Vivian Marvis, putri tunggal klan mafia Marvis, dinyatakan meninggal setelah melahirkan putri pertamanya.
Sejak saat itu, Kayden Gilbert—suami yang dulu mencintainya sepenuh hati—berubah menjadi pria berhati es. Bahkan, membenci darah dagingnya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir bagi Vivian.
Jiwanya terbangun dalam tubuh Arini, seorang wanita malang yang kehilangan segalanya. Dengan identitas baru, Vivian kembali ke Kediaman Gilbert demi bertemu putrinya, Deana.
Sayangnya, Deana hidup tanpa kasih sayang sang ayah.
"Auntie... jadi Mama Dea saja, ya? Dea kesepian."
Mendengar kata-kata itu, hati Vivian hancur.
Akankah Vivian berhasil menyatukan kembali keluarganya? Ataukah ia akan merebut putrinya dan membuat Kayden Gilbert menyesali semua yang telah terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom Ilaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Setia
Bau anyir darah dan besi berkarat memenuhi udara di dalam gudang terbengkalai di pinggiran pelabuhan. Di tengah ruangan, seorang pria dengan wajah babak belur terikat erat di kursi besi. Dia adalah salah satu orang kepercayaan organisasi yang baru saja menjual jalur penyelundupan utama Black Valley kepada musuh demi uang miliaran.
Tap!
Tap!
Tap!
Langkah kaki yang tenang namun berat menggema, memecah kesunyian.
Kayden Gilbert berjalan maju. Jas hitamnya tampak sempurna tanpa cela, kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Di tangannya, sebilah pisau bedah kecil berkilau terkena cahaya lampu yang temaram.
"Tuan Kayden... ampuni aku... Aku terpaksa..." rintih pengkhianat itu. Tubuhnya gemetar hebat hingga kursi besinya berderit. "Mereka menyandera keluargaku!" lanjutnya memohon belas kesihan.
Kayden berhenti tepat di depan pria itu. Wajahnya datar tanpa emosi, dan matanya sedingin es kutub. Statusnya sebagai 'Iblis Black Valley’ bukan sekadar julukan kosong.
"Kau tahu berapa kerugian yang kau timbulkan, Karno?" suara Kayden terdengar seperti bisikan maut. "Tiga jalur utama kita lumpuh. Lima belas orangku tewas. Dan kau... berani menggunakan alasan klise itu di hadapanku? Aku sudah tahu semuanya, duda sialan!"
"A-aku bersumpah akan menggantinya! Tolong—"
Jleb!
"AKKKKKHHHHHHH!"
Tanpa peringatan, Kayden menancapkan pisau bedah itu ke paha Karno, lalu memutarnya perlahan. Jeritan histeris Karno menggema di seluruh gudang, namun Kayden bahkan tidak berkedip.
"Aku tidak butuh uangmu. Aku butuh kepalamu sebagai peringatan bagi yang lain," ucap Kayden dingin. Ia mencabut pisau itu, membiarkan darah segar menyembur mengotori lantai.
Kayden merebut pistol dari pinggang asistennya, lalu mengarahkannya tepat di antara kedua mata sang pengkhianat yang melebar karena horor.
"Selamat tinggal."
DOR!
Satu tembakan tepat sasaran. Karno terkulai tidak bernyawa. Kayden mengembalikan pistol tersebut, lalu mengambil sapu tangan sutra dari sakunya untuk membersihkan bercak darah yang tidak sengaja menciprat ke ujung sepatunya.
"Bereskan kekacauan ini. Aku harus pulang. Istriku telah menungguku," ujar Kayden. Nadanya berubah drastis menjadi buru-buru saat mengingat istrinya yang sedang hamil tua.
Ia melemparkan saputangan kotor itu ke atas mayat Karno, berbalik, dan melangkah lebar meninggalkan gudang maut tersebut demi kembali ke pelukan wanita yang menjadi satu-satunya poros hidupnya.
Hanya butuh waktu lima belas menit bagi Kayden untuk memacu mobilnya membelah jalanan kota dengan kecepatan gila. Begitu menginjakkan kaki di mansion, sang Bos Mafia yang baru saja mengeksekusi pengkhianat itu luruh tanpa sisa. Sosoknya digantikan oleh kepanikan luar biasa saat mendapati sang istri sudah merintih kesakitan.
"Vivian! Napas, Sayang! Napas!"
Kayden Gilbert, pria yang dikenal sebagai 'Iblis Black Valley’ karena ketenangannya saat mencabut nyawa orang, kini terlihat seperti orang gila. Ia mondar-mandir di kamarnya sambil menenteng tiga tas besar berisi segala hal, mulai dari baju bayi sutra hingga botol minum canggih yang bisa mengatur suhu otomatis.
"Kay... aku cuma mules sedikit, belum mau keluar sekarang," rintih Vivian yang duduk di tepi ranjang sambil memegangi perut buncitnya.
