Di atas karpet merah pertunangannya, Aeryn Valerine menyaksikan dunianya runtuh. Tunangannya berselingkuh dengan sang adik tiri, lengkap dengan rencana licik mencuri seluruh warisannya. Namun, Aeryn bukan wanita yang akan menangis di pojokan. Dengan gaun sutra yang memikat, ia melangkah tenang menghampiri Xavier Arkananta—sang CEO "Ice King" yang paling ditakuti.
"Nikahi aku, dan aku akan memberimu kekuasaan yang tak bisa dibeli uang," bisik Aeryn dingin.
Xavier menerima kesepakatan gila itu, tapi ia punya motif tersembunyi yang jauh lebih gelap. Saat dendam mulai terbalaskan secara elegan, Aeryn menyadari satu hal: Menikahi setan adalah cara terbaik untuk menghancurkan iblis. Tapi, bagaimana jika sang setan menginginkan lebih dari sekadar kontrak bisnis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puteri Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Keheningan di ruang kerja Xavier malam itu terasa berbeda. Lampu meja yang temaram memantulkan bayangan mereka di dinding. Xavier, dengan punggung yang masih dibebat perban tebal di balik kemeja hitamnya yang longgar, duduk tegak di kursinya. Aeryn berdiri di sampingnya, menatap layar monitor yang menampilkan bagan rumit struktur perusahaan Julian Vander.
"Kau lihat perusahaan bernama Starlight Holdings ini?" Xavier menunjuk sebuah kotak kecil di sudut layar dengan kursornya.
"Perusahaan logistik di Singapura?" Aeryn mengerutkan kening, mencoba mengingat-ingat presentasi Julian beberapa hari lalu. "Dia bilang itu adalah jalur distribusi utamanya untuk pasar Asia Tenggara."
"Bukan. Itu perusahaan hantu," sahut Xavier dingin. "Itulah jantung dari seluruh aliran dana ilegal Julian untuk melakukan sabotase. Dia menggunakannya untuk membayar orang-orang bayaran, seperti yang dia kirim ke pabrikmu. Jika kau ingin menghancurkan Julian, kau tidak perlu menyerang gedung kantornya atau menuntutnya di pengadilan yang bisa dia beli. Kau harus mencabut jantungnya."
Aeryn menatap profil samping wajah Xavier yang tampak keras namun tenang. "Bagaimana caranya? Aku bahkan tidak tahu dari mana harus memulai. Aku tidak punya kuasa untuk membekukan rekening mereka."
"Kita tidak akan membekukannya. Kita akan mengambil alihnya," Xavier menoleh, menatap Aeryn dalam-dalam, mengabaikan denyut nyeri di punggungnya. "Ini disebut hostile takeover. Kita akan membeli saham induk perusahaan cangkang ini secara diam-diam melalui pasar gelap dan beberapa sekuritas luar negeri yang aku miliki. Kita lakukan perlahan sampai mereka tidak sadar bahwa pemiliknya sudah berganti tepat di bawah hidung mereka."
"Tapi itu butuh dana yang sangat besar, Xavier. Aku tidak mau berutang lagi padamu setelah semua yang kau berikan untuk Valerine Jewels," protes Aeryn.
Xavier menghela napas, sebuah suara yang terdengar seperti tawa kecil yang tertahan namun getir. "Aeryn, dalam perang sesungguhnya, tidak ada istilah utang. Yang ada hanyalah amunisi bersama. Anggap saja ini investasi untuk ketenangan pikiranku. Aku tidak bisa membiarkan bajingan seperti dia terus mengusik hariku."
Aeryn terdiam sejenak. Ia melihat tekad di mata Xavier—tekad yang sama yang ia lihat saat pria itu menerjang api untuknya. Akhirnya, ia menarik kursi dan duduk tepat di sebelah Xavier.
"Baik. Ajari aku. Aku ingin melakukannya sendiri. Aku ingin tanganku yang menekan tombol kehancurannya saat dia merasa sedang berada di puncak kemenangan."
