Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4: Jejak Darah di Balik Kedok Persahabatan
Pelukan hangat itu terasa begitu nyata, begitu nyaman, namun di saat yang sama terasa begitu menyakitkan di dada Lira. Selama lima tahun ia hidup dengan rasa dingin, rasa kesepian, dan rasa benci yang memakan batinnya sendiri. Ia sudah lupa bagaimana rasanya dicintai, bagaimana rasanya merasa aman di dalam pelukan seseorang. Dan sekarang, saat ia akhirnya merasakannya kembali, kebenaran yang paling mengerikan sekaligus menimpanya: orang yang selama ini dianggap sahabat sejati ayahnya, orang yang selalu tersenyum ramah dan penuh perhatian, ternyata adalah pembunuh ibunya, ternyata adalah dalang di balik semua kehancuran keluarganya.
Raga merasakan tubuh Lira yang gemetar hebat di dalam pelukannya, merasakan air mata wanita itu yang membasahi bahu jaketnya. Hati Raga terasa perih sekali, rasa bersalah yang luar biasa besar menusuk hatinya. Ia merasa menjadi bagian dari dosa besar itu, meskipun ia sama sekali tidak tahu apa pun dan tidak terlibat sedikit pun. Bagaimana mungkin ia bisa mencintai putri dari keluarga yang dihancurkan oleh tangan ayahnya sendiri? Bagaimana mungkin ia bisa berdiri di sini, memeluk wanita yang menjadi korban kejahatan keluarganya, dan berjanji akan melindunginya?
“Maafkan aku, Lira… Maafkan aku…” bisik Raga berulang kali dengan suara parau, tangannya mengusap lembut punggung Lira, berusaha menenangkan sekaligus menumpahkan rasa bersalahnya. “Aku tidak tahu apa pun dulu. Kalau aku tahu, aku pasti sudah menghentikan semuanya sejak lama. Aku tidak akan membiarkan ayahku melakukan hal kejam itu. Aku… aku malu sekali menjadi anak dari orang sejahat itu.”
Lira perlahan melepaskan pelukannya, tangannya masih bertumpu di dada bidang Raga, matanya yang basah menatap lurus ke dalam mata pemuda itu. Wajahnya masih penuh air mata, namun tatapannya kini sudah berubah, bukan lagi hanya penuh kesedihan, tapi kini bercampur dengan tekad yang kuat dan kemarahan yang membara.
“Raga, aku tidak menyalahkanmu,” ucap Lira pelan namun tegas. “Kamu tidak bersalah. Kamu tidak ada hubungannya dengan kejahatan itu. Yang bersalah adalah ayahmu, orang yang tidak punya hati nurani itu. Tapi sekarang… aku butuh tahu semuanya. Aku butuh tahu bagaimana caranya dia melakukannya. Aku butuh tahu apa alasannya sampai dia tega membunuh sahabatnya sendiri, membunuh ibuku, dan menghancurkan seluruh kehidupan kami. Aku tidak akan tenang sebelum aku tahu seluruh kebenaran, dan sebelum aku mendapatkan keadilan yang pantas.”
Raga mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang yang berat. Ia menuntun Lira duduk di atas bangku kayu tua yang sudah berlumut di bawah pohon beringin itu, lalu duduk di sampingnya, menjaga jarak sedikit namun tetap cukup dekat untuk merasa saling melindungi. Ia menatap langit yang masih tertutup awan kelabu, lalu mulai menceritakan segala hal yang sudah ia ketahui, hal-hal yang selama ini ia simpan sendirian dalam rasa sakit dan keraguannya.
“Sebenarnya, kecurigaan aku bermula tiga tahun yang lalu,” mulailah Raga dengan suara rendah. “Waktu itu aku sedang mengurus berkas-berkas lama di ruang kerja ayah, karena beliau sedang sakit dan memintaku membantu. Saat aku sedang memilah tumpukan dokumen lama, aku tidak sengaja menemukan sebuah buku catatan rahasia yang tersembunyi di balik laci bawah meja kerjanya. Di dalam buku itu, tertulis semua rencana, semua langkah, dan semua perhitungan yang sudah beliau siapkan bertahun-tahun lamanya.”
Jantung Lira berdebar kencang, ia mendengarkan dengan saksama tanpa berkedip sedikit pun.
