kamar-kamar tidur yang berderet rapi. Di ujung lorong itu, pemandangan terbuka lebar.

​Begitu sampai di ujung, langkah Luvya melambat. Ia berdiri di antara pilar-pilar marmer yang kokoh dan indah. Di depannya terbentang lapangan luas dengan taman di tengahnya yang tertata sangat rapi.

​Suasana di sana tampak sangat sibuk namun tenang. Ada sekelompok wanita yang tengah membawa ember-ember air, ada yang duduk berkelompok sambil menyulam dengan tekun, dan ada yang berjalan sambil membawa buku-buku tebal. Aktivitas yang terlihat sangat positif dan religius.

​Semua wanita di sana mengenakan pakaian yang seragam: dress cokelat panjang dengan vest putih bersih di bagian atasnya.

​Luvya terpaku. Kehadirannya yang tiba-tiba membuat orang-orang di sana menoleh. Puluhan pasang mata menatapnya dengan pandangan penasaran sekaligus prihatin. Di antara hamparan wanita dewasa yang ada di lapangan itu, hanya Luvya satu-satunya anak kecil yang berdiri di sana.

​Tidak ada tawa anak-anak, tidak ada suara bising. Hanya keheningan yang menyesakkan di bawah kemegahan marmer Kuil Penitensi.

Mereka semua wanita dewasa yang mengenakan gaun cokelat dengan tambahan vest putih di bagian atasnya. Saat Luvya muncul, semua mata tertuju padanya.

​Bisik-bisik mulai terdengar, menyayat keheningan tempat itu.

​"Dosa apa yang anak itu perbuat?" bisik salah satu wanita sambil terus menyulam.

​"Padahal dia masih sangat kecil," sahut yang lain dengan nada prihatin namun dingin.

"Tapi yang masuk ke sini tentu saja adalah orang yang dosanya banyak, dan berniat menebus dosa itu dengan hati yang tulus."

​"Sayang sekali anak sekecil itu harus berada di sini."

​Luvya berdiri mematung di tengah lapangan. Ia kebingungan bak orang gila, matanya bergerak liar berusaha mencerna apa yang sebenarnya terjadi. Mengapa mereka menyebutnya pendosa?

​Tiba-tiba, kerumunan itu membelah. Seorang wanita berjalan mendekat ke arah Luvya. Ia mengenakan pakaian serba putih yang terlihat agung. Rambut panjangnya terurai, namun sebagian besar rambut belakangnya tertutup oleh kerudung putih yang menjuntai panjang hingga ke pinggang. Meskipun kepalanya tertutup kerudung, bagian telinga dan rambut depannya masih terlihat dengan jelas.

​Luvya mendongak, terpaku melihat sosok wanita yang tampak suci namun misterius itu berdiri tepat di hadapannya.

Luvya mendongak, terpaku melihat sosok wanita yang tampak suci namun misterius itu berdiri tepat di hadapannya. Wanita itu tidak tersenyum, namun sorot matanya sangat tenang. Ketenangan yang justru membuat Luvya merasa seolah seluruh rahasianya sedang dikuliti.

​"Kau sudah bangun, Anak Kecil?" Suara wanita itu lembut, namun bergema di antara pilar-pilar marmer.

​Luvya hanya bisa terdiam, tangannya tanpa sadar meraba lehernya lagi yang kini terasa kosong dan dingin. Ia sadar, di depan wanita serba putih ini, identitasnya sebagai putri Duke sudah mati. Sekarang, dia hanyalah "pendosa kecil" yang terperangkap di Kuil Penitensi.

​Wanita itu mengulurkan tangannya yang putih pucat ke arah Luvya. "Jangan takut. Di sini, kau tidak perlu lagi membawa beban masa lalumu. Mari, ikutlah denganku."

Luvya melangkah pelan mengikuti wanita serba putih itu. Udara di sini terasa sangat berbeda dengan mansion Vounwad yang membeku.

​"Jangan heran dengan hawanya," ucap wanita itu tanpa menoleh. "Di sini, musim salju tidak ada. Tempat ini diberkati sehingga matahari terik setiap hari. Kami adalah hamba yang menyembah Dewa Matahari, Sang Pemberi Kehidupan."

