NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21. PERSIAPAN RITUAL

Malam itu, bulan purnama menggantung tinggi di langit Aurelius. Bulat sempurna dan bercahaya terang. Seolah menjadi mata raksasa yang mengawasi dunia dari kejauhan.

Sinar keperakannya membanjiri taman khusus keluarga kekaisaran dengan cahaya lembut yang membuat seluruh area terlihat hampir tidak nyata.

Taman itu merupakan tempat yang sangat sakral. Hanya anggota keluarga kerajaan yang diperbolehkan menginjakkan kaki di sana. Bahkan sebagian besar bangsawan tingkat tinggi pun tidak pernah diizinkan masuk.

Namun hari ini berbeda karena bukan malam biasa. Malam ini adalah malam penyelamatan jiwa seorang Permaisuri.

Dan di tengah taman yang diterangi cahaya bulan itu, Cecilia berdiri diam. Gaun putih polos yang dikenakannya berkibar perlahan diterpa angin malam. Rambut pirang platinumnya memantulkan cahaya bulan hingga tampak seperti benang-benang perak.

Matanya menatap ke arah bulan, tenang, namun ia meminta pada alam dan pencipta untuk membantunya malam ini.

Tidak jauh dari sana, para kesatria dan pelayan kerajaan sedang bergerak sibuk.

Rowan berdiri di dekat altar ritual yang sedang dipersiapkan bersama Grand Duke Alaric, ia memastikan tidak ada kesalahan sekecil apa pun.

Berbagai lilin ritual ditempatkan sesuai arahan Cecilia.

Kristal pemurnian disusun membentuk lingkaran besar.

Simbol-simbol suci digambar menggunakan tinta spiritual.

Di sisi lain.

Garrick mengawasi anak buahnya. "Pastikan garis itu lurus."

"Ya, Kapten!"

"Jangan sentuh kristalnya dengan tangan kosong, ujar Garrick.

"Baik!"

Kesatria paruh baya itu mengangguk puas, karena bagaimana pun, Garrick adalah orang yang juga menjadi bagian dari ritual ini, sang penabuh gendang upacara.

Sementara itu Gareth juga membantu mengatur berbagai perlengkapan. Pria itu beberapa kali melirik ke arah Cecilia. Meski sudah cukup lama mengenal gadis tersebut, tetap saja ia tidak bisa membiasakan diri dengan fakta bahwa Cecilia mampu melakukan hal-hal yang bahkan para penyihir kerajaan tidak mampu lakukan.

Di dalam istana. Duchess Liora dan Elara berada di kamar Permaisuri. Keduanya menjaga tubuh sang Permaisuri.

Pedang Liora diletakkan di samping kursinya, begitu pula dengan Elara. Keduanya bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Di sekitar istana, Evan dan Aaron memimpin penjagaan skala besar.

Puluhan kesatria elit ditempatkan di berbagai titik.

Tak ada seorang pun yang boleh mendekati area ritual, bahkan tahu.

Tak lama kemudian.

Suara langkah kaki terdengar, semua orang menoleh ke sumber suara.

Kaisar Aurelius datang dan di sampingnya berjalan Putra Mahkota Caelum.

Dan di belakang mereka Kepala Pelayan kerajaan membawa sebuah kotak kaca besar.

Langkah mereka berhenti di depan Cecilia.

Kaisar memandang gadis itu beberapa saat dan berkata, "Ini relik yang kau butuhkan."

Cecilia berbalik. Begitu melihat Kaisar, ia langsung membungkuk hormat.

"Yang Mulia," sapa sang gadis.

Kepala pelayan maju selangkah. Di dalam kotak kaca itu terdapat sebuah cermin oval besar. Bingkainya terbuat dari logam perak yang dihiasi ukiran bulan sabit dan tulisan kuno.

Meski hanya diam di tempatnya, benda itu memancarkan aura yang berbeda. Aura yang membuat siapa pun tanpa sadar merinding.

Garrick mendekat. "Persiapan upacara sudah selesai, Nona."

Cecilia mengangguk, kemudian menoleh kepada Kaisar.

"Bolehkah saya memakai reliknya, Yang Mulia?" izin Cecilia.

Kaisar menganggukkan kepala. "Silakan."

