NovelToon NovelToon
Suamiku Dokter Dewa

Suamiku Dokter Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Penyelamat / Epik Petualangan
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Sayap perak

Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.

Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.

Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.

Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.

Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 : Paket

Klinik Aditya Medika.

Alvian sudah melakukan tindakan pertolongan pertama untuk pasien tabrak lari. Pasien kemudian dirujuk ke Rumah Sakit Sentral Nusantara setelah ambulans yang dipanggil sudah datang.

Sekarang klinik sudah lebih sepi dari sebelumnya. Hanya ada Alvian, Clarissa, dan Mbak Sari yang sedang buat teh di belakang.

Clarissa duduk menyilangkan kaki. Seperti ratu yang dominan, matanya menatap lurus ke Alvian.

Dia kesal. Dia pikir suami dalam KTP-nya itu berada dalam masalah hingga dia datang dengan terburu-buru. Tapi ternyata, semua itu hanya bayangannya.

Clarissa lebih kesal saat mengingat hal tersebut. Mengingat di mana dirinya benar-benar takut terjadi sesuatu terhadap Alvian. Namun pada dasarnya ketakutan itu muncul lantaran Alvian terlibat masalah karena dirinya. Karena kasus obat palsu. Jika tidak, Clarissa yakin tidak akan terpengaruh tentang apa yang akan menimpa Alvian. Setidaknya, begitulah pembelaan yang yang ia percaya di dalam hatinya.

"Dok Clara, silakan tehnya."

Baru setelah Mbak Sari kembali dengan membawa nampan teh, suasana di ruangan itu menjadi lebih cair.

Beberapa detik sebelumnya sungguh mencekam hingga Alvian tidak berani mengatakan sepatah kata pun. Syukurlah Mbak Sari pengertian. Dia tidak langsung pergi setelah mengantarkan teh.

"Makasih Mbak," ucap Clarissa.

Clarissa meminum teh satu tegukan. Diam satu menit tanpa pembicaraan, dia beranjak dari kursinya.

"Saya akan kembali ke rumah sakit."

"Lho, kok buru-buru sekali?"

"Iya. Belum apa-apa sudah buru-buru kembali," timpal Alvian.

Mata Clarissa melirik sejenak. Berkata, "Aku datang hanya untuk lihat AC. Karena tidak ada masalah, tentu saja aku akan pergi."

Egonya membuat Clarissa berbohong. Karena mustahil dia akan berkata jujur tentang alasan kedatangannya.

Mbak Sari ikut berdiri. "Makasih Dok, untuk AC-nya. Sekarang pasien tidak ada lagi yang mengeluh panas, atau gerah lagi."

"Ya. Saya membelinya memang untuk pasien. Karena kasihan mereka sudah antre, lalu masih kepanasan di dalam ruangan."

"Hanya untuk pasien? Bagaimana denganku?" Alvian bertanya sambil menunjuk dirinya.

Namun Clarissa mendesis lalu berjalan sambil menenteng tasnya. "Kamu kepanasan juga tidak masalah." Pelan, tapi Alvian dan Mbak Sari mendengarnya cukup jelas.

Mbak Sari langsung menutup mulut menahan tawa, sementara Alvian berwajah kecut mengantar Clarissa ke mobilnya.

"Istri, hati-hati."

Clarissa berdehem lalu berniat menaikkan kaca. Tapi sesaat kemudian dia teringat dengan pesan Pak Dimas.

"Oh iya. Jika ada orang mencurigakan, lebih tepatnya yang mengaku petugas BPOM tapi tidak bawa seragam atau ID Card, sebaiknya jangan dilayani. Usir saja, jika perlu telpon Pak RT. Punya nomornya, kan?"

"..."

Alvian tak mengeluarkan sepatah kata pun dan hanya menatap Clarissa. Tentu saja, ditatap seperti itu membuat Clarissa merasa terganggu.

"Jangan pikir aneh-aneh. Aku tidak sedang khawatir kepadamu. Hanya saja... Entahlah. Pokoknya jangan pikir aneh-aneh. Aku pergi."

Clarissa pergi dengan mobilnya, sementara Alvian menatap dengan senyum mengembang. Bergumam. "Ternyata ada baiknya juga muncul kasus seperti ini."

___

Keesokan harinya. Minggu pagi.

Seperti biasa, khusus hari minggu klinik tidak beroperasi alias tutup. Tapi Alvian tetap datang, pakai kaos oblong, celana training, sendal jepit, sambil bawa kardus indomie.

Mbak Sari sudah di dalam. Lagi ngepel. Meski harusnya dia libur dan hanya bersantai dirumah, dia harus mengulangnya beberapa kali karena kemarin darah yang bercecer hampir memenuhi ruangan.

Terlihat bersih, tapi aroma amisnya masih mengganggu.

"Selesai bisa langsung pulang, Mbak."

"Iya Dok, ini sebentar lagi juga selesai. Mau dibuatin kopi sekalian?" tanya Mbak Sari.

"Nggak usah deh, Mbak. Dirumah tadi sudah buat, sekalian sama istri."

Gerakan Mbak Sari berhenti saat Alvian menyebut "istri". Matanya memutar, seolah berkata, " Iya, iya, Dok. Si paling sayang istri."

Tapi tentu saja kalimat itu tidak keluar dan hanya tertelan masuk ke tenggorokannya.