Sebenarnya ia merasa gemas melihat suaminya yang dulu sangat dingin dan kaku, sekarang malah begitu panik dan lengket padanya.
"Sedikit katamu? Ini calon penerus kita, sayangku! Bagaimana kalau dia tidak sabar? Bagaimana kalau mobilnya kurang cepat? Aku sudah menyuruh anak buahku memblokade jalan ke rumah sakit agar tidak macet!" racau Kayden, berteriak panik ke arah para pengawalnya.
"CEPAT SIAPKAN HELIKOPTER! JANGAN PAKAI MOBIL! TERLALU LAMA!"
Vivian tertawa kecil di tengah rasa sakitnya yang semakin menjadi-jadi. "Kamu berlebihan, Kay."
"Tidak ada yang berlebihan untukmu dan putri kita," bisik Kayden yang tiba-tiba melembut. Pria muda itu berlutut di depan Vivian dan mengecup keningnya lama. "Aku tidak bisa hidup tanpamu. Jadi, berjanjilah untuk tetap di sini setelah dia lahir."
"Janji, kamu juga harus setia." Vivian menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking suaminya.
Sayangnya, itu adalah janji yang gagal Vivian tepati.
Bip... Bip... Bip...
Suara monitor jantung yang berdetak tidak teratur menjadi satu-satunya melodi horor di lorong rumah sakit VIP itu. Kayden Gilbert tak bisa duduk tenang.
Ia mencengkeram rambutnya dan mondar-mandir lagi dengan napas yang memburu. Jas mahalnya sudah tergeletak entah di mana, menyisakan kemeja putih dengan lengan yang digulung asal.
"Tuan, minumlah sedikit," ucap asistennya pelan.
"Diam!" bentak Kayden dengan suara serak. "Jika terjadi sesuatu pada istriku, aku akan meratakan rumah sakit ini dengan tanah!"
Tepat saat itu, suara tangisan bayi pecah dari dalam ruangan. Melengking, jernih, dan kuat. Namun bagi Kayden, suara itu bukan musik kemenangan. Itu adalah lonceng kematian.
Pintu terbuka. Dokter keluar dengan wajah pucat dan kepala tertunduk.
"Tuan Kayden... kami sudah berusaha semampu kami. Nyonya Muda... mengalami pendarahan hebat yang tidak bisa dihentikan."
Blaarr!
Dunia Kayden runtuh seketika. Detik itu juga, oksigen di sekitarnya seolah habis. Ia menerjang masuk ke dalam ruangan, mengabaikan suster yang sedang menggendong bayi mungil yang masih merah.
"Sayang? Hei, bangun..." Kayden menggenggam tangan Vivian yang sudah mulai mendingin, terus mengecupi jemari istrinya dengan putus asa. "Bangun, Sayang. Kamu sudah janji. Kita akan membesarkan anak ini bersama. VIVIAN!"
Keheningan menyambutnya. Wajah cantik yang biasanya tersenyum itu kini mulai memucat pasi.
"Tuan Kayden," ucap suster mendekat dengan ragu, lalu menyodorkan bayi di dekapannya. "Ini putri Anda. Dia sangat cantik, mirip sekali dengan Nyonya—"
"BAWA PERGI!" bentak Kayden menggelegar. Suara itu terdengar seperti desis iblis dari dasar jurang.
"Tuan?"
Kayden berdiri. Matanya merah padam karena amarah dan duka yang meledak. Bos Mafia itu menatap bayi kecil yang sedang menggeliat itu dengan pandangan benci yang murni.
"Singkirkan makhluk kecil itu dari hadapanku! Gara-gara dia... Vivian-ku mati!" raung Kayden hingga urat lehernya menegang. "Dia bukan putriku. Dia pembunuh! Dia membunuh istriku! KELUARKAN DIAAAA!"
"Tapi Tuan, bayi ini butuh Anda—"
"Aku tidak peduli! Buang dia ke paviliun belakang, berikan pengasuh, apa pun! Jangan biarkan DIA muncul di depanku!"
Kayden kembali jatuh berlutut di samping tubuh Vivian, terisak tanpa suara sambil memeluk tubuh istrinya.
“Jika akan seperti ini, seharusnya aku melarangmu hamil. Tidak! Seharusnya pernikahan ini tak terjadi. Ayahmu... dia benar, kau lebih pantas bersama Arsen. Maafkan aku, Vivian. Kumohon bangunlah…” tangis Kayden pecah, didera rasa bersalah yang teramat sangat pada istri dan orang tuanya.
Ia tidak sadar, di balik selimut bayi yang tipis, jari mungil bayi perempuan itu sempat bergerak ingin menggapai ayahnya. Namun, apa yang ia dapatkan bukan kehangatan, melainkan kebencian dari satu-satunya orang tua yang ia miliki.
tapi bagaimana mungkin bisa melahirkan anak bayi lagiii 😁