NovelToon NovelToon
SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Mengubah Takdir
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

"Uangku adalah uang kita, tapi uangmu adalah uang keluargamu."

​Kalimat itu menjadi pahit yang Arumi telan setiap hari. Membesarkan dua anak yang beranjak dewasa sendirian di bawah atap yang sama dengan seorang suami, Arumi merasa seperti single parent berstatus menikah. Sementara sang suami tampil necis dan loyal di luar sana, Arumi harus berjuang dengan wajah kusam di depan laptop demi biaya sekolah anak-anak.

​Sampai kapan Arumi harus mengalah? Apakah pernikahan sepuluh tahun ini layak dipertahankan jika keberadaannya hanya dianggap sebagai 'mesin penghasil uang' yang tak berhak bahagia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALDO ISTRI, NAFKAH SUAMI

Lidah Ibu Pras yang terkenal tajam di kalangan keluarga besarnya kembali meluncurkan racun tanpa memedulikan kehadiran Pak RT yang duduk tepat di hadapan mereka. Bukannya merenungi keputusan tegas dan mutlak yang baru saja diucapkan oleh Arumi, wanita paruh baya itu justru sengaja menegakkan punggungnya yang dibalut pakaian sutra mahal. Ia melipat kedua tangannya di atas dada, lalu melemparkan senyuman yang teramat sinis, meremehkan, dan penuh dengan kepalsuan. Baginya, kata cerai yang keluar dari mulut Arumi bukanlah sebuah musibah, melainkan sebuah berkah tersembunyi. Ini adalah jalan tol untuk membebaskan anak laki-laki kesayangan sekaligus pahlawan finansial keluarganya dari jerat daster lusuh menantu yang selama sepuluh tahun ini selalu ia anggap sebagai beban melarat yang menumpang hidup.

"Bagus! Bagus sekali kalau kamu akhirnya sadar diri dan tahu di mana tempatmu, Arumi!" seru Ibu Pras dengan suara melengking tinggi, sengaja menekan setiap kata agar memekakkan telinga di dalam ruang tamu yang sempit itu. "Memang dari awal, sepuluh tahun yang lalu, Pras itu harusnya tidak usah menikah dengan wanita macam kamu! Anak saya ini punya jabatan tetap, punya masa depan yang sangat cerah di kantornya, tampan, dan berwibawa! Harusnya dia bisa mendapatkan istri yang jauh lebih berkelas, wanita karier yang wangi, modis, dan tahu cara menghormati serta memanjakan keluarga mertua! Bukan perempuan pembangkang, pelit, dan dekil seperti kamu ini!"

Wanita itu kemudian melirik sekilas ke arah koridor kamar tempat Bintang dan Langit berada. Tatapan matanya begitu dingin, kosong, dan sama sekali tidak mencerminkan kasih sayang seorang nenek kandung. Bagi Ibu Pras, kedua cucunya itu tidak lebih dari sekadar beban operasional yang selama ini mengurangi jatah uang saku yang biasa ia terima dari Pras setiap bulannya.

"Dan tolong dicatat ya, Arumi! Karena kamu yang kegatalan mau meminta pisah, maka kamu sendiri yang harus mengurus semua surat-surat perceraian sialan itu ke pengadilan! Jangan pernah berani-berani kamu membebani anak saya, Pras, dengan urusan birokrasi sampah yang menyita waktu kerjanya yang berharga! Masalah anak-anak, silakan ambil semuanya! Bawa mereka ikut kamu, telantarkan mereka sekalian kalau kamu sanggup! Anak saya tidak sudi disibukkan dengan urusan mengasuh anak-anak yang sudah kamu cuci otaknya sejak kecil untuk jadi pembangkang dan tidak tahu sopan santun kepada ayahnya sendiri!" lanjut Ibu Pras dengan nada menghakimi yang sangat keji.

