Keinginan untuk menuntut ilmu di tempat terbaik membawa Elara, siswa berprestasi, menjejakkan kaki di Hantage School Academy—sekolah elit yang megah namun menyimpan aura dingin dan misterius. Berkat beasiswa penuh, ia merasa beruntung bisa bersekolah di sana, namun kebahagiaan itu segera berganti dengan ketakutan. Sejak hari pertama, Elara kerap mengalami hal-hal tak wajar: bisikan-bisikan tak kasat mata, bayangan gelap, dan kejadian mengerikan yang seolah menargetkan dirinya.
Bersama tiga sahabat barunya, Elara mulai menyelidiki asal-usul teror yang terjadi. Jejak demi jejak membawa mereka pada rahasia kelam masa lalu sekolah tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mustaqimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13-Simbol Aneh Di Dinding
Elara terus melangkah mengikuti jejak merah yang membekas jelas di lantai keramik itu. Jantungnya berpacu cepat, napasnya tertahan, matanya tak sesaat pun beralih dari jejak-jejak yang makin lama makin samar namun masih terlihat nyata itu. Jejak darah itu menuntunnya sampai ke ujung lorong, berhenti tepat di depan sebuah pintu kayu tua yang kusam, catnya sudah banyak terkelupas, dan tidak ada papan nama apa pun yang menempel di sana.
"Ruangan apa ini..." gumam Elara pelan, suaranya bergetar di tengah keheningan yang mencekam. Ia menelan ludah susah payah, matanya meneliti sekelilingnya dengan waspada
Di korosir itu sepi, tidak ada suara apa pun selain suara detak jantungnya sendiri yang terdengar nyaring di telinga. Tidak ada orang lewat, tidak ada suara langkah kaki penghuni asrama lain, seolah bagian gedung ini terputus dari dunia luar.
Dengan tangan yang masih sedikit gemetar karena sisa ketakutan dan rasa penasaran yang memuncak, Elara mengulurkan tangannya perlahan ke arah kenop pintu yang sudah berkarat dan dingin. Ia memutarnya pelan-pelan.
Klik...
Pintu itu ternyata tidak terkunci. Pintu itu bergerak sedikit, menampakkan celah gelap yang memancarkan hawa dingin yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.
Elara menarik napas panjang, mengumpulkan sisa keberanian yang ada, lalu mendorong pintu itu terbuka lebar. Ia melangkah masuk ke dalam kegelapan itu, dan pintu di belakangnya tertutup kembali pelan tanpa disentuh.
Di dalam ruangan itu remang-remang, hanya diterangi sedikit cahaya samar yang masuk dari celah-celah kecil di dinding. Matanya perlahan mulai menyesuaikan diri dengan suasana di dalam sana. Yang terlihat olehnya hanyalah tumpukan barang-barang usang, kursi-kursi kayu yang kakinya sudah patah, lemari-lemari tua yang pintunya sudah copot, tumpukan kertas yang sudah menguning dan rapuh dimakan usia, serta lapisan debu tebal yang menutupi seluruh permukaan benda dan lantai. Sarang laba-laba tergantung di setiap sudut langit-langit dan sambungan dinding.
Elara menatap sekeliling dengan rasa kecewa yang bercampur lega. "Ternyata cuma gudang aja..." gumamnya pelan. Ia mengira akan menemukan sesuatu yang mengerikan, atau jawaban dari misteri jejak darah itu, tapi yang ada hanyalah tumpukan barang bekas yang sudah lama terbengkalai. "Terus darah tadi gak ada lagi di sini, mungkin tadi cuma khayalan aku karena terlalu takut ya..."
Elara pun berbalik badan, berniat segera keluar dari ruangan pengap dan kotor itu, ingin kembali ke lorong yang lebih terang dan aman. Namun baru saja ia melangkah satu dua langkah...
KRAK... TING... TUNG...
Tiba-tiba lampu-lampu bohlam yang menggantung redup di langit-langit itu menyala dan mati bergantian secara liar, berkedip-kedip dengan cepat. Bersamaan dengan itu, jendela-jendela tua yang sudah tertutup debu itu terbuka lebar sendiri dengan suara berderak keras, tertiup angin kencang yang mendadak masuk menyerbu ke dalam ruangan. Angin itu berhembus sangat kuat, dingin menusuk tulang, membawa serta debu dan kertas-kertas tua yang berterbangan ke sana kemari.
"AAAA! Apa ini?!" teriak Elara kaget dan ketakutan. Ia segera menutup wajahnya dengan lengan untuk melindungi diri dari debu dan angin yang mengamuk itu.