Di sisi lain, Alvian membuka kardus yang dibawanya. Isinya bukan indomie, melainkan P3K box baru. Lebih besar. Isinya, suture set, lidocaine 2%, silk 3.0, needle holder, pinset anatomis, scalpel, adrenaline 1 ampul. Semua tersimpan rapi di bawah kasa dan betadine.

"Wah! Kotak obat baru, Dok?" Mbak Sari sudah nyempil di samping Alvian.

"Iya, Mbak. Trauma kasus tabrak lari kemarin. Sedia payung sebelum hujan."

"Benar, Dok. Baiknya memang seperti itu. Jaga-jaga." Mbak Sari menaruh pel di belakang, lalu berniat pamitan. "Eh, Dok... Bu Minah di rumah masih ketakutan. Katanya setiap pejamkan mata keluar mimpi didatangi orang itu lagi. Tidak bisa tidur, sampai harus dibelikan obat."

Alvian mengaduk betadine. "Udah, Mbak. Bilangin ke Bu Minah, BPOM sudah turun tangan. Orang itu tidak akan datang lagi."

Tukang bakso lewat, tapi bukan Kang Ujang. Juga bukan orang yang kemarin. Sudah ganti, yang sekarang kurus, hidung pesek, matanya terus lihat ke dalam klinik.

"Mbak, tolong beliin saya soto ya. Di Bu Tini. Pedes. Saya lupa belum sarapan."

"Oh! Siap, Dok."

Begitu Mbak Sari pergi, Alvian mendekat ke jendela. Tukang bakso itu langsung jalan menjauh karena menyadarinya. Tapi sebelum benar-benar pergi Alvian sudah mengambil fotonya. Melihat tato di bagian lehernya ada inisial huruf, "B".

---

RS Sentral Nusantara. IGD. Jam 11.05 WIB.

Clarissa baru saja jahit luka di pelipis anak SD yang jatuh dari sepeda. Lepas sarung tangan, cuci tangan.

Maya, dokter koas menghampiri sambil bawa kotak kecil, dilakban cokelat. "Dok, ada paket. Buat Dokter. Nggak ada nama pengirimnya, tadi ditaruh di resepsionis."

Clarissa menerima paket itu, membolak-balikkannya. "Tanpa nama pengirim, ya? Oke, makasih."

___

Clarissa pulang lebih awal hari ini. Jam empat sore dia sudah sampai di rumah. Dia melihat Alvian di ruang tamu, bermain HP tampak dengan begitu serius sampai tidak sadar kedatangannya.

Baru setelah Clarissa lewat di depannya, Alvian mulai mengangkat wajahnya.

"Istri, sudah pulang?"

Clarissa hanya terus berjalan dan langsung naik ke lantai dua. Tetapi dia meninggalkan paket yang dibawanya dari rumah sakit di atas meja.

Alvian menatap paket tersebut, bergantian sambil menatap punggung Clarissa yang terus menjauh. Meski yang punya sudah tidak ada di sana, Alvian tidak berani menyentuh sembarangan. Dia masih menatapnya bahkan ketika Clarissa kembali turun dengan setelan kaos putih polos dan celana kulot.

"Dapat kiriman?"

"Iya. Tidak tahu dari siapa. Tidak ada namanya, jadi tidak perlu dibuka, nanti aku akan membuangnya." Clarissa sebenarnya sudah berniat membuang paket itu tetapi malah lupa dan sampai terbawa pulang.

Alvian penasaran. "Kenapa tidak membukanya dulu?"

"Aku tidak mau. Jika kamu begitu penasaran buka saja." Clarissa berjalan ke dapur, mengambil segelas air.

Sementara Alvian, setelah mendapat izin langsung tanpa bersalah membuka paket tersebut. Namun tak disangka, isinya adalah sebuah foto di mama Clarissa ada di kantin RS, lagi mengaduk kopi. Di bagian belakang foto tersebut, sebuah tulisan dengan spidol hitam. "Salam dari Mas Bram. Stop ikut campur dan segera hentikan penyelidikan. Kalau tidak, dampaknya akan sangat buruk.

Hening.

Ekspresi Alvian seketika menjadi suram. Tatapannya dingin, memberikan kesan menakutkan.

"Apa isinya?" tanya Clarissa sambil mendekat.

Alvian langsung sembunyikan foto itu di sakunya, menghapus ekspresinya yang serius dan berpura-pura mencari isi paket tersebut.

Tersenyum. "Aneh banget. Tidak ada isi di dalamnya. Pasti ulah orang gabut."

Clarissa sudah di depan meja dan ikut mencari. Dia penasaran. Hanya saja karena peringatan dari Pak Dimas yang menyuruhnya hati-hati membuatnya selalu bersikap waspada. Khawatir paket tersebut dikirim oleh pihak lain, dan berisi teror atau ancaman dalam bentuk apapun.

"Syukurlah jika itu kosong," gumam Clarissa sambil mengelus dada.

--

1
Agos Widodo
mulai dapat musuh ini🤣🤣🤣🤣
Joni Walinton Butarbutar
mantap
Joni Walinton Butarbutar
keren
irawan muhdi
lanjut 🙏
Aang Reza
leng shui kapan di novelkan tor?
Teh Gelas: Dre*ame.. tanpa bintang. Judulnya "Kembalinya Sang Legenda" - Berbayar, sudah tamat.
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!