Pras yang duduk tepat di sebelah ibunya hanya bisa terdiam mematung dengan wajah kusam dan pandangan kosong yang mengarah ke lantai lantai tegel tua. Ada sedikit rasa sesak dan hantam batin di dalam dadanya saat mendengar ibunya dengan begitu mudah membuang hak asuh Bintang dan Langit seperti membuang barang bekas. Namun, ego besarnya yang telanjur terluka parah akibat perlawanan Arumi pagi ini, ditambah rasa malu karena rahasia nafkahnya dibongkar di depan Pak RT, membuat pria itu memilih untuk mengunci mulutnya rapat-rapat. Dia terlalu pengecut untuk membela darah dagingnya sendiri di hadapan sang ibu.

Mendengar kalimat demi kalimat penuh racun yang keluar dari mulut ibu mertuanya, Arumi tidak lagi merasakan sakit hati atau denyut perih di dadanya. Rasa itu sudah mati, menguap bersama dengan hilangnya rasa hormatnya kepada Pras sejak beberapa hari yang lalu. Arumi justru memajukan tubuhnya, menumpu kedua tangannya di atas meja kayu, lalu melemparkan tatapan mata yang penuh dengan penghinaan yang jauh lebih dalam ke arah Pras dan ibunya. Sebuah senyuman kemenangan yang begitu dingin kini mengembang sempurna di bibir Arumi, memancarkan aura yang sangat menggebu-gebu, berkuasa, dan tak tergoyahkan di bawah atap rumah peninggalan orang tuanya sendiri.

"Ibu tidak perlu berteriak-teriak sampai urat leher Ibu mau putus seperti itu, Ibu Mertua yang Terhormat," balas Arumi, suaranya terdengar begitu lantang, tegas, bergema, dan penuh dengan penekanan yang mematikan di setiap suku katanya. "Ibu tidak perlu repot-repot meminta atau mengancam saya, karena saya sendiri dengan kaki dan tangan saya sendiri yang akan melangkah ke Pengadilan Agama untuk mendaftarkan gugatan cerai itu besok pagi! Saya akan pastikan prosesnya berjalan dengan sangat cepat, tanpa membuang-buang waktu berharga saya untuk mempertahankan laki-laki tidak berguna seperti anak Ibu ini!"

Arumi sengaja menjeda kalimatnya selama beberapa detik. Ia menatap lurus ke dalam bola mata Pras, membuat pria itu secara refleks memalingkan wajahnya ke arah lain karena tidak kuat menahan sorot mata Arumi yang begitu mengintimidasi.

"Saya yang akan menggugat, karena saya tahu betul anak Ibu yang selalu bertingkah sok kaya di luar sana ini sebenarnya kere!" serang Arumi balik dengan kalimat yang langsung menghantam telak ulu hati Pras. "Urusan biaya pendaftaran sidang, biaya administrasi, sampai biaya sewa pengacara sekalipun, saya tahu betul anak Ibu tidak akan punya simpanan uangnya. Kenapa? Karena semua uang gajinya sudah habis dikuras untuk memanjakan ego Ibu, membelikan perhiasan emas yang Ibu pamerkan itu, dan membiayai gaya hidup adik-adiknya Pras yang malas bekerja di kampung! Jadi biar saya, perempuan yang Ibu sebut dekil ini, yang membayar semua biaya persidangan itu menggunakan uang cash dari hasil keringat saya sendiri!"

"Arumi!! Jaga mulutmu ya! Kamu sudah keterlaluan menghina keluargaku!" bentak Pras, wajahnya memerah padam seperti udang rebus, napasnya memburu serabutan karena harga dirinya sebagai laki-laki kantoran kembali diinjak-injak sampai ke dasar tanah di depan Pak RT.

"Kenapa, Pras?! Kamu merasa terhina?! Kamu mau membantah fakta bahwa kamu memang laki-laki kikir yang tidak punya tabungan?!" tantang Arumi, suaranya semakin menggeledar memburu, memotong bentakan Pras tanpa rasa takut sedikit pun.

Arumi kemudian beralih menatap Ibu Pras yang kini matanya sudah melotot sempurna, napasnya tersengal karena terkejut mendengar kata kere disematkan secara langsung pada anak laki-laki kesayangannya.

