Asha mengira pernikahan kontrak dengan Arlan, sang Titan industri, adalah jalan keluar dari kemiskinan. Namun, ia salah. Di balik kemewahan Kota Neovault, Asha hanyalah "piala" yang dipamerkan di antara deretan wanita simpanan Arlan. Puncaknya, Arlan membiarkan Asha disiksa oleh selingkuhannya sendiri demi menutupi skandal bisnis. Saat tubuhnya hancur dan janinnya terancam, Asha menyadari bahwa ia tidak sedang menikah, melainkan sedang dikuliti hidup-hidup oleh pria yang ia cintai. Ketika cinta berubah menjadi dendam yang dingin, apakah air mata cukup untuk membayar pengkhianatan yang berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EsKobok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membeli Musuh Arlan
Layar tablet di tangan V menampilkan daftar nama yang selama ini terkubur dalam arsip gelap Neovault Metropolis. Ruangan apartemen itu terasa dingin, hanya menyisakan deru mesin pendingin ruangan yang bergetar rendah. V menatap satu per satu wajah pria dan wanita yang pernah menjadi pilar kesuksesan Arlan, sebelum akhirnya didepak dengan cara yang keji.
"Mereka semua memiliki satu kesamaan, Paman. Mereka membenci Arlan Valeska lebih dari apa pun di dunia ini," ujar V tanpa mengalihkan pandangannya dari layar.
Nelayan tua itu menyandarkan tubuhnya di bingkai pintu, memegang secangkir kopi hitam yang mengepulkan uap tipis. "Membenci itu gratis, V. Tapi bekerja sama dengan orang asing untuk menjatuhkan raja adalah urusan lain. Kau butuh sesuatu yang lebih kuat dari sekadar rasa sakit hati."
V mematikan tabletnya dan berdiri, merapikan setelan hitamnya yang tanpa cela di depan cermin. Wajah barunya tampak sangat tenang, nyaris seperti porselen yang tidak berperasaan. Namun, jauh di dalam sana, bara dendam masih menyala dengan intensitas yang sama seperti malam ia dibuang ke sungai.
"Aku tidak hanya menawarkan rasa sakit hati. Aku menawarkan pemulihan martabat dan harta yang telah dicuri Arlan dari mereka," sahut V sambil mengambil mantel panjangnya.
Ia melangkah keluar menuju sebuah klub cerutu eksklusif di pusat kota yang sering menjadi tempat berkumpulnya para mantan elit yang terbuang. Aroma tembakau mahal dan parfum pria menyeruak saat V memasuki ruangan yang remang tersebut. Di sudut ruangan, seorang pria paruh baya bernama Julian duduk sendirian dengan tatapan kosong.
Julian dulunya adalah mitra strategis Arlan yang memegang kendali atas rantai pasok energi Neovault. Namun, Arlan menjebaknya dalam skandal penggelapan dana yang tidak pernah ia lakukan agar bisa mengambil alih seluruh sahamnya. Kini, Julian hanyalah seorang pria yang bangkrut dan dilupakan oleh dunia sosialita.
"Bolehkah saya ... duduk di sini, Tuan Julian?" tanya V dengan suara rendah yang berwibawa.
Julian mendongak, matanya yang lelah memicing menatap sosok wanita di hadapannya. "Siapa Anda? Saya tidak sedang ingin menerima tamu, apalagi seorang wanita yang terlihat seperti model majalah bisnis."
V duduk dengan tenang, meletakkan sebuah map cokelat yang tersegel di atas meja kayu mahoni yang mengilap. "Nama saya tidak penting untuk saat ini. Yang penting adalah apa yang ada di dalam map itu. Itu adalah bukti bahwa Arlan Valeska memanipulasi audit perusahaan Anda lima tahun lalu."
Tangan Julian yang sedang memegang cerutu tampak bergetar sekilas mendengar nama Arlan disebutkan dengan begitu lugas. Ia segera membuka map tersebut dan membolak-balik isinya dengan kecepatan yang meningkat. Napasnya terdengar memburu saat matanya membaca angka-angka yang membuktikan ketidakbersalahannya.