Tubuhnya terhuyung ke belakang karena hembusan angin yang tak wajar itu. Napasnya tersengal, rasa takut yang sempat mereda kini kembali melipatgandakan rasa ngeri di hatinya.
Sambil berusaha menahan tubuhnya agar tidak terjatuh dan berusaha melihat di tengah kekacauan debu yang beterbangan itu, pandangan Elara tertuju ke salah satu dinding di sisi ruangan itu yang tadi tertutup bayangan gelap. Di sana, tersinari cahaya lampu yang sedang berkedip, terlihat sesuatu yang aneh dan asing.
Saat angin mulai sedikit mereda dan debu mulai mengendap kembali, Elara memberanikan diri mendekat ke arah dinding itu. Di sana, terukir dalam dan jelas sebuah simbol yang sangat asing baginya, dikelilingi oleh tulisan-tulisan melengkung yang bentuknya aneh, tidak seperti huruf abjad biasa, dan tidak pula seperti aksara daerah mana pun yang pernah ia lihat.
KALIMARATHI VARAHANA SUMURIONDA HEREDIAS
"Simbol apa ini...?" gumam Elara dengan mata terbelalak, menatap tulisan itu lekat-lekat. "Kok bentuknya aneh banget ya? Huruf apa ini? Bahasa apa ini?"
Elara mendekatkan wajahnya, berusaha mengamati dan membaca tulisan serta pola itu. Ia menyipitkan mata, berusaha mencari makna atau huruf yang ia kenali, namun sia-sia. Semuanya terlihat seperti goresan acak namun tersusun rapi, penuh lekukan dan garis yang saling menyambung.
"Aduh, susah banget nih bacanya... nggak ngerti sama sekali, aneh banget tulisannya," keluh Elara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia tahu ia tidak akan bisa memahaminya sekarang juga. Pikirannya berputar cepat, lalu ia teringat sesuatu. "Mending aku foto aja deh. Nanti aku tanya sama Keisha, atau cari tahu di buku perpustakaan. Siapa tahu ada yang tahu arti tulisan ini."
Elara segera merogoh saku celananya, mengambil ponselnya yang selalu ia bawa. Ia menyalakan layar, mengaktifkan fitur kamera, lalu mengarahkan lensanya tepat ke dinding yang penuh simbol itu. Ia memastikan cahayanya cukup, lalu menekan tombol jepret.
Cekrek!
Suara kamera terdengar nyaring memecah keheningan ruangan. Ia memotret dari beberapa sudut agar gambarnya jelas dan utuh.
"Sudah, aman deh," gumamnya lega sambil hendak memasukkan kembali ponselnya ke saku.
Namun tepat saat punggung tangannya menyentuh saku celananya...
Tiba-tiba sebuah tangan dingin, kasar, dan berdebu, menepuk pundak kanan Elara dengan pelan namun berat. Suara sentuhan itu terdengar begitu jelas dan nyata di telinga Elara.
Darah Elara seolah berhenti mengalir seketika. Tubuhnya menegang kaku, napasnya tertahan sepenuhnya, rasa takut menyergap sekuat tenaga hingga nyawanya serasa melayang. Dengan tangan yang gemetar hebat dan hati yang berdebar tak beraturan, perlahan ia memutar kepalanya ke belakang, bersiap menyaksikan sosok mengerikan yang menepuk pundaknya. Namun saat wajahnya berbalik sepenuhnya, keterkejutan itu berubah menjadi napas lega bercampur rasa takut yang berbeda.
Di belakangnya berdiri seorang wanita paruh baya dengan wajah tegas, rambutnya disanggul rapi, mengenakan seragam penjaga asrama berwarna biru tua dengan lencana di dada kiri. Itu adalah Bu Pamela, ketua penjaga asrama yang terkenal sangat disiplin, galak, dan tegas kepada seluruh penghuni asrama.
Bu Pamela menatap Elara dengan tatapan tajam, matanya menyala penuh curiga dan kemarahan. Suaranya terdengar keras dan menggelegar di ruangan kosong itu saat ia bertanya.
"Kamu ngapain ada di ruangan ini?!" bentak Bu Pamela, nada bicaranya tinggi dan penuh penekanan. "Tahu nggak kamu kalau ruangan ini dilarang keras dimasuki siapa pun?!"
Elara yang masih sangat terkejut dan gemetar, segera menundukkan kepalanya tanda hormat sekaligus takut. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih kencang, lalu menjawab dengan suara yang terbata-bata pelan.
