NovelToon NovelToon
Rahasia Hati

Rahasia Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:503
Nilai: 5
Nama Author: Pengamat Senja

​Luka pengkhianatan ibu membuat hati Anandara membeku. Sinta adalah satu-satunya "rumah" baginya. Namun, kehadiran mahasiswa baru bernama Angga memicu badai. Anandara rela memendam cinta demi Sinta, menciptakan kebohongan dan permusuhan yang menyayat hati. Mampukah persahabatan mereka bertahan saat rahasia terkuak, dan dapatkah Dimas menyembuhkan luka Sinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7: Hujan, Tangis, dan Tepi Jurang Kematian

Di lantai bawah, jauh dari kekacauan yang sedang berkecamuk di dalam kepala Anandara, Sinta sedang berlari menyusuri koridor lantai dasar dengan napas tersengal-sengal. Rapat klub teaternya terpaksa dibubarkan lebih awal karena suara hujan lebat yang menghantam atap seng aula membuat suara para anggota tidak terdengar sama sekali. Sinta, yang sejak tadi perasaannya tidak enak, segera mengemasi barang-barangnya. Ada semacam firasat buruk yang mengganjal di dadanya, sebuah ikatan batin tak kasat mata yang selalu berdering setiap kali sahabatnya sedang tidak baik-baik saja.

Sinta berlari menuju perpustakaan, tempat di mana Anandara biasanya mengisolasi diri. Namun, saat ia tiba di sana, tempat duduk favorit Anandara di sudut ruangan itu kosong. Hanya ada tumpukan buku Kalkulus yang berserakan dan sebuah pensil mekanik yang patah menjadi dua.

Penjaga perpustakaan yang sedang merapikan rak menoleh ke arah Sinta. "Kamu cari Nanda? Dia baru saja lari keluar dengan wajah sangat pucat. Sepertinya sedang terburu-buru."

Jantung Sinta mencelos. Nanda? Terburu-buru? Nanda yang tidak pernah kehilangan ketenangannya, berlari dengan wajah pucat? Sinta tidak membuang waktu sedetik pun. Ia segera berlari keluar dari perpustakaan, membelah lautan siswa yang sedang berteduh di koridor.

"Nanda!" panggil Sinta di tengah keramaian. Suaranya tenggelam oleh obrolan siswa dan gemuruh guntur.

Langkah pertamanya tertuju pada kantin sekolah. Biasanya, jika tidak di perpustakaan, Anandara akan menemaninya makan. Kantin sangat penuh dan pengap. Aroma kuah bakso, mie instan, dan seragam basah bercampur menjadi satu. Sinta menerobos kerumunan, berjinjit, mengedarkan pandangannya ke setiap meja. Ia bahkan menepis bahu beberapa kakak kelas tanpa peduli sopan santun.

"Woy, santai dong, Dek!" protes seorang siswa kelas dua belas saat bahunya tertabrak oleh Sinta.

"Sori, sori! Permisi!" balas Sinta tanpa menoleh.

Ia mencari sosok gadis tinggi dengan wajah dingin dan rambut hitam lurus. Tidak ada. Bahkan Jesica dan Kiera yang sedang duduk di sudut kantin pun tidak melihat Nanda. Kantin nihil.

Kepanikan mulai merayap naik ke tenggorokan Sinta. Ia berlari keluar dari kantin, menerjang tampias hujan di koridor penghubung. Pikirannya melayang ke taman belakang sekolah. Taman itu memiliki sebuah gazebo kayu yang tertutup rimbunnya pohon beringin, tempat yang kadang dikunjungi Anandara jika ia benar-benar ingin menghindari keramaian.

Tanpa memedulikan hujan badai yang sedang mengamuk, Sinta berlari menembus tirai air menuju taman belakang. Seragam putihnya seketika basah kuyup, menempel pada kulitnya. Sepatunya terperosok ke dalam genangan lumpur.