Xavier sedikit tersenyum—sebuah senyum tipis yang jarang terlihat, namun entah mengapa membuat dada Aeryn berdesir. Selama beberapa jam berikutnya, mereka tenggelam dalam strategi korporat yang mematikan. Xavier menjelaskan dengan bahasa yang sederhana namun tajam. Ia mengajari Aeryn cara melihat celah di laporan keuangan yang dimanipulasi, cara menggerakkan sentimen pasar melalui berita anonim, dan cara menekan pemegang saham minoritas agar berkhianat pada Julian.
"Kau harus terlihat sangat meyakinkan saat bertemu dengannya besok," ucap Xavier sambil menyesap wiskinya, sementara tangan kirinya memijat bahunya yang kaku. "Biarkan dia berpikir alat penyadap di jam tangan itu masih bekerja. Berikan dia informasi palsu yang ingin dia dengar."
Aeryn mengangguk mantap, mencatat setiap poin di buku kecilnya. "Aku akan bilang padanya bahwa aku mulai lelah dengan sikap posesifmu dan sedang mempertimbangkan untuk memindahkan seluruh asetku ke Singapura. Itu akan membuatnya merasa menang dan segera melancarkan langkah bodoh berikutnya."
"Tepat. Dia akan melonggarkan pertahanannya karena dia pikir kau sudah berada dalam genggamannya sepenuhnya. Di saat itulah, kita tarik semua dukungannya."
Waktu berlalu tanpa mereka sadari. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul dua pagi. Ketegangan strategis di antara mereka perlahan bergeser menjadi sesuatu yang lebih personal. Saat Aeryn membungkuk untuk melihat dokumen digital di meja, beberapa helai rambutnya yang harum jatuh mengenai bahu Xavier.
Xavier terhenti di tengah kalimatnya. Ia menghirup aroma vanilla dan citrus yang berasal dari rambut Aeryn—aroma yang sama yang selalu menghantui mimpinya setiap malam sejak mereka menikah. Ia menoleh, dan mendapati wajah Aeryn hanya berjarak beberapa sentimeter darinya.
Aeryn juga tersadar. Ia menatap mata Xavier yang gelap dan intens. Di bawah lampu temaram, ia melihat luka kecil di dahi pria itu akibat pecahan kaca di pabrik, dan rasa hangat yang asing tiba-tiba menjalar di dadanya. Pria ini hampir mati untuknya. Pria ini, menurut Hugo, telah mencarinya selama delapan tahun tanpa henti.
"Xavier..." bisik Aeryn. Suaranya bergetar, memecah kesunyian ruang kerja itu.
"Ya?"
"Kenapa kau tidak pernah menyerah mencariku? Delapan tahun... itu waktu yang sangat lama untuk sebuah janji pada orang mati. Kau bisa saja membangun hidup baru dengan wanita lain."
Xavier meletakkan gelas wiskinya di meja dengan suara clink yang pelan. Tangannya yang besar perlahan terangkat, jemarinya mengusap pipi Aeryn dengan sangat lembut, seolah-olah Aeryn adalah berlian paling rapuh yang pernah ia temukan di tambangnya.
"Awalnya memang karena janji pada ibumu, Aeryn," jawab Xavier, suaranya kini terdengar parau dan penuh kejujuran yang menelanjangi dirinya. "Tapi setelah aku menemukan fotomu di rumah lamamu... wajahmu yang sedang tertawa dengan pita merah itu... itu berubah menjadi obsesi. Dan setelah aku melihatmu secara langsung di hari pernikahan kita, berdiri di sana dengan gaun putih dan tatapan benci... itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata."
Jantung Aeryn berdegup kencang, suaranya memenuhi telinganya sendiri. "Kau... kau sangat dingin padaku. Kau memperlakukanku seperti pajangan di rumah ini. Aku selalu mengira kau membenciku."
"Aku tidak pernah membencimu," Xavier memotong cepat, suaranya meninggi satu oktaf. "Aku takut padamu. Aku takut betapa mudahnya kau bisa menghancurkan pertahanan yang kubangun selama belasan tahun hanya dengan satu tatapan matamu. Aku dingin karena aku tidak tahu bagaimana cara memilikimu tanpa menyakitimu."
