Demi nafas Nonik, Santi OB miskin rela jual harga diri.
Demi warisan triliunan Opa Darwis, Dody CEO dingin butuh istri kontrak.
Satu tanda tangan di UGD, satu cap jempol Nonik yg sekarat.
Kontrak nikah 250 juta resmi dibuat.
Dia istri di atas kertas. Dia suami yg membeku.
Di antara mereka ada Nonik, bocah 5 tahun yang nyawanya jadi taruhan.
Bisakah hati sedingin es Dody luluh oleh tangis Santi?
Sementara Wati sang HRD dan Wandy sang tunangan siap menikam dari belakang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU ADA DIMANA
LAUT J
Kecepatan kapal Litona melaju dalam kecepatan 24 knot. Setelah kejadian mister Smith dan anak buahnya yang telah mengguncang seisi kapal maka semua orang dalam keadaan siaga. Beberapa selalu bersiaga berkeliling kapal. Mereka menempati buritan, geladak dan haluan kapal. Itu adalah titik-titik rawan orang tidak diundang mau masuk kapal tanpa diterima. Mereka pakai alat kerja mereka masing-masing mondar-mandir disekeliling luar kapal.
Santi mengamati mereka dengan baik. Dia dibiarkan bebas atas rekomendasi mister Chow. Tangan Santi mengekamus-ekamus burung camar yang hinggap di railing haluan. Burung camar itu kelihatan jinak karena sudah diberi roti oleh Santi. Santi tersenyum senang walau hatinya masih sedih. Sekarang dia berada di kapal Litona yang mengangkut banyak target untuk dibawa ke negara K. Perjalanan kapal bisa memakan 1 bulan di laut.
Dia terus memikirkan keadaan Nonik yang kondisi kritis itu.tetapi hatinya sedikit tenang karena pak Dody mau menjaga Nonik. Dia memperlakukan Nonik dengan baik,bahkan sangat baik.
Mister Chow tersenyum lalu menjejeri Santi. Burung camar berontak ditangan Santi dan terbang menjauh.
“Mister, apa aku tidak bisa kembali sekarang. Aku tidak bisa lama-lama meninggalkan anakku sendirian. Nonik sedang kritis. Aku ibunya harus berada disisinya biar Nonik tenang.”
Mister Smith menghela nafas pelan.
“Oke San. Coba aku bicara sama Josas bagaimana baiknya. Aku juga tidak mau mengurung kamu disini terus lalu ikut aku ke negara K. Tentu itu tidak menyenangkan buat kamu yang selalu memendam rindu pada anak kau.”
“O…terima kasih mister. Aku senang mendengarnya. Jika benar mister mau tolong aku pulang ke Kota S aku doakan istri mister segera dapat memperoleh perawatan dengan baik dan sembuh dari sakitnya.”
Mister Chow tersenyum getir. Dalam faktanya istrinya sulit untuk sembuh. Exacerbasi Asma Akut itu menjadi momok yang menakutkan, karena istrinya Imna dalam kondisi lemah selalu ditopang obat asma dan inhaler tetapi itu hanya sementara saja. Karena seringkali kalau kumat, harus ada orang disebelahnya yang memberikannya semangat sehingga tetap ada semangat untuk tetap hidup. Itulah sebabnya putrinya Parli selalu diwanti-wanti untuk tidak meninggalkan ibunya dan tetap selalu disampingnya. Sampai-sampai putrinya harus berkorban untuk tidak segera menikah walaupun dia sudah punya calon yang ingin mengajaknya menikah dengan segera. Tetapi karena Parli merawat ibunya untuk sementara dia menolak pinangan calon suami putrinya itu.
“Mister. Ini sudah menjelang sore. Keadaan di laut berbeda dengan di daratan. Suara debur ombak makin kencang dan cahaya langit menjadi jingga. Langit terlihat jelas disini daripada di lautan.”
“San. Aku ini sudah lama berpetualang di laut. Sudah banyak hal yang aku alami kalau hanya keadaan laut menjelang sore itu aku alami berkali-kali.”
“Boleh tahu apa saja yang mister alami di laut. Supaya aku yang lebih muda ini dapat belajar banyak, dari mister yang sudah berpengalaman.”
Mister Chow menghela nafas berat.
“Kalau bukan karena Imna aku tidak mau berpetualang di laut. Aku lebih suka di rumah melihat putriku tumbuh dan menikah lalu aku punya cucu. Itu yang aku dambakan.”
“Mudah-mudahan dambaan mister tercapai. Sama seperti aku juga berharap anak aku segera dapat dirawat di kota P dan sembuh dari sakitnya.”
Mister Chow terdiam. Kepalanya menggeleng-geleng dengan pelan seolah-olah mau menumpahkan seluruh isi kepalanya keluar. Dia berpikir tentang tuan Mican yang telah merekrutnya dikala dia kebingungan untuk mencari biaya berobat istrinya. Dia dihampiri tuan Mican ketika dia berada di dermaga duduk sambil mengamati orang-orang bekerja mengangkut peti kemas dengan crane. Waktu itu seperti saat dia bercakap-cakap dengan Santi dihampiri seorang jangkung tingginya kira-kira 190 cm duduk menjejerinya. Dia hanya diam saja tanpa bicara.
