Novel Ringan ini berlatar tahun 2002 yang menceritakan tentang takdir mempertemukan kembali kedua insan yang berakhir dalam ikatan suci secara paksa atau mungkin dijodohkan karena hutang budi.
Pertemuan tak terduga sore itu di lapangan lari Velodrom Rawamangun Jakarta Timur saat Sandi tengah ikut ujian praktek lari pelajaran penjas kelas 2 semester 2 dari sekolah SMPnya Pejuang Bangsa dengan seorang gadis yang dimana, dia adalah teman sekelasnya dulu di SD Bhayangkara Jakarta.
Saat Sandi berlari estafet untuk mengambil nilai praktek dan memberikan tongkat ke rekannya, dia berhenti dan matanya menatap ke arah seorang gadis yang berpakaian olahraga dari SMP yang berbeda, dia melihat gadis itu bersama 2 rekannya sedang di goda oleh siswa SMA yang sedang melakukan praktek lari di Velodrom Rawamangun Jakarta juga.
Dimulai dari pertemuan tak terduga itu, kehidupan Sandi berubah 180 derajat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Ruang tengah rumah Vino yang semula tenang pasca-pengerjaan tugas sejarah mendadak pecah oleh kegaduhan yang tak terduga. Sandi yang baru saja menikmati fase istirahatnya—terpejam damai di atas karpet bulu abu-abu yang empuk—tak menyadari bahwa sepasang mata cokelat milik Saskia sedang mengincarnya dengan kilat jenaka. Begitu Saskia memasukkan ponsel ke dalam tas, ia mengambil ancang-ancang singkat dan tanpa peringatan menghamburkan tubuhnya, melompat tepat ke arah perut Sandi.
BRUK!
"Aaarghh! Gila lo, Sas!" teriak Sandi tertahan. Suaranya melengking tinggi akibat tekanan mendadak di diafragmanya.
Vino dan Andra yang sedang memegang stik PS, berkonsentrasi penuh pada layar televisi, seketika menoleh. Tawa mereka meledak serempak melihat Sandi yang megap-megap seperti ikan kekurangan oksigen. Sementara itu, Anggita yang sedang asyik mengunyah kripik singkong pedas di sofa, tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk sembari berusaha menahan tawa yang meronta ingin keluar dari tenggorokannya.
Andra bersorak girang, "Mampus lo, San! Karma instan itu nyata! Tadi lo tiban gue, sekarang lo ditiban raksasa mungil!"
Vino tidak mau kalah. Ia langsung menjatuhkan diri ke karpet, kembali berakting menjadi wasit gulat profesional. Ia memukul-mukul lantai dengan dramatis. "Satu... Dua... Tiga! And the new champion is... SASKIA MCMAHON!"
Anggita terpingkal-pingkal sampai toples di pangkuannya miring, membuat beberapa keping kripik singkong tumpah berserakan di karpet. "Aduh... perut gue sakit! Saskia, lo bener-bener nggak ada akhlak!"
Sandi masih meringis kesakitan, wajahnya memerah menahan mual. "Oneng setan! Nasi goreng buatan nyokap Vino bisa keluar lagi lewat jalur atas nih kalau lo main seruduk begini! Pala lo keras banget sih!" omel Sandi sembari berusaha bangkit dari posisinya yang terjepit.
Saskia yang kepalanya tadi mendarat tepat di perut Sandi, perlahan beranjak. Ia duduk bersimpuh di samping Sandi dengan wajah cengengesan tanpa dosa. Matanya berbinar-binar ceria, kontras dengan Sandi yang masih memegangi perutnya.
"Aku seneng banget, Tahu!" seru Saskia sambil bertepuk tangan kecil. "Nanda barusan SMS, katanya nggak jadi jemput. Saudara sepupunya dari Bandung tiba-tiba datang, jadi rencana kencanku batal total!"
Keheningan sesaat melanda ruangan itu sebelum akhirnya Anggita, Vino, dan Andra tertawa lebih keras dari sebelumnya. Mereka merasa ada yang aneh dengan logika gadis di depan mereka ini.
Anggita menyeka air mata di sudut matanya. "Lo bener-bener pe'a, Sas! Normalnya cewek kalau gagal kencan itu galau, pasang status galau di media sosial, atau minimal cemberut. Lah, lo malah kegirangan kayak habis menang togel sejuta dollar!"
"Beneran 'Oneng' murni lo, Sas! Kacau banget logikanya," timpal Vino sambil geleng-geleng kepala.