"Dari mana Anda mendapatkan ini? Ini adalah data yang seharusnya sudah dimusnahkan oleh tim IT Arlan!" bisik Julian dengan nada tidak percaya.
V menyesap segelas wiski yang baru saja disajikan oleh pelayan tanpa ekspresi sedikit pun. "Seperti yang saya katakan, saya memiliki sumber daya yang melampaui imajinasi Anda. Saya di sini untuk membangun aliansi rahasia untuk mengepung kekuasaan Arlan."
Julian menatap V dengan tatapan menyelidik, mencoba mencari celah di wajah wanita itu namun gagal. "Apa untungnya bagi Anda? Anda menghabiskan banyak energi hanya untuk membantu pria tua yang sudah kalah seperti saya."
"Saya tidak membantu Anda secara cuma-cuma, Julian. Saya membeli kesetiaan Anda untuk menyerang sisi belakang Neovault," balas V dengan dingin.
Ia kemudian berbisik tentang rencana besar yang melibatkan beberapa mantan rekan bisnis Arlan lainnya yang juga telah ia hubungi secara anonim. Julian tampak bimbang, namun amarah yang telah ia pendam selama bertahun-tahun perlahan mulai mengambil alih logika ketakutannya.
"Jika apa yang Anda katakan benar, maka Arlan tidak akan pernah melihat serangan ini datang," ujar Julian akhirnya, menutup map tersebut erat-erat.
V memberikan sebuah ponsel khusus yang sudah dienkripsi kepada Julian. "Gunakan ini untuk berkomunikasi dengan saya. Jangan pernah menghubungi saya melalui jalur biasa. Arlan memiliki telinga di mana-mana."
Setelah meninggalkan Julian, V bergerak menuju lokasi kedua, sebuah galeri seni yang dimiliki oleh seorang wanita bernama Sandra. Sandra adalah arsitek utama di balik pembangunan Menara Neovault yang kemudian namanya dihapus dari semua kredit proyek agar Arlan bisa mengklaim seluruh visi desain tersebut.
Di tengah galeri yang sepi, V berdiri menatap sebuah lukisan abstrak yang didominasi warna merah dan hitam. Sandra mendekatinya dengan anggun, mengenakan gaun sutra yang tampak kontras dengan tatapan matanya yang tajam dan defensif.
"Anda terlihat seperti seseorang yang lebih tertarik pada angka daripada seni, Nyonya V," tegur Sandra dengan nada skeptis.
V menoleh sedikit, memberikan senyuman tipis yang tidak mencapai matanya. "Seni dan angka memiliki kesamaan, Sandra. Keduanya bisa digunakan untuk memanipulasi persepsi orang lain. Saya tahu apa yang Arlan lakukan pada karier Anda."
Sandra tertegun, langkah kakinya terhenti tepat di samping lukisan tersebut. "Itu adalah cerita lama yang sudah saya kubur. Saya tidak tertarik untuk membicarakannya lagi, apalagi dengan orang asing."
"Bagaimana jika saya katakan bahwa gedung yang Anda desain itu memiliki kelemahan struktural dalam kontrak hukum yang bisa kita gunakan untuk menuntut Arlan?" tanya V pelan.
Sandra tampak menegang, rahangnya mengeras mendengar tawaran tersebut. "Arlan memiliki pengacara terbaik di Neovault. Menuntutnya sama saja dengan bunuh diri secara profesional untuk kedua kalinya."
V mendekat, suaranya kini terdengar seperti bisikan maut yang sangat menggoda. "Anda tidak akan sendirian. Julian dan beberapa orang lainnya sudah bergabung dalam barisan saya. Kita tidak sedang menuntut, kita sedang melakukan pengepungan."
V menjelaskan bahwa aliansi ini akan bekerja di balik bayangan, memotong setiap jalur dukungan yang dimiliki Arlan satu per satu. Sandra menatap V dengan rasa ingin tahu yang besar, mulai menyadari bahwa wanita di hadapannya ini bukanlah pemain sembarangan.
