Kisah romansa antara Sulthan Aditama, CEO perusahaan emas yang tampan, dingin, dan hidup dalam kemewahan, dengan Nurlia, gadis sederhana yang bekerja keras sebagai pelayan restoran demi menghidupi adiknya setelah orang tua mereka meninggal.
Berawal dari pertemuan tak terduga dan insiden kecil, Sulthan mulai tertarik pada ketulusan, keramahan, dan kekuatan mental Nurlia yang berbeda dari wanita-wanita elit yang biasa ia temui. Perlahan, pria yang hatinya beku itu mulai mencair. Ikuti perjalanan cinta mereka yang harus melewati rintangan perbedaan status sosial, rasa minder, dan cemoohan orang lain demi membuktikan bahwa cinta sejati bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MrRabbit_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Selesai menyantap makan siang yang lezat dan mengenyangkan, suasana hati Sulthan jadi sangat tenang. Perut sudah kenyang, pikiran pun sudah lega karena rapat berjalan lancar.
"Jun, aku mau istirahat sebentar ya. Kamu kembali ke meja aja dulu," titah Sulthan sambil merapikan seragamnya.
"Siap, Bos. Saya tunggu di luar kalau ada apa-apa," jawab Juniarta patuh, lalu berjalan meninggalkan area ruang makan.
Sulthan pun berjalan menuju ruangan pribadinya di lantai paling atas. Namun, kali ini dia tidak langsung duduk di kursi kerjanya. Cuaca siang ini memang sangat panas dan gerah, ditambah lagi tadi dia banyak bergerak dan berpikir keras saat rapat, membuat tubuhnya terasa sedikit lengket dan tidak nyaman.
"Ah, sebaiknya mandi dulu aja. Biar seger lagi sorenya," gumamnya pelan.
Sulthan berjalan menuju sebuah pintu di sudut ruangan kerjanya yang tersembunyi di balik partisi kayu. Pintu itu terbuka, menampakkan sebuah kamar mandi yang luas dan sangat mewah.
Benar-benar tidak tanggung-tanggung. Kamar mandi ini tidak seperti kamar mandi kantor pada umumnya yang sempit dan minim fasilitas. Ini lebih mirip kamar mandi presidential suite di hotel bintang lima.
Lantainya dipenuhi ubin marmer berwarna putih susu yang mengkilap sempurna, dindingnya dilapisi batu alam berwarna krem yang memberikan kesan hangat namun elegan. Di tengah ruangan terdapat bak mandi besar berbentuk persegi panjang yang sangat luas, namun di sisi lain juga tersedia shower dengan sistem air panas dan dingin yang canggih.
Di atas meja rias yang terbuat dari kaca dan stainless steel, berjejer rapi berbagai perlengkapan mandi dan perawatan tubuh yang lengkap sekali. Mulai dari sabun cair, sampo, kondisioner, body lotion, sampai parfum dan cologne berbagai varian tersedia di sana. Semuanya adalah produk-produk branded kelas atas yang menjamin keharuman dan kesegaran.
Tanpa membuang waktu, Sulthan mulai melepaskan satu per satu pakaian kerjanya. Jas biru tua, kemeja putih, dasi, dan celana panjang dilipat rapi atau digantung di gantungan khusus yang tersedia.
Kini, tubuh kekarnya yang tingginya 185 cm itu kembali tampak sempurna tanpa sehelai benang pun menempel. Otot-otot yang terbentuk indah, kulit yang bersih, dan postur tubuh yang atletis terlihat jelas di bawah cahaya lampu yang terang namun lembut.
Sulthan melangkah masuk ke area shower.
Krukk...
Ia memutar keran air, dan seketika air bersih menyembur deras dengan tekanan yang pas. Suhu air ia atur sedikit dingin, cukup untuk menyegarkan tubuh namun tidak membuat menggigil.
Air itu membasahi seluruh tubuhnya, membasuh keringat yang menempel. Sulthan memejamkan matanya, menikmati sensasi air yang mengalir menyapu kulitnya. Rasanya sangat nikmat, seolah semua lelah dan penat langsung hanyut terbawa air.