Andra yang sudah kembali fokus ke layar PS menyahut, "Tapi baguslah. Berarti lo bisa di sini bareng kita-kita sampai sore. Pasukan Sableng akhirnya lengkap sampai akhir acara."
Saskia tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Iya, akhirnya aku bisa sama-sama kalian sampai sore. Nggak perlu merasa nggak enak karena harus pulang duluan."
Melihat suasana yang makin cair, Anggita mengambil inisiatif untuk memulai babak hiburan yang sesungguhnya. "Oke deh kalau gitu. Karena personel lengkap, gimana kalau kita tanding bola saja di PS? Vin, bikin Cup untuk 10 tim. Masing-masing dari kita pegang dua klub biar adil."
Vino mengangguk mantap, jari-jarinya dengan lincah menavigasi menu di layar televisi. "Oke, gue set up turnamennya dulu. Gue bikin sistem gugur atau liga kecil nih?"
"Sistem gugur aja! Biar seru, klubnya di-random saja, Vin," usul Andra. "Jangan ada yang milih klub jagoan kayak AC Milan atau Manchester United sendiri-sendiri, biar adil kalau dapet klub medioker."
Anggita setuju, "Iya, di-random saja. Biar keberuntungan yang bicara."
Vino mulai memasukkan nama-nama tim ke dalam sistem acak. Namun, di tengah keseruan itu, Sandi tiba-tiba merangkak bangun dengan wajah yang sedikit pucat. "Vin... toilet... toilet di mana, Vin? Sumpah, serangan maut Saskia tadi bikin sistem pencernaan gue kacau. Nasi gorengnya beneran mau 'reuni' di luar nih!"
Ledakan tawa kembali menggema di seluruh penjuru rumah. Vino yang sedang tertawa geli menunjuk ke arah koridor kecil di dekat area belakang. "Di sebelah tangga, San! Jangan sampai meledak di jalan!"
Sandi bergegas bangkit, langkahnya sedikit terhuyung namun ia masih menyempatkan diri untuk beraksi. Sebelum berlari menuju toilet, ia mampir sejenak di depan Saskia. TUK! Sebuah jitakan sukses mendarat di kepala Saskia yang sedang tertawa.
"Auuuw!" teriak Saskia sembari mengusap kepalanya.
Sandi tidak mempedulikan teriakan itu. Ia langsung melesat menuju toilet sembari memegangi perutnya dengan satu tangan, meninggalkan Kelompok Sableng yang tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan penderitaan jenaka sang penyiar radio masa depan itu. Suasana Sabtu siang di rumah Vino benar-benar penuh dengan energi persahabatan yang tulus.
Suasana ruang tengah rumah Vino perlahan mulai mendingin setelah tensi tinggi turnamen PS yang menguras emosi. Drama di atas karpet bulu tadi berganti menjadi adu strategi di layar kaca. Tanpa diduga, Anggita menunjukkan taringnya sebagai "Gamer Tersembunyi"; ia berhasil menumbangkan Andra di semifinal dengan skor telak, memaksa Andra harus puas berebut juara ketiga melawan Saskia—yang anehnya bermain cukup kompetitif meski sesekali salah menekan tombol.
Final ideal pun tercipta antara sang tuan rumah, Vino, melawan sang ketua kelas, Anggita. Pertandingan berlangsung sengit, penuh teriakan dukungan dari Andra dan Saskia, hingga akhirnya Vino berhasil mengunci kemenangan tipis 1-0 di menit-menit akhir. Sementara itu, posisi Sandi dalam bagan turnamen hanyalah sebuah nama tanpa skor. Ia dinyatakan gugur secara WO (Walk Out) karena tak kunjung menampakkan batang hidungnya dari balik pintu toilet, membuatnya menjadi bahan ejekan abadi bagi Andra.
Tepat saat konsol PS dimatikan, deru mobil terdengar di halaman. Orang tua Vino kembali dari swalayan dengan kantong-kantong belanjaan besar berisi amunisi camilan, buah-buahan, dan minuman dingin yang langsung memenuhi meja dapur. Di saat yang bersamaan, pintu toilet perlahan terbuka. Sosok Sandi muncul dengan langkah gontai, wajahnya pucat pasi, dan punggungnya sedikit membungkuk—persis seperti zombie yang baru bangkit dari liang lahat setelah melewati pertempuran hebat melawan rasa mulas.
