Mona Gradies, wanita 26 tahun yang ceria, blak-blakan, dan sedikit ceroboh, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah bekerja di Aditama Group—perusahaan milik Wira Aditama, seorang CEO berusia 30 tahun yang dikenal dingin, tegas, berwibawa, dan gila kerja.
Di balik sikapnya yang tampak sempurna, Wira menyimpan dunia yang penuh kontrol, aturan, dan jarak dari siapa pun. Namun Mona hadir seperti gangguan yang tidak bisa ia atur—berisik, ceroboh, tapi jujur dan hangat.
Awalnya hanya kesalahan kecil dan perdebatan sepele di kantor. Tapi semakin lama, batas profesional dan perasaan mulai kabur.
Hingga satu peristiwa mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 13 - Terlalu dekat
Terlalu Dekat
Sejak pertemuan Mona dengan ibu Wira siang tadi, pikirannya tidak bisa tenang. Kalimat wanita itu terus terngiang di kepalanya.
“Kalau dia tidak tertarik, dia bahkan tidak akan mengingat nama sekretarisnya.”
Dan yang paling membuat Mona gugup… ia mulai merasa itu benar. Karena semakin hari, perhatian Wira terhadapnya semakin jelas. Meski pria itu sendiri seolah tidak menyadarinya.
“Mbak Mona?”
Suara salah satu staf membuat Mona tersentak dari lamunannya.
“Iya?”
“Pak Wira panggil.”
“Oh… iya.”
Mona segera berdiri sambil membawa tablet kerja. Namun sebelum masuk ke ruangan CEO, ia sempat menarik napas panjang lebih dulu.
Entah kenapa sekarang ia selalu gugup saat berhadapan dengan Wira, padahal dulu ia lebih sering kesal daripada salah tingkah.
Tok
“Masuk.”
Mona membuka pintu perlahan. Wira sedang berdiri di dekat jendela besar ruangannya sambil menelepon seseorang. Jas hitamnya tergantung rapi di tubuh tinggi itu, membuatnya terlihat semakin berwibawa.
Namun wajahnya terlihat dingin.
“Kalau mereka masih terlambat kirim laporan, batalkan kerja samanya.” Nada suaranya tajam.
Mona langsung berdiri diam menunggu. Beberapa detik kemudian Wira menutup panggilan dan menoleh ke arahnya.
“Kenapa berdiri seperti orang mau dihukum?”
“Hah? Tidak…”
Wira berjalan kembali ke meja kerjanya.
“Duduk.”
Mona duduk perlahan di kursi depan meja CEO.
“Ada revisi jadwal, Pak?”
“Ada.” Wira menyerahkan sebuah map tipis.
“Kita ke Bandung besok pagi.”
Mata Mona langsung membesar.
“Bandung?”
“Meeting proyek hotel.”
“Besok pagi?”
“Iya.”
“Berangkat jam berapa?”
“Jam enam.”
Mona langsung ingin menangis.
“Subuh sekali…”
“Kalau mau jadi sekretaris CEO, biasakan.”
Mona mendesah kecil. Kadang ia lupa manusia di depannya ini memang workaholic tingkat dewa, namun tiba-tiba Wira menatapnya lebih serius.
“Kamu keberatan?”
“Nggak sih… cuma belum pernah perjalanan dinas.”
“Takut?”
Mona langsung mendelik.
“Saya tidak penakut.”
“Bagus.” Wira mengangguk tipis lalu kembali membuka laptopnya.
Biasanya itu tanda pembicaraan selesai, namun kali ini Mona masih duduk diam. Karena ada satu hal yang mengganggunya sejak tadi.
“Pak…”
“Apa lagi?”
“Ibu Bapak tadi datang.”
Tangan Wira berhenti mengetik. Hanya sepersekian detik, tapi Mona menyadarinya.
“Lalu?”
“Beliau ngajak saya bicara.”
“Apa ibu saya menakutimu?”
“Tidak juga…”
“Kalau begitu?”
Mona menggigit bibir pelan sebelum akhirnya berkata jujur.
“Kenapa semua orang berpikir hubungan kita spesial?”
Suasana mendadak hening. Wira perlahan menyandarkan tubuhnya ke kursi. Tatapannya lurus ke arah Mona dan lagi-lagi, tatapan itu terlalu dalam untuk ukuran atasan pada bawahannya.
“Kamu terganggu?”