“Dari catatan itu, aku tahu bahwa rencana ini sudah beliau siapkan sejak dua puluh tahun yang lalu, jauh sebelum kita lahir,” lanjut Raga, nada suaranya semakin dingin dan penuh rasa jijik. “Dulu, ayahku dan ayahmu memang benar-benar sahabat dekat. Mereka sama-sama muda, sama-sama berambisi, dan sama-sama memulai bisnis dari nol bersama-sama. Namun perlahan, rasa iri dan dengki mulai tumbuh di hati ayahku. Karena apa pun yang dilakukan ayahmu, selalu lebih sukses, selalu lebih disukai orang, selalu lebih dihargai. Dan yang paling membuatnya tidak terima… Ibumu, Bu Ratih, sebenarnya pernah dicintai juga oleh ayahku dulu. Tapi Ibumu memilih ayahmu, dan itu menjadi rasa sakit yang tidak pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.”
Lira terkejut mendengar hal itu. Ia sama sekali tidak tahu tentang masa lalu orang tua mereka, tidak tahu bahwa ada kisah cinta segitiga yang tersembunyi di balik persahabatan mereka yang terlihat begitu erat.
“Jadi… semua kejahatan itu berawal dari rasa cinta yang ditolak dan rasa iri hati?” tanya Lira dengan nada tidak percaya. “Apakah alasan sekecil itu cukup untuk membuat seseorang tega melakukan pembunuhan dan menghancurkan nyawa orang lain?”
“Bagi orang yang hatinya sudah gelap dan hanya memikirkan kekuasaan serta kepuasan pribadi, ya, itu sudah cukup menjadi alasan yang kuat,” jawab Raga dengan getir. “Rasa iri itu makin membesar seiring berjalannya waktu. Ayahku merasa ayahmu sudah mengambil segalanya darinya: cinta wanita yang ia cintai, kesuksesan, nama baik, dan rasa hormat orang lain. Akhirnya, ia menyusun rencana jahat: ia akan menghancurkan ayahmu perlahan-lahan, mengambil semua kekayaan dan kekuasaannya, dan yang paling penting… ia akan menghilangkan Bu Ratih, karena baginya, selama Ibumu masih hidup, ayahmu akan selalu bahagia dan sempurna, sedangkan dirinya akan selalu merasa kalah dan menderita.”
Raga berhenti sejenak, menelan ludah karena rasa pahit yang memenuhi mulutnya, lalu melanjutkan lagi.
“Lima tahun yang lalu, hari di mana Ibumu meninggal, itu bukan hari kebetulan. Ayahku sudah merencanakannya berbulan-bulan sebelumnya. Beliau diam-diam meracuni minuman Ibumu dengan racun yang bekerja perlahan dan gejalanya mirip sekali dengan serangan jantung. Itulah sebabnya semua dokter saat itu menyimpulkan Ibumu meninggal karena sakit jantung mendadak, tanpa ada yang curiga sedikit pun. Setelah itu, beliau mulai menyebarkan fitnah buruk tentang keluargamu, mengatur supaya bisnis ayahmu mengalami kerugian besar, dan akhirnya… beliau memprovokasi ayahmu sampai marah besar dan mengusirmu keluar rumah. Semua itu adalah bagian dari rencananya, supaya ayahmu kesepian, putus asa, dan akhirnya mudah dikendalikan serta diambil semua harta dan asetnya.”
Air mata Lira mengalir deras kembali, namun kali ini bukan karena lemah, tapi karena rasa marah yang meledak-ledak. Ia mencengkeram pinggiran bangku kayu itu dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Semua rasa sakit yang ia alami selama lima tahun ini, semua air mata yang ia tumpahkan, semua rasa kesepian yang ia rasakan… ternyata semuanya adalah hasil rekayasa jahat dari satu orang yang tidak punya hati itu. Semua penderitaannya ternyata bukan takdir buruk, melainkan rencana jahat yang disusun dengan rapi dan kejam.
“Dia… dia benar-benar iblis berwajah manusia…” gumam Lira dengan suara gemetar karena marah. “Bagaimana dia bisa tidur nyenyak setiap malam, padahal tangannya penuh dengan darah ibuku? Bagaimana dia masih berani tersenyum dan datang ke sini seolah tidak terjadi apa-apa?”