Melihat penampakan Sandi yang begitu mengenaskan, Anggita tidak bisa menahan tawa renyahnya. Ia bangkit dari sofa dan menghampiri Sandi yang tampak limbung. "Gila lo, San! Gue kira lo ketiduran di dalem atau malah pingsan karena aroma sendiri. Lo aman, kan?" goda Anggita sambil menepuk pelan lengan Sandi.
Sandi tidak memiliki energi lagi untuk membalas dengan kata-kata tajam. Dengan gerakan lemas, ia menyandarkan keningnya di bahu Anggita, mencari tumpuan agar tidak jatuh tersungkur. Suaranya terdengar sangat parau dan lirih saat berbisik, "Nggak bisa keluar, Nggi... Perut gue rasanya kayak diaduk pakai mixer. Gara-gara nongkrong kelamaan, yang ada malah ambeien gue yang kumat, bukan nasinya yang keluar."
Anggita tertawa geli sampai bahunya terguncang, namun tangannya tetap sigap memegang lengan Sandi agar sahabatnya itu tetap tegak. "Aduh, San, itu mah namanya bukan mau buang air, tapi otot perut lo kram gara-gara serangan mendadak Saskia tadi. Udah, jangan dipaksa. Lo rebahan dulu di sofa sana, jangan banyak gerak dulu. Biar gue mintain minyak kapak atau balsem ke mamanya Vino buat olesin perut lo."
Pemandangan itu tertangkap jelas oleh mata Saskia. Ia terpaku di tempat duduknya, jemarinya yang lentik mulai memainkan ujung bajunya sendiri dengan gelisah. Ada rasa sesak yang tiba-tiba merayap di dadanya saat melihat betapa alaminya kedekatan antara Sandi dan Anggita. Sandi yang biasanya begitu protektif dan menjaga jarak dengannya, justru tampak begitu nyaman menyandarkan kepalanya di bahu Anggita seolah hal itu adalah hal yang biasa mereka lakukan.
Saskia menggigit bibir bawahnya, menatap nanar ke arah mereka. Dalam benaknya, ia mulai membanding-bandingkan dirinya dengan Anggita. Ia merasa bahwa di mata Sandi, dirinya hanyalah "Si Oneng" yang merepotkan dan penuh drama, sementara Anggita adalah sosok yang bisa diandalkan, dewasa, dan berada di frekuensi yang sama dengan Sandi. Rasa iri yang kecil namun tajam mulai menusuk hatinya, membuat kegembiraan karena batalnya kencan dengan Nanda tadi seketika menguap tertiup angin kecemburuan yang mendadak hadir di tengah riuhnya rumah Vino.
Sandi melangkah gontai, kakinya seolah tak bertulang saat ia menyerah pada gravitasi dan menjatuhkan tubuhnya ke sofa panjang milik keluarga Vino. Takdir seolah sedang bermain dadu; kepala Sandi mendarat tepat di samping paha Saskia yang sedang duduk tegang. Satu tangan Sandi masih setia mencengkeram perutnya yang melilit, sementara lengan lainnya menutupi matanya, mencoba menghalau cahaya lampu ruang tengah yang terasa menusuk sisa-sianya energinya.
Saskia menahan napas. Jantungnya berdegup kencang melihat posisi Sandi yang begitu dekat. Dengan gerakan yang sangat lambat dan penuh keraguan, ia mengulurkan jemarinya. Ujung kuku Saskia menyentuh helai rambut Sandi yang hitam dan sedikit berantakan. Sandi tidak bergeming, hanya napasnya yang terdengar berat dan teratur. Merasa mendapat lampu hijau, Saskia menjadi lebih berani; ia mulai membelai lembut rambut sahabat kecilnya itu, seolah sedang menenangkan seorang prajurit yang baru pulang dari medan tempur.
Sandi sedikit mendongakkan kepalanya, mengintip dari balik lengannya. Ia menangkap wajah Saskia yang sedang menunduk menatapnya dengan senyum paling manis dan tulus yang pernah ia lihat. Namun, rasa sakit di perutnya lebih dominan daripada debaran di dadanya. Sandi terdiam sejenak, lalu kembali menutup matanya, membiarkan jemari Saskia terus menari di kepalanya.
"San, angkat kaos lo. Biar gue olesin balsemnya sekarang," suara Anggita memecah keheningan. Ketua kelas itu berlutut di lantai dengan botol balsem di tangan.