Ia mengambil sabun cair dengan wangi yang segar dan maskulin, mengusapkannya ke seluruh tubuh dengan lembut hingga menghasilkan buih putih yang halus. Kemudian dilanjutkan dengan sampo.
Aliran air itu membasahi rambut hitamnya yang basah, mengalir turun menyusuri leher tebal, dada bidang, lalu menelusuri setiap lekuk otot perut yang keras. Buih sabun mandi dan sampo menempel tipis di kulitnya, membuat seluruh tubuh terasa licin dan segar.
Pikiran Sulthan mulai melayang. Tubuhnya yang baru saja dibersihkan terasa rileks, tapi ada gelombang panas yang perlahan naik dari bawah perut. Ia menatap ke bawah, melihat burungnya yang sudah mulai terangkat, batang panjang dan tebal itu bergoyang pelan karena tekanan air. Kepala burungnya yang besar mulai membengkak, urat-urat tebal menonjol sepanjang batang yang hampir dua puluh sentimeter saat tegang penuh.
“Shit…” gumamnya. Tangan kanannya turun tanpa ragu, menggenggam batang itu dengan kuat di pangkal. Jari-jarinya yang tebal melingkari lingkar burungnya yang besar, merasakan denyut panas di telapak tangan.
Ia mulai mengocok Naik turun. Lambat dulu, menikmati setiap gesekan kulit tangannya di batang yang licin karena air dan sisa sabun. “Ahh… enak,” desahnya rendah, kepalanya mendongak sedikit.
Gerakan tangannya semakin mantap. Ia tarik dari pangkal hingga ujung, ibu jari mengusap kepala burung yang sensitif setiap kali sampai atas. Cairan bening sudah keluar dari lubang kecil di ujung, bercampur air membuat kocokannya semakin licin dan mulus. “Fuck… udah basah gini,” katanya di antara napas yang mulai berat.
Sulthan mempercepat ritme. Tangan kanannya naik turun lebih cepat sekarang, bunyi basah kecil terdengar samar di tengah gemericik shower. Ia membayangkan seorang wanita berlutut di depannya, bibir merah tebal membuka lebar, lidah hangat menyapu kepala burungnya yang besar sebelum mengulumnya dalam-dalam. Bayangan itu membuat burungnya berdenyut keras di genggaman.
“Ahh… sialan… enak banget kalau ada yang ngisep,” erangnya. Tangan kirinya bertumpu di dinding marmer dingin, sementara tangan kanan terus bekerja tanpa ampun. Ia meremas lebih kuat di pangkal, lalu menarik hingga ujung, memilin sedikit kepala burung setiap kali. Otot lengan dan dada menegang, perut sixpack-nya berkontraksi ritmis mengikuti gerakan kocokan.
Napasnya semakin tersengal. “Uhh… lebih cepat… ya gitu…” desahnya sendiri. Ia membayangkan mulut wanita itu menelan burungnya hingga tenggorokan, pipi cekung karena mengisap kuat, air liur menetes ke bola-bolanya yang penuh. Tangan Sulthan sekarang mengocok dengan kecepatan penuh, naik turun tanpa henti, bunyi basah semakin jelas.
“Fuck… mau keluar… ahh!” Tubuhnya menegang hebat. Paha berotot bergetar, perut keras seperti batu. Dengan beberapa kocokan terakhir yang sangat kuat dan cepat, ia meledak.
Cairan putih kental menyembur keluar dengan deras. Semburan pertama meluncur jauh, mengenai dinding marmer di depannya. Semburan kedua dan ketiga sama kuatnya, tebal dan panjang, mengalir deras mengikuti air shower. Ia terus mengocok sambil menikmati setiap denyut, cairan masih keluar dalam beberapa tetes kecil yang lengket. “Aaaahh… banyak banget… shit…” erangnya panjang, suaranya parau karena kenikmatan yang memuncak.