“Kamu siapa. Kenapa kamu duduk disini. Apa tidak ada pekerjaan lain selain duduk disini.”
Orang itu diam saja. Lalu mengambil alat pengisap dan menawarkan kepada mister Chow. Tangan mister lalu mengambil alat pengisap itu dan mereka mengisapnya bersama-sama.
“aku lihat sejak tadi kamu kelihatan bingung. Aku lihat dari sana.”
Tangan orang itu menunjukkan kesuatu tempat di pelabuhan.
“Aku memikirkan istriku. Dia sakit keras butuh biaya perawatan rumah sakit. Mahal. Ratusan juta. Aku tidak kuat membiayainya. Uangku tidak cukup.”
Orang itu tersenyum. Dia mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh perhatian.
“Kamu tahu tentang angkutan target. Mau kerja dengan aku. Aku jamin kamu dapat membiayai perawatan istri kamu. Istri tertolong dan hidup kamu tenang.”
Mister Chow menggerak-gerakkan tangannya dengan cepat. Kata perawatan, istri kamu dan membiayai perawatan menjadikan dia bersemangat.
“Aku harus melakukan apa.”
Orang itu membisikkan sesuatu di telinganya. Mister Chow kaget.
“Bagaimana. Kalau kamu bersedia saat ini juga bisa bekerja.”
Mister Chow berpikir sejenak. Tetapi akal sehatnya mengalahkan keinginannya yang kuat. Bagaimanapun istrinya harus sembuh dari sakitnya dan dia hidup berbahagia dengan istri dan putrinya.
“Baik boss.”
Orang itu tersenyum puas. Tangan mereka berjabatan erat. Sejak saat itu dia bekerja dengan orang itu yang ternyata bernama tuan Mican, seorang yang punya kuasa penuh yang disegani seantero Semenanjung K bahkan sampai kawasan A.
Santi menoleh kepada mister Chow. Dia tidak tahu apa yang dipikiran mister Chow, hanya saja dia melihat mister Chow kadang mukanya menegang kadang kelihatan sedih lalu senyum-senyum. Tetapi Santi tidak berani mengganggu mister Chow. Dia lebih suka mengamati langit yang berwarna jingga indah yang jarang dia lihat kalau sore karena dia banyak mengurusi pekerjaannya sebagai OB dan anaknya yang sakit.
“Boss.”
Tiba-tiba muncul Dandy menemui mister Chow.
“Ada yang mau aku sampaikan.”
Mister Chow memberi isyarat kepada Dandy lalu memandang kepada Santi.
“San. Aku mau ngurusi sesuatu dengan Dandy. Kamu aku tinggal sendirian. Hati-hati.”
Santi menganggukkan kepalanya. Dia tahu mister Chow adalah pimpinan kapal ini maka segala urusan yang berhubungan dengan kapal wajib lapor kepadanya.
Keduanya beranjak meninggalkan Santi. Santi tidak menyadari bahwa sedari tadi dia diawasi oleh orang besar di buritan kapal. Tubuh besar orang itu tertutup dinding kapal sehingga tidak begitu kelihatan bagi yang kurang cermat. Dia terus mengamati Santi yang sendirian mengelus-elus burung camar. Dia mau menemui Santi tetapi langkahnya terhenti dan kembali bersembunyi ketika mister Chow mendampingi Santi. Apalagi keduanya bercakap-cakap agak lama sehingga orang itu harus bersabar.
Setelah orang itu melihat bahwa mister Chow pergi bersama Dandy, maka orang itu bernafas lega.
Santi mengaamati ombak laut yang mengalun pelan dibawah kapal. Dia terbayang dibenaknya bila sekarang bisa berada di tengah lautan lepas. Dia sejak dari kecil sampai kerja di perusahaan PT Gumilang Perkasa tidak pernah berlama-lama di laut lepas. Dia pernah pergi ke pulau B pada waktu studi tour di SMA kota Y tetapi paling sebentar saja. Ini seharian penuh berada di lautan lepas.
Orang besar itu masih menunggu lama. Lalu kepalanya menengok kiri kanan memastikan tidak ada orang yang akan melihat perbuatannya. Dia sudah dibayar setengah dan setengahnya lagi akan dia terima jika dia berhasil mengerjakan tugasnya dengan baik. Demi banyak uang dia rela melakukan apa saja karena banyak uang berarti bisa hidup menyenangkan untuk beberapa hari.
Santi tidak menyadari orang besar yang sedari tadi terus menerus mengamatinya. Sampai kemudian tiba-tiba matanya menjadi gelap. Dia seperti berada di dunia yang diliputi gelap total. Dia ada dimana dia tidak mengetahuinya. Benar-benar gelap. Gelap. Gelap…….
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Santi. Aku ada dimana……
Bersambung