Tanpa banyak protes, Sandi mengangkat bagian bawah kaosnya hingga batas dada. Detik itu juga, mata Saskia membelalak sempurna. Ia tersipu, buru-buru menutupi mulutnya dengan tangan melihat abs Sandi yang terbentuk rapi dan kencang—hasil dari bertahun-tahun latihan silat bersama almarhum kakeknya dan hasil dari kerja keras mengangkat plastik ukuran jumbo pakaian pelanggan ibunya. Anggita, meski dikenal tomboi dan tangguh, tetaplah seorang gadis remaja. Jemarinya sedikit gemetar saat mulai meraba permukaan perut Sandi yang kotak-kotak untuk meratakan balsem panas tersebut.
"Gue olesin ya, San. Tahan dikit kalau panas," bisik Anggita, fokusnya mendadak sangat serius pada setiap inci otot perut Sandi.
Sandi hanya mengangguk pasrah, membiarkan hawa panas balsem mulai meresap ke dalam kulitnya. Andra yang sudah selesai membantu Vino merapikan kabel PS, menghampiri mereka sambil geleng-geleng kepala. "San... San... Kayaknya lo kena tulah gara-gara tadi smackdown gue tanpa alasan. Sekarang lo ngerasain kan batunya?"
"Iye... sori, Ndra," sahut Sandi dari balik lengannya. "Tapi ini murni kesalahan teknis si Oneng Pe'a! Dia yang kesenangan nggak jadi ngedate, tapi malah gue yang jadi korban imbasnya."
Anggita yang masih sibuk mengoles balsem dengan gerakan memutar, menimpali dengan nada bercanda, "Udah, jangan dibahas lagi. Lagian kalau nggak ada kejadian tragis ini, mana mungkin gue punya kesempatan emas buat 'grepe-grepe' badan lo yang atletis ini, kan?"
Tawa meledak di ruangan itu. Andra, Vino, bahkan Sandi pun ikut terkekeh meski perutnya masih terasa kaku. Mendengar kata 'grepe-grepe', sisi polos Saskia mendadak muncul. Tanpa pikir panjang, ia ikut mengulurkan tangannya, menyentuh dan meraba tekstur perut Sandi yang keras dengan ekspresi penuh rasa ingin tahu.
"Woy, setan lo pada! Benar-benar nyari kesempatan dalam kesempitan ya!" protes Sandi sambil berusaha bangun dari posisinya.
Namun, karena otot perutnya masih tegang dan tenaganya belum pulih benar, keseimbangan Sandi goyah. Tubuhnya merosot dari sofa. Secara refleks, tangan Sandi menyambar apa saja yang ada di dekatnya untuk berpegangan. Sialnya, yang ia tarik adalah tangan Saskia.
Bruk!
Saskia ikut terhuyung dan jatuh telak di atas tubuh Sandi yang terbaring di karpet. Jarak wajah mereka hanya tersisa beberapa senti. Aroma parfum stroberi Saskia beradu dengan aroma balsem otot yang menyengat. Mereka berdua saling mengunci pandangan. Di tengah keheningan yang mendadak canggung itu, Saskia justru tersenyum manja. Tanpa ragu, ia memajukan wajahnya sedikit.
Cup!
Sebuah kecupan singkat dan polos mendarat tepat di ujung hidung mancung Sandi.
Anggita dan Andra terpenganga lebar, nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. "Anjir! Gue tarik kata-kata gue tadi," seru Andra dengan nada iri yang kocak. "Gue rela sakit perut seminggu kalau bonusnya kayak gitu, San!"
Ruangan itu kembali gempar oleh tawa dan sorakan teman-temannya. Sementara itu, Sandi masih mematung di lantai, matanya mengerjap-ngerjap. Otaknya seolah sedang mengalami loading sistem yang berat, mencoba mencerna bagaimana mungkin hidungnya baru saja "dijajah" oleh sahabat paling ajaib dalam hidupnya.
Sandi masih mematung di atas karpet, jemarinya menyentuh ujung hidungnya dengan ekspresi bingung yang luar biasa polos. "Apaan tuh tadi? Kok hidung gue mendadak basah begini?" tanyanya dengan nada suara yang masih loading.
Anggita yang menyaksiakan adegan slow-motion itu langsung menyemburkan tawa. "San, selamat ya. Hidung lo resmi udah nggak perawan lagi hari ini!"
Mendengar itu, kesadaran Sandi seolah tersengat listrik. Ia langsung mengusap hidungnya kasar dengan punggung tangan. "Astaghfirullah! Pantesan mendadak bau jigong!" serunya spontan.