​Luvya menyipitkan mata, menahan silau yang membakar kulitnya. Mereka sampai di sebuah jalan luar yang luas. Di kejauhan, di puncak perbukitan batu, berdiri sebuah bangunan yang sangat megah. Arsitekturnya luar biasa, dengan kubah emas yang memantulkan cahaya matahari hingga menyilaukan mata.

​"Itu adalah Kuil Utama Dewa Matahari," wanita itu menunjuk dengan bangga. "Wahyu suci turun di sana. Imam Besar telah menyerahkan seluruh hidupnya hanya untuk melayani Dewa."

​Luvya terdiam. Ia tahu. Ia sudah membaca bagian ini di dalam novel. Kuil itu adalah pusat gravitasi dunia ini, tempat di mana politik dan agama bercampur menjadi satu kekuatan yang mengerikan.

​"Hanya keluarga kerajaan dan bangsawan tinggi yang boleh menginjakkan kaki ke sana," lanjut wanita itu dengan nada yang merendah, seolah mengingatkan posisi Luvya. "Sedangkan kita? Kita hanya boleh mendengarkan nyanyian suci dari luar gerbangnya. Kita memiliki kuil kecil sendiri di area bawah ini, yang dipimpin oleh seorang Imam."

​Mendengar kata 'Imam', jantung Luvya berdegup kencang. Ingatan dari novel aslinya berputar cepat di kepalanya.

​Imam itu... batin Luvya sambil menatap tanah yang berdebu. Imam itulah yang nantinya akan dibunuh oleh Luvya asli untuk bisa kabur dari tempat terkutuk ini.

​Luvya menarik napas panjang yang terasa panas di dadanya. Ada rasa sesak yang menghimpit. Ternyata, sekeras apa pun ia berusaha mengubah alur, takdir seolah memiliki tangannya sendiri untuk menariknya kembali ke jalur yang sudah tertulis.

​Meski aku sudah berusaha keras untuk tidak dikirim ke sini, pada akhirnya aku tetap menginjakkan kaki di tempat ini, keluh Luvya dalam hati. Apakah ini artinya aku tetap akan menjadi pembunuh di masa depan? Apakah pertemuanku dengan Arken juga hanya bagian dari skenario kematian ini?

​Luvya mengepalkan tangannya di balik kain cokelat gaunnya. Jika takdir ingin dia menjadi pembunuh untuk bertahan hidup, maka dia akan melakukannya. Tapi kali ini, dia akan melakukannya dengan caranya sendiri, bukan sebagai boneka Duke atau tawanan kuil.

Wanita serba putih itu berhenti melangkah dan menoleh sedikit, menatap Luvya dengan tatapan datar yang sulit diartikan. "Panggil aku Ibu. Di tempat ini, kami tidak menggunakan nama duniawi. Kau hanya perlu tahu bahwa aku adalah Ibu bagi kalian semua di sini."

​Luvya mengangguk pelan. Ibu, ya? batinnya. Nama yang terdengar hangat, tapi di tempat seperti ini, itu terdengar seperti sebutan untuk pengawas.

​Tak lama kemudian, sebuah lonceng berdentang pelan, menandakan waktu makan siang telah tiba. Kerumunan wanita berpakaian cokelat mulai bergerak teratur menuju sebuah bangunan luas yang berfungsi sebagai ruang makan. Di tengah kebingungannya, seorang perempuan berusia sekitar 20 tahun dengan wajah yang ramah namun tampak lelah mendekati Luvya.

​"Hai, Jiwa Kecil," sapa perempuan itu sambil tersenyum tipis. "Namaku Emily. Sepertinya kita akan menjadi teman sekamar mulai sekarang."

​Luvya menatapnya ragu. "Teman sekamar?"

​"Iya. Aku yang menunggumu di kamar tadi malam," Emily berjalan beriringan dengan Luvya menuju barisan makanan. "Kau datang kemarin dalam kondisi yang sangat tidak stabil. Kau terus menggumamkan hal-hal yang tidak jelas dalam tidurmu. Ibu bilang kau sangat kelelahan."