Pertanyaan itu membuat Mona terdiam.
Apakah ia terganggu?
Entahlah.
Yang membuatnya takut justru karena ia tidak benar-benar membencinya.
“Aku cuma…” Mona salah tingkah sampai lupa memakai kata formal. “Takut salah paham.”
Tatapan Wira sedikit berubah saat mendengar Mona tanpa sadar memanggil dirinya “aku”. Entah kenapa terdengar lebih dekat.
“Kalau memang salah paham?” tanyanya pelan.
Deg
Jantung Mona langsung berdegup kacau.
“Pak Wira…”
Namun pria itu tiba-tiba berdiri sebelum pembicaraan semakin jauh.
“Kembali bekerja.”
“Hah?”
“Saya ada meeting online.”
Mona benar-benar ingin menjambak rambut sendiri. Pria ini selalu membuat suasana jadi aneh lalu pergi begitu saja.
***
Malam harinya Mona sibuk menyiapkan barang untuk perjalanan dinas pertamanya.
Ibunya yang melihat putrinya mondar-mandir sejak tadi hanya tersenyum geli.
“Kamu gugup?”
“Sedikit.”
“Karena kerja atau karena bosmu?”
“IBU!”
Sang ibu tertawa kecil.
“Muka kamu gampang dibaca.”
Mona langsung menjatuhkan diri ke tempat tidur sambil menutupi wajah dengan bantal.
“Kenapa sih semua orang ngomong begitu…”
“Karena memang terlihat.”
Mona mengintip dari balik bantal.
“Memangnya kelihatan banget ya?”
Ibunya menatap lembut.
“Kamu mulai sering tersenyum akhir-akhir ini.” Kalimat sederhana itu justru membuat Mona diam.
Benarkah?
Apa Wira benar-benar membawa perubahan sebesar itu dalam hidupnya?
***
Keesokan paginya, jam lima lewat tiga puluh menit, Mona sudah berdiri di depan rumah dengan mata masih setengah mengantuk. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depannya.
Kaca mobil turun perlahan. Wira menatapnya sekilas.
“Kamu baru bangun?”
“Masih hidup saja sudah syukur…”
Wira menahan senyum kecil.
“Masuk.”
Begitu masuk mobil, Mona langsung memejamkan mata sambil bersandar lemas. Wira meliriknya sebentar.
“Kamu tidak sarapan?”
“Belum sempat.”
Beberapa menit kemudian mobil berhenti di sebuah drive thru. Mona yang setengah tertidur langsung membuka mata bingung.
“Kita kenapa berhenti?”
“Kamu mau pingsan di perjalanan?”
“Hah?”
Wira menyerahkan roti dan kopi padanya.
“Makan.”
Mona menatap makanan itu beberapa detik. Entah kenapa dadanya terasa hangat.
“Terima kasih…”
“Jangan menangis cuma karena dibelikan roti.”
“Saya tidak semudah itu menangis!”
Wira terkekeh pelan dan Mona langsung membeku. Itu… Tawa?
Untuk pertama kalinya Mona mendengar Wira tertawa kecil seperti pria normal pada umumnya dan suara itu terlalu mematikan. Karena jantung Mona langsung tidak aman.
***
Perjalanan menuju Bandung memakan waktu beberapa jam. Awalnya Mona berniat bekerja selama di mobil, namun udara dingin dan rasa kantuk membuat matanya semakin berat.
“Kalau ngantuk tidur saja,” ucap Wira tanpa menoleh.
“Saya masih kuat…”
Lima menit kemudian… kepala Mona jatuh pelan ke bahu Wira. Mobil mendadak hening. Sopir di depan bahkan sampai melirik lewat kaca tengah dengan gugup. Karena biasanya Wira sangat tidak suka disentuh orang lain.
Namun kali ini… pria itu justru diam. Ia menoleh perlahan ke arah Mona yang tertidur pulas di bahunya. Rambut gadis itu sedikit menutupi wajahnya. Napasnya teratur dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama... Wira merasakan ketenangan aneh hanya karena seseorang bersandar padanya.
Tatapannya melembut tanpa sadar. Lalu pelan sekali… ia membetulkan posisi kepala Mona agar lebih nyaman.
“Tidur saja,” bisiknya pelan.
Sementara di luar jendela mobil… matahari pagi mulai muncul perlahan dan tanpa mereka sadari… hubungan keduanya juga mulai berubah sedikit demi sedikit.