Saskia yang tadinya tertunduk malu dengan wajah semerah kepiting rebus, seketika berubah haluan. Bibirnya mengerucut tajam, matanya mendelik gemas ke arah Sandi. "Ihh, Sandi mah jahat banget! Kan sudah dibilang aku sudah sikat gigi berkali-kali, masih saja dibilang bau mulut. Itu tuh bau balsem di perut kamu tau!" protesnya sambil menghentakkan kaki.
Vino, Andra, dan Anggita kompak tertawa meledak melihat interaksi absurd dua sahabat lama itu. Andra kemudian mengulurkan tangan, menarik Sandi agar bisa duduk tegak meski wajahnya masih agak pucat.
"Guys! Sudah-sudah dramanya, ntar malah jadi sinetron beneran," potong Vino sambil menunjuk ke arah pintu kaca besar di ruang tengah. "Kita ke belakang yuk. Kita nongkrong di pinggir kolam renang saja sambil sikat cemilan yang tadi dibeli Nyokap. San, perut lo kan masih kaku, jangan nekat ikutan nyebur ya. Lo duduk manis saja di kursi santai sambil makan ice cream, biar otot perut lo rileks kena yang dingin-dingin."
Mereka semua mengangguk setuju dan mulai berbondong-bondong menuju halaman belakang rumah Vino yang asri. Anggita dengan setia merangkul bahu Sandi, menuntunnya berjalan paling belakang karena langkah Sandi yang masih agak menyeret. Sementara itu, Vino dan Andra sudah berlari kencang, berebut siapa yang sampai duluan ke tepi kolam.
Saskia berjalan di depan Sandi dan Anggita, namun langkahnya melambat. Ia berkali-kali menoleh ke belakang, menatap tangan Anggita yang melingkar di bahu Sandi. Melihat keduanya asyik mengobrol dan sesekali tertawa kecil, ada rasa sesak yang kembali menghimpit dada Saskia. Ia merasa seperti ada dinding kaca tak kasatmata yang memisahkannya dari keakraban mereka, seolah ia adalah orang asing yang baru bergabung di Kelompok Sableng.
Sandi yang menyadari perubahan aura di depannya, menatap punggung Saskia yang tampak lesu. "Sas! Dengerin gue ya," panggil Sandi dengan nada memperingatkan. "Kalau lo berani kayak gitu lagi, awas lo ya. Inget, lo itu sudah punya Nanda. Jangan sembarangan 'obral' bibir lo ke mana-mana, mau itu cuma di hidung sekalipun. Paham lo?"
Saskia berhenti melangkah, ia berbalik dan menatap Sandi dengan tatapan yang sangat polos, seolah tidak melakukan kesalahan berat. "Tapi... kalau aku jadi pacar kamu, boleh kan aku cium kamu, San?"
Langkah Sandi seketika terhenti. Ia menoleh ke arah Anggita yang sedang berusaha keras menahan tawa sampai wajahnya memerah. Sandi menarik napas panjang, menatap langit-langit teras dengan pasrah.
"Nggi... kayaknya perut gue mendadak sembuh deh," ujar Sandi datar. "Gue mau berenang sekarang juga. Gue mau tenggelamin bocah ajaib satu ini biar otaknya agak beneran dikit."
Tawa Anggita pecah seketika, ia tidak kuat lagi membendung geli di dadanya. Namun, Saskia justru menanggapi dengan antusiasme yang salah sasaran. Ia tersenyum lebar dan mendekat ke arah Sandi. "Ayo, San! Aku juga mau kok diajarin berenang sama kamu. Tenggelamin aku di hati kamu saja, gimana?"
Anggita makin terpingkal-pingkal sampai menyeka air mata yang keluar di sudut matanya. Sandi hanya bisa memijat pangkal hidungnya yang tadi dicium. "Gue mau nenggelamin lo beneran ke dasar kolam, Sas! Bukan ngajarin lo gaya katak! Aduh... susah banget ya ngomong sama makhluk satu ini. Frekuensinya beda planet!"
Anggita berusaha menenangkan suasana sambil tetap terbahak. "Sudah, sudah ah! Nggak bakal nyampai-nyampai kita ke kolam kalau terus-terusan ngebahas ocehan absurd kalian berdua. Bisa-bisa ice cream-nya keburu cair duluan."
Sandi hanya bisa menghela napas panjang, menyerah pada kenyataan bahwa logikanya tidak akan pernah menang melawan kepolosan Saskia. Akhirnya, mereka bertiga berjalan bersama menuju area kolam renang, menyusul Vino dan Andra yang sudah mulai menciptakan cipratan air di bawah terik matahari siang itu.