​Luvya tersentak. Langkahnya hampir terhenti. Kemarin? Berarti aku sudah tidur seharian penuh sejak diculik di kereta itu? Pantas saja sekujur tubuhnya terasa sangat lemas dan perutnya terasa melilit perih. Pengaruh obat bius itu ternyata jauh lebih kuat dari yang ia duga.

​Mereka sampai di depan meja panjang tempat makanan disediakan. Para penghuni mengambil piring kayu satu per satu, mengisinya dengan porsi yang sudah ditentukan, lalu duduk di meja-meja panjang yang terbuat dari batu.

​Luvya menatap piringnya, bubur gandum kasar dan sedikit sayuran rebus. Sangat jauh dari kemewahan makanan di mansion Duke, tapi setidaknya ini nyata.

​Saat mereka duduk berdampingan, Emily condong ke arah Luvya dan berbisik pelan, "Makanlah yang banyak. Kau butuh tenaga untuk mengikuti ritual sore nanti. Jangan khawatir, pelan-pelan aku akan membantumu memahami semua peraturan di tempat ini. Di sini, kepatuhan adalah segalanya jika kau ingin bertahan hidup."

​Luvya menyuapkan sesendok bubur ke mulutnya. Rasanya hambar, namun pikirannya berputar cepat. Emily kelihatannya baik, tapi aku tetap harus waspada. Di tempat di mana orang-orang dianggap 'pendosa', aku tidak tahu siapa yang benar-benar bisa dipercaya.

Tiba-tiba, suara langkah sepatu bot yang berat menggema di lantai batu, memotong suara denting sendok. Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk dengan kewibawaan yang menekan. Ia mengenakan jubah panjang serba hitam yang mewah, dengan corak emas yang rumit di sepanjang kerah dan ujung lengannya. Corak emas itu berkilau tertimpa cahaya matahari, menandakan statusnya sebagai pemimpin tertinggi di tempat ini.

​"Itu Bapak," bisik Emily dengan nada yang sangat hormat, kepalanya langsung tertunduk dalam. "Imam yang memimpin kuil kita. Beliau adalah perantara doa-doa kita."

​Bum!

​Luvya tertegun. Ia tahu pria ini bukan Imam Besar dari segala imam yang ada di kuil utama pusat, tapi dialah penguasa absolut di Kuil Penitensi. Dan yang terpenting, Luvya tahu dari novelnya bahwa pria inilah yang nantinya akan ia bunuh demi kebebasan.

​Seluruh wanita di ruangan itu menunduk khidmat, seolah kehadiran sang Imam adalah sebuah berkah suci. Namun, sang Imam justru menghentikan langkahnya dan memutar tubuh ke arah Luvya.

​Dari kejauhan, pria itu melihat ke arah Luvya. Ia kemudian memberikan sebuah senyuman. Bagi orang-orang di sana, itu adalah senyum penuh kebijaksanaan dan kasih sayang seorang pemimpin agama. Namun, bagi Luvya yang memiliki jiwa Lily, senyuman itu terasa sangat aneh. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik keramahan itu, sesuatu yang terasa licik dan membuat bulu kuduknya berdiri.

​Luvya merasa seolah pria itu tidak sedang melihat seorang anak kecil, melainkan sedang melihat sesuatu yang akan menjadi miliknya.

1
kiu kiu
wowww...lucius mulai tergetar hatinya melihat luvya.hingga ingin berdansa dgnya.apa ini tanda tanda thor...jodoh utk luvya di depan mata.🤭🤭🤭🤭😍😍
aku
siapa??? 🤔
kiu kiu
wow...semakin menarik thor..
kiu kiu
bagus thor..ceritanya semakin menarik.semoga luvya menjadi seorang penyihir jenius...
aku
kenapa gk jujur aja liv, klo duke yg buang kamu. pasti paman dn ponakan itu bakal ngerti, nah jd sekutu dh kalian. bs jd kamu malah dilindungi 😁😁
Rembulan Pagi: sifatnya Luvya memang susah percaya kak, akibat masa lalunya🤭
total 1 replies
kiu kiu
mantap thor...buat semua terkagum dg kepintaran luvya thor.agar nasib luvya tidak hancur.gara gara duke sialan itu.
Rembulan Pagi
Silakan mampir bagi yang suka cerita fantasi bertema kerajaan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!