"Nanda!! Nanda, lo di sini?!" teriak Sinta di tengah derasnya hujan.

Ia memeriksa gazebo. Kosong. Ia melihat ke balik pohon-pohon besar. Tidak ada siapa-siapa. Taman itu sepi, hanya ada suara hujan yang menghajar dedaunan dengan brutal. Sinta mengusap wajahnya yang basah oleh air hujan, dadanya naik turun dengan cepat. Ketakutannya kini berubah menjadi teror. Jika Nanda tidak ada di perpustakaan, tidak ada di kantin, dan tidak ada di taman... lalu di mana?

Sinta memutar tubuhnya, berlari kembali menuju gedung utama sekolah. Saat ia tiba di ujung koridor lantai dua, langkahnya terhenti secara tiba-tiba. Matanya yang tajam menangkap sekelebat siluet putih abu-abu di ujung tangga lantai tiga, sedang bergerak naik dengan sangat cepat.

Dari postur tubuhnya, dari rambut hitam panjangnya yang berkibar, dan dari tas kanvas yang tidak pernah lepas dari bahunya, Sinta sangat mengenali siluet itu. Itu Anandara.

Tapi arah yang dituju Anandara sama sekali tidak masuk akal. Tangga itu menuju ke lantai lima. Dan tidak ada apa pun di lantai lima selain gudang rongsokan dan... pintu akses menuju atap sekolah (rooftop).

Atap sekolah? Di tengah badai seperti ini?

Otak Sinta memproses informasi itu dalam sepersekian detik, dan kesimpulan yang ditariknya membuat aliran darah di tubuhnya serasa berhenti mengalir.

"Astaga... Nggak, nggak mungkin. Nanda, jangan gila!" gumam Sinta dengan bibir bergetar.

Tanpa memedulikan otot kakinya yang mulai kram, Sinta berlari menaiki anak tangga, melompati dua hingga tiga anak tangga sekaligus. Ia menabrak beberapa siswa yang sedang duduk-duduk di tangga lantai tiga, mengabaikan umpatan mereka. Ia terus berlari ke atas. Lantai empat terlewati. Lorong semakin gelap dan sepi. Suara guruh semakin terdengar menggelegar dari atas sini.

Saat Sinta tiba di landing tangga lantai lima, ia melihat pintu besi tebal yang menuju ke atap sedikit terbuka. Gemboknya menggantung tak berdaya. Angin badai melolong masuk melalui celah pintu itu, membawa air hujan yang membasahi lantai keramik di depannya.

Sinta mendorong pintu besi itu dengan seluruh sisa tenaganya.

Brak!

Pintu terbuka lebar, membentur dinding beton. Hantaman angin dan air hujan langsung menyerang wajah Sinta, memaksanya menyipitkan mata. Kilat menyambar, menerangi kegelapan di atas atap sekolah yang luas itu.

Dan di sanalah ia. Di tepi jurang beton.

Anandara Arunika berdiri di atas tembok pembatas atap. Tubuhnya yang kurus dibalut seragam yang basah kuyup. Rambutnya berantakan ditiup angin kencang. Ia sedang memejamkan mata, memandang ke arah bawah, dan tubuhnya sudah mulai condong ke depan. Satu detik lagi. Hanya butuh satu hembusan angin atau satu pergeseran sentimeter lagi, dan gravitasi akan menarik gadis itu menuju kematian yang pasti.

"NANDAAA!!!"

Jeritan histeris Sinta merobek udara, lebih keras dan lebih menyayat hati daripada suara petir mana pun sore itu. Suara itu melengking, dipenuhi oleh keputusasaan, teror, dan cinta yang begitu besar.

Anandara tersentak. Matanya terbuka lebar. Tubuhnya yang sudah kehilangan keseimbangan secara refleks tertahan saat mendengar suara sahabatnya. Ia menoleh ke belakang dengan perlahan, menatap Sinta dengan pandangan kosong yang sangat mengerikan.

