NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Di Kota Batu

Kupu-Kupu Di Kota Batu

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Enemy to Lovers / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:83
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Keadaan berubah ketika Nowi memergoki kekasihnya berselingkuh tepat di atas ranjang mereka sendiri. Baru saat itulah ia menyadari bahwa seluruh kenyamanan yang selama ini dinikmatinya tak lagi miliknya. Padahal sebelumnya Nowi memiliki segalanya. Karier cemerlang, kehidupan berkecukupan, dan pasangan yang berparas tampan.

Kini, semuanya telah sirna. Tak ada lagi tempat tinggal, tak ada lagi sumber penghasilan, dan satu-satunya jalan keluar yang tersisa adalah menjual rumah warisan orang tuanya di kota Batu. Tempat yang sangat dibencinya, sarat akan kenangan pahit, serta menyimpan satu rahasia besar yang telah ia kubur dalam-dalam sejak masa remaja.

Kehancuran hidupnya itu pun memaksanya kembali menghadapi masa lalu yang telah ia tinggalkan sepuluh tahun silam, serta satu-satunya pria yang mencintainya sepenuh hati, sekaligus sosok yang paling menderita karenanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bass Si Penyusup

Di ujung jalan buntu itu masih terdapat satu rumah, dengan hutan luas yang membentang di bagian belakang. Pagar kayu warna putih yang mengelilingi halaman depan tampak pudar dan lapuk, catnya mengelupas karena terpapar cuaca selama bertahun-tahun tanpa perawatan.

Rumah itu berukuran besar, bergaya khas Villa Angker, tampak sederhana namun tetap memiliki daya tarik tersendiri yang sedikit menakutkan. Nowi memarkir kendaraannya lalu duduk diam beberapa saat, berusaha menenangkan pikirannya.

Tidak penting jika tempat ini terasa seperti penjara. Atau kenyataan bahwa di sinilah ibunya menghabiskan masa kecil Nowi dengan perasaan sepi dan depresi, selalu mengeluhkan hidup yang tidak berjalan sesuai harapan serta cinta yang tidak pernah terbalas.

Ibunya rela melepaskan semua keinginannya demi hidup bahagia bersama orang yang dicintainya, namun kenyataannya ia tidak pernah mendapatkan kebahagiaan itu. Dan rasa kecewa itu telah menghancurkannya jauh sebelum kecelakaan mobil merenggut nyawanya. Dada Nowi terasa sesak saat kenangan itu kembali teringat. Ponselnya bergetar di kursi sebelah dan menariknya kembali ke kenyataan.

Ia mengambilnya dan melihat foto Agnia muncul di layar.

“Tenang, Agnia. Aku baru aja parkir di depan jalan masuk rumah ni,” katanya tanpa menyapa lebih dulu.

“Kamu harusnya langsung nelpon begitu masuk kota! Aku khawatir banget sama kamu.”

“Aku bilang aku baik-baik aja. Aku bisa ngelakuin ini.”

Ia turun dari kendaraan, menyelipkan ponsel di antara bahu dan pipi sambil mencari kunci rumah yang dikirimkan oleh pengacara di dalam tasnya.

Matanya kembali menatap rumah tua itu. Apakah tempat ini memang selalu terlihat semengerikan ini dari dulu?

Saat berjalan di atas jalan kerikil menuju pintu masuk, Nowi melihat bunga hortensia liar tumbuh di mana-mana. Warna biru, merah muda, dan ungu yang cerah memberikan sedikit warna pada pemandangan yang gelap dan suram. Tanpa bunga-bunga itu, tempat ini pasti terlihat persis seperti film-film Joko Anwar.

Nowi melangkah mendekati pintu kuning yang sudah sering dilihatnnya. Dulu warnanya cerah dan hangat, namun kini catnya memudar serta mengelupas, sama rapuhnya dengan bangunan itu sendiri.

“Nowi! Kamu dengerin aku nggak sih?”

Teriakan Agnia di telepon menyadarkan Nowi dari lamunan.

“Iya denger kok,” jawab Nowi sambil mengembuskan napas. “Aku cuma lagi ribet bawa barang sambil ngobrol sama kamu. Santai dikit dong.”

“Oke, aku tadi kepikiran sesuatu.”

“Waduh, kalau udah kayak gitu biasanya itu nggak ada bagus-bagusnya.”

“Dengerin dulu dong, sialan.”

“Yaudah, ngomong aja.”

“Kamu harus cari cowok ganteng selama di sana biar nggak terus-terusan mikirin masalah kamu. Serius deh, bakal seru banget kalau ada cowok cakep bantuin kamu jual rumah itu. Kamu udah lama banget nggak main, kan? Sampe mati rasa kali ya tuh rahimmu?”

Pikiran Nowi langsung tertuju pada satu orang. Ia adalah orang yang bisa membuat Nowi lupa segalanya, namun justru sedang dihindarinya serta merupakan satu-satunya orang yang paling tidak ingin ditemuinya.