"Dan untuk Ibu... Ibu bilang Pras tidak usah dibebani dengan urusan anak-anak? Tenang saja, Bu! Jangan khawatir! Jangankan diminta, jika anak Ibu meminta hak asuh mereka pun, saya akan bertarung sampai mati untuk menolaknya! Bintang dan Langit adalah separuh nyawa saya, dan mereka mutlak akan ikut bersama saya! Ibu perlu tahu, selama sepuluh tahun pernikahan yang seperti neraka ini, jika kita mau duduk bersama dan menghitung semua pengeluaran secara jujur dan transparan di depan Pak RT, sayalah yang sudah membiayai seluruh kehidupan anak-anak saya sendiri!"

Arumi berdiri dari sofanya, dasternya bergoyang seiring dengan dadanya yang kembang kempis menahan emosi yang meluap-luap namun penuh dengan kebenaran yang tak terbantahkan.

"Uang jatah bulanan pelit dari anak Ibu yang cuma naik seratus ribu rupiah per tahun itu, jangankan untuk membiayai sekolah, untuk membelikan baju layak dan makan mereka sehari-hari saja sudah langsung amblas di minggu pertama! Sayalah yang memeras keringat, menahan lapar, bekerja siang dan malam dari mencuci gosok baju tetangga, membuat kue subuh, hingga mengetik novel di laptop tua ini sampai mata saya bengkak, hanya untuk memastikan anak-anak saya bisa memakai sepatu yang layak dan perut mereka tidak kelaparan! Jadi, Ibu tidak usah berlagak seolah-olah keluarga Ibu sedang memberikan sedekah hak asuh kepada saya! Anak Ibu memang tidak pernah punya andil besar, tidak punya peran, dan tidak pernah becus menjadi seorang ayah dalam hidup mereka!"

Mendengar rahasia busuk dan aib ekonomi anaknya dikuliti habis-habisan, ditambah tuduhan miskin serta parasit yang dilemparkan tepat di depan wajahnya, Ibu Pras langsung murka sejadi-jadinya. Batas kesabarannya yang tipis runtuh total. Kepala wanita paruh baya itu seolah meledak karena amarah yang tak tertahankan. Ibu Pras ikut berdiri dengan sentakan kasar, mengguncang-guncangkan kedua pergelangan tangannya yang dipenuhi gelang emas hingga menciptakan suara bergemerincing yang bising dan mengganggu. Wajahnya yang dilapisi bedak padat mahal kini tampak berkerut mengerikan karena distorsi kemurkaan yang luar biasa.

"Kurang ajar kamu, Arumi!!! Sialan!!! Mulutmu benar-benar lancang, dasar perempuan iblis!!" teriak Ibu Pras dengan suara melengking histeris yang nyaris memecahkan keheningan rumah tua itu. Ia mulai mengeluarkan seluruh sumpah serapah kotor dari mulutnya yang bergetar hebat. "Dasar perempuan keturunan melarat tidak tahu diuntung! Semoga setelah kamu keluar dari keluarga kami, hidup kamu hancur sehancur-hancurnya! Semoga tanganmu membusuk, tulisan-tulisan novel sampah kamu itu mati tidak ada yang baca, dan kamu berakhir menjadi pengemis kurus di pinggir jalanan!"

Wanita itu melangkah maju, dadanya naik turun dengan tidak beraturan saat sumpah serapahnya semakin menjadi-jadi. "Kamu akan kena tulah, Arumi! Kamu akan kena azab yang pedih karena sudah berani menghina dan mengusir anak laki-laki saya yang paling berbakti sedunia ini! Saya sumpahin kamu, Bintang, dan Langit hidup menderita, terlunta-lunta, kelaparan, dan dipenuhi penyakit sampai akhir hayat kalian tanpa pernah mendapatkan sepeser pun belas kasihan atau pertolongan dari keluarga kami! Dasar wanita terkutuk! Kamu akan membusuk di rumah reyot ini sendirian!"

Sumpah serapah, makian kotor, dan kutukan yang begitu keji memenuhi setiap sudut ruang tamu yang sempit itu. Suasana berubah menjadi sangat mengerikan. Pak RT yang duduk di antara mereka langsung menggeleng-gelengkan kepalanya berulang kali. Wajah pria paruh baya itu tampak dipenuhi rasa jijik, muak, dan ketidakpercayaan yang mendalam melihat tabiat asli, watak kasar, dan mulut kotor dari keluarga besar Pras yang selama ini selalu berlagak sebagai orang terpandang.