"Sinta..." suara Anandara sangat pelan, nyaris tak terdengar, namun terbawa oleh angin ke telinga Sinta.

"Turun!" Sinta melangkah maju satu tindak, tangannya terulur ke depan, seolah ingin meraih tubuh Anandara meski jarak mereka masih terpisah sepuluh meter. Seluruh tubuh Sinta bergetar hebat. Air matanya meledak, bercampur dengan air hujan yang membasahi wajahnya. "Turun, Nanda! Gue mohon, turun dari situ sekarang juga!"

Anandara menggeleng pelan. Ia menatap ke bawah lagi, lalu menatap Sinta. Wajahnya adalah kanvas keputusasaan yang absolut.

"Jangan mendekat, Sin," ucap Anandara, suaranya kini sedikit lebih keras, dipaksakan keluar dari tenggorokannya yang tercekat. "Tetap di sana. Biarkan aku pergi. Ini satu-satunya cara agar semuanya selesai."

"Cara apa?! Lo ngomong apa, bangsat?!" umpat Sinta sambil menangis meraung-raung. Ia mengabaikan peringatan Anandara dan mengambil langkah maju yang pelan dan berhati-hati, layaknya mendekati hewan liar yang terluka. "Lo pikir loncat dari situ bakal nyelesain masalah?! Lo pikir kalau lo mati, lo bakal tenang?!"

"Dia menemukanku, Sin..." suara Anandara pecah menjadi isakan yang sangat memilukan. Pertahanan Nyonya Es yang membeku selama bertahun-tahun itu luluh lantak di bawah hujan. "Ibuku... dia meneleponku. Sekolah memberinya nomorku. Dia bisa masuk ke mana saja. Dia hantu, Sinta. Dan yang lebih parah... aku adalah darah dagingnya."

Sinta terus melangkah maju perlahan, matanya tidak pernah lepas dari kaki Anandara yang berpijak di tepi beton yang licin. "Lalu kenapa?! Kalau dia telepon, kita ganti nomor lo! Kita blokir! Kalau sekolah yang salah, kita tuntut sekolahnya! Bukan dengan cara lo bunuh diri kayak gini, Nanda!"

"Kau tidak mengerti!" jerit Anandara. Ia memegang kepalanya yang basah dengan kedua tangan, terlihat seperti orang yang sudah kehilangan kewarasannya. "Darah wanita itu ada di dalam nadiku! Dia mengkhianati ayahku, dia menghancurkan keluarganya karena ego! Bagaimana kalau aku menjadi sepertinya, Sin?! Bagaimana kalau suatu saat nanti, tanpa aku sadari, aku akan menyakiti orang-orang yang tulus padaku?! Aku tidak mau menjadi monster! Lebih baik silsilah kotor ini mati bersamaku di sini!"

Langkah Sinta terhenti di tengah-tengah atap. Dadanya terasa sesak seolah dihantam godam raksasa mendengar alasan di balik keinginan bunuh diri sahabatnya. Anandara tidak ingin mati karena ia lemah; Anandara ingin mati karena ia terlalu takut melukai orang lain di masa depan. Logika yang cacat itu lahir dari trauma yang tidak pernah diobati.

Hujan semakin deras, seolah semesta sengaja menutupi tragedi yang sedang terjadi di atas atap ini. Tidak ada seorang pun siswa atau guru di lantai bawah yang bisa mendengar teriakan Sinta maupun isakan Anandara. Suara badai meredam semuanya. Ini adalah pertarungan rahasia antara hidup dan mati, hanya mereka berdua dan Tuhan yang tahu.

Sinta jatuh berlutut di atas genangan air di lantai atap. Ia menengadahkan wajahnya yang basah oleh air mata dan hujan, menatap Anandara dengan permohonan yang paling dalam.