Kepala pelayan segera mengulurkan kotak tersebut.

Garrick membantu membuka pengunci kaca. Lalu dengan sangat hati-hati mengambil cermin besar itu. Setelah itu ia menyerahkannya kepada Cecilia.

Begitu tangan Cecilia menyentuh bingkai cermin, mata Cecilia sedikit membesar. Energi spiritual yang terkandung di dalam relik itu luar biasa kuat. Bahkan lebih besar daripada yang ia perkirakan.

Sang gadis memeluk cermin itu sejenak, lalu berkata, "Aku akan memberikan energi ke cermin ini."

Cecilia kemudian berjalan menuju pusat altar. Tepat di bawah cahaya bulan purnama.

Sesampainya di tengah altar, Cecilia menoleh.

"Garrick?" panggil Cecilia.

"Ya, Nona?" jawab Kesatria paruh baya itu.

"Bisa tolong ambilkan loncengku?" pinta Cecilia.

"Tentu."

Tanpa membuang waktu, Garrick segera mengambil lonceng ritual yang telah dipersiapkan sebelumnya, kemudian menyerahkannya.

Cecilia menerimanya, dan menoleh ke arah Rowan.

"Rowan?" panggil Cecilia.

"Hm?" Rowan langsung melangkah mendekat.

"Tolong pegang cermin ini," pinta Cecilia.

Rowan mengangguk, tanpa bertanya apa pun ia menerima cermin tersebut untuk memegangnya di depan dada sesuai instruksi.

Semua mata kini tertuju kepada Cecilia, bahkan Alaric dan Kaisar.

Karena mereka tahu apa yang akan terjadi malam ini mungkin akan mengubah seluruh cara pandang mereka terhadap dunia.

Cecilia kembali berbicara. "Garrick?"

"Ya."

"Tolong buat pembatas garam," perintah Cecilia kali ini.

Garrick langsung memberi isyarat kepada anak buahnya.

Mereka bergerak cepat, karung-karung garam dibuka.

Lalu mulai ditaburkan membentuk garis panjang.

Sedikit demi sedikit garis itu membentuk persegi besar, mengelilingi altar dan semua orang yang berada di sana.

Tidak ada celah atau bagian yang boleh terputus.

Saat pekerjaan selesai, pembatas garam itu tampak seperti dinding tak terlihat yang mengelilingi mereka.

Cecilia mengangguk puas. Kemudian ia berkata dengan suara serius kepasa semua orang.

"Jangan terkejut dengan apa pun yang kalian lihat setelah ini. Dan jangan pernah keluar dari pembatas garam itu apa pun yang terjadi. Tolong jaga agar pembatasnya tidak rusak," ujar Cecilia yang tampak seperti perintah serius sekarang.

Caelum mengernyit. "Kenapa?"

Cecilia menatapnya. "Karena kemungkinan akan ada banyak serangan."

Kaisar langsung bersuara. "Serangan?"

Cecilia mengangguk. "Dari para roh gentayangan. Dan roh-roh jahat yang berkeliaran di sekitar sini."

Suasana menjadi semakin sunyi.

Beberapa kesatria menelan ludah.

"Kalian juga harus ingat, mereka bisa memanipulasi, bahkan menyamar menjadi orang yang kalian kenal. Jangan sampai terperdaya," kata Cecilia.

Semua orang mengangguk. Tak ada yang menganggap peringatan itu sebagai lelucon.

Ketika semuanya siap, Cecilia berdiri di depan cermin.

Lonceng ritual berada di tangannya. ata gadis itu perlahan terpejam, dan dunia seolah ikut terdiam.

Lalu ...

Cing!

Suara lonceng terdengar jernih. Namun entah kenapa membuat bulu kuduk siapa pun yang mendengarnya berdiri.

Cing!

Cing!

Cing!

Irama perlahan terbentuk, bukan musik namun sesuatu yang terasa sangat sakral.

Cecilia mulai bergerak, langkah-langkah kecil dan gerakan sederhana ia lakukan. Namun memiliki ritme yang aneh.

Setiap ayunan lonceng menghasilkan gema yang seolah mengguncang udara.

