NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13: Brankas Rahasia dan Pengkhianatan

Darah Renata rasanya mendidih, sementara Adrian berdiri mematung dengan rahang yang mengatup begitu rapat. Informasi dari Rendra mengubah peta peperangan ini sepenuhnya. Musuh mereka bukan lagi sekadar Arsen yang impulsif dan licik melainkan Bram Dirgantara, seorang politikus sekaligus pebisnis ulung yang memiliki jaringan kekuasaan yang jauh lebih menggurita.

​"Bram..." desis Adrian, nama pamannya itu keluar dari sela-sela giginya dengan nada penuh kebencian. "Pantas saja kasus ini terkunci begitu rapat hingga ke tingkat kepolisian tertinggi."

​Adrian menatap Rendra yang masih berlutut pasrah. "Baskara!" panggil Adrian setengah berteriak.

​Pintu VIP 4 terbuka, dan Baskara masuk dengan sigap. "Ya, Tuan Adrian?"

​"Bawa Rendra ke aman tempat tersembunyi kita. Ambil rekaman video pengakuannya secara lengkap malam ini juga. Setelah itu, urus paspor dan tiket penerbangan fiktif untuk membawa dia dan keluarganya keluar dari negara ini sebelum besok pagi. Pastikan Arsen tidak mengendus hilangnya orang ini," perintah Adrian mutlak.

​"Baik, Tuan. Laksanakan." Baskara segera memapah Rendra yang tampak lemas keluar melalui pintu belakang kelab malam.

​Kini di dalam ruangan tinggal tersisa Adrian dan Renata. Renata menyandarkan punggungnya ke dinding, napasnya masih memburu. Air mata kemarahan yang tadinya mengalir kini telah mengering, digantikan oleh tatapan kosong yang dingin.

​"Dua orang..." bisik Renata lirih. "Iblis itu ada dua, Adrian. Dan mereka berdua membawa nama belakang yang sama denganmu."

​Adrian melangkah mendekati Renata, sepasang tangannya yang kekar mencengkeram bahu Renata lembut namun kokoh, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Dengarkan aku, Renata. Nama belakang Dirgantara yang mereka sandang adalah noda dan aku bersumpah, aku sendiri yang akan menghapus noda itu bersama denganmu. Tapi kita harus bergerak cepat, begitu Arsen menyadari Rendra menghilang besok pagi, dia akan langsung mengamankan brankasnya."

​Renata mengerjapkan matanya, kesadarannya kembali penuh. "Brankas itu... Rendra bilang kodenya adalah tanggal kematian Kak Maya."

​"Benar," Adrian melirik jam tangan mewahnya. Jarum jam menunjukkan pukul 01.30 dini hari. "Malam ini Arsen sedang berada di luar kota untuk meninjau proyek fiktifnya di Bandung. Kantor pusat Dirgantara Group saat ini kosong, hanya dijaga oleh sistem keamanan digital dan beberapa satpam lobi. Ini adalah satu-satunya kesempatan kita."

​Renata melepas anting-antingnya dan meraih kembali kacamata tipisnya dari dalam tas. "Kalau begitu, tidak ada waktu untuk pulang dan berganti pakaian. Mari kita pergi sekarang, Tuan Adrian."

​Suasana gedung Dirgantara Group di jam dua dini hari tampak seperti raksasa tidur yang diselimuti kegelapan. Hanya lampu-lampu koridor utama yang menyala temaram. Sebagai CEO tertinggi, Adrian memiliki akses mutlak untuk memasuki gedung kapan saja tanpa memicu alarm umum.

​Menggunakan lift khusus mereka berdua naik ke lantai 48, wilayah kekuasaan Divisi Pengadaan yang dipimpin oleh Arsen. Begitu pintu lift berdenting terbuka, suasana terasa sangat sunyi dan mencekam.

​Adrian memimpin jalan di depan, sementara Renata mengikuti dari belakang dengan langkah tanpa suara, gaun satin biru dongker miliknya sesekali berdesir pelan bergesekan dengan lantai marmer.

​Ruang kerja Arsen terletak di ujung koridor. Pintu kayunya yang besar dikunci dengan sistem pemindai kartu magnetik. Adrian mengeluarkan sebuah kartu universal berwarna hitam dari dompetnya—kartu master yang hanya dipegang oleh CEO tertinggi—dan menempelkannya pada panel sensor.

​Klik. Pintu terbuka perlahan.

​Ruangan Arsen sangat kontras dengan ruangan Adrian. Tempat ini dipenuhi oleh aroma parfum pria yang menyengat, botol-botol minuman keras mahal yang berjajar di rak, dan interior yang terkesan pamer kemewahan.