"Nanda, dengerin gue," suara Sinta kini merendah, bergetar namun dipenuhi oleh ketegasan yang luar biasa. "Lo ingat hari di mana lo pertama kali bawa gue ke rumah kontrakan lo yang sempit itu? Lo ingat apa yang gue bilang? Gue bilang, gue akan jadi pelindung lo. Gue akan jadi tameng lo."

Anandara menatap Sinta dari atas tembok. Tangisannya tidak berhenti.

"Darah nggak menentukan siapa diri lo, Nanda!" teriak Sinta lagi, memukul genangan air di bawahnya dengan kepalan tangan hingga airnya terciprat ke wajahnya. "DNA nggak membentuk hati manusia! Ibu lo mungkin monster, tapi lo... lo adalah Anandara Arunika! Lo adalah cewek yang rela makan telur gosong tiap hari demi lihat bapaknya kerja! Lo adalah cewek yang diam-diam ngajarin gue matematika sampai gue bisa masuk SMA ini bareng lo! Ibu lo nggak punya hati itu, Nan. Hati lo murni milik lo sendiri, dan hati lo jauh lebih mulia dari wanita itu!"

Anandara terisak hebat, tubuhnya limbung sedikit tertiup angin, membuat Sinta menjerit tertahan. "Tapi aku takut, Sin... Aku takut cinta akan mengubahku..."

"Kalau gitu jangan jatuh cinta!" potong Sinta dengan cepat, memberikan solusi apa pun asalkan sahabatnya itu tetap hidup. Sinta bangkit berdiri, berjalan mendekat. Lima meter. Tiga meter. "Kalau lo takut cinta asmara bakal bikin lo hancur, ya udah, kunci hati lo rapat-rapat! Nggak usah pacaran seumur hidup! Nggak usah nikah! Tapi tolong... jangan mati. Gue mohon sama lo."

Sinta kini berdiri hanya satu meter dari tempat pijakan Anandara. Ia menengadahkan kepalanya, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar ke arah sahabatnya.

"Lo bilang lo takut nyakitin orang kalau lo hidup, kan?" Sinta menatap tepat di kedalaman mata hitam legam Anandara. "Lo tahu apa yang paling nyakitin gue dan bapak lo? Bukan kalau lo hidup dan jadi egois, Nan. Yang bakal ngebunuh bapak lo, yang bakal bikin bokap lo balik jadi gila kayak dulu, adalah kalau dia harus ngubur mayat anak perempuan satu-satunya hari ini!"

Kata 'bapak' seolah menembus kabut keputusasaan di otak Anandara. Wajah ayahnya yang mulai menua, senyum ayahnya saat berhasil memenangkan tender proyek, tawa ayahnya saat mereka makan malam bersama... semuanya berkelebat di benak Anandara.

Sinta melihat keraguan di mata Anandara, dan ia tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melangkah maju mendekati dinding pembatas.

"Dan gue, Nan..." suara Sinta kini berubah menjadi rintihan yang menyayat hati. "Lo pikir gue bisa hidup kalau lo loncat? Lo itu sahabat gue. Lo rumah gue. Kalau lo hancur dari atas sini, jiwa gue juga bakal ikut hancur. Kalau lo beneran mau lompat, lo harus bawa gue sekalian."

Anandara menggeleng panik, air matanya menyatu dengan hujan. "Jangan gila, Sinta! Mundur!"

"Gue nggak mau mundur!" teriak Sinta menantang badai. "Turun, Nanda! Turun sekarang, atau gue yang naik ke situ dan kita loncat berdua! Sumpah demi Tuhan, gue nggak mau hidup di dunia yang nggak ada elonya!"

Kalimat itu, ancaman yang dibalut dengan pengorbanan dan kesetiaan buta, akhirnya berhasil menghancurkan sisa-sisa logika kelam di otak Anandara. Gadis jenius itu menyadari betapa egois tindakannya. Memilih mati berarti ia tidak membunuh hantunya, melainkan ia akan membunuh dua nyawa sekaligus: dirinya sendiri dan jiwa sahabatnya. Ia akan melakukan kejahatan yang jauh lebih besar dari apa yang dilakukan ibunya.