Aeryn menelan ludah. Ketegangan di antara mereka kini terasa sangat panas, jauh lebih intens daripada kobaran api di pabrik tempo hari. Ruangan itu tiba-tiba terasa sangat sempit, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh kehadiran satu sama lain. Napas mereka memburu, beradu dalam jarak yang semakin menipis.
"Kau selalu bilang aku milikmu," ucap Aeryn, suaranya nyaris hilang terbawa angin malam yang merembes masuk dari jendela. "Apakah kau benar-benar bermaksud begitu? Ataukah aku hanya sebatas tanggung jawab dan proyek yang harus kau selesaikan?"
"Kau lebih dari sekadar tanggung jawab, Aeryn. Kau adalah alasan aku masih ingin pulang ke rumah ini setiap malam, meski aku tahu aku hanya akan disambut oleh pintu kamar yang terkunci," Xavier menggerakkan tangannya ke tengkuk Aeryn, menariknya sedikit lebih dekat hingga kening mereka bersentuhan. "Julian ingin memilikimu karena dia ingin menang dariku. Dia ingin egonya terpenuhi. Tapi aku... aku ingin memilikimu karena tanpamu, kemenanganku di dunia korporat ini tidak ada harganya sama sekali."
Aeryn bisa merasakan panas dari tubuh Xavier yang memancar melalui kemejanya. Aroma wiski, kertas tua, dan parfum maskulin pria itu memabukkannya lebih dari alkohol mana pun. Ia teringat bagaimana Xavier menerjang asap tanpa ragu, bagaimana punggungnya hancur demi menjadi tamengnya. Segala dinding pertahanan yang ia bangun selama berbulan-bulan seolah mencair di bawah tatapan Xavier yang penuh damba.
"Kau pria yang sangat menyebalkan, Xavier Arkananta," bisik Aeryn, matanya menatap bibir pria itu yang hanya berjarak sehelai rambut. "Kau membuatku membencimu, lalu membuatku merasa sangat bersalah di saat yang sama."
"Aku tahu," sahut Xavier dengan senyum miring yang kini tampak sangat menggoda. "Dan aku tidak keberatan menjadi pria menyebalkan jika itu artinya kau akan tetap berada dalam jangkauan tanganku."
Xavier tidak lagi bisa menahan diri. Ia menyingkirkan tumpukan dokumen yang berserakan di meja dengan satu sapuan tangan yang kasar namun bertenaga, lalu ia berdiri, memaksa Aeryn untuk ikut berdiri di hadapannya.
Xavier menarik Aeryn ke pelukannya dengan satu gerakan posesif yang kuat. Aeryn menabrak dada bidang Xavier, merasakan detak jantung pria itu yang liar, sama kencangnya dengan miliknya. Tangan Xavier melingkar erat di pinggang Aeryn, menekan tubuh wanita itu ke arahnya seolah-olah ia sedang memagari miliknya dari seluruh dunia.
Ia menundukkan kepalanya, bibirnya nyaris menyentuh telinga Aeryn, membuat napas panasnya terasa membakar di kulit leher Aeryn yang sensitif.
"Berhenti melihat pria lain, Aeryn. Berhenti membiarkan mereka menyentuh tanganmu atau tersenyum padamu," bisik Xavier dengan nada penuh ancaman namun penuh kerinduan yang dalam. "Kau membuatku gila. Kau membuatku ingin menghancurkan dunia dan semua orang di dalamnya hanya untuk memastikan kau hanya menatapku, dan menyadari bahwa satu-satunya tempatmu yang sah adalah di sini, bersamaku."
Aeryn mendongak, matanya bertemu dengan mata Xavier yang berkilat penuh gairah, kepemilikan, dan kerentanan yang jarang terlihat. Sebelum Aeryn sempat mengeluarkan satu kata pun, Xavier memangkas jarak yang tersisa di antara mereka, mengunci segala perdebatan dengan ciuman yang haus akan jawaban, menandai awal dari aliansi yang bukan lagi sekadar kontrak bisnis, melainkan penyerahan diri yang tak terelakkan di tengah malam yang sunyi.