Namun, di hadapan badai kutukan itu, Arumi tidak gentar atau mundur setapak pun. Ia justru berdiri dengan kokoh, melipat tangannya, dan menatap Ibu Pras serta Pras dengan pandangan mata yang begitu dingin dan kosong seolah menganggap sumpah serapah itu tidak lebih dari sekadar gonggongan angin lalu yang tidak berharga.

Bagi Arumi yang kini telah memegang kontrak kesuksesan dari penerbit mayor di tangannya, semua makian itu adalah tanda bahwa rantai tak kasat mata yang mengikatnya selama sepuluh tahun ini telah putus sepenuhnya. Hari ini, di bawah saksi mutlak Pak RT dan di dalam rumah suci peninggalan orang tuanya, Arumi telah memenangkan pertempuran paling krusial untuk menjemput kebebasan sejati bagi dirinya dan kedua putranya.

"Sudah selesai sumpah serapahnya, Bu?" tanya Arumi dengan nada suara yang teramat tenang namun dingin, mengakhiri perdebatan dengan kemenangan mutlak yang membuat Ibu Pras langsung kehabisan kata-kata karena syok melihat ketegaran menantunya.

1
Uthie
rasain tuhh mereka 😡
Suanti
setelah selesai bangun rmh 3 lantai rmh arumi mantan ibu mertua langsung stroke🤭🤣🤣🤣
Uthie
Maaff Thor . koq rasanya ada penggambaran soal bonceng 3 naik motor Matic aga kurang masuk di akal sy yaa 😁🙏🙏

kenapa juga gak naik taksi online atau apa gtu, walau cerita nya mereka masih akting susah sekali pun🙏🙏😁
blcak areng: siap kak 😁😁
total 1 replies
Uthie
dasar manusia - manusia culas 😡😡😡
Uthie
Mantap nii Bu RT dan Bu Ida 👍😁
Suanti
jgn sampai tukang renovasi rmh arumi bocor blg arumi mau renovasi rmh bertingkat 3🤭
Uthie
Maju terus Arumi 👍👍😍
Uthie
kebahagiaan dan Rizki selain materi adalah, memiliki Tetangga yg baik dan saling Peduli satu sama lain 👍👍😍
Suanti
uang 200jt arumi bisa renovaai rmh nya jdi tingkat 2 . uang dlm tabungan arumi bisa buka, usaha 🤭
Uthie
dikira Arumi malah akan ada keluarga yg akan terus melindungi nya, tau nya cuma nitipin jatah warisan ayahnya dulu tohhh... 😁
padahal harusnya hubungan keluarga jangan sampai putus begtu saja, kalau sdh ada penyesalan terdalam dan niat baik untuk memperbaiki nya....
memang menyakitkan, namun mikir untuk kedepannya saja 🙏🙏😁
Uthie
Maaf Thor....itu bagaimana yaa? koq Arumi naik ke boncengan motor pak RT?? lahh Bu RT nya di kemanain?? 😂😂
bukannya Arumi juga punya motor sendiri walau sdh tua yaa peninggalan bapak nya yg suka antar jemput sekolah??? maaf... tolong di jelaskan 😁🙏🙏
blcak areng: udah biarin aja.. ini pak polisi nya mikir" mau nilang Arumi kak🤣🤣
total 3 replies
Uthie
Maju dan sukses 👍👍👍
Uthie
Seharusnya demikianlah bertetangga itu.. saling menjaga satu sama lain seperti keluarga sendiri... ikut bahagia jika ada yg bahagia, ikut sedih jika ada yg sedih dan terluka 👍👍😍
Uthie
Biar sumpah nya berbalik untuk dirinya dan keluarga nya sendiri itu 😡
Suanti
sumpah serapah ibu nya pras buat arumi semoga aja kebalikkan nya senjata mkn tuan 🤣🤣🤣🤣
Uthie
Good Choice Arumi 👍👍👍😡
Uthie
Mantappp ituuu 👍👍😡😡
Uthie
Bagusssss Arumi 👍😡
Uthie
Balas terus Arumi 👍😡😡
Uthie
dasar manusia2 Toxic 😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!