​"Di mana brankasnya?" tanya Renata sambil mengedarkan pandangan.

​"Rendra bilang tersembunyi. Cari di balik lukisan atau panel kayu," ujar Adrian seraya memeriksa meja kerja Arsen.

​Renata berjalan mendekati sebuah lukisan besar yang menggambarkan burung elang emas yang sedang mencengkeram mangsanya—lambang yang sama persis dengan manset yang merenggut nyawa kakaknya. Dengan tangan bergetar karena emosi, Renata menggeser bingkai lukisan tersebut ke samping.

​Bip.

​Sebuah panel digital modern berwarna hitam metalik tertanam di dalam dinding, menyala redup menampilkan barisan angka. Itu adalah brankas rahasia milik Arsen.

​"Tuan Adrian, saya menemukannya!" seru Renata setengah berbisik.

​Adrian segera menghampiri Renata. "Berapa tanggal kematian kakakmu?"

​Renata memejamkan mata sejenak, mengingat hari paling mengerikan dalam hidupnya. "Tanggal lima belas, bulan Mei, tahun lalu. 15-05-25."

​Jari lentik Renata menekan tombol-tombol angka tersebut satu per satu pada panel digital.

​1... 5... 0... 5... 2... 5...

​KLIK. BZZZZT.

​Lampu indikator panel berubah menjadi hijau, dan pintu baja tebal seberat puluhan kilogram itu perlahan terbuka secara otomatis napas Renata tercekat. Di dalam brankas tersebut, bertumpuk-tumpuk berkas berlogo "Papillon Holding", beberapa paspor palsu dan sebuah buku agenda kecil kulit berwarna hitam.

​Renata langsung meraih buku agenda tersebut. Saat ia membukanya, lembaran demi lembaran berisi catatan tangan Arsen mengenai aliran dana gelap ke rekening pribadi Bram Dirgantara, lengkap dengan tanggal, nominal dan catatan kecil yang menjijikkan mengenai nama-nama wanita malam yang mereka sewa untuk menjamu para pejabat.

​"Kita mendapatkannya, Adrian..." ucap Renata dengan suara bergetar, memeluk buku itu di dadanya. "Ini bukti penggelapan dana dan... di sini ada catatan pengeluaran untuk 'uang tutup mulut' kasus kematian Kak Maya kepada pihak kepolisian!"

​Adrian mengambil berkas-berkas dari dalam brankas dan memasukkannya ke dalam tas jinjing yang ia bawa. "Bagus. Dengan ini, riwayat mereka di Dirgantara Group resmi berakhir."

​Namun, tepat ketika Adrian menutup kembali pintu brankas, lampu ruangan yang tadinya remang tiba-tiba menyala dengan sangat terang, menyilaukan pandangan mereka.

​"Luar biasa... sungguh kerja sama tim yang sangat menyentuh, Sepupuku."

​Sebuah tepuk tangan yang lambat dan sarkastik terdengar dari arah pintu masuk. Adrian dan Renata tersentak, berbalik dengan cepat.

​Di ambang pintu, Arsen Dirgantara berdiri dengan santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. Namun, yang membuat situasi ini berubah menjadi mimpi buruk adalah kehadiran sosok pria paruh baya berambut putih dengan setelan jas abu-abu mahal yang berdiri di sebelah Arsen.

​Pria itu adalah Bram Dirgantara, paman Adrian. Dan di belakang mereka, berdiri enam orang pria berbadan kekar yang memegang tongkat pemukul besi dan senjata tajam yang tersembunyi di balik jaket mereka.

​Arsen menyeringai puas, menatap Renata yang sedang memeluk buku catatan rahasianya. "Kamu pikir aku benar-benar pergi ke Bandung, Renata? Aku sengaja membiarkan Rendra menjadi umpan agar kalian bergerak malam ini dan tikus-tikus kecil ini ternyata benar-benar masuk ke dalam jebakanku."

​Bram Dirgantara melangkah maju satu kali, menatap Adrian dengan pandangan dingin tanpa belas kasihan sedikit pun dari seorang paman kepada keponakannya.

​"Adrian..." suara Bram terdengar berat dan penuh wibawa yang palsu. "Kamu terlalu pintar untuk kebaikanmu sendiri. Sayang sekali, ambisimu untuk mempertahankan takhta CEO harus berakhir di ruangan ini, bersama dengan jalang kecil yang kamu bawa dari tempat pelacuran ini."

​Ruang kerja yang tertutup itu seketika berubah menjadi jebakan maut yang mengunci mati jalan keluar Adrian dan Renata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!