Dengan napas yang terputus-putus dan tubuh yang menggigil parah, Anandara akhirnya mengangguk. Ia memutar tubuhnya perlahan, sangat perlahan agar sepatunya yang licin tidak terpeleset.

Sinta tidak menunggu Anandara turun sepenuhnya. Saat jarak mereka sudah bisa dijangkau, Sinta langsung merengkuh pinggang Anandara dan menariknya turun dengan paksa ke atas lantai atap yang aman.

Keduanya jatuh berguling di atas beton yang tergenang air hujan.

Detik berikutnya, tangisan meledak. Bukan lagi tangisan keputusasaan, melainkan tangisan kelegaan yang luar biasa. Sinta mendekap tubuh Anandara dengan cengkeraman maut, menindih sahabatnya itu seolah takut angin badai akan membawanya pergi lagi. Sinta membenamkan wajahnya di dada Anandara, menangis sejadi-jadinya, meluapkan seluruh teror dan ketakutan yang ia rasakan beberapa menit terakhir.

"Lo bodoh... lo bodoh banget, Nanda..." rintih Sinta di sela isakannya, memukul bahu Anandara dengan lemah. "Jangan pernah... jangan pernah lakuin itu lagi. Gue bisa mati jantungan, brengsek."

Anandara membalas pelukan Sinta tidak kalah eratnya. Ia merengkuh tubuh sahabatnya yang bergetar kedinginan. Untuk pertama kalinya, Anandara tidak memikirkan logikanya. Ia membiarkan dirinya menjadi lemah, membiarkan dirinya bersandar sepenuhnya pada gadis cerewet yang baru saja menyelamatkan nyawanya.

"Maafkan aku, Sin," isak Anandara, suaranya tenggelam di antara deru hujan. Ia menenggelamkan wajahnya di bahu Sinta. "Maafkan aku... aku tidak akan pergi. Aku janji. Aku tidak akan pergi ke mana-mana."

Di bawah langit yang masih mengamuk dan hujan lebat yang menyembunyikan jejak air mata mereka, dua sahabat itu saling berpelukan erat. Tidak ada guru yang naik ke atas atap. Tidak ada siswa yang mendengar jeritan mereka. Semesta seolah memberikan ruang privasi bagi mereka untuk saling menyembuhkan. Insiden mengerikan di tepi jurang kematian ini menjadi rahasia abadi yang terkunci rapat di antara mereka berdua.

Sore itu, di atas genangan air di rooftop sekolah, nyawa Anandara selamat, diselamatkan oleh rayuan putus asa dan cinta seorang sahabat. Namun sebagai bayarannya, Anandara mengikrarkan sebuah sumpah di dalam hatinya yang paling dalam: demi membalas budi dan melindungi Sinta, serta untuk mencegah dirinya menjadi monster seperti ibunya, ia akan memastikan hatinya mati rasa selamanya terhadap laki-laki. Tidak akan pernah ada ruang untuk komitmen asmara di dalam hidupnya.

Sebuah janji yang, tanpa ia sadari, akan menjadi bom waktu di masa depan. Sebuah bom yang akan meledak saat seorang mahasiswa menatapnya dengan tajam di bangku kuliah, menguji setiap pertahanan dan janji persahabatan yang disahkan di bawah badai ini.

Namun untuk sekarang, badai telah berlalu. Mereka masih bernapas. Dan bagi Anandara, Sinta adalah satu-satunya pelindung yang akan selalu ia jaga hingga akhir hayatnya.

Bersambung...!

1
Pengamat Senja
👍
Pengamat Senja
jika ada kesalahan tulis, silahkan kritik dan sarannya ya.
pengamat Senja_
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!