Sulthan bersandar di dinding, napasnya terengah-engah. Burungnya masih berdenyut di tangan, perlahan mengendur tapi tetap terlihat besar dan berat. Ia membiarkan air dingin membersihkan sisa cairan putih yang menempel di batang dan jari-jarinya. Tangan kanannya masih memegang burungnya sebentar, meremas untuk mengeluarkan sisa terakhir.
Setelah puas, ia mematikan keran shower. Tubuhnya terasa sangat ringan sekarang, pikiran jernih, dan energi kembali penuh. Ia mengambil handuk putih lembut dari rak, mengeringkan rambut dan tubuhnya dengan gerakan cepat.
Sekarang, badannya terasa ringan, wangi, dan jauh lebih segar daripada sebelumnya. Kamar mandi mewah ini benar-benar menjadi tempat pelarian terbaiknya sejenak dari penatnya dunia bisnis.
Setelah tubuhnya kering, Sulthan mulai mengenakan pakaian kembali. Dia mengambil kemeja putih dan kemeja luar warna biru tua yang tadi digantung rapi. Ia memakai dengan santai namun tetap rapi. Kali ini dia tidak memakai dasi lagi untuk suasana sore yang lebih santai. Kerah bajunya dibiarkan terbuka sedikit, memberikan kesan yang lebih rileks namun tetap tampan dan berwibawa.
Celana panjang bahan hitamnya dipakai kembali, disetrika sedikit memakai setrika uap agar tidak kusut, lalu dia melangkah keluar dari area kamar mandi menuju ruang kerja utamanya.
Klik.
Pintu tertutup perlahan di belakangnya. Sulthan berjalan menuju meja kerjanya yang besar. Aroma wangi parfum dan sabun mandi yang segar ikut terbawa bersamanya, memenuhi udara di ruangan itu.
Di luar ruangan, Juniarta yang sedang duduk di meja kerjanya sendiri yang berhadapan langsung dengan meja bosnya, sontak mengangkat wajah.
Indra penciumannya langsung menangkap aroma yang berbeda. Dan saat matanya melihat Sulthan, dia langsung tersenyum lebar.
"Wah... seger banget nih Bos ya," goda Juniarta sambil terkekeh pelan. "Mandi ya tadi? Wanginya semerbak sampai ke sini lho. Rambutnya juga masih agak basah gitu."
Sulthan tersenyum tipis sambil duduk di kursi kebesarannya. Dia merapikan kertas-kertas di mejanya.
"Iya, tadi panas banget rasanya. Badan lengket jadi nggak enak buat mikir. Mandi dikit biar seger, sorenya bisa fokus kerja lagi," jawab Sulthan santai. "Kamu juga gitu, Jun. Cuaca hari ini memang lagi panas-panasnya."
Mendengar itu, Juniarta langsung mengangguk-angguk setuju. Dia meraba leher dan lengannya sendiri yang memang terasa sedikit lengket karena keringat.
"Iya nih Bos, bener banget. Gerah banget rasanya. Ah, daripada nanti bau dan nggak fokus, saya ikutan mandi aja deh di kamar mandi tamu VIP sebelah," kata Juniarta sambil berdiri dan mengambil handuk bersih serta baju ganti yang memang selalu dia siapkan di lemari kecilnya.
"Silakan, silakan. Mandi aja, biar seger juga," sahut Sulthan sambil sudah mulai menyalakan layar komputernya.
"Makasih Bos. Saya tinggal sebentar ya."
Juniarta segera berjalan cepat menuju kamar mandi khusus tamu atau staf khusus yang tidak kalah bagus fasilitasnya.
Sementara itu, Sulthan sudah kembali tenggelam dalam dunianya. Jarinya mulai menari-nari di atas keyboard. Layar monitor yang tadinya gelap kini menyala terang menampilkan data-data perusahaan, grafik penjualan, dan email yang masuk.
Dia mengecek satu per satu pesan masuk, membalas email penting dari mitra bisnis luar kota, dan memeriksa laporan stok barang yang baru saja di-update oleh bagian gudang. Wajahnya kembali serius dan fokus, berbeda dengan saat dia baru selesai mandi tadi yang terlihat lebih santai.