"Siapa sebenarnya musuh Arlan yang begitu ambisius ini? Anda bukan sekadar investor, bukan?" tanya Sandra dengan penuh selidik.
"Saya adalah hasil dari kesalahan terbesar Arlan, Sandra. Dan Anda adalah bagian dari koreksi yang akan saya lakukan," jawab V tanpa memberikan identitas aslinya.
Setelah melalui negosiasi yang alot, Sandra akhirnya menyanggupi untuk bergabung dan memberikan akses ke cetak biru asli Menara Neovault. V merasa jaring-jaring kekuatannya mulai terbentuk secara nyata, mengelilingi istana Arlan yang tampak megah namun sebenarnya rapuh di bagian dalam.
Malam itu, V kembali ke apartemennya dengan perasaan yang jauh lebih mantap daripada pagi tadi. Nelayan tua itu sudah menunggunya dengan laporan terbaru tentang pergerakan saham Neovault yang masih belum stabil sejak serangan pertamanya.
"Bagaimana hasilnya? Apakah kau berhasil membeli para musuh itu?" tanya si nelayan sambil mematikan televisi.
V meletakkan tasnya dan duduk di meja kerja, mulai memetakan koordinat serangan berikutnya bersama aliansi barunya. "Mereka sudah bergabung. Dendam adalah mata uang yang jauh lebih berharga daripada emas di distrik ini."
"Ingat, V. Orang-orang itu bergabung karena mereka benci Arlan, tapi mereka juga bisa berbalik jika mereka merasa terancam," nelayan itu mengingatkan dengan nada serius.
V mengangguk, jari-jarinya mulai mengetik di atas papan tik dengan kecepatan tinggi. "Itulah sebabnya aku memegang kendali atas semua bukti yang bisa memenjarakan mereka juga. Aliansi ini dibangun di atas kepercayaan, tapi diperkuat dengan ketakutan."
Ia menghabiskan sisa malam itu dengan menyusun strategi koordinasi antara Julian, Sandra, dan beberapa informan internal lainnya. Setiap langkah harus dilakukan dengan presisi milimeter, karena satu kesalahan kecil saja bisa membuat Arlan menyadari keberadaan mereka sebelum pengepungan selesai.
"Arlan akan segera menyadari bahwa teman-temannya di masa lalu kini telah menjadi bayangan yang siap mencekiknya," batin V dengan penuh kepuasan.
Ia membayangkan bagaimana wajah Arlan saat menyadari bahwa seluruh rekan bisnisnya mulai berpaling atau menarik dukungan secara tiba-tiba. Kehancuran yang sesungguhnya bukanlah tentang kehilangan uang, melainkan tentang kehilangan kepercayaan dari orang-orang yang selama ini menyokong kekuasaannya.
"Aku sudah menyerah ...." gumam V teringat kata-kata Asha di tepi sungai dulu.
Tapi kini, kalimat itu bukan lagi tentang keputusasaan, melainkan tentang penyerahan diri sepenuhnya pada sisi gelapnya demi mencapai tujuan. Ia telah membeli musuh-musuh Arlan, dan bersama mereka, ia akan membangun neraka yang paling dingin untuk pria yang telah menghancurkannya.
"Apakah mereka sudah mulai bergerak malam ini?" tanya si nelayan, memecah keheningan ruangan.
V menatap grafik di layar yang mulai menunjukkan aktivitas tidak biasa pada akun-akun logistik Neovault. "Ya. Julian sudah mulai menarik beberapa kontrak energi utama secara diam-diam. Retakannya mulai melebar."
V mematikan seluruh monitornya, membiarkan ruangan itu tenggelam dalam kegelapan total. Di balik jendela, lampu-lampu kota Neovault tampak berkedip seperti mata predator yang sedang mengawasi mangsanya. Aliansi rahasia telah terbentuk, dan kini, hari-hari tenang Arlan Valeska benar-benar telah berakhir.