"Saya... saya Elara, Bu. Maafkan saya... saya nggak tahu kalau ruangan ini dilarang," jawab Elara dengan wajah pucat. "Saya tersesat, Bu. Tadi saya mau ke kamar mandi, tapi nggak sengaja belok ke sini. Saya... saya kan murid baru, baru beberapa hari di asrama ini, jadi belum hafal jalan dan susunan ruangannya. Saya benar-benar nggak sengaja masuk ke sini, Bu."
Bu Pamela menatap Elara lekat-lekat dari ujung kepala sampai ujung kaki, seolah menilai kebenaran ucapan gadis itu. Ia melihat wajah Elara yang masih pucat dan matanya yang masih tampak ketakutan tulus. Perlahan, raut wajah Bu Pamela yang tadinya sangat galak sedikit melunak, meski masih tersisa ketegasan yang kuat.
"Oh, jadi kamu murid baru yang itu..." gumam Bu Pamela pelan, seolah mengingat-ingat laporan data siswa. Ia menghela napas panjang, lalu menunjuk ke arah pintu dengan tegas. "Oke, saya masih kasih kamu keringanan dan nggak melaporkan ini ke kepala sekolah cuma karena kamu murid baru dan belum tahu aturan. Tapi ingat baik-baik pesan saya jangan pernah lagi kamu masuk atau mendekati ruangan ini, atau lorong di sekitarnya. Ini area terlarang, mengerti?!"
"Mengerti, Bu... saya mengerti," jawab Elara cepat sambil mengangguk berulang kali.
"Udah sana pergi dari sini! Cepat kembali ke jalan yang seharusnya kamu lewati," perintah Bu Pamela tegas.
"Iya, Bu. Saya permisi..." Elara segera membungkukkan badan sedikit, lalu berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangan itu. Ia berani menoleh ke belakang lagi, takut-takut Bu Pamela mengubah pikiran atau bertanya hal lain lagi. Ia melangkah cepat menyusuri lorong panjang itu, menjauhi ruangan tua yang penuh misteri itu.
Baru setelah ia berjalan cukup jauh, hingga sosok pintu tua itu sudah tak terlihat lagi di belakangnya dan suasana lorong mulai kembali terang serta ramai oleh suara murid lain, langkah Elara melambat. Ia berhenti sejenak di sudut lorong yang sepi namun aman. Napasnya masih terasa berat, dan rasa lega yang mendalam menyelimuti hatinya karena lolos dari situasi yang mencekam sekaligus berbahaya itu.
Tangan kanannya perlahan merogoh saku celana, mengeluarkan ponsel yang tadi sempat ia pakai untuk memotret. Ia mengangkat layarnya, dan jari-jarinya yang masih sedikit gemetar menggeser galeri foto hingga menemukan gambar yang baru saja ia ambil.
Di layar ponsel itu, simbol-simbol aneh dan tulisan melengkung yang terukir di dinding gudang tua itu terlihat jelas. Elara menatapnya lekat-lekat, matanya menyipit berusaha memahami setiap lekukan dan goresan yang ada.
"Simbol ini..." gumam Elara pelan, suaranya kembali penuh rasa penasaran yang tak terjawab. "Ada arti tersembunyi di sini, aku yakin banget. Ini nggak cuma goresan iseng atau kotoran dinding biasa. Ada sesuatu yang disembunyikan di balik tulisan ini, sesuatu yang berkaitan sama sekolah ini, sama kejadian aneh yang aku lihat, dan sama sosok berwajah pucat itu."
Ia menyimpan kembali ponselnya dengan hati-hati ke dalam saku, memastikan gambar itu aman. Tatapannya berubah menjadi penuh tekad.
"Aku harus cari tahu arti simbol aneh ini. Entah bagaimana caranya, entah harus bertanya ke siapa, atau cari di buku-buku tua... aku harus tahu apa maksudnya. Itu pasti kunci dari semua misteri ini," batin Elara bersumpah dalam hati.
Setelah merasa cukup dan kembali menguasai dirinya, Elara menghela napas panjang untuk menenangkan diri sepenuhnya. Ia kembali memeluk erat baju ganti yang sedari tadi belum sempat ia lepaskan.
"Udah ah, nanti aja dipikirin lagi. Sekarang aku harus ke kamar mandi dulu, cuci muka, dan bersihin diri. Semoga setelah itu pikiran aku jadi lebih jernih dan tenang," ucapnya pelan menyemangati diri sendiri.
Elara pun kembali melangkah, kali ini dengan langkah yang lebih pasti dan arah yang benar, menuju kamar mandi umum asrama yang letaknya di bagian depan, tempat yang jauh lebih terang, ramai, dan aman. Namun di dalam hatinya, ia tahu petualangannya mengungkap rahasia kelam Sekolah Warisan ini baru saja memasuki babak yang jauh lebih dalam.