Dan saat itulah semua orang merasakannya; energi yang mulai keluar dari tubuh Cecilia.

Mata Alaric membesar.

Kaisar ikut tertegun.

Bahkan Caelum sampai menahan napas.

Energi itu tidak seperti sihir, tidak seperti aura atau pun mana. Namun jelas merupakan kekuatan.

Cahaya keperakan biru perlahan mengalir dari tubuh Cecilia. Menyatu dengan cahaya bulan. Membuat gadis itu tampak seperti sosok dari dunia lain.

Rowan menatap tanpa berkedip. Ia tahu Cecilia berbeda, namun bahkan dirinya tidak pernah melihat pemandangan seperti ini.

CING!

CING!

CING!

Irama terus berlanjut semakin kuat dan cepat.

Lalu tiba-tiba cermin yang dipegang Rowan mulai bersinar, awalnya hanya sedikit tapi kemudian semakin terang.

Semakin terang.

Dan semakin terang.

Sampai ...

BOOOOM!

Ledakan cahaya memenuhi taman.

"AAH!"

Beberapa kesatria refleks menutup mata.

Bahkan Alaric dan Kaisar ikut memalingkan wajah.

Cahaya itu begitu terang hingga seolah menelan seluruh dunia. Tak seorang pun bisa melihat apa pun.

Beberapa detik kemudian, cahaya mulai memudar perlahan.

Semua orang membuka mata.

Dan saat itulah kepanikan terjadi.

Seseorang berteriak. "Apa itu?!"

Seorang kesatria mundur beberapa langkah, wajahnya pucat pasi karena kini di luar pembatas garam ... ada orang-orang.

puluhan.

Tidak.

Mungkin ratusan.

Mereka berdiri di mana-mana.

Di taman.

Di pohon.

Di atas patung.

Di dekat pagar.

Di atas air mancur.

Sosok-sosok transparan.

Pria.

Wanita.

Anak-anak.

Orang tua.

Beberapa tampak normal.

Beberapa tampak mengenaskan. Ada yang kehilangan lengan. Ada yang wajahnya rusak. Ada yang seluruh tubuhnya berlumuran darah. Dan ada pula yang bentuknya begitu mengerikan hingga membuat para kesatria hampir muntah.

"H-Hantu?!" Suara seseorang terdengar gemetar.

Seluruh kesatria langsung panik, bahkan wajah Kaisar memucat.

Caelum tampak seperti baru saja melihat mimpi buruk menjadi nyata.

Alaric yang menghadapi ribuan monster Abyss pun terdiam membatu, karena apa yang mereka lihat saat ini benar-benar melampaui akal sehat.

Mereka tidak sedang bermimpi. Namun pemandangan di depan mata mereka membuat semuanya terasa tidak nyata.

CING!

Lonceng kembali berbunyi.

Dan seketika perhatian mereka tertuju pada Cecilia.

Gadis itu membuka mata, lalu berkata tenang, "Tenang saja. Mereka tidak akan bisa mendekat selama pembatas garam itu utuh."

Suara Cecilia terdengar sangat biasa, seolah apa yang mereka lihat hanyalah hal normal.

Alaric menatap lautan arwah di luar pembatas. Lalu bertanya perlahan, "Apakah mereka semua bukan manusia?"

Cecilia mengangguk. "Sebagian adalah arwah gentayangan. Sebagian lagi roh-roh jahat."

Caelum menelan ludah, suaranya bahkan sedikit gemetar.

"J-Jadi ... roh dan arwah itu benar-benar ada?" kata Caelum.

"Ya," jawab Cecilia sederhana.

Kaisar masih menatap sekeliling. "Bagaimana kita bisa melihat mereka?"

Cecilia menunjuk cermin yang masih dipegang Rowan. "Itu karena Lunareth, si Cermin Arwah. Lunareth dapat memantulkan keberadaan arwah. Aku hanya memanipulasi fungsinya dalam skala besar. Memperlihatkan kepada kalian apa yang selama ini dipantulkannya."

Keheningan kembali menyelimuti taman. Karena untuk pertama kalinya dalam hidup mereka ... mereka melihat dunia yang selama ini tersembunyi.

Rowan masih menatap lautan arwah, kemudian menoleh kepada Cecilia dan bertanya pelan.