“Karena dia tidak punya rasa bersalah, Lira. Baginya, apa yang dia lakukan itu adalah perjuangan untuk mendapatkan apa yang menurutnya seharusnya menjadi miliknya. Dia menganggap dirinya benar, dan menganggap semua orang lain adalah penghalang yang harus disingkirkan,” kata Raga dengan nada dingin. “Dan sekarang, langkah terakhir dari rencananya sudah tiba. Ayahmu sudah meninggal, dan hanya tinggal kamu satu-satunya orang yang menjadi penghalang terakhir baginya. Dia ingin mengambil seluruh harta, tanah, perusahaan, dan nama baik keluarga Ardiansyah sepenuhnya. Dan untuk itu, dia butuh satu hal lagi: kalung peninggalan Ibumu yang hilang itu.”
Lira mengangkat wajahnya menatap Raga. “Apakah dia yang mengambil kalung itu juga?”
Raga mengangguk. “Ya. Setelah pemakaman Ibumu, dia diam-diam masuk ke kamar dan mengambilnya. Dia tahu betul isi di dalam liontin itu, karena dulu saat mereka masih muda, Ibumu pernah bercerita sedikit padanya tentang benda itu. Dia tahu di dalamnya ada surat perjanjian asli pembagian harta dan bukti bahwa sebagian besar kekayaan yang sekarang dimiliki keluarganya sebenarnya adalah hak milik keluarga Ardiansyah. Selama dia belum bisa membuka dan menghancurkan bukti itu, dia tidak akan merasa aman, dan dia tidak bisa sepenuhnya menguasai segalanya. Itulah sebabnya dia sangat menginginkan kalung itu, dan itulah sebabnya dia akan melakukan apa saja, bahkan mencelakai kamu, untuk mendapatkannya.”
Tiba-tiba ingatan Lira teringat pada pesan terakhir ayahnya, pada kata-kata Bu Sumi, dan pada rasa diawasi yang ia rasakan sepanjang hari ini. Ternyata benar, bahaya itu bukan sekadar ketakutan berlebihan, tapi ancaman nyata yang sudah ada tepat di sampingnya. Nyawanya kini benar-benar berada dalam bahaya besar, karena ia adalah satu-satunya orang yang tersisa yang mengetahui kebenaran, dan juga satu-satunya orang yang mungkin menyimpan kode rahasia untuk membuka kunci kalung itu.
“Jadi… dia tidak akan berhenti sebelum dia mendapatkan kalung itu dan menyingkirkan aku dari jalannya,” gumam Lira pelan.
“Tepat sekali,” jawab Raga tegas. “Itulah sebabnya aku memintamu bertemu malam ini. Aku tidak hanya ingin memberitahu kebenaran, tapi juga ingin mengingatkanmu untuk berhati-hati setengah mati. Mulai detik ini, jangan percaya siapa pun selain aku dan Bu Sumi. Di rumah ini, ada orang yang menjadi mata-mata ayahku. Bukan hanya Pak Darto, mungkin ada orang lain yang diam-diam bekerja untuknya. Jangan bicara sembarangan, jangan menyimpan barang penting di tempat yang mudah ditemukan, dan selalu waspada di mana pun kamu berada.”
Lira mengangguk paham, lalu pandangannya jatuh pada berkas kertas yang masih ada di tangannya, berkas yang tadi diberikan Raga.
“Dan ini… apa isinya?” tanyanya sambil mengangkat berkas itu sedikit.
“Ini adalah salinan catatan, bukti transaksi palsu, rekaman percakapan, dan keterangan saksi yang diam-diam aku kumpulkan selama ini. Semua ini cukup kuat untuk membuktikan kejahatan korupsi, pemalsuan dokumen, dan bahkan pembunuhan berencana yang dilakukan ayahku,” jelas Raga. “Aku menyimpannya untuk berjaga-jaga, sebagai senjata terakhir jika dia sampai bertindak terlalu jauh. Tapi sayangnya, sebagian bukti yang paling kuat ada di dalam kalung itu. Tanpa bukti asli yang ada di dalam sana, bukti yang aku miliki ini masih bisa dibantah dan dianggap palsu oleh pengacara ayahku yang sangat cerdik.”
Lira menggenggam berkas itu dengan erat, merasa beban berat sekaligus harapan baru ada di tangannya. Selama ini ia merasa sendirian dan tidak berdaya, namun sekarang ia tahu ia punya senjata, ia punya bukti, dan yang paling penting, ia punya orang yang berdiri bersamanya melawan musuh besar itu.