Nowi memasukkan kunci ke lubang pintu, namun ternyata tidak perlu diputar karena pintu itu tidak terkunci.

Pintu berderit panjang saat didorongnya terbuka, lalu ia melangkah masuk ke tempat yang akan dijadikan tempat tinggalnya selama beberapa bulan ke depan.

“Nowi Pramesti!”

“Aduh, Agnia!” Nowi hampir berteriak. “Kata-kata kamu kasar banget, ya? Aku sehat-sehat aja, makasih ya perhatiannya.”

“Pasti udah lama banget nggak dipakai tuh. Udah kayak jalan buntu kali ya, susah banget masuknya.”

“Tenang aja, alat bantu seks aku masih oke kok,” gerutu Nowi sambil berjalan masuk. “Puas banget dipakai, emang kenapa harus butuh cowok kalau bisa nikmatin diri sendiri? Belum lagi urusan bersih-bersih, jauh lebih gampang. Yang paling penting, aku nggak bakal diselingkuhin.”

Ia meletakkan koper di lantai dekat pintu, lalu melihat sekeliling. Semua masih sama persis seperti terakhir kali ditinggalkan orang tuanya, hanya saja kini tertutup lapisan debu tebal.

Banyak barang di sini yang mungkin bisa dijual untuk menambah uang. Ia bisa mencari orang untuk membersihkan rumah dan menjual barang-barang itu nanti.

Nowi berjalan melewati ruang tengah menuju ruang keluarga, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan. Begitu sampai di dekat jalan menuju tangga, langkahnya berhenti seketika. Ada seorang pria bertubuh besar, berotot, dan sangat tinggi berjalan ke arahnya.

Nowi menjerit, tersandung ke belakang, hingga ponselnya jatuh ke lantai.

“Apa-apaan ini? Siapa kamu? Gimana bisa masuk ke sini?”

Pintunya memang tidak dikunci tadi. Baru beberapa menit sampai di sini, rasanya mau mati bertemu orang asing sebesar ini. Belum lagi ponselnya jatuh, sehingga sulit untuk meminta bantuan. Mungkin ia terlalu sering menonton film kriminal, sehingga terus memikirkan hal-hal buruk.

“Kamu nggak apa-apa?” Suara pria itu rendah, serak, dan terdengar sangat macho.

Ia mengangkat kedua tangannya, lalu memegang lengan Nowi dengan hati-hati agar bisa berdiri tegak. Kemungkinan terbesarnya adalah ia seorang penyusup.

Sekarang Nowi harus mencari cara untuk mengusirnya tanpa membuat keributan besar. Rencananya hanya satu, menjual rumah, lalu pergi lagi.

“Aku tanya sekali lagi,” kata Nowi sambil mundur ke tempat yang lebih terang. “Siapa kamu dan gimana bisa masuk ke sini?”

“Namaku Bass ... Baskara. Aku tinggal di sebelah rumah ini. Kadang aku cek kondisi rumahnya, takut ada apa-apa.”

“Oh iya? Masa iya sih aku harus percaya gitu aja. Terus aku ini siapa, kamu tahu?” Nowi mendengus kesal.

“Orang tuaku kenal sama pemilik rumah ini. Papaku yang ngurus urusan rumah ini setelah pemiliknya meninggal. Sekarang giliran aku yang ngerjain. Terus kamu siapa? Tempat ini kan udah lama kosong.”

Meskipun suaranya terdengar tegas, ada nada lembut yang tidak bisa disembunyikan Bass. Ia melangkah masuk lebih jauh ke ruang keluarga.

Nowi baru menyadari betapa tingginya pria itu, yaitu lebih dari seratus delapan puluh senti. Tubuhnya kekar sekali, persis seperti Iko Uwais. Kulitnya kecokelatan, kedua tangannya penuh tato sampai ke jari yang sebagian tertutup lengan baju yang digulung.

Nowi sampai lupa menutup mulutnya karena takjub, lalu cepat-cepat sadar dan meremas tangannya sendiri.

“Oh, eh, oke,” kata Nowi sambil berdehem. “Jadi masuk akal juga ya ceritanya. Aku kira nggak ada orang di sini, makanya aku kaget.”

Ia sendiri bingung, apakah kesal karena kaget atau karena pria ini berdiri terlalu dekat.

“Maaf ya,” kata Bass santai. “Aku juga nggak nyangka ada orang di sini, kebetulan banget kita ketemu pas kayak gini.”

Matanya menatap tubuh Nowi dari bawah ke atas, lalu kembali menatap wajahnya.

“Tapi...” Bibirnya sedikit tersenyum. “Aku sempat denger kamu ngomong soal alat bantu seks itu. Katanya bagus banget, ya?”

Jantung Nowi berdegup kencang, rasanya mau copot.

“Aku nggak bakal lama di sini, kok,” lanjut Bass pelan. “Kecuali kamu mau buktiin kalau alat itu emang lebih bagus dari punya aku?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!