"Jadi kau melihat mereka setiap hari?" tanya Rowan dengan wajah sendu tiba-tiba.

Cecilia mengangguk. "Ya."

Semua orang terdiam.

Namun Cecilia melanjutkan. "Mereka masih lebih baik."

Caelum berkedip. "Lebih baik?"

Cecilia memandang ke arah kegelapan di luar taman.

"Roh-roh jahat. Anak-anak iblis. Makhluk yang hidup di antara celah dunia. Itulah yang harus kutemui nanti di alam arwah, tempat jiwa Permaisuri ditahan," kata Cecilia.

Mendengar itu, wajah semua orang berubah termasuk Rowan.

"Putri Cecilia, Apakah itu berbahaya?" Alaric bertanya dengan rasa khawatir.

"Tentu, tapi aku tahu cara melawan mereka," jawab Cecilia jujur.

Rowan langsung berkata, "Aku ikut."

Cecilia menggeleng. "Tidak."

"Aku bisa membantumu," ujar Rowan.

"Tidak," jawaban Cecilia tetap sama. Ia menatap Rowan. "Aku tidak punya energi yang cukup untuk membawa orang lain. Masuk ke alam roh membutuhkan banyak tenaga. Terlebih aku harus mempertahankan Lunareth sebagai pintu keluar," sambungnya.

Rowan mengepalkan tangan, namun ia tahu Cecilia benar.

"Kau yakin akan baik-baik saja?" tanya Caelum.

"Tidak ada yang bisa menjaminnya," jawab Cecilia.

Jawaban itu membuat semua orang semakin tegang.

Putra Mahkota menarik napas panjang. "Lalu bagaimana kami tahu kau sudah selesai?"

Cecilia mengeluarkan setumpuk kertas jimat, kemudian menyerahkannya kepada Garrick.

"Saat aku masuk ke alam roh. Tubuhku akan kosong. Kalian harus menjaganya. Jika ada roh yang mendekat, bunyikan loncengku. Lalu bakar jimat ini dan lemparkan kepada roh tersebut," beritahu Cecilia.

Rowan dan Alaric mengangguk, sedangkan Kaisar menghafalkan setiap instruksi.

Dan untuk sesaat seluruh taman terasa seperti menakutkan.

"Kita akan mulai upacaranya," mata Cecilia yang berjalan ke depan altar.

Dan perjalanan menuju alam arwah akhirnya dimulai.

1
Septi Wijaya
so emosional tp lega
Hary Nengsih
lega dh gak merasa bersalah lg
Eli Rahma
semangat Lowan..
Wenty Lucia Wardhani
aku terharu sekali😭😭😭
Nisfu Romadhon
/Sob//Sob//Sob/mengandung 🧅🧅🧅ihh k Othor,,,
Archiemorarty: Selanjutnya lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
mengsedih /Cry/Rowan yang kuat ya
Nisfu Romadhon
ishh,,, ikut ngerasain nyesek nya Rowan,,, rindu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri,,,hiks/Sweat/
Archiemorarty: Apalagi meninggal karena salah komando si Rowan 😭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, akhir bab mengandung bawang 🧅🧅🧅hiks,,, Rowan teringat paman Colton sang Guru /Sob//Sob//Sob/
Archiemorarty: Nanti bakal lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
hih,,, dasar curang,,,g berani ngadepin Cecil sendirian mesti minta bantuan monster-monster lainnya buat pengalih perhatian,,, Cecil aku mendukungmu,,,kamu pasti bisa 💪💪💪
Archiemorarty: biasa lah yah, pengecut mah gitu 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aishh,,, musuh kembali datang
Nisfu Romadhon
aihh aihh,,,baru sadar udah dapat kissing aja Cecil,,, dasar Lowan mengambil kesempitan dalam kesempatan,,, ehh /Chuckle/
Archiemorarty: Abang Lowan emang suka gitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
g sadar bacanya sambil nahan nafas,,,huft,,,baru dihela nafas nya kalo bab nya selesai 🤦🫣
Archiemorarty: Napas kak napas 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Archiemorarty: Hahaha...kolosal nggak tuh 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Nisfu Romadhon: iya tuh✌️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!