“Terima kasih, Raga…” ucap Lira dengan tulus, matanya menatap pemuda itu dengan pandangan yang penuh rasa percaya yang mulai tumbuh kembali. “Terima kasih karena sudah berani melawan ayahmu sendiri demi kebenaran. Terima kasih karena tidak membiarkan aku jatuh sendirian. Aku tahu ini berat bagimu, sangat berat… harus melawan darah daging sendiri. Tapi aku berjanji, kita akan menyelesaikan ini bersama-sama. Kita akan membongkar semua kejahatan itu, kita akan mendapatkan keadilan untuk Ibu, untuk Ayah, dan untuk semua orang yang sudah disakiti olehnya.”
Raga tersenyum tipis, senyum yang sedikit sedih namun juga penuh keteguhan. Ia mengulurkan tangannya, lalu perlahan menggenggam tangan Lira dengan lembut namun erat.
“Apa pun akan aku lakukan, Lira. Tidak peduli seberapa berat, tidak peduli seberapa besar risikonya, bahkan jika aku harus melawan seluruh keluargaku sendiri atau bahkan harus mengorbankan nyawaku… aku akan tetap bersamamu. Karena bagiku, cintamu dan kebenaran itu jauh lebih berharga daripada apa pun di dunia ini. Ingat janji yang dulu pernah kita ucapkan di tempat ini? Bahwa kita akan selalu saling menjaga, saling melindungi, dan tidak akan pernah terpisah apa pun yang terjadi?”
Lira mengangguk pelan, air mata bahagia bercampur haru kembali menetes. Ia ingat betul janji itu. Dulu, di bangku yang sama, di bawah pohon yang sama, mereka berdua masih remaja yang polos, saling mengaitkan jari kelingking dan berjanji akan saling setia seumur hidup. Janji itu sempat terkubur dalam-dalam bersama rasa sakit dan perpisahan, namun ternyata janji itu tidak pernah mati, tetap hidup dan menunggu saat yang tepat untuk ditepati kembali.
“Aku ingat…” bisik Lira. “Aku ingat setiap kata yang kita ucapkan malam itu. Dan aku bersedia menepatinya lagi, sekarang.”
Suasana hangat dan penuh harapan itu perlahan menyelimuti mereka berdua, menghapus sedikit rasa dingin dan ketakutan yang ada di hati. Namun, momen manis itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba, dari kejauhan, terdengar suara ranting patah yang keras, disusul dengan suara langkah kaki yang cepat mendekat dari arah semak belukar di sisi taman.
Kedua mata Raga dan Lira seketika melebar karena kaget dan waspada. Raga dengan sigap langsung menarik tubuh Lira ke belakang punggungnya, melindunginya dengan tubuhnya sendiri, sementara matanya menatap tajam ke arah kegelapan tempat suara itu berasal.
“Siapa di sana?” bentak Raga dengan suara keras dan tegas.
Tidak ada jawaban, namun suara langkah kaki itu terdengar makin cepat menjauh, seolah orang itu ketahuan sedang mengintai dan segera lari kabur.
“Ada orang yang mengawasi kita!” bisik Lira dengan nada cemas.
“Iya, pasti salah satu orang suruhan ayahku,” jawab Raga cepat, wajahnya tampak serius dan tegang. “Mereka tahu kita bertemu, dan mereka pasti sudah melihat aku memberikan berkas bukti itu padamu. Situasinya sekarang makin berbahaya, Lira. Kita tidak boleh berlama-lama di sini. Kamu harus segera kembali ke kamarmu, sembunyikan berkas itu di tempat yang sangat aman, tempat yang tidak ada orang lain yang tahu. Dan mulai besok, kamu harus ekstra hati-hati, lebih hati-hati dari sebelumnya.”
Lira mengangguk cepat, lalu dengan tergesa-gesa ia melipat berkas itu dan memasukkannya ke dalam saku bagian dalam jaketnya.
“Baik. Lalu bagaimana dengan kita? Kapan kita bisa bertemu lagi untuk membicarakan rencana selanjutnya?” tanya Lira dengan nada cemas.
“Aku akan mencari cara untuk menghubungimu diam-diam. Jangan mencoba mencari aku sendiri, karena mungkin kamu akan diawasi dan dibuntuti. Biarkan aku yang datang kepadamu saat situasi aman,” jawab Raga cepat, lalu ia kembali menggenggam tangan Lira erat-erat. “Ingat, apa pun yang terjadi, jangan menyerah. Aku selalu ada di dekatmu, menjagamu. Percayalah padaku.”
Sebelum Lira sempat menjawab, suara langkah kaki orang banyak terdengar dari arah belakang rumah, disertai suara panggilan nama Lira yang keras.
“Nona Lira?! Nona Lira ada di mana?!”
Itu suara Pak Darto, disertai suara beberapa orang lain. Tampaknya orang yang mengintai tadi sudah melaporkan keberadaan mereka, dan mereka datang untuk memeriksa serta mencari tahu apa yang sedang dilakukan Lira di luar rumah pada jam selarut ini.
“Mereka datang! Cepat, kamu lewat jalan samping, kabur dari sana supaya tidak ketahuan!” perintah Lira cepat, sambil mendorong tubuh Raga ke arah jalan sempit yang tertutup semak belukar.
Raga menatapnya sekali lagi dengan pandangan penuh kekhawatiran, lalu mengangguk cepat. “Hati-hati, Lira! Jangan percaya siapa pun!”
Setelah berkata demikian, Raga segera berlari cepat menghilang ke dalam kegelapan malam, sementara Lira buru-buru menyeka sisa air matanya, mengatur napasnya yang terengah-engah, dan berusaha terlihat tenang seolah-olah ia baru saja keluar untuk mencari udara segar.
Beberapa detik kemudian, lampu senter yang terang menyinari arah bangku kayu itu, dan tampak Pak Darto serta dua orang pelayan lainnya datang tergesa-gesa dengan wajah curiga dan serius. Saat melihat Lira berdiri sendirian di sana, mereka berhenti melangkah dan menatapnya dengan pandangan menyelidik.
“Nona Lira? Kenapa Nona ada di sini sendirian di malam hari? Apakah ada orang lain yang bersama Nona?” tanya Pak Darto langsung, matanya memandang sekeliling dengan curiga.
Lira menatap balik lelaki itu dengan tatapan dingin dan tenang, berusaha menyembunyikan degup jantungnya yang masih berpacu cepat.
“Tidak ada orang lain, Pak Darto,” jawab Lira dengan nada santai. “Aku hanya merasa sesak dan tidak bisa tidur di dalam kamar. Jadi aku keluar sebentar untuk mencari udara segar. Apa ada yang salah dengan itu?”
Pak Darto menatapnya tajam seolah ingin menembus pikiran wanita itu, namun karena tidak melihat orang lain dan tidak menemukan bukti apa pun, ia hanya bisa mengangguk pelan dengan wajah yang masih belum puas.
“Maaf jika saya mengganggu, Nona. Tapi malam ini agak gelap dan berbahaya di luar sana. Sebaiknya Nona segera kembali masuk ke dalam rumah, demi keselamatan Nona sendiri,” ucap Pak Darto dengan nada yang terdengar sopan namun penuh tekanan.
“Terima kasih perhatiannya. Aku akan masuk sekarang,” jawab Lira singkat, lalu ia berjalan melewati mereka dan berjalan kembali masuk ke dalam rumah dengan langkah tegap.
Namun di dalam hatinya, Lira tahu dengan pasti: perang ini baru saja masuk ke babak yang lebih panas, lebih berbahaya, dan setiap langkah yang ia ambil mulai sekarang akan selalu diawasi, dipantau, dan dihadang oleh musuh yang licik dan kejam. Tapi ia tidak takut lagi. Karena sekarang ia punya kebenaran, punya bukti, punya tekad yang kuat, dan yang paling penting, ia punya orang yang selalu berdiri di sisinya, menemani perjalanannya menuntut keadilan dan menepati janji yang dulu pernah mereka kubur bersama di tempat itu.
Di kejauhan, di balik kegelapan semak belukar, Raga berdiri diam mengawasi sosok Lira yang masuk kembali ke dalam rumah dengan selamat. Hatinya sedikit lega, namun rasa cemas masih menggelayut kuat di dadanya. Ia tahu, tantangan terbesar baru saja dimulai, dan ia harus bersiap menghadapi konsekuensi besar karena sudah berani melawan ayahnya sendiri demi cinta dan kebenaran.
Malam itu, di rumah tua yang penuh rahasia itu, tidak ada yang tidur nyenyak. Setiap orang menyimpan rencana, rasa curiga, atau rasa takut di dalam hatinya, menunggu fajar datang untuk memulai babak baru yang penuh bahaya.
